
Keduanya menoleh pada seseorang yang masuk ke ruangan Alif saat ini.
Lagi-lagi Poppy yang masuk, langkahnya menjadi pelan dan canggung saat mendapati bosnya dan Humairah tengah saling berdekatan dengan jarak yang sangat dekat.
Poppy melirik meja kerja yang mana tidak pernah terjadi sebelumnya, meski ia tahu mereka suami istri namun sungguhlah Poppy masih merasa kesal dan tidak terima jika Humairah telah menggantikan posisi sekretaris yang selama ini ia kerjakan dengan baik.
"Maaf mengganggu, aku hanya ingin menyerahkan berkas yang pak Alif suruh siapkan beberapa hari lalu, aku lupa memberikannya kemarin."
"Iya kau memang mengganggu."
Kemudian Alif terkekeh melihat ekspresi wajah pias Poppy, "Aku hanya bercanda, kemarilah!" panggil Alif pada Poppy yang tidak berani mendekat.
Humairah tersenyum pada gadis itu namun sama sekali tidak dibalas Poppy malah Humairah merasa Poppy terlihat sinis menatapnya, hingga Humairah hanya bisa menundukkan wajahnya saja selagi Alif dan Poppy bicara.
Poppy dipersilahkan keluar, Alif kembali pada Humairah.
"Lanjut belajarnya?" tanya Alif pada Humairah yang tampak murung.
"Maafkan aku, aku merasa sungkan pada kak Poppy. Aku rasa dia tidak menyukai aku pada pekerjaan ini."
Alif menggeleng.
"Tidak ada yang bisa membantahku, kau hanya cocok jadi sekretaris ku di kantor ini agar tidak berjauhan lagi."
Humairah menghembuskan nafas kasar.
"Baiklah, aku lelah berdebat. Ayo kita mulai lagi belajarnya, aku juga tidak mau dikira tidak profesional oleh yang lain, aku tentu akan menguasai pekerjaan ini."
"Bagus, aku suka semangat mu," puji Alif sambil duduk kembali ke kursinya yang segera disusul Humairah.
Alif mulai menjelaskan secara detail tugas Humairah, lagi-lagi perempuan itu hanya bisa menatap wajah Alif yang sedang serius memberinya pemahaman tentang tugas seorang sekretaris.
"Kau mengerti?"
__ADS_1
Humairah menggeleng lagi.
"Humairah?" lirih Alif.
Perempuan itu tersenyum lebar.
"Aku hanya bercanda, aku sudah mengerti apa yang kau jelaskan. Aku akan bekerja dengan baik dan profesional."
"Jangan terlalu kaku, kita bebas di ruangan ini."
"Apa maksudmu bebas?"
Alif mengusap lehernya sambil menyengir lalu menjawab santai, "Bebas saling memandang, bebas saling berbagi, bebas saling mencintai."
"Apa?"
"Ayolah aku hanya bercanda. Kau terlalu serius Humairah," jawab Alif terkekeh.
Alif kembali pada meja kerjanya, mulai serius membolak-balik kan map dan file-file yang telah menunggu tanda tangan dan persetujuannya. Humairah memandang Alif cukup lama bahkan sejak lelaki itu serius bekerja.
"Berapa lama kita sudah saling mengenal?" tanya Humairah dengan berani padahal ia tahu Alif sedang serius saat ini.
"Cukup lama," Jawab Alif tanpa menoleh.
"Aku merasa kita dekat, aku gugup saat ini bahkan aku gugup sejak bertemu denganmu kemarin, gugupnya sampai sekarang bukankah itu aneh, seharusnya aku takut padamu tapi dengan berdekatan seperti ini aku merasa seperti sudah tidak ada kecanggungan lagi diantara kita."
Alif terdiam, ia menghentikan aktivitas kerjanya lalu menatap wajah istrinya, ia menggeser lagi kursinya mendekati Humairah saat ini.
"Kau sungguh menggemaskan Humairah, oh sayang aku sudah tidak tahan. Bolehkah aku mencium mu?"
"Apa?" Humairah terkejut mendengarnya.
"Aku merindukanmu Humairah, ayolah beri aku ciuman!" ujar Alif lagi menatap Humairah seraya merengek manja.
__ADS_1
"Mas Alif!" bentak Humairah lalu menghindari Alif yang mendekatinya.
"Sayang ayolah, aku bisa gila karena lupa padaku!" rengek Alif lagi.
Membuat Humairah bergidik ngeri pada lelaki yang terus memajukan wajahnya itu.
"Mas Alif berhenti bercanda!"
"Berikan aku ciuman, sekali saja."
Plak. Suara tamparan melayang pada pipi pria itu. Alif mengaduh memegangi pipinya.
"Sayang apa yang kau lakukan?"
"Apa maksudmu memanggil sayang? Mas Alif aku rasa kau sudah keterlaluan, ini hari pertama ku bekerja sebagai sekretaris mu bukan berarti aku juga perempuan murahan yang bisa kau cium sembarangan, aku ini gadis baik-baik. Aku bahkan belum pernah dicium sebelumnya, kau memang bos ku tapi bukan berarti kau bebas melecehkan ku."
Humairah hampir berteriak karena marah.
"Oh jangan-jangan benar saat di toilet kau sengaja masuk untuk mengintipku, dari apa yang kau lakukan ini memaksa ku menjadi sekretaris, memaksa pergi dan pulang bekerja bersama, terlebih aku harus bekerja di ruangan yang sama dan sangat berdekatan seperti ini, aku jadi yakin bahwa kau memang ada niat buruk padaku. Kau boleh berlaku seenaknya sebagai bos tapi tidak dengan melecehkan ku seperti ini."
Alif merutuki sikapnya yang sulit dikontrol sejak tadi, terlebih saat Humairah mencuri pandang padanya tadi, wajah perempuan itu menggemaskan sekaligus membangkitkan gairahnya sebagai suami, lelaki yang sudah cukup lama tanpa belaian istrinya, hingga ingin sekali Alif mengecup bibir yang sedang mengoceh itu, bibir mungil yang menggemaskan meski sedang marah.
"Humairah maafkan aku, hei ayolah aku hanya bercanda."
Humairah menatap Alif marah, namun ia tidak menghindar, tidak pula berniat keluar dari ruangan itu.
"Jika memang kita terdapat suatu hubungan dimasa lalu, setidaknya hargailah aku yang sedang tidak mengingat apapun, yang pasti ingat atau tidak aku bukanlah perempuan murahan yang bisa kau cium seenaknya, kau bisa memberiku pasal penganiayaan, aku juga bisa melaporkan tindakan asusila mu ini," tunjuk Humairah lagi.
"Ya Allah, kenapa jadi tindakan asusila? Itu berlebihan," gumam Alif bingung sendiri.
"Duduklah di tempatmu, kita bisa bekerja secara profesional jika kau masih mau aku menjadi sekretaris, meski terkesan bercanda aku tidak suka bercanda tentang ciuman, itu menggelikan."
"Huh..... Menggelikan tapi enak, kau saja yang tidak ingat. Oh ya Allah ini benar-benar cobaan, mau cium istri sendiri saja tidak boleh, ditampar pula," rutuk Alif pelan tidak sampai terdengar perempuan itu.
__ADS_1