"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 78


__ADS_3

"Kau suka?"


Humairah mengangguk senang, ia terus tersenyum sambil memainkan jari-jarinya di dada polos milik Alif, jari yang baru saja memakai cincin mahal bertahta berlian.


"Kejutan yang manis, aku benar-benar mengira cincinnya terbang bersama balon tadi, huh kau menyebalkan."


Alif hanya terkekeh.


"Terimakasih banyak, sebenarnya aku merasa ini sedikit berlebihan, cincin ini terlalu mahal sebagai hadiah," jawab Humairah seraya menggigit bibir bawahnya.


"Iya karena cintaku berlebih padamu," kekeh Alif yang tampak santai memandang dan membelai wajah polos Humairah.


Humairah tersenyum lebar, mereka saling menautkan bibir lagi dan lagi sebelum memutuskan untuk berlabuh ke pulau kapuk alias tidur nyenyak dengan saling mengeratkan pelukan.


*****


Alif bergandengan tangan dengan istrinya, senyum ramah menghiasi keduanya saat berjalan menuju ruangan kerja mereka, menyapa atau hanya sekedar melempar senyum pada para pegawainya sudah menjadi hal yang biasa Alif dan Humairah tampilkan sejak mereka kembali bersama.


Di ruangan.


Alif dan Humairah sudah duduk di kursi kerja masing-masing, memulai pekerjaan dengan serius dan profesional namun sebelum semuanya benar-benar dimulai Alif tampak mendekati istrinya.


"Ada apa?" tanya Humairah heran.


Alif memberikan pipinya.


"Beri aku semangat!"


Humairah berdecak namun tersenyum, baru beberapa menit lalu berciuman sebagai pembuka hari di kantor pagi ini, sekarang pria itu minta dicium lagi.


Cup, Humairah memberikan kecupan lembut tanpa membantah.


"Semangat bekerja mas Alif."


Alif tersenyum lebar menatap istrinya, mata mereka beradu pandang beberapa saat.


"Ini terlalu membahagiakan Humairah, bekerja didampingi sekretaris cantik istri sendiri, rasanya aku jadi pria paling beruntung sekarang. Pekerjaan yang melelahkan sekalipun tidak terasa karena kau terus ada di sampingku," ucap Alif membelai pipi istrinya.


Humairah mengangguk, "Senang menjadi sekretaris suami sendiri, bisa menjadi pendamping ketika di rumah sekaligus mendampingi dalam pekerjaanmu di sini membawa kisah dan kebahagiaan tersendiri, tiada jam yang kita lewatkan tanpa bersama, aku senang menjadi istri sekaligus partner mu dalam bekerja. Mari kita bekerja sayang, lihat map-map itu butuh perhatian kita."

__ADS_1


Alif terkekeh saat melirik begitu banyak map dan kertas-kertas yang akan ia koreksi hari ini.


"Baiklah, mari kita bekerja. Sehat-sehat jagoan papa, kau beruntung akan punya orangtua pekerja keras seperti kami," balas Alif seraya mengecup perut Humairah beberapa kali.


Tengah serius memeriksa berkas, Alif mulai kehilangan fokus saat mual dan pusing kembali menyapanya.


"Sayang kau pusing lagi?" tanya Humairah saat tersadar Alif terus memijat keningnya.


Alif hanya mengangguk. Humairah berdiri menghampiri prianya.


"Ingin makan atau minum sesuatu agar lebih baik?" tawar Humairah seraya memberi pijatan lembut pada kepala serta bahu suaminya.


"Pesankan aku kopi."


"Mana boleh kopi, itu akan merangsang muntah. Yang lain saja."


"Oh ini benar-benar tidak nyaman," gumam Alif yang langsung berdiri lalu ke toilet dengan tergesa.


Humairah mengikutinya dari belakang. Benar saja perempuan itu melihat suaminya sedang muntah di sana.


Seluruh sarapan kini terbuang sudah dari lambung Alif oleh muntah. Dengan wajah pucat ia menatap Humairah yang setia memijat punggungnya tadi.


Humairah tersenyum, "Iya mas Alif, aku mendengarnya seperti itu. Jangan cemas oke, biasanya akan mereda sendiri jika perutku sudah lebih besar lagi, tapi ada juga yang mengalami hingga usia kandungan enam bulan."


"Apa selama itu? Kau baru masuk bulan ke empat itu artinya ada dua bulan lagi yang harus ku jalani seperti sekarang?"


"Bisa jadi," jawab Humairah terkekeh.


"Yang benar saja, itu mitos."


Humairah hanya menghardikkan bahunya seraya terkekeh.


"Humairah."


"Iya."


"Bagaimana menurutmu jika memang aku sedang sakit sesuatu bukan karena kehamilanmu? Lihatlah ini sudah berlangsung lama, bagaimana jika aku memang sakit parah dan mematikan?" tanya Alif serius.


"Agar kau tidak bertanya-tanya ada baiknya kita periksa ke rumah sakit mas Alif," jawab Humairah dengan nada tenang, ia membersihkan kemeja suaminya dengan tisu toilet.

__ADS_1


"Bagaimana jika benar, apa kau akan kecewa punya suami yang sakit-sakitan. Aku pernah membaca artikel bisa saja aku sakit ----" Ucapan Alif segera dipotong oleh Humairah.


"Kenapa selalu bicara seperti itu? Apapun sakitmu, semua penyakit ada obatnya kecuali mati. Kita bisa periksa dan berobat mas Alif, zaman sudah canggih jangan berpikir kejauan sedang kita saja tidak tahu sakitmu apa, aku tidak akan meninggalkan mu tenanglah, sakit maupun sehat semua adalah masa-masa yang harus kita hadapi bersama, jangan stress itu yang membuatmu tambah mual dan pusing."


Alif tersenyum.


"Kau optimis sekali."


"Hidup memanglah harus optimis apapun yang terjadi, sudah jangan bahas sakit-sakitan lagi. Kau bilang aku harus hamil dengan senang dan bahagia, aku tidak ingin stress karena hal ini. Percayalah kau baik-baik saja sayang. Ayo keluar."


Humairah mendorong suaminya keluar toilet. Lalu Humairah dan Alif kembali duduk di tempat mereka masing-masing melanjutkan pekerjaan yang menumpuk.


Istirahat siang Alif memutuskan untuk periksa ke rumah sakit bersama istrinya yang memang jadwal kontrol ulang USG kehamilan.


Humairah terus menguatkan Alif saat di rumah sakit sambil menunggu hasil seluruh pemeriksaan atas keluhan sakitnya.


"Mas Alif kau cemas?"


"Lumayan," jawab Alif yang hanya menunduk saja sejak Daffa menemui mereka tadi, namun dokter tampan itu harus pergi karena jadwal visit pasiennya siang ini.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja aku sangat yakin itu, kau menjalani hidup sehat selama ini. Ini hanya gejala kehamilan simpatik saja."


"Huh, aku seorang perokok berat dulunya. Meski sekarang tidak lagi, tapi sesekali aku masih merokok, bagaimana jika hasilnya kanker paru?"


Humairah tersenyum lagi, "Memangnya ada gejala batuk berdarah dan sesak nafas?"


Alif menggeleng, "Jadi suka menebak, jangan juga bicara yang buruk-buruk, itu doa yang tidak baik untuk badanmu sendiri. Semua orang juga merokok, tidak semua rokok buat sakit, ada contoh salah satu dosenku dulu sudah berumur namun dia perokok berat, hingga dalam mengajar pun dia merokok sambil menjelaskan materi, pernah sakit namun sehat karena merokok lagi hebat bukan?"


"Yang benar saja."


"Iya aku tidak berbohong," jawab Humairah, ia menghibur suaminya yang tampak cemas menunggu hasil pemeriksaan.


Berbagai cerita tentang sehat dan sakit Humairah tuturkan pada suaminya hingga Alif sedikit lebih tenang dan lupa pada pemeriksaan lengkap yang baru saja ia lakukan guna memastikan tentang sakit yang ia derita dua bulan terakhir.


Sampai pada keduanya menghadap dokter yang akan menjelaskan tentang hasil pemeriksaan.


"Wah mungkin pak Alif memang benar terkena gejala kehamilan simpatik, dari hasil cek up semuanya baik memang karena terlalu sering mual dan muntah ada sedikit masalah pada lambung anda, nanti saya resepkan obat pereda mual yang bisa mengatasi masalah lambung dan sakit kepala anda."


"Pada dasarnya semua ini dipicu oleh rasa stress berlebihan, rasa kasihan pada istri anda yang sedang hamil hingga menyebabkan anda ingin ikut merasakan apa yang sedang dirasakan perempuan hamil. Anda baik-baik saja pak Alif," jelas dokter lagi dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


__ADS_2