"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 85


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat, Humairah mantap menjadi ibu rumah tangga biasa. Mengurus anak dan suami yang selalu sibuk bekerja namun selalu pula meluangkan waktu senggang untuk istri dan anaknya.


Wajah mungil Ariq yang sudah menginjak usia tiga bulan selalu membayangi benak Alif jika sedang bekerja, ia menjadi bersemangat mengerjakan semua urusan kantor agar cepat selesai cepat pula ia bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga kecilnya.


Di kantor.


Pertemuan penting dengan dua orang sukses lainnya yang juga sudah besar namanya meski usia mereka masih muda bahkan lebih muda dari Alif sendiri.


Dua orang perempuan cantik menjadi partner baru dalam hubungan kerja yang tentu saling menguntungkan, kerja sama sudah berjalan dua bulan, pertemuan mereka kian sering membahas sebuah proyek besar yang ditangani dua perusahaan.


Belinda menghadap Alif yang baru saja mematikan ponselnya habis menelepon Humairah tercinta.


"Mas Alif," panggil Belinda dengan suara gemulainya.


"Aku bukan mas mu," cegah Alif menatapnya kesal, sudah berbulan-bulan Alif memarahi Barry untuk tidak memanggilnya mas Alif namun pria setengah jadi itu tetap saja memanggil bosnya itu layak Humairah.


Belinda hanya bersungut manja, ia tidak pernah mengambil hati jika Alif memarahinya, ia suka menggoda Alif hingga mereka terlihat akrab dari hari ke hari, meski begitu jika urusan pekerjaan Belinda sungguhlah profesional, pekerjaannya apik dan telaten layak Humairah dulu.


Meski sering kesal namun Alif menyukai cara kerja Barry, ia tidak memusingkan lagi tentang kejantanan pria gemulai itu.


"Huh selalu saja seperti itu, baiklah nona Citra dan nona Dea sudah menunggu di ruangan meeting."


"Iya, aku akan menyusul," jawab Alif singkat.


Belinda segera pergi, setelah merapikan penampilannya Alif pun segera menyusul.


"Maaf lama menunggu," ucap Alif pada semua yang hadir pada meeting itu.


Berbasa basi, lalu meeting berjalan dengan semestinya. Hanya berjalan selama satu jam mereka membahas masalah proyek baru itu hingga pertemuan ditutup.


Alif sedang menghadap laptop, ia pikir semua sudah keluar namun di dalam ruangan itu tinggal Citra dan Belinda bersamanya saat ini.


"Alif," panggil perempuan bernama Citra.


"Citra? Kau belum keluar?" tanya Alif bingung, sebab Dea dan yang lain sudah keluar pamit lebih dulu.


Belinda menyaksikan interaksi mereka sambil merapikan berkas. Ia menangkap maksud lain dari perempuan berambut pendek sebahu itu.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," jawab Citra tampak gugup.


"Iya, katakan saja."


"Alif, aku.... Aku...." ucap Citra dengan wajah memerah yang kian gugup.


"Ada apa Citra? Apa ada yang salah dengan pertemuan kita tadi?"


"Bukan, maksudku ini tentang hal pribadi."


"Apa itu?"


Belinda mulai menyimak dan menajamkan pendengarannya. Ia menjadi penasaran atas gadis itu.


"Alif, kita sudah cukup lama kenal."


"Lantas?" tanya Alif mulai kesal, ia merasa buang waktu untuk interaksi seperti ini.


"Alif aku aku menyukaimu," ucap Citra malu-malu.


Wajahnya bersemu merah, pun Alif wajahnya menjadi lebih bingung lagi mendengar pernyataan Citra.


"Apa maksudmu?"


"Iya, aku memendam rasa suka padamu sejak kita bekerja sama, aku kagum padamu."


"Apa?"


"Iya, aku jatuh cinta padamu."


"Apa kau gila? Aku ini pria beristri, jangan konyol Citra. Aku tidak suka pembicaraan ini!" ketus Alif yang berdiri dari duduknya.


"Alif, aku tahu ini salah tapi aku benar-benar suka padamu."


"Bagus jika kau tahu ini salah, jadi hapus perasaan itu. Aku pria beristri Citra, tidak layak kau menyukaiku dalam hal apapun."


"Alif jangan naif, aku tahu masa lalumu.... Kau pernah berpoligami," jawab Citra mulai berani.


Alif menatap perempuan itu dengan tajam.


"Lantas apa hubungannya masa laluku dengan pembicaraan ini?"


"Beri aku kesempatan yang sama, kau pria yang mudah jatuh cinta lihat saja kau bahkan berani menikahi dua wanita dalam usia yang masih muda, beri kesempatan yang sama padaku. Aku tidak apa menjadi yang kedua."


"Ckkk...... Kau tidak tahu apa-apa tentang masalah rumit segitiga yang pernah ku buat tahun lalu, tidak semua poligami itu karena rasa suka pada banyak wanita lalu menikahinya agar rasa suka menjadi halal, aku tidak naif Citra. Aku mencintai istriku, kau salah jika mengira aku pria yang mudah jatuh cinta."


"Aku baru tahu pula ada wanita yang terhormat dan terpandang seperti mu bisa merendahkan harga diri di depan lelaki beristri, mau dijadikan istri berikutnya hanya karena jatuh pada perasaan yang salah. Miris sekali," sanggah Alif mulai jengah.


Ia tidak mengira seringnya bertemu urusan pekerjaan bisa menjadi wadah untuk wanita lain memasuki kehidupan pribadinya, padahal ia selalu menjaga sikap dan tidak meladeni terlalu berlebihan untuk urusan pribadi.


"Alif, aku...."


"Hentikan pembicaraan ini, aku benar-benar tidak suka Citra. Urusan kita hanya sebatas pekerjaan saja tidak lebih dan tidak kurang apalagi soal pribadi maaf sekali kau salah orang," tegas Alif yang bahkan tidak memberi kesempatan Citra untuk menjawab.


Belinda menyaksikan itu cukup menjadi tercengang, ia geleng kepala atas perempuan yang sedang dipermalukan itu, Citra menyukai bosnya, menyukai bos tampan yang menggilai istrinya. Ada pula rasa ingin tertawa saat Citra kehabisan kata-kata saat Alif selalu menyangkalnya.


"Alif," ucap Citra seraya meraih tangan pria itu namun segera Alif menepisnya dengan kesal.


"Jangan berani menyentuhku!"


"Aku sudah merendahkan harga diriku, setidaknya hargai perasaanku, jangan buru-buru menolakku..... Kita bisa menjalaninya perlahan, jika kita menikah bukankah perusahaan mu akan bertambah besar, proyek akan terus diberikan ke perusahaan ini selama ayahku menjabat. Ayolah Alif jangan naif, kau akan jatuh cinta padaku jika kita sudah saling mengenal nanti," rayu Citra yang benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.


"Maaf aku tidak tertarik untuk itu, sepertinya percuma bicara padamu. Sebaiknya kau berkenalan dengan istriku saja, agar kau bisa berkaca bagaimana harusnya seorang gadis memelihara harga dirinya, harga diri keluarganya," jawab Alif enteng.


"Apa? Beraninya kau membandingkan ku dengan istri sok alim mu itu," ujar Citra mulai emosi saat Alif menyuruhnya berkenalan dengan Humairah.


"Iya, kau pantas dibandingkan dengan istriku."


"Kurang ajar kau Alif, aku menyukaimu, aku merendahkan harga diriku saat ini. Beginikah caramu memperlakukan wanita?"


"Kau sendiri yang mulai, baiklah aku sudah bosan pada pembicaraan ini. Silahkan keluar!"


"Alif."


"Aku tidak akan menghargai wanita yang tidak bersikap layak seperti mu, pergilah kau membuatku bertambah pusing."


"Apa kau sadar siapa yang kau usir ini? Kau lupa proyek besar itu bermula dari siapa? Jika bukan ayahku kau tidak akan mendapatkan tender, kau akan rugi besar Alif jika sampai aku membatalkan semua ini, jadi pertimbangkan itu. Kau beruntung tanpa meminta aku sendiri yang menawarkan diri sebagai istri kedua."


"Aku tidak peduli kau anak presiden sekalipun, baru anak gubernur saja kau sudah sombong, enyahlah dari hadapanku, kau pikir aku peduli dengan proyek ini? Ini kecil Citra, bukan apa-apa bagiku. Ingin mengakhiri kesepakatan? Oh dengan senang hati, agar aku tidak lagi harus berurusan denganmu."


"Kau berani menolak ku?"

__ADS_1


"Iya, aku bahkan menolakmu mentah-mentah."


"Barry, akhiri semua kerja sama kita urusan tender ini. Aku sudah tidak berselera mengerjakannya, sepertinya kita butuh liburan."


"Atur jadwal senggangku, aku ingin liburan bersama istriku," Sindir Alif seraya berjalan menjauh menuju pintu keluar ruangan.


Citra menatap Alif dengan perasaan malu dan marah sekaligus, terbiasa digilai para lelaki namun satu pria ini menolaknya mentah-mentah padahal ia sudah merendahkan harga diri.


Belinda kebingungan sendiri, namun pada akhirnya ia mengikuti langkah Alif dan meninggalkan Citra seorang diri di sana.


Alif memijat kepalanya yang pusing saat sudah di ruangannya.


"Mas bos," panggil Barry.


"Ada apa lagi?" sergah Alif terbawa suasana kesalnya.


"Jangan marah, aku hanya ingin mengatakan aku semakin kagum padamu mas bos."


"Barry," tatap Alif dengan tajam seolah menusuk jantung Belinda yang semakin terkekeh melihat raut Alif yang menggemaskan.


"Belinda mas bos."


"Barry, berani kau bersuara lagi akan ku bunuh kau."


"Owwwhhh aku takut," jawab Barry dengan nada gemulai yang dibuat manja.


Membuat Alif berdiri menghampirinya dengan sangat kesal.


"Mas bos keren, aku suka caramu menolak perempuan tadi. Dia terus bertanya tentangmu selama kita bekerja sama, aku juga geli pada perempuan yang suka pada suami orang."


"Bagus jika kau mengerti."


"Mas bos keren."


Belinda mengacungkan dua jempolnya dengan gaya khasnya yang mana membuat Alif bertambah kesal.


"Cobalah bersikap jantan Barry!"


"Belinda."


"Barry."


"Belinda."


"Oh ya Allah, lama-lama aku bisa gila."


Umpat Alif mengusap wajahnya kasar, lalu ia menoleh lagi pada sekretaris itu.


"Laki."


"Laki," turut Belinda dengan suara manja.


"Laki."


"Lakiiii," jawab Belinda dibuat segemulai mungkin, ia terkekeh melihat wajah Alif yang seperti ingin menelannya hidup-hidup, mereka sering terlibat percakapan tidak penting seperti ini sebelumnya jika sedang penat bekerja.


"Audzubillahiminasyaitonirrojim."


"Mas bos kira aku syaiton?"


"Mirip."


"Barry, aku rasa selain menyebalkan kau juga menjadi penghibur ku dengan baik. Satu hal aku berdoa agar aku kuat iman menghadapimu, agar tidak ikut gemulai seperti itu."


Kekeh Alif seraya meninggalkan ruangannya.


****


Setelah memutuskan untuk pulang, Alif telah sampai pula di rumah orangtuanya, sejak Humairah melahirkan mereka tinggal di sana agar mama Rika ikut membantu mengurus cucunya.


Setelah bertemu sang mama di depan, Alif segera ke kamar yang mana Humairah berada di sana.


"Sayang, aku pulang."


Teriak Alif ketika masuk kamar mereka, entah kenapa meski di kantor ia begitu kesal dan penat oleh Citra yang tiba-tiba mengaku suka padanya tadi, namun setiap pulang tentu moodnya akan selalu membaik terlebih ada sosok mungil yang selalu menyambutnya.


Alif bingung saat melihat Ariq yang bermain sendiri di atas ranjang, bayi lelaki yang baru mulai belajar tengkurap itu sedang mengisap jempolnya tenang tanpa rewel meski ia sedang sendirian.


Alif menghampiri bayinya, menciumnya dengan gemas sambil menunggu Humairah yang terdengar berada di kamar mandi.


"Mas Alif, kau sudah pulang?" sapa Humairah saat keluar dari kamar mandi.


"Sayang, kau pucat.... Kau sakit?" tanya Alif yang meraih wajah istrinya dengan memberikan banyak kecupan disana.


Humairah menggeleng.


"Wajahmu pucat, ayo jangan bohong apa kau merasa tidak enak badan?"


"Aku baik-baik saja."


"Sayang jangan membuatku cemas."


"Mas Alif tenanglah aku tidak apa-apa. Hanya saja saat ini aku lagi ingin makan sesuatu."


"Apa itu?"


"Mangga."


"Ide bagus, siang-siang minum jus mangga pasti menyegarkan. Oh sayang kenapa tidak bilang di telepon tadi."


"Bukan mangga matang, tapi mangga muda."


"Sayang, jangan aneh makan mangga muda disiang bolong seperti ini. Lagi pula tidak musim, aku harus mencari kemana? Seperti orang mengidam saja."


Humairah membawa tangan Alif untuk berlabuh pada perutnya.


"Sayang?"


Humairah mengangguk lalu tersenyum malu.


"Aku hamil mas Alif. Aku mengidam mangga muda sekarang."


"Apa?"


Humairah mengangguk lagi.


"Sayang jangan bercanda."


Humairah melepas pelukan mereka, ia menuju nakas lalu kembali pada Alif dengan suatu benda di tangannya.

__ADS_1


Humairah menyerahkan tes pack bergaris dua di tangan Alif.


"Humairah ini sungguhan?"


Perempuan itu mengangguk, "Iya, aku sudah lama telat datang bulan. Aku sudah tahu ini sejak awal tapi aku malu mengakuinya, aku tidak mengira akan sesubur ini padahal aku menyusui aktif, sepertinya KB laktasi tidak berlaku padaku."


Alif memeluk Humairah dengan heboh, ia sungguhlah bahagia mendengar berita ini.


"Mama," teriak Alif heboh sendiri.


"Kau tidak keberatan aku hamil lagi?"


"Hei bicara apa itu, aku bahagia Humairah.... Mendapatkan keturunan yang banyak adalah prioritas ku mulai sekarang, kenapa kita harus menolak punya anak banyak diusia muda? Aku tidak ingin membuang waktu, memang seharusnya kita berbahagia bersama anak-anak nanti."


"Mas Alif, tapi tidakkah ini terlalu cepat. Ariq saja masih bayi, kasihan dia."


"Hei sayang, Ariq putra pertama kita..... Tentu dia akan menjadi kakak yang hebat, dia tidak akan kekurangan apapun meski kau sedang hamil lagi saat ini, semua memperhatikan Ariq semua sayang padanya jadi tidak akan kekurangan kasih sayang seperti yang kau takutkan."


"Jika bisa setiap tahun kau mengandung dan melahirkan juga tidak masalah."


"Mas Aliiiiif."


Alif tertawa, ia berpaling pada Ariq yang masih sibuk sendiri.


"Kau akan menjadi kakak sayang, jangan cengeng oke.... Harus laki, jangan seperti paman Belinda mu itu."


Humairah tertawa dibuatnya.


"Alif Humairah, ada apa ini? Kenapa kau teriak-teriak nak? Apa Ariq baik-baik saja? Apa dia terjatuh?"


Mama Rika menghampiri mereka dengan cemas, ia langsung menggendong cucunya yang ia mengira mungkin saja terjadi sesuatu pada bayi itu.


"Istriku hamil lagi ma, Humairah hamil lagi."


"Apa?"


Humairah merasa malu pada mertuanya. Mereka mengangguk berbarengan.


"Benarkah? Oh sayang, ini berita bahagia. Baiklah jika begitu segera atur jadwal mu Alif, ajaklah istrimu liburan semacam baby moon atau apalah.... Biar Ariq menjadi urusan mama, oh mama bahagia Humairah, mama tidak akan rebutan cucu lagi dengan papamu, melahirkan yang banyak agar kami menikmati masa tua ini dengan kerepotan oleh cucu-cucu dari kalian."


"Mama," lirih Humairah terharu, mertuanya itu adalah mertua terbaik yang ia miliki.


Mama Rika keluar membawa serta Ariq dari sana, perempuan paruh baya itu juga tidak kalah heboh memberitahu berita bahagia itu pada para penghuni rumahnya termasuk pelayan.


Alif membelai wajah istrinya.


"Kau ingin liburan kemana? Sebenarnya aku pulang siang ini juga ingin berniat hal yang sama, ingin mengajakmu liburan."


"Kemanapun asal bersamamu," jawab Humairah seraya menempelkan bibirnya pada bibir sang suami.


Alif terkekeh, mereka berciuman cukup lama.


****


Sekian tahun berlalu, Humairah dan Alif dikaruniai tiga anak laki-laki.


Ariq, berumur enam tahun lebih. Dua adiknya Aziz yang hanya terpaut satu tahun darinya dan Ammar yang lahir dua tahun lebih muda dari Aziz.


Tiga beradik yang nakal, selalu membuat kehebohan dalam rumah tangga Alif dan Humairah, merepotkan semua orang jika mereka sudah berbuat ulah. Namun mereka anak yang penurut pada Humairah, mereka manja jika sedang bersama oma Rika dan kakek Imran saja.


Ariq memiliki pribadi yang unik, ia tidak banyak bicara namun jika ada terjadi perselisihan dengan teman bermainnya ia suka langsung main pukul saja tanpa harus beradu mulut.


Malam ini Humairah tengah didandani layak pengantin, Alif memberinya kejutan ulang tahun pernikahan mereka yang ke delapan. Menjelma seperti sepasang pengantin, menikmati pesta kecil bersama kedua keluarga besar dan teman dekat mereka.


"Sayang, aku merasa badanmu agak berisi dari sebelumnya," cetus Alif saat mereka berdansa.


"Itu pula yang ku rasakan saat ini, baju ini terasa sempit."


Alif terkekeh.


"Kau cantik dalam pakaian apapun."


"Mas Alif, aku ada kejutan!"


"Ah aku sudah tahu, pasti kejutannya kau hamil lagi."


Humairah tertawa, "Ahhhhh mudah sekali ditebak, iya sayang..... Aku hamil lagi."


"Benarkah?" tanya Alif berbinar.


Humairah mengangguk, "Iya, aku mengandung sudah tiga bulan."


"Humairah yang benar saja, kenapa baru memberitahu sekarang?"


"Kau bilang sudah tahu, kenapa jadi terkejut seperti ini?"


"Aku hanya menebak, seperti tahun-tahun sebelumnya."


"Dan kau benar, aku hamil."


"Yes... Alhamdulillah," jawab Alif sedikit berteriak.


"Papa?" seru Ariq yang tidak sengaja mendengar papanya berteriak.


"Hei boy, kau akan punya adik lagi."


"Apa? Punya dua adik seperti mereka sudah membuatku pusing, sekarang mau nambah lagi, semoga saja adik perempuan," cetus Ariq dengan raut datar, matanya melirik Aziz dan Ammar yang sibuk menjahili para tamu.


"Cara bicaranya benar-benar dewasa padahal baru enam tahun," ucap Humairah menatap putranya dengan geleng kepala.


"Jangan diambil hati, dia sosok kakak yang baik."


"Iya, baik dalam hal memukul. Terlebih setelah dia benar-benar menggeluti dunia taekwondo. Semua ini ulahmu, seharusnya dia les piano bukan taekwondo."


"Sayang yang benar saja, Ariq itu laki-laki.... Les piano lebih cocok untuk perempuan. Enak saja tidak boleh."


"Aku rasa Ammar menuruni bakatku, dia suka melihatku main piano."


"Ammar masih kecil, dia belum mengerti. Mereka laki-laki tidak boleh main begituan."


"Mas Alif, kau tidak lihat seorang komposer terkenal juga banyak laki-laki. Musisi dunia bahkan banyak yang mahir bermain piano."


"Tidak untuk mereka, semoga calon bayi ini perempuan, biar kau punya teman tidak cantik sendirian juga kau bebas menyuruh mereka les piano," goda suaminya seraya mengelus gemas perut Humairah.


Humairah bersungut manja, hingga Alif mencium bibirnya dengan lama sampai pada Ariq bersuara.


"Mama, papa, itu adegan dewasa. Aku masih kecil. Baru kelas satu SD, selalu saja tidak tahu tempat."


****

__ADS_1


__ADS_2