"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 72


__ADS_3

"Mas Alif," teriak Humairah terkejut mendapati suaminya jatuh ke lantai.


****


Beberapa belas menit kemudian, Alif membuka mata hal pertama yang ia lihat adalah wajah Humairah yang setia menunggunya bangun. Alif menjadi yakin bahwa sebelum ia pingsan itu adalah hal yang nyata yang mana Humairah benar-benar mengurungkan niat untuk berpisah darinya.


Demi apa, kepalanya pusing dadanya gugup luar biasa hingga tangannya ikut gemetar karena shock dengan apa yang terjadi hingga semua organ tubuhnya ikut merespon sampai ia harus pingsan karena tubuh yang kian lemah karena belum sembuh benar dari sakit.


Betapa tidak Alif yang semula berpikir hari ini adalah dimulai hidupnya yang akan kacau karena perpisahan dari perempuan yang ia cintai sejak remaja itu. Hidup tanpa Humairah istrinya tercinta, namun beberapa puluh menit sebelumnya perempuan itu entah datang darimana yang pasti Alif yakin bahwa Humairah benar-benar telah menerimanya kembali saat ciuman bibir mendarat padanya.


Alif duduk dari sofa, ia dibaringkan di sofa tamu ruangan salah satu teman pengacara Alif sendiri yang bekerja sebagai staff ahli di pengadilan negeri tersebut.


"Mas Alif," cegah Humairah saat Alif ingin duduk dari posisinya sekarang.


"Apa aku pingsan?"


"Iya, apa kau sakit? Wajahmu pucat, seharusnya kita langsung ke rumah sakit saja," tanya Humairah cemas.


"Sayang, katakan yang tadi itu bukan sebuah candaan," ucap Alif bukannya menjawab pertanyaan Humairah.


Humairah berdecak kesal jadinya.


"Tidak, aku tidak sedang bercanda," jawab Humairah tersenyum.


Ia membantu Alif duduk. Ia juga mengusap keringat pada wajah suaminya dengan sayang, jarak yang sangat dekat membuat Alif puas menatap wajah cantik yang minggu lalu marah padanya.


"Bagaimana dengan mediasinya?"


"Maafkan aku mas Alif, ini sebenarnya tidaklah mediasi. Semua hanya fiktif belaka, papa dan para pengacara kita yang melakukan semua ini. Gugatan perceraian yang ku layangkan waktu itu resmi ditolak bahkan sebelum aku hilang ingatan. Istri tidak bisa menggugat cerai suaminya dengan alasan yang tidak mendasar."


"Humairah, apa maksudmu?"


"Intinya kita tidak akan berpisah, aku tidak akan berpikir hal konyol itu lagi, maafkan aku yang kekanakkan, hanya karena marah padamu waktu itu aku langsung ingin bercerai padahal tidaklah sepenuhnya salahmu mas Alif, tidak memungkiri ditambah pula aku merasa depresi saat kehilangan calon bayi kita, mungkin itu salah satu alasannya, aku menggugat cerai dalam keadaan tidak berpikir jernih, maafkan aku....."


"Talak tidak akan jatuh jika gugatan cerai dariku tidak memenuhi syarat, jadi kita tidak perlu rujuk karena memang tidak ada perceraian dalam hubungan kita, ditambah lagi alasan kesehatan ku yang menyebabkan kita pisah ranjang, bukan karena disengaja bisa pisah selama hampir tiga bulan ini."


Alif tercengang.


"Lalu kau hampir keluar negeri meninggalkanku?"


Humairah tersenyum lagi, "Bukankah kau boleh aku kuliah lagi asal jangan bercerai, jadi aku hanya mengerjaimu waktu itu, jika sesuai rencana aku akan jujur padamu soal rumah tangga kita dan akupun berniat untuk memperbaiki semuanya setelah aku mengikuti tes beasiswa, juga ingin memberimu kejutan di ulang tahunmu setelah pulang dari sana, tapi takdir tidak selalu sesuai rencana manusia, aku bisa apa....."


"Dan kau berhasil membuat hidupku berantakan selama beberapa bulan ini?"


"Anggap saja itu teguran untukmu," balas Humairah seraya mencium pipi suaminya.


"Sayang, katakan ini bukanlah mimpi?"


Dengan cepat Humairah mengecup bibir Alif, meraihnya dengan perasaan terdalam, cukup lama saling mengecap dalam ciuman panjang yang sudah sangat lama tidak mereka nikmati.


Humairah melepas pagutan bibir mereka, ia mengusap bibir Alif dengan pelan.


"Aku mencintaimu mas Alif, maaf atas kekuranganku.... Aku sudah lama memaafkan mu, semua yang berlalu akan jadi pengalaman yang bisa kita jadikan contoh dalam mengambil suatu keputusan terkait apapun masalah rumah tangga kita dimasa yang akan datang."


"Aku sama sekali tidak dendam, hanya saja aku senantiasa berdoa agar suamiku ini tidak membuat kesalahan lagi, tidak menyakiti ku lagi, tidak menduakan ku lagi hingga kita bisa menikmati indahnya sebuah kehidupan rumah tangga yang sebenar-benarnya."


"Aku juga akan lebih memperbaiki diri lagi agar menjadi istri idaman untukmu hingga kau bahkan tidak bisa menoleh pada perempuan lain. Aku memimpikan rumah tangga yang bahagia bersamamu mas Alif, kita berdua dan keturunan-keturunan kita kelak," ucap Humairah seraya membelai wajah suaminya dengan penuh cinta.


"Humairah, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku bahagia saat ini, tapi mendengar kau bicara aku merasa menjadi pria paling bodoh telah menyia-nyiakan waktu berbulan-bulan karena telah melewati seorang bidadari seperti mu, betapa banyak waktu bahagia kita yang terlewati karena sebuah kesalahan yang bahkan tidak termaafkan, selain kata cinta aku tidak punya kata yang lebih baik lagi untuk ku ucapkan, semua telah kau borong, hatiku, hidupku...."


"Satu hal yang bisa ku katakan saat ini bahkan sampai nanti, aku akan berusaha menjadi lelaki terbaik bagimu, bisa saling memperbaiki diri dalam rumah kita setelah ini, aku berdoa agar aku bisa panjang umur hingga bisa terus mendampingi mu menuju usia kita yang akan tua nanti."


Humairah tersenyum lebar.

__ADS_1


"Kau pandai berkata-kata sekarang," goda Humairah.


Alif tidak menjawab dengan kalimat melainkan dengan bibir yang kembali menyambangi bibir istrinya yang tampak kian menggoda terlebih Humairah pandai pula membuat Alif menjadi ingin gila rasanya setelah perempuan itu duduk di atas pangkuan pria yang tiba-tiba menjadi bugar kembali seakan gairah hidup kembali pada raganya yang seolah ingin mati selama ini karena terlalu takut menghadapi perpisahan.


Lama mereka berciuman, sampai pada Humairah kembali melepasnya.


"Kemana saja kau satu minggu ini?"


"Aku sakit."


"Kau juga tampak kurus, apa tidak makan hingga bisa sakit?"


"Aku bahkan tidak pernah makan dengan baik selama tiga bulan terakhir, semua karena seorang perempuan yang ku kira benar-benar ingin berpisah dariku, aku kehilangan gairah hidup."


"Bohong, buktinya kau masih hidup."


"Karena kau masih hidup maka aku harus juga hidup."


"Apa sekarang sudah kembali bergairah?"


"Oh sayang, bahkan lebih dari itu."


Humairah berdiri, ia menjauh seraya membesarkan matanya.


"Mas Alif berhenti memandang ku dengan pikiran mesum!"


"Mesum pada istriku tidak masalah bukan?"


Humairah tersenyum geli melihat raut wajah suaminya yang tampak mulai berbeda.


"Lebih baik kita pulang," ajak Humairah memeluk suaminya dengan manja.


"Ide bagus, jadi kita bisa melepas rindu."


Alif memeluk tubuh mungil Humairah seraya berbisik.


"Rindu bercinta maksudku."


"Mas Alif," kilah Humairah memukul dada suaminya.


"Ayolah, aku sudah tidak tahan."


"Apa maksudmu?"


"Sayang ayolah jangan membuang waktu, aku sudah tegang sekarang."


"Mas Alif."


Alif menangkap Humairah setelah berusaha melepaskan diri.


"Mas Alif ini ruangan kantor orang, jangan gila."


"Iya, anggap saja aku gila."


"Aku tidak mau punya suami gila," sanggah Humairah yang terkekeh merasa geli pada perutnya oleh sentuhan Alif yang kian ke bawah.


"Dapat kau!"


Alif menggendong Humairah di punggung layak karung beras.


"Mas Alif, turunkan aku!"


"Kita akan pulang, diamlah."

__ADS_1


Alif menggendong istrinya keluar dari ruangan itu, melewati beberapa orang pekerja dan pengacaranya dan Humairah yang setia menunggu di luar namun malah mereka disuguhi pemandangan seperti itu yang membuat semua orang melihatnya dengan gigit jari.


Humairah tersenyum lebar pada dua pengacara yang telah membantunya mengerjai Alif hari ini seraya berteriak.


"Jika bukan karena paman dan bibi berdua aku tidak akan digendong seperti ini, terimakasih banyak paman Abas dan bibi Ratih. Kita bisa silaturahmi lain kali," ucap Humairah yang membesarkan suaranya karena sudah semakin menjauh dibawa Alif pergi.


Dua pengacara itu hanya bisa mengangguk polos, mereka saling menoleh satu sama lain.


"Apa kau pernah melihat pasangan seperti itu?"


"Tidak, aku rasa hanya Humairah dan Alif yang bisa seperti itu di tempat umum seperti ini."


"Mas Alif turunkan aku! Lihat semua orang melihat kita."


"Tidak akan ku lepas kau kali ini, aku tidak peduli pada mereka."


"Huh..... Sayang aku pusing," rengek Humairah.


Alif hanya terkekeh.


"Kita mau kemana?"


"Pulang lalu bercinta sepuasnya."


"Bukankah kau sedang sakit?"


"Sudah sembuh," jawab Alif singkat seraya mendudukkan Humairah di bangku samping kemudi mobilnya.


"Aku tidak yakin," goda Humairah saat Alif sudah menyusul masuk mobil.


"Ingin buktinya sekarang?"


Humairah menggeleng dengan cepat.


"Tidak, ampun."


Alif tersenyum, ia meraih kedua tangan Humairah lalu mengecupnya berulang kali.


"Terimakasih sayang."


"Untuk apa?"


"Untuk kesempatan ini, aku mencintaimu Aisyah Humairah."


"Kesempatan selalu ada untuk orang yang ingin berubah jadi lebih baik, mari kita sama-sama berdoa agar dipanjangkan jodoh kita hingga maut memisahkan, aku juga mencintaimu mas Alif, mari move on dari masa lalu."


"Yang utama sekarang adalah mari kita pulang, aku sudah tidak tahan."


"Dasar mesum."


"Tidak akan ku lepas kau nanti."


"Baiklah, jangan pula kau pingsan nantinya sebelum mulai seperti tadi."


Alif menghentikan mobilnya.


"Ya Allah sayang kau membuatku malu."


Humairah terkekeh, "Ayolah katanya mau cepat sampai rumah, sekarang malah berhenti."


Alif meraih jari Humairah dengan tangannya yang bebas dari stir mobil, saling menggenggam dengan erat setelah saling melempar pandangan yang penuh makna lagi cinta diantara keduanya.


"Aku benar-benar tegang sekarang," keluh Alif kesal sendiri seraya menggigit jari Humairah dengan gemas.

__ADS_1


"Mas Alif jangan gila, kita sedang di jalan!"


__ADS_2