"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 37


__ADS_3

Esok hari.


Humairah tersenyum melihat-lihat album foto ketika ia menikah, empat bulan sudah berlalu, terasa baru kemarin ia memakai baju kurung muslimah bergaya melayu Malaysia berwarna putih gading dengan hiasan kepala yang sederhana namun begitu elegan, senyum menghiasi bibirnya ketika foto berdua dengan pria yang menikahinya dalam waktu singkat itu.


Tertutup rapi, tidak ada yang tahu pernikahan itu kecuali dua keluarga besar, kerabat Alif terutama sang mama yang telah melahirkan suaminya, mama Rika yang begitu menginginkan Humairah yang bersanding di resepsi besar malah harus menelan kecewa.


Tidak, bukan hanya mama Rika melainkan semua keluarga kecewa atas keputusan Alif yang lebih memilih perempuan lain yang dibanggakannya pada halayak ramai, kecewa pun mereka layangkan pada Humairah yang mengizinkan suaminya menikah lagi secara sah dan digelar resepsi pula, sedang menikah dengan dirinya tidak.


Bukan itu saja Humairah juga mengiyakan bahwa ia rela pernikahannya disembunyikan untuk menjaga nama baik suaminya yang seorang terpandang.


Jika sebelumnya hanya beberapa kali saja Alif mengunjunginya dalam sebulan.


Kini, baru dua minggu yang lalu Alif mulai melihat ke arahnya, mengunjunginya lebih sering yang berakhir dengan kata cinta yang diberikan pada Humairah. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan Humairah selain keharmonisan dalam rumah tangganya.


Lamunan Humairah buyar saat ponselnya berdering tanda panggilan masuk dari seorang driver ojek online.


Segera ia mengangkat telepon seraya berjalan keluar rumah, menghampiri ojek itu lalu menerima pesanan dan membayar dengan uang yang pas.


Humairah kembali masuk ke rumah setengah berlari, ia sudah tidak sabar ingin masuk ke kamar mandi.


Pukul tujuh pagi, memesan sebuah tes pack dari apotek yang buka 24 jam yang baru saja diantarkan oleh driver ojek online.


Dadanya gugup, tangannya gemetar saat memasukkan benda tersebut ke dalam tampungan urinnya.


Mata Humairah tidak berkedip menatap alat canggih itu merespon dengan dua kemungkinan.


"Bismillah," gumam Humairah sambil menggigit bibir bawahnya.


Diangkatnya alat uji kehamilan itu Humairah memejamkan mata sejenak lalu melafalkan nama penciptanya agar jangan ada rasa kecewa nanti jika hasilnya tidak seperti yang diharapkan.


Dan hasilnya pun terbaca dalam 30 detik pertama.


*****


Humairah merasa banyak yang menatapnya aneh saat ke kampus, ia baru teringat pula drama live Instagram di hotel kemarin, ia yakin bahwa hal itu yang menyebabkan ia menerima pandangan yang berbeda-beda dari setiap penghuni kampus.


"Karena aku sedang bahagia, tatapan aneh itu takkan mempengaruhi ku," gumam Humairah tersenyum tipis.


"Mairah," panggil Lola yang berlari ke arahnya.


Humairah girang berjumpa sahabatnya yang sudah sangat lama tidak bersua.


"Lola sayang, ayo lepaskan aku!"


Lola melepas pelukannya kemudian menatap wajah Humairah dengan kesal.


"Kenapa?"


"Jangan pura-pura tidak tahu bodoh!"


Humairah terkekeh, "Soal live IG?"


Lola mengangguk.


"Mari kita bicara dikantin, aku jadi ingin makan mie rebus," cetus Humairah lagi sambil menarik tangan sahabatnya menuju kantin kampus.


Lola hanya bisa menghembus nafas kasar. Mereka bicara santai sambil terus berjalan sampai pada langkah mereka berhenti saat bertepatan dengan seorang mahasiswa lelaki tampan yang baru saja keluar dari kantin.


"Rasya," ucap Lola melirik Humairah bergantian dengan pria itu.


Rasya tampak dingin, ia tidak menyahut melainkan langsung saja melewati Humairah dengan wajah kesal, berlalu dan pergi tanpa basa basi.


"Kau lihat? Aku rasa dia marah padamu!"


Humairah tersenyum lagi, "Biarkan dia, kami sudah tidak ada urusan. Marah ataupun kecewa soal live itu bukan urusanku, lagi pula aku tidak berkewajiban untuk menjelaskan pada siapapun tentang live kemarin. Ini privasiku."


"Iya, privasi yang kau tayangkan secara langsung. Dan semua heboh karena itu. Untung mereka tidak mengenal suamimu, jika tidak bersiaplah menyandang status pelakor," ketus Lola.


"Aku lapar, ayo makan dulu baru kau boleh marah-marah," jawab Humairah terkekeh, entah kenapa hari ini begitu enteng perasaannya, ia tidak mau ambil pusing dengan pendapat semua orang tentang drama live pagi kemarin.


Humairah baru saja pulang dari jadwal penelitian skripsinya di salah satu Bank Swasta yang menjadi tempat penelitian keperluan tugas akhir skripsi jurusan akuntansi yang ia geluti selama tiga setengah tahun terakhir.


Lama bertukar cerita bersama Lola yang bahkan belum tembus masalah proposal skripsinya, sepertinya mereka tidak akan lulus bersama tahun ini, mereka berjanji temu di kampus yang mana bank tempat Humairah penelitian tidak jauh dari sana.


Humairah memberi penjelasan tentang hubungannya dengan Alif yang sudah sangat membaik pada sahabatnya hingga tidak heran bisa terjadi drama seperti kemarin.


Tidak lama ponselnya berdering.


"Papaku, maaf ku terima dulu!" ucap Humairah permisi menjauh dari Lola seraya menerima telepon dari papanya.

__ADS_1


"Papa? Sejak kapan ayah Ihsan berubah jadi papa?" Lola bertanya-tanya sendiri atas ucapan Humairah.


Beberapa menit kemudian.


"Maafkan aku sayang, aku harus pulang."


"Apa terjadi sesuatu? Kenapa dengan ayah Ihsan?"


Humairah tersenyum, "Ini bukan ayah Ihsan. Ceritanya panjang sayang, bisa ku jelaskan nanti.... Kau hanya perlu tahu aku sudah ingat semuanya, semua tentangku tentang orangtua kandungku juga. Dan yang baru saja menelepon adalah papa kandungku. Aku pergi boleh?"


"Hidupmu penuh teka teki Mairah, kau membuatku penasaran!" Lola memajukan bibirnya kesal.


Berdebat cukup lama, akhirnya mereka berpisah lagi. Dan Humairah berlalu dari sana untuk memenuhi janji pulang ke rumah papa Imran siang ini.


Humairah sedang menunggu taksi, namun yang berhenti malah sebuah mobil yang ia yakini adalah milik suaminya berhenti secara tiba-tiba tepat di hadapan perempuan ini berdiri saat ini.


"Mas Alif?"


"Sayang," sapa Alif yang memeluk Humairah.


"Mas Alif ini kampus!" cegah Humairah mengelak saat pria itu ingin menciumnya.


"Baiklah maafkan aku, ayo kita bisa bicara dalam mobil!" ajak Alif seraya membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Humairah mengangguk dan segera menurut pada suaminya untuk masuk mobil, disusul Alif pada posisi kemudi.


"Kenapa ku hubungi tidak diterima?"


"Maaf, mungkin bersamaan dengan panggilan papa," jawab Humairah tersenyum merayu sambil meraih tangan suaminya lalu ia kecup dengan lembut.


"Kenapa tidak memberitahu jika akan ke kampus juga, bukankah kau hanya penelitian lalu pulang?"


"Oh sayang, sepertinya aku harus laporan padamu setiap saat."


"Humairah."


"Iya, maaf.... tadi Lola ingin bertemu, maka aku kemari lagi pula sudah lama tidak makan mie rebus kantin kampus," jawab Humairah seadanya.


"Darimana kau tahu aku ke kampus?" tanya Humairah balik.


"Hanya firasat, dan benar aku menemukan istriku di sana," jawab Alif terkekeh sambil terus mengemudi dengan kecepatan sedang, raut wajahnya sudah mencair lagi.


"Aku akan mengantarmu kesana."


Humairah mengangguk-angguk saja, meski hatinya sangat ingin bertanya tentang madunya namun urung ketika Alif sesekali mengecup punggung tangannya dengan mesra, ia tidak ingin mengubah suasana.


"Humairah," ucap Alif menoleh istrinya sekilas.


"Iya. Ada apa?"


"Aku akan keluar kota, sebaiknya menginap di rumah papa saja."


"Keluar kota? Kenapa mendadak? Bukankah kau baru bertemu kak Aisyah?"


"Iya, urusan mendadak dan harus aku yang turun. Urusan Aisyah, sudah ku beri pengertian," jawab Alif santai.


Alif menoleh wajah Humairah, "Maaf, aku belum bicara apa-apa padanya, urusan kantor sedang menyita banyak pikiranku, dia juga lelah baru pulang."


Humairah membalasnya dengan senyum, "Kenapa harus terburu, kau bisa bicara baik-baik dilain waktu. Aku tidak masalah, tidak berpengaruh apapun padaku."


"Terimakasih sayang," balas Alif mengecup lagi punggung tangan istrinya.


Mereka pun sampai di halaman rumah besar milik orangtua Humairah.


"Sebenarnya aku ada berita bahagia untukmu," cetus Humairah saat mereka ingin masuk rumah.


"Apa itu?"


Humairah menggeleng, "Aku rasa lebih baik ku katakan jika kau sudah pulang nanti, aku hanya takut kau bertambah tidak fokus, uruslah pekerjaan mu dulu kita akan bicara nanti."


"Kau membuatku penasaran sayang, baiklah aku juga tidak akan memaksa," jawab Alif mengecup puncak kepala istrinya yang memakai kerudung berwarna krem.


Makan siang bersama papa Imran dalam suasana hangat, Humairah sesekali terkekeh sendiri melihat papanya yang dingin pada Alif. Meski kasihan, namun ia yakin pula hubungan mereka akan membaik seiring waktu, terlebih nanti ketika Aisyah sang madu akan pula mengetahui ini lambat laun.


Setelah beberapa menit Alif pamit pergi, Humairah sedang membereskan meja dan piring kotor bekas makan siang mereka.


"Biar pelayan saja!" cegah papa Imran melihat putrinya membereskan meja makan dengan telaten.


"Tidak apa, aku sudah biasa melakukan ini. Biar mereka bisa mengerjakan yang lain saja, lagi pula ini tidak banyak," jawab Humairah tersenyum pada papanya yang masih duduk di kursi meja makan.

__ADS_1


Lama papa Imran terdiam lalu ia berkata lagi, "Apa Aini selalu menyuruhmu mengerjakan tugas rumah? Apa dia memperlakukan putriku seperti pembantu?"


Humairah menghentikan tangannya yang mengelap sisa noda di meja, ia menoleh pada papanya.


"Mengerjakan semua ini harus dikuasai seluruh wanita papa, bukan hanya pembantu. Ini salah satu pekerjaan yang butuh didikan orangtua, ibu memperlakukan ku dengan baik, dia mendidikku mengerjakan semua ini agar aku tumbuh mandiri bukan jadi perempuan yang manja yang tidak bisa apa-apa," jawab Humairah lembut dengan nada membujuk ucapan papanya yang terkesan memojokkan ibu Aini lagi.


Papa Imran lagi-lagi terkagum-kagum dengan putrinya, sikap lembut dan pengertian mengingatkannya pada mendiang istrinya sewaktu mereka muda dulu, mama Rania persis Humairah, suka mengerjakan pekerjaan rumah meski ada pembantu.


"Kau akan menginap disini selama Alif keluar kota?"


Humairah mengangguk.


"Tentu saja, aku akan menginap sampai papa bosan."


Mereka saling melempar tawa. Larut dalam sebuah kenangan masa kecil yang mulai bermain kembali di benak ayah dan anak itu melanjutkan obrolan di meja makan sampai sebuah suara menghentikan canda tawa mereka.


"Papa, aku pulang."


Papa Imran dan Humairah menoleh pada sumber suara. Bersamaan mereka berdiri dari kursi.


Aisyah tercekat, ia mengerutkan kening saat mendapati madunya berada dan tampak akrab dengan papanya.


"Humairah?"


"Oh, kak Aisyah kau kemari?" Humairah berjalan mendekat.


Papa Imran berdiri di samping Humairah.


"Kau sudah pulang?" basa basi papa Imran.


Lagi-lagi Aisyah menatap kedua orang di hadapannya saat ini dengan bingung.


"Iya, aku baru bangun maka baru sempat kemari. Aku libur hari ini, papa kenapa ada Humairah di rumah ini?"


"Kenapa? tentu saja karena Humairah adalah putriku."


Aisyah bertambah bingung, mengerti arti tatapan itu kembali papa Imran bersuara lebih dulu dari Humairah.


Sambil merangkul pundak putri kandungnya, papa Imran berkata dengan nada menegaskan lagi menyindir.


"Aisyah Humairah, putri kandungku yang hilang. Kini telah kembali, dia ingat jalan pulang sekarang tidak seperti lima belas tahun lalu yang kau tinggalkan di hutan lalu dia tersesat, namun Allah menyelamatkannya lewat seorang pria, pria itu adalah Alif suamimu, suaminya juga."


"Alif membawanya keluar dari hutan, namun ibumu yang lebih dulu menemukannya daripada kami, dan lebih parahnya putri angkat yang ku sayangi layak anak sendiri telah tega berbohong belasan tahun lamanya sampai istriku meninggal tidak tahu kebenarannya sedikitpun bahwa putrinya masih hidup dan baik-baik saja sampai saat ini."


Papa Imran mengucapkan kata-kata tanpa filter tanpa basa basi meski Humairah menoleh papanya seakan memberi kode untuk bicara baik-baik tidak dalam keadaan berdiri.


Mendengar itu Aisyah berubah rona wajahnya, semula berseri sekarang mendadak pias dan pucat pasih, kakinya berdiri bergeming tidak bergerak sama sekali.


"Ayo kita duduk dulu, jangan terlalu tegang. Papa hanya tidak sabar saja untuk bercerita, ayo kak Aisyah, bukankah ada banyak hal yang bisa kita utarakan selama tidak berjumpa?"


"Oh iya, terimakasih atas obat yang kau resepkan kemarin. Aku rasa obatnya bekerja dengan baik. Aku sudah tidak mual dan muntah hingga saat ini, entah apa karena obatmu atau karena perjumpaan kita siang ini di rumah papa, papa kita. Siapa yang akan menyangka kita juga punya suami yang sama, takdir seolah mempermainkan kita, kak Aisyah merasa seperti itu tidak?"


"Oh ayolah, aku hanya bercanda.... Kau kakakku, jangan berpikir yang tidak-tidak, kita bisa memperbaiki hubungan ini mulai sekarang, meski terkesan mengejutkan mu dalam hal ini namun ada baiknya kita lanjutkan pembicaraan ini nanti, kau lelah dari luar kota. Santai saja, aku tidak akan merebut posisimu di rumah ini," ucap Humairah menatap madunya penuh arti.


"Aku rasa kita bisa bicara sambil minum teh, ayolah jangan tegang. Aku akan buat teh hangat untuk kita."


Aisyah tidak bergerak seincipun, ia menatap papa Imran yang bahkan menatapnya tajam sejak awal pertemuan. Melirik Humairah yang perlahan meninggalkan mereka berdiri kembali ke pantry berniat membuat teh hangat.


"Papa?"


"Humairah memaafkanmu, tapi maaf ini cukup berat untukku, kau mempermainkan kasih sayang kami setega ini, kau anakku sekaligus musuhku, kau seperti harimau. Ku pelihara dan ku beri makan, namun tidak ku sadari kau bahkan telah memakanku sejak awal, kau ingin menutupi wajahmu sekarang?"


"Tidak perlu, kau bisa terus melanjutkan hidup tanpa hukuman apapun karena Humairah tidak mengizinkan ku untuk itu. Tapi satu hal, aku benar-benar tidak bisa bersikap seperti biasa padamu lagi, bukan karena marah tapi lebih dari itu. Kecewa, aku kecewa padamu Mayang Sari, jika bisa ingin sekali ku ralat nama Aisyah yang ku berikan padamu. Nama Aisyah terlalu mulia untuk perempuan culas sepertimu."


"Karena semua sudah terlanjur dan berlalu, putriku juga sudah kembali dengan sehat dan baik berkat asuhan ibumu, doaku hanya satu agar kau sadar dan bisa menebus kesalahan dengan mengerti baik-baik apa arti nama Aisyah yang melekat padamu."


Setelah berkata panjang lebar, papa Imran berlalu seraya mengusap matanya yang basah dibalik kacamata yang membantu penglihatannya yang mulai rabun jauh.


Mayang melihat ke arah dapur lagi, Humairah tersenyum padanya seraya menghidangkan teh hangat di meja makan.


"Kemarilah kak Mayang, kita bisa menikmati teh ini bersama."


####


Panjaaaang kan episode nya?


Maaf baru up, maklum musim anak pada sakit 😟😟😟


Besok senin, jika berkenan sesekali boleh dong kasih votenya, jangan lupa Like dan komen ya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2