"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 57


__ADS_3

Humairah hanya bisa menunduk takut saat Alif menatapnya tidak ramah begitupun dengan Arya, namun pria itu sungguh santai menghadapi bosnya karena memang ia pikir mereka dipanggil hanya untuk masalah kontrak kerja saja.


Arya yang melihat Humairah gugup dan takut segera meraih jemari wanita itu berniat memberi dukungan agar tidak terlalu tegang, namun segera ditepis Humairah karena terkejut ia tidak suka disentuh seperti itu, ia melirik Arya dengan kesal, Humairah tidak menyangka Arya dengan mudah menyentuh tangannya padahal mereka baru berkenalan tadi pagi.


Bagi Alif itu sungguh lah keterlaluan, Arya berani menyentuh tangan perempuan yang bahkan sudah sangat lama tidak ia sentuh itu di depan matanya sendiri. Sungguh bernyali pria itu pikir Alif, tangan istrinya disentuh pria lain benar-benar membuat suasana hatinya kian panas.


"Aisyah Humairah," ucap Alif lantang dengan nada cukup tinggi.


"Saya pak," sahut Humairah takut, ia tidak berani menatap lelaki yang baru ia ketahui adalah bosnya beberapa saat lalu.


"Kau boleh keluar!" perintah Alif sambil memejamkan matanya sejenak lalu menghembus nafas kasar.


Humairah terkejut, "Apa pak?" tanyanya lagi agar tidak salah pengertian.


"Keluarlah, aku hanya butuh bicara dengan Arya saja," jawab Alif dengan nada lemah.


Humairah segera mengangguk, ia melirik Arya sejenak lalu menuruti perintah Alif untuk segera keluar dari sana tanpa membantah, meski ia masih menerka-nerka alasan mereka dipanggil, tapi ia lega bosnya tidak menyinggung tentang kejadian toilet yang membuat Humairah gugup setengah mati ketakutan jika Alif tidak terima dengan perbuatannya tadi pagi.


Arya heran, hingga langsung bertanya pada Alif, "Maaf pak, apa ada suatu kesalahan pada surat kontrak Humairah? Semuanya sudah sesuai prosedur," ujar Arya memulai pembicaraan.


Alif menatapnya dengan mata memerah karena marah, "Kau tidak tahu kenapa kau dipanggil kemari?"


"Jika aku tidak salah tentu masalah kontrak, karena memang urusanku untuk kontrak para karyawan apalagi karyawan yang baru saja diterima bekerja hari ini, ada dua semuanya perempuan seperti yang sudah dilaporkan sebelumnya," jawab Arya yakin.


Alif berdecak, ia berdiri dengan tangan ke pinggang kepalanya menengadah ke atas sejenak menatap langit-langit kantornya dengan perasaan kesal namun harus pula ia kuasai agar tidak berbuat yang tidak-tidak padahal sungguh ia ingin meremukkan tulang rahang Arya yang berani padanya.


"Apa ada yang salah dengan perkataan ku? Pak Alif bisa koreksi atas kesalahanku," ujar Arya lagi yang mulai bingung membaca ekspresi wajah bosnya.


Alif mengambil sesuatu di atas meja kerjanya.


"Kau tahu perempuan tadi sedang lupa ingatan?" tanya Alif serius.


Arya mengangguk, "Iya pak, Humairah sudah mengatakan dia baru sembuh dari sakit namun ingatannya belum kembali. Tapi dia pernah magang di sini, dia juga lulusan terbaik hingga aku merasa dia pantas untuk pekerjaan ini. Apa pak Alif keberatan dengan keputusan ku menerima pekerja yang sedang lupa ingatan?"


Arya benar-benar menyebalkan bagi Alif saat ini bagaimana pria itu dengan polosnya bicara tentang pekerjaan padahal ini adalah masalah hati, hatinya yang sedang panas oleh sikap Arya yang tampak menyukai dan merayu istrinya di depan mata.


"Kau lihat ini baik-baik," kata Alif dengan suara pelan namun terasa menusuk ke tulang, Arya melihat sebuah figura kecil yang Alif tunjukkan.


Sebuah gambar yang menampilkan wajah perempuan cantik yang ia rayu tadi, wajah Humairah yang tersenyum memeluk bosnya menyandarkan kepala di dada Alif yang saling merangkul pinggang. Wajah cantik dibalut baju kurung sederhana namun sungguh tampak elegan, tampak berharga karena yang memakainya adalah Humairah. Iya Arya yakin itu adalah Humairah, wajah Humairah dan bosnya tampak mirip dalam petikan photo.


Karena terlalu sederhana yang mana Alif pun memakai pakaian adat melayu juga seperti yang terlihat di gambar, Humairah yang jauh lebih kecil dari Alif membuat Arya menerka itu hanyalah photo biasa seperti orang yang tengah menghadiri acara tertentu.


Lalu pria itu menatap Alif seraya bertanya lagi dengan polosnya. "Apa Humairah adalah adik pak Alif?"


Alif mendengar itu tidak menjawab melainkan kembali ke mejanya meletakkan figura kecil itu seperti sedia kala. Namun saat kembali pada Arya sebuah tinju melayang.


Bughhhhh. Arya terhuyung ke belakang beberapa langkah, ia memegang hidungnya yang kesakitan karena serangan mendadak itu.


Alif meniup buku tinjunya yang masih terkepal habis memukul hidung Arya hingga berdarah dan merah, mengalir darah segar dari hidung pria itu banyak pula.


"Pak Alif?"


"Itu untuk kau yang sudah lancang padaku, kau sungguh berani Arya. Jangan kira aku melepaskanmu begitu saja, kau harus tahu pula bahwa perempuan yang kau dekati tadi bukan seperti yang kau kira. Kau harus tahu bahwa Aisyah Humairah adalah ---" ucapannya menggantung saat seseorang masuk ke ruangannya tanpa permisi.


"Maaf pak Alif, klien kita untuk pertemuan hari ini sedang menuju kemari dalam setengah jam akan sampai, ingin meeting di ruang ini atau ruangan lain?" tanya Poppy yang tiba-tiba masuk memberitahu Alif terkait pekerjaan.


Gadis itu melirik Arya yang masih mengaduh memegangi hidungnya yang berdarah.


"Kau pilih salah satu Arya, keluar dari perusahaan ini atau tetap bekerja sesuai kontrak kita namun jangan banyak tingkah seolah kau adalah pria yang memiliki sejuta pesona hingga semua wanita kau goda, apa kau kira aku tidak tahu ada beberapa karyawan wanita lain yang sedang kau dekati juga?"

__ADS_1


"Terlebih kau berani menggoda Humairah, jika kau masih lancang bukan hanya mengeluarkan mu dari pekerjaan ini namun juga akan memastikan kau tidak bisa diterima di perusahaan manapun lagi hingga kau akan mati langkah. Awas jika sesekali kau mendekati Humairah, kali ini hidungmu yang berdarah tapi lain kali otakmu yang keluar dari kepala."


"Keluar dari ruanganku!" kata Alif lagi sambil mengibaskan tangan marah pada Arya.


Lelaki itu menunduk hormat sebelum keluar dari sana, ia benar-benar tidak memperhitungkan bahwa ia dipanggil sang bos hanya untuk dipukul seperti ini.


"Poppy!"


"I i iya pak," sahut Poppy takut saat melihat Alif marah pada Arya, ia sudah mengira jika akan seperti itu jika ada yang berani mendekati Humairah.


"Suruh Humairah masuk kemari!"


"Baik pak," jawab Poppy tanpa membantah lagi.


Beberapa menit kemudian Humairah kembali masuk ke ruangan Alif bersama Poppy.


Alif yang duduk di meja kerjanya sekarang ikut berdiri dan berjalan mendekat.


"Saya pak," ucap Humairah menunduk takut.


"Mulai besok pekerjaan Poppy akan digantikan oleh Humairah, dan Poppy akan ku tempatkan ke bagian lain."


"Apa?" Poppy dan Humairah ternganga bersamaan.


"Maksud pak Alif?" tanya Poppy serius.


"Iya, kau akan berhenti menjadi sekretarisku mulai besok, kau akan ku tempatkan pada bagian lain. Semua tugas sekretaris akan pindah ke tangan Humairah, ini bersifat final aku tidak suka dibantah, kau boleh hengkang jika tidak terima keputusan ku!"


Poppy mengambil napas dalam-dalam, ia melirik Humairah dengan kesal.


"Kau boleh keluar! Aku ingin bicara berdua dengan Aisyah Humairah."


Karena Humairah yang bahkan baru masuk bekerja hari ini, karena cemburu pada Arya hingga bosnya memutuskan hal konyol yang jelas sekali merugikannya sekarang, ia harus dimutasi ke posisi lain tentu tidak lebih tinggi dari seorang sekretaris. Poppy merutuki kehadiran Humairah, merutuki apa yang terjadi pada rumah tangga bosnya tapi malah ia yang mendapat imbas.


"Pak Alif apa maksudnya aku menggantikan tugas sekretaris?" tanya Humairah pada Alif yang menatapnya dengan senyum yang disembunyikan.


"Kau lupa telah memukulku tadi pagi? Lihat keningku ini, ini bisa menjadi bukti penganiayaan. Seharusnya kau bersyukur mendapat jabatan ini dengan mudah."


Alif menunjukkan bekas pukulan tong sampah yang mengenai keningnya walau hanya luka memar yang kecil.


"Maafkan aku pak, sungguh aku merasa bersalah padamu. Beri aku hukuman lain, jangan menjadi sekretaris, aku tidak paham bidang ini aku seorang akuntan bukan kuliah sekretaris. Aku tidak mengerti pekerjaan ini sungguh lagi pula ini pekerjaan kak Poppy aku tidaklah berhak menggantikannya."


Alif menggeleng.


"Seperti yang ku katakan tadi ini bersifat final, keputusan ku menjadikanmu sekretaris ya harus sekretaris. Ingin berurusan ke kantor polisi pasal penganiayaan?" tanya Alif yang yang sebisa mungkin menahan diri untuk tidak lepas kontrol menatap Humairah yang bingung namun menggemaskan.


"Tidak pak jangan lakukan itu, aku mohon aku tidak mau beurusan dengan hukum, aku tidak bisa mempermalukan orangtua ku," jawab Humairah memelas lagi.


"Mulai besok kau akan menjadi sekretarisku."


"Tapi pak, aku sama sekali tidak mengerti pekerjaan sekretaris. Itu bukan bidangku, bisakah posisi lain saja?"


"Tidak, tidak boleh menawar. Kau akan ku ajari semua tentang pekerjaan seorang sekretaris. Dan pertama tugasmu adalah berhenti memanggilku pak Alif aku sedikit canggung mendengarnya."


"Lalu aku harus panggil apa?" tanya Humairah polos.


"Yang lain, apapun kau suka selain pak Alif."


"Tapi itu tidak sopan," sanggah Humairah lagi.

__ADS_1


"Jangan membantah!"


"Baiklah mas Alif," jawab Humairah begitu saja, ia menundukkan wajahnya yang merah karena malu, entah kenapa dadanya gugup memberi panggilan mas pada Alif.


Alif terdiam sejenak.


"Kenapa mas Alif?"


Humairah menggeleng, "Aku rasa itu cocok untukmu, tidak mungkin juga aku memanggil abang karena kau bukan abang taksi."


Alif terbatuk mendengar kata abang taksi, senyumnya mengembang mengingat panggilan itu juga melekat padanya tempo hari.


"Aku suka dengan panggilan itu."


Humairah mengangguk namun tidak berani mengangkat wajah.


"Kedua kau harus menatap wajahku jika kita sedang bicara," cetus Alif lagi.


Humairah mengangguk seraya mengangkat wajah menatap suami yang tidak ia sadari.


Mata mereka bertemu lagi, sejenak saling memandang namun segera Humairah berpaling ke arah lain agar dadanya tidak meledak karena terlalu gugup.


"Mulai besok kita ke kantor bersama, kau tidak boleh naik kendaraan lain selain mobilku."


"Apa?"


"Tapi mas Alif itu....."


Alif segera memotong.


"Aku belum selesai bicara, besok aku akan menjemputmu seperti hari hari berikutnya akan seperti itu, kita akan ke kantor bersama dan pulang pun bersama, aku tidak mengizinkan kau naik kendaraan lain."


"Tapi tidak bisa seperti itu juga mas Alif, tidakkah itu terlalu mengekang, aku juga tidak mau merepotkan mas Alif dalam hal ini, aku ke kantor diantar papa ku juga pulang akan dijemput."


"Mulai besok biar tugas antar jemput menjadi tugasku, maksudku rumah kita tidak terlalu berjauhan masih satu daerah."


"Mas Alif tahu alamatku?"


"Hmmmm tentu saja dari biodata mu," jawab Alif cepat.


Humairah menggembungkan pipinya bingung ingin berkata apalagi.


"Apa mesti begitu?"


"Kau menolak?"


Humairah menggeleng, "Aku hanya merasa ini terlalu berlebihan, aku bisa ke kantor tepat waktu jangan khawatir aku juga akan bertanggung jawab pada pekerjaan ini meski bukan keahlianku, aku akan belajar nanti. Mas Alif harus tahu pula aku tidak berniat memukulmu jika bukan karena salah paham, aku hanya seorang perempuan yang berhati-hati saja saat di toilet tadi pagi. Maafkan aku mas Alif sungguh."


Alif tersenyum, "Iya, aku memaafkanmu dengan bekerja menjadi sekretaris ku, pergi dan pulang harus bersamaku."


"Apa harus seperti itu?" gumam Humairah pelan.


"Pasal penganiayaan?" goda Alif lagi.


Humairah menggeleng cepat.


"Tidak, jangan lakukan itu. Aku tidak akan membantah, namun mas Alif aku mohon untuk meminta izin papaku untuk urusan antar jemput, sebab aku tidak biasa pergi dengan lelaki manapun secara bebas."


Alif tersenyum puas.

__ADS_1


__ADS_2