
"Tahu tidak persamaan kau dan pelangi itu?" tunjuk Rasya pada pelangi yang baru saja muncul pada pandangan mereka saat ini sebagai hadiah dari hujan panas yang baru saja berhenti.
Humairah menoleh, "Apa persamaannya?" tanya Humairah tersenyum, ia tahu Rasya pandai merayunya seperti dulu.
"Sama-sama tidak bisa ku gapai," ucap Rasya pelan, ia membalas tatapan Humairah hingga mereka saling melempar senyuman.
Alif memejamkan matanya melihat Humairah dan Rasya tampak begitu akrab, senyuman perempuan itu saat menatap Rasya seolah berubah menjadi sebuah belati yang menancap tepat pada jantung Alif, nyeri tentu saja rasanya nyeri sekali.
Alif berusaha tidak memikirkan Humairah, namun hati dan pikirannya tidak sejalan, pikiran yang ingin menjauh malah hati berkata lain agar Alif terus memandang Humairah meski dari persembunyian, seperti saat ini dan sejak kepulangan Humairah dari rumah sakit lalu ia hanya bisa membuntuti saja kemana Humairah pergi tanpa berani mendekati.
Namun sudah hampir satu jam Humairah dan Rasya bicara belum ada tanda-tanda pertemuan mereka akan berakhir, hal itu membuat Alif kesal sendiri, mana ia harus ke kantor sesaat lagi sebab jam makan siang telah berakhir.
Humairah terkekeh pelan oleh gombalan yang baru Rasya layangkan untuknya.
"Tentu saja aku berbeda, aku adalah orang dan pelangi hanyalah sebuah pemandangan yang tidak bisa kita pegang karena terlalu tinggi namun kita bisa menikmatinya walau kejauhan. Sedang aku punya hati yang bisa disentuh. Disentuh bahkan oleh gombalan mu itu."
Jawab Humairah tertawa. Rasya tersenyum getir mendengarnya.
"Andai ucapanmu dari hati, aku tahu kau hanya menghiburku saja."
Humairah tersenyum lagi seraya menjawab, "Maafkan aku Rasya, karena pertemuan ini membuatku yakin jika kita memang telah berakhir sejak lama."
"Sebab tidak ada rasa apapun saat bersama mu sekarang. Sangat berbeda ketika ku rasa kita masih menjalin hubungan dulu, maafkan aku..... Jujur aku merasa pertemuan ini seperti pertemuan dua teman yang sudah sangat lama tidak bertemu, tidak lebih dari itu. Aku senang kau masih ingin menyapa ku kemari."
"Iya, karena hatimu sudah ada pria lain. Dan itu membuatku kesal jika mengingatnya, ayolah berhenti bicara perasaan, luka ku terbuka kembali," jawab Rasya dengan nada bercanda.
"Pria lain? Apa kita berpisah karena pria lain?" tanya Humairah penasaran.
Rasya menghembus napas kasar lalu menjawab, "Iya, karena dia merebutmu dariku."
"Rasya jangan bercanda, siapa dia? Kenapa aku tidak mengingat siapapun selain kau."
"Huh..... Aku bercanda Humairah, ayolah lupakan saja. Tidak haus? Ingin minum di kantin?"
Humairah tersenyum kesal, ia melihat jam di pergelangan tangannya. Ia menjawab ajakan Rasya, "Maafkan aku, siang ini sudah janji pulang dengan cepat pada papaku. Kami akan berziarah, terimakasih banyak sudah mau menemuiku Rasya. Aku harap kita masih bisa berteman, maaf sudah mengganggu waktumu."
"Baiklah, ayo ku antarkan kau pulang."
Humairah menggeleng, "Biar naik taksi online saja, kau pasti sibuk. Aku bisa pulang sendiri," jawab Humairah menolak halus.
Rasya ingin memaksa namun urung saat rekannya sesama panitia penerimaan mahasiswa baru memanggilnya karena acara pengenalan kampus akan dibuka siang ini.
"Aku bisa melihatnya kau masih sesibuk dulu, jika boleh ku beri saran kegiatanmu harus pula diimbangi dengan semangat mengerjakan skripsi, jangan menghabiskan waktu hanya untuk berorganisasi saja, kau sudah sangat abadi di kampus ini, ingat umur Rasya. Kau seorang lelaki, beruntung kita berpisah jika tidak mungkin aku akan menjadi wanita penunggu bagimu yang tidak kunjung selesai kuliah."
"Apa kau mengejekku?"
"Hmmmmm iya," jawab Humairah terkekeh.
"Baiklah nona mantan, aku harap ini bukan pertemuan kita yang terakhir, doakan saja aku punya niat untuk lulus dari kampus ini. Aku akan datang pada wisudamu besok."
Mereka saling melambai tangan saat berpisah, setelah Rasya menghilang barulah Humairah merogoh ponselnya, ia memesan taksi online melalui sebuah aplikasi karena tidak ingin merepotkan sopir papanya untuk menjemput sebab jarak rumah dan kampus cukup jauh.
Baru beberapa menit menunggu, ia melihat sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapannya, Humairah jadi bingung namun segera ditepis saat seorang pria keluar dari mobil itu.
Pria bertubuh tinggi dengan badan proporsional itu memakai masker dan kacamata hitam, benar saja ia menghampiri Humairah yang berdiri di sana.
"Nona Humairah?"
"Benar," jawab Humairah.
"Ayo silahkan masuk, aku taksi online yang anda pesan," ucap sang pria dengan suara berat tertutup masker.
Humairah bingung, ia baru saja memesan taksi itu yang jika dilihat dari map masih jauh dalam perjalanan menuju ia berada saat ini, lalu Humairah melirik mobil tersebut.
"Bukankah ini terlalu mewah untuk sebuah taksi online? Bahkan tidak cocok sama sekali" gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"Maaf nona, silahkan."
Sang pria berpakaian kemeja yang rapi telah membuka pintu mobil untuk Humairah.
"Maafkan aku, hanya saja di aplikasi taksi yang ku pesan tidak sesuai dengan plat nomor mobil anda, lagi pula titik keberadaannya cukup jauh dari sini, aku kira abang salah orang. Mungkin saja Humairah penumpang yang lain."
Alif mengusap lehernya bingung, membawa Humairah tidak semudah yang ia kira.
"Aplikasinya lagi gangguan nona, soal plat memang tidak sama karena sekarang aku pakai mobil teman, mobil yang biasa narik lagi masuk bengkel, aku rasa tidak salah orang. Anda ingin pergi dengan tujuan lorong Melati no 47 bukan? Apa aku salah?"
Humairah terdiam sejenak, ia mengangguk saat disebutkan tujuannya. Mungkin itu adalah benar abang taksi online yang ia pesan. Ia melirik pula jam dan ponselnya yang akan segera mati kehabisan baterai.
"Baiklah, ayo!" ucap Humairah yang perlahan masuk ke mobil dengan modal percaya karena alamatnya disebutkan tadi.
Alif mengambil napas dalam-dalam merasa lega Humairah percaya padanya sebelum taksi online yang asli sampai di sana.
Selama perjalanan mereka terlibat keheningan luar biasa, Humairah bisa merasakan aura yang berbeda ketika di mobil yang sangat jauh dari kata taksi online.
Alif membuka kacamata, ia bisa leluasa menikmati wajah istrinya di kaca spion, darahnya terus saja berdesir menahan sesuatu yang menghimpit dada.
Rindu, Alif rindu istrinya. Istri yang lebih memilih melupakannya dalam sebuah kesakitan dan trauma.
Humairah menjadi tidak nyaman saat menyadari sang sopir mencuri pandang padanya sejak tadi, terlihat jelas di kaca spion.
"Maaf, boleh turunkan aku di sini saja."
Alif terkejut.
"Kenapa nona? Tujuan nona masih jauh."
"Aku hanya merasa tidak nyaman, abang memandangku sejak tadi. Itu terlihat aneh, aku hanya takut abang bisa punya niat jahat nanti, ada banyak kasus pelecehan yang terjadi dalam taksi online."
Alif memejamkan matanya, Humairah benar pintar dan berhati-hati.
"Baiklah, maafkan aku nona... Aku hanya merasa kau adalah penumpang tercantik yang pernah ku bawa."
Humairah terenyuh mendengar alasan logis sang abang taksi, hingga ia mengurungkan niat untuk turun.
"Baiklah, kita boleh jalan lagi. Abang fokus saja mengemudi, jangan menatapku saja. Aku jadi takut."
Alif menghembus napas lega, ia mengangguk dan meminta maaf. Agar tidak bosan Alif menghidupkan radio mobil yang kebetulan sedang diputar sebuah lagu.
*Senyumanmu..... Membuat ku tersenyum malu
Lirikanmu...... Memberi panahan kalbu
Oh sayang ku*.....
Alif tersenyum bahagia yang tersembunyi oleh masker, ia menatap Humairah sekilas. Perempuan yang benar-benar telah membuatnya jatuh cinta berkali-kali.
"Ingin permen nona?" tawar Alif menyodorkan sebuah permen mint dalam kemasan blister.
Humairah menggeleng, "Tidak, terimakasih bang...." tolak Humairah yang masih berhati-hati.
"Apa nona sudah bersuami?"
Humairah tersenyum mendengarnya, "Belum, aku masih kuliah, apa aku terlihat seperti seorang ibu-ibu?"
"Tidak, aku hanya mengira ngira saja, sebab nona memakai cincin seperti cincin kawin."
Alif senang Humairah masih memakai dua cincin pemberiannya, satu saat akad satu lagi saat ia melamar Humairah di kamar mandi.
Humairah menoleh pada dua jari manisnya, kiri dan kanan yang memang memakai sebuah cincin.
"Ini adalah cincin keluarga, turun temurun. Setidaknya itu yang dikatakan papaku, iya abang benar ini seperti cincin kawin, entahlah... "
__ADS_1
Alif tersenyum lagi.
"Begitulah?"
Humairah mengangguk, "Iya, aku juga merasa aneh dengan cincin ini. Aku senang memakainya padahal sejak dulu aku tidak suka memakai perhiasan mahal, apalagi ini ku pakai dua sekaligus," jawab Humairah terkekeh, ia terlarut dalam obrolan dengan sang sopir taksi online bohongan.
Mereka bahkan saling bertukar informasi, percakapan mereka seolah membuat waktu cepat berjalan hingga tanpa terasa mereka telah sampai tujuan.
Alif menghentikan mobilnya tepat di depan pagar besar rumah mertuanya.
"Terimakasih banyak, abang sudah mengantarku dengan selamat. Maaf sempat curiga padamu diawal," ucap Humairah sambil membayarkan ongkos sesuai tarif aplikasi.
Alif menerima uang tunai beberapa lembar puluhan ribu itu dari istrinya. Matanya tidak berkedip memandang Humairah dengan jarak dekat seperti ini.
"Iya, aku maklum jika semua penumpang harus berhati-hati."
Humairah mengangguk tersenyum, ia merasa aneh jika abang taksi itu belum juga beranjak dari hadapannya.
"Maaf, aku rasa uangku cukup dan pas."
Alif tersadar, "Ah, iya maaf..... Terimakasih nona, semoga harimu menyenangkan."
Tapi Alif belum juga pergi dari sana.
"Maaf, aku akan masuk," ucap Humairah tidak nyaman dipandang lama seperti itu lagi.
"Nona!" cegah pria itu.
"Iya?"
"Apa boleh kita berkenalan?"
Humairah terkejut namun ia segera mengangguk.
"Tentu saja, seperti di aplikasi namaku Humairah."
"Namaku Alif."
Deg. Humairah merasa jantungnya gugup saat mendengar nama Alif. Seperti tidak asing baginya.
"Tapi di aplikasi nama mu berbeda."
"Oh, Alif adalah nama panggilan ku," jawab Alif cepat.
"Baiklah, bang Alif.... Semoga penumpangmu ramai hari ini."
Alif tersenyum lebar dalam masker.
"Aku senang mendapat panggilan baru."
"Maksudmu?" tanya Humairah heran.
"Iya, karena seseorang selalu memanggilku mas Alif, tapi sekarang jadi bang Alif."
Humairah tertawa juga akhirnya.
"Maafkan aku, karena kau abang-abang taksi."
Alif mengangguk saja, "Baiklah, abang taksi." Alif mengulangi kata-kata Humairah.
"Aku akan masuk."
"Silahkan, semoga aplikasinya baik hingga nona jadi penumpangku lagi besok-besok. Aku sering narik dekat kampus nona."
Humairah tidak menjawab lagi, ia tersenyum dan mengangguk saja lalu ia membuka pagar dan menghilang.
__ADS_1
Alif membuka masker, ia mencium uang yang dibayarkan istrinya tadi.
"Aku rasa uang ini akan masuk museum."