
"Bu, ini aku Humairah," sapa Humairah pada ibu Aini yang menatapnya kosong.
Ibu Aini diam.
"Aku kemari menjenguk ibu, percayalah semua akan baik-baik saja nanti. Setelah sembuh ibu akan pulang bersamaku, ini ku bawakan makanan dan peralatan mandi biar ibu bisa menjaga kebersihan diri."
Ibu Aini menatap Humairah lama.
"Humairah?"
Humairah tersenyum mendengar ibu Aini mengenalinya.
"Iya bu, aku Humairah."
Airmata ibu Aini kembali menetes.
"Mana kakakmu Mayang?" tanya Ibu Aini sambil memegang wajah Humairah.
Humairah tersenyum tipis, "Kak Mayang belum pulang bu, jika ibu ingat berilah alamat paman biar ku susul agar kak Mayang tahu kondisi ibu dan datang kemari menjenguk."
Ibu Aini mengerutkan kening saat mendengar Humairah bicara. Ibu Aini kembali teringat suatu kejadian yang membuat dadanya seperti dihimpit batu besar hingga sangat terasa sesak dadanya.
Pada kenyataannya Humairah menganggap Mayang masih tinggal bersama adik lelaki ibu Aini di kota lain, Mayang ikut pamannya untuk sekolah dan bekerja di sana seperti ingatan Humairah jauh sebelum ini terjadi, seperti itulah yang Humairah ketahui selama ini.
Ibu Aini menggeleng dan menangis hingga sesegukan. Humairah bingung, ia baru tahu bahwa ibunya benar-benar terganggu jiwanya saat kehilangan ayah Ihsan hingga menyebabkan ibu Aini menyedihkan seperti ini.
"Bu, ayah sudah tenang jadi jangan seperti ini aku mohon... Bukankah kita juga pasti akan menyusul nantinya, jika ibu sakit seperti ini membuat ku bersedih."
"Aku akan wisuda tidak lama lagi, aku ingin ibu hadir.... Aku berhasil lulus meski beasiswa, tapi semua itu dari hasil kerja keras ayah dan ibu yang membiayai jajanku selama kuliah, aku bisa makan bergizi dan bisa membeli semua kebutuhan untuk tugas kuliah dari uang kalian, tanpa dukungan ayah dan ibu mungkin aku tidak bisa mencapai semua ini."
"Aku lulusan terbaik, itu artinya orangtuaku akan maju ke depan mendampingi ku nanti ke podium, jadi ibu harus sehat sebelum hari itu tiba," ucap Humairah juga telah menangis mengecup punggung tangan ibu Aini berulang kali.
__ADS_1
Bahu ibu Aini kian bergetar mendengar Humairah berkata kalimat demi kalimat. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Pulanglah Humairah, ibu bukan ibu yang baik untukmu..... Semua karena ibu, semua ini terjadi karena ibu, mas Ihsan meninggalkanku selamanya, Mayang benar semua ini terjadi karena ulahku sendiri, Humairah terluka, mas Ihsan meninggal dan Mayang.... Mayang.... Mayang..... " ucap ibu Aini sesegukan, ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Humairah menjadi heran dan bertanya-tanya kenapa ibunya meratap begitu dalamnya, terlebih ada nama Mayang pada kalimatnya, ibunya juga menyebut dirinya terluka.
"Ibu?"
Ibu Aini berdiri, ia lari ke sudut kamar menangis lagi dan lagi. Ia menghindar saat Humairah mendekatinya.
Papa Imran melihat mereka dari luar, ia memerintahkan pada perawat agar membawa Humairah keluar dari sana.
Humairah memeluk papanya dan memberitahu ucapan ibu Aini tadi.
"Tenanglah sayang, itu bukan apa-apa..... Ibumu sedang tidak baik-baik saja, dan kau tahu sendiri semua pasien yang dibawa kemari tidak bisa kita percaya semua ucapannya, tenangkan dirimu.... Ibumu hanya belum bisa menerima saja, dia gagal melewati fase menerima kehilangan ini maka tidak heran banyak pasien yang punya masalah yang sama, bukan ibumu saja."
Papa Imran menenangkan putrinya yang juga menangis sedih melihat kondisi ibu Aini.
Humairah mengangguk, "Apa boleh aku sering kemari menjenguk ibu? Papa harus mengerti, dia membesarkan dan mendidikku dengan baik, aku mohon papa tidak melarangku kemari. Aku menyayanginya layak pada papa dan mama."
"Tentu, kau boleh kemari. Kita akan pantau perkembangan kesembuhannya. Kita berdoa saja agar ibumu cepat sembuh dan bisa pulang bersama kita."
Humairah memeluk papanya lagi.
******
Hari-hari pun berlalu, Humairah masih menunggu perkembangan kesembuhan ibunya namun hingga saat ini ibu Aini juga belum menunjukkan jika ada peningkatan.
Dua hari sekali Humairah datang menjenguk untuk mengantarkan makanan atau keperluan lain untuk kebutuhan kemandirian ibunya selama dirawat. Humairah cukup bahagia karena saat ini ibunya telah dirawat gabung dengan pasien lain yang mempunyai masalah yang sama, tidak dibiarkan sendiri lagi di satu ruangan yang pengap dengan cahaya yang minim seperti pertama masuk.
Ibu Aini juga dikategorikan pada pasien mandiri, tidak dikurung dan ia bebas berjalan dan menikmati semua suasana rumah sakit jiwa terbesar di kota itu, hingga Humairah bebas jika ingin bertemu meski ibu Aini masih sulit diajak bicara.
__ADS_1
Hari wisuda akan berlangsung esok hari, setelah menunggu lama akhirnya ia bisa bertemu dengan Rasya. Pria tingkat akhir yang belum lulus juga hingga sekarang.
Humairah begitu penasaran kenapa hubungan mereka bisa kandas padahal ia tidak merasa ada masalah selama mereka bersama.
"Hai...." sapa Humairah tersenyum ramah pada mantan kekasihnya itu.
Rasya yang terus menghindar akhirnya menyerah juga, ia tahu apa yang terjadi pada Humairah dari Lola dan kakaknya Daffa hingga ia memilih untuk tidak mengganggu Humairah namun siapa sangka ternyata Humairah lah yang mencarinya, ingin bertemu dengannya sudah sejak beberapa waktu lalu.
"Hai, apa kabar?" tanya Rasya canggung, pada kenyataannya pria ini sudah mulai menerima kehilangan Humairah, kakaknya Daffa baru mengetahui hubungan mereka lalu memberi ultmatum padanya agar tidak mengganggu istri sahabatnya lagi.
"Alhamdulillah sudah lebih baik."
"Maaf aku tidak menjengukmu di rumah sakit. Aku hanya sedang sibuk panitia penerimaan mahasiswa baru," jawab Rasya menatap Humairah tidak berkedip.
"Iya, saat sadar aku kebingungan tentang kenyataan yang Lola beritahu tentang kita.... Maafkan aku Rasya, aku hanya merasa penasaran saja padamu."
Lama Rasya terdiam.
"Aku lebih bingung lagi harus bagaimana saat ini, aku sungguh bahagia kau mengingatku pertama kali saat sadar, andai semua memang seperti yang kau ingat sekarang ini tapi sayang sekali kita memang telah lama berakhir Humairah."
Jelas Rasya lesu.
"Jadi Lola benar," gumam Humairah menunduk, lalu ia menoleh lagi pada Rasya.
"Andai tidak benar, memangnya kau masih mau pada ku yang akan menjadi mahasiswa abadi ini?" tanya Rasya terkekeh.
"Tidak, aku akan berpikir dua kali untuk itu," jawab Humairah terkekeh juga.
Mereka larut dalam obrolan ringan saling bertanya kabar dan kegiatan yang mereka jalani saat ini.
Alif memantau mereka dari kejauhan.
__ADS_1