"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 62


__ADS_3

Alif kembali segar, memutuskan untuk ke kantor bersama setelah mengantar Humairah pulang berganti pakaian.


Selama perjalanan yang sengaja lambat Alif tidak berhenti tersenyum, wanita cantik itu duduk di samping kemudi lagi.


"Apa kau yang memberiku bunga dihari wisudaku?"


Alif menoleh, ia berpikir sejenak tentang pertanyaan Humairah. Dan Alif memberi jawaban lewat anggukan kepala.


"Kau juga sebagai abang taksi?"


"Oh aku ketahuan sekarang," ucap Alif malu sendiri.


"Aku rasa pria yang dimaksud Rasya adalah dirimu, aku juga bertemu mas Daffa dihari ku wawancara di kantor, dia juga mengaku kenal denganku. Ucapannya juga mengarah padamu, sekarang aku mengerti."


"Oh sayang, kau pandai menghubungkan suatu kejadian dengan kejadian yang lain."


"Kenapa tidak jujur diawal?" tanya Humairah lagi.


"Kau lupa padaku, aku tidak berani muncul jika hanya akan membuatmu sakit," lirih Alif pelan.


"Setelah kita bertemu apa aku terlihat sakit kepala?"


Alif menoleh istrinya, ia menggeleng.


"Tidak, yang ada kening ku yang sakit kau pukul dengan tong sampah."


Humairah tersenyum, "Maaf, aku menyesali perbuatanku, aku memang suka ceroboh jika sudah tidak tahan ingin buang air kecil, suka salah masuk toilet, maafkan aku apa masih sakit?"


"Iya masih sakit, tapi bisa hilang jika kau cium, ayolah cium sekali saja." goda Alif seraya terkekeh.


"Mas Alif," bentak Humairah kesal.


Alif tertawa pelan.


"Kenapa lama sekali? Ini sudah jam sepuluh."


"Biar kita bisa menikmati perjalanan ini berdua saja," jawab Alif sekenanya.

__ADS_1


Hening. Namun Humairah kembali bersuara lebih dulu.


"Kenapa tidak ada saat aku sedang di rumah sakit? Kenapa kau tidak mengaku saja sebagai tunanganku ketika aku sadar? Apapun masalah yang terjadi diantara kita sebelum aku sakit, seharusnya tidak perlu bersembunyi dan seolah memantau ku dari kejauhan saja, memberi bunga tanpa memberi selamat secara langsung pantas saja aku merasa ada yang kurang saat wisuda ternyata kau orangnya. Menyamar jadi abang taksi memakai masker. Apa itu? Bukankah itu tindakan seorang pengecut?"


Humairah tiba-tiba kesal sendiri, ia berpikir jika Alif keterlaluan tidak hadir saat ia wisuda tempo hari padahal mereka bertunangan.


"Iya, aku memang pengecut Humairah," jawab Alif lesu.


"Dan pria pengecut itu adalah calon suamiku, maaf aku belum bisa mengingatmu tapi percayalah aku cukup tahu perasaanku saat bersamamu, setidaknya itu modal untukku bisa menerima hubungan kita sekarang. Doakan aku cepat sembuh, aku juga tidak mau lupa ingatan dalam waktu yang lama, pasti banyak hal yang terlewati."


Alif melirik Humairah yang tersenyum padanya, pria ini sungguh ingin gila rasanya.


"Huh..... Hanya calon suami," gumam Alif mengusap lehernya lagi.


*****


Di kantor.


Alif mengusap wajahnya kasar, banyak laporan pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginannya, pria itu tampak sangat serius membolak balikkan kertas di atas meja.


Humairah memperhatikan Alif sejak tadi, jika bekerja Alif sungguhlah profesional.


"Permisi pak, ini kopi yang anda minta," ucap pelayan kantor itu dengan sopan sambil menaruh gelas kopi di atas meja.


Namun saat menaruh gelas ia cukup terkejut ketika Alif menghempas salah satu map, hingga tangannya gemetar dan tumpah pula kopi yang belum sempurna mendarat di atas meja.


"Ohhh sial, apa yang kau lakukan? Lihat ini tumpah, bisa kerja atau tidak.... Kertas ini penting!"


Alif memarahi sang pelayan.


"Maafkan saya pak Alif, maaf saya tidak sengaja, biar saya bersihkan," jawab sang pelayan yang segera mengelap sisa kopi di atas meja.


"Keluarlah jangan buat aku tambah pusing!" bentak Alif sekali lagi seraya mengibaskan tangannya menyuruh pelayan itu segera keluar.


"Biar aku yang bersihkan, jangan diambil hati pak Alif memang sedang sibuk dan ada sedikit masalah, kau boleh kembali ke pekerjaanmu," ujar Humairah pada pelayan yang ketakutan itu.


"Maafkan saya nyonya, sungguh maaf sekali."

__ADS_1


"Aku belum jadi istrinya, jangan panggil nyonya. Baiklah kau boleh keluar, tidak ada yang harus dimaafkan, ganti saja kopi ini dengan kopi baru oke?"


Pelayan itu cukup bingung dengan perkataan Humairah yang mengaku belum jadi istri bosnya, padahal semua sudah tahu mereka memang suami istri bahkan sudah cukup lama, namun segera ia mengangguk saat mengingat bahwa istri bosnya itu sedang sakit lupa ingatan.


"Baik nona, terimakasih. Sekali lagi maaf biar ku buatkan kopi yang baru."


Humairah mengangguk saja dengan senyum yang tidak pudar, tanpa mereka sadari Alif memperhatikan Humairah bicara sejak tadi. Alif sungguh kagum Humairah memanglah sosok perempuan lembut, tidak suka marah, bicara selalu sopan pada siapapun sejak bekerja dengannya, pandai pula membantu memecahkan masalah.


Setelah pelayan keluar Humairah menatap Alif.


"Kenapa harus marah-marah? Ini hanya sebuah kertas, bisa dicetak ulang. Kopi yang tumpah bisa dibuat lagi, jangan biarkan enam puluh detik kebahagiaan mu terlewati hanya karena satu menit kau marah-marah seperti ini. Katakan padaku pada bagian mana yang kau rasa ada kesalahan? Tugas siapa ini? Biar ku temui dan akan ku bantu dia memperbaikinya."


Ucapan Humairah membuat Alif bungkam. Humairah membereskan kertas yang berserakan, mengelap sisa kopi, membuang kertas yang sudah menjadi sampah.


Alif menatapnya tidak berkedip, dalam hati ia merasa beruntung memiliki sekretaris seperti Humairah, menenangkan, membuatnya nyaman bekerja meski banyak urusan yang memusingkan. Marahnya hilang begitu saja.


"Inikah cara berkenalan dengan istriku sendiri, selama menikah tidak pernah mengenal pribadinya sedalam ini setiap kata-katamu penuh arti, kau sungguh idaman sayang, oh aku bisa gila jika benar-benar berpisah," gumam Alif dalam hati.


Humairah mengibaskan jarinya di depan wajah Alif yang sedang melamun menatapnya.


"Mas Alif."


"Sayang, beri aku ciuman satu kali saja. Ayolah aku mohon."


Humairah memukul tangan suaminya.


"Berhenti konyol mas Alif."


"Sayang, ayolah anggap saja sebagai penyemangat ku bekerja," rengek Alif lagi.


"Mas Alif," bentak Humairah kesal.


"Apa salahnya cuma satu ciuman saja?"


"Menikah dulu, baru boleh cium."


Alif frustasi mendengarnya.

__ADS_1


"Oh Humairah..... Kapan kau akan ingat hubungan kita," lirih Alif mengusap wajahnya kesal sendiri seraya berjalan ke toilet ruangannya.


Humairah menatap punggung Alif dengan senyum penuh arti.


__ADS_2