
Humairah menangis tergugu, menutup wajahnya dengan kain mukenah menangis kian menyesal, menyesal telah berkata kasar, menyesal telah bersikap tidak sopan menunjuk seseorang dengan jari telunjuknya, menghempaskan makan siang yang tentu akan mubazir karena tidak bisa dimakan.
Sungguh itu semua bukanlah sifatnya, marah-marah apalagi mempermalukan orang lain. Pada kenyataannya Humairah tidak suka bertengkar, namun entah apa yang merasukinya hingga ia berani melakukan semua itu, terpancing emosi yang meledak-ledak saat mendengar mereka bicara tentang tukar menukar antara dirinya dengan sebuah motor sports mahal.
Beristighfar berulang kali, menenangkan dirinya dengan melaksanakan ibadah dzuhur di masjid yang tidak jauh dari kantor Alif berada. Humairah memegangi perutnya yang masih rata, namun ia sudah bisa merasakan perbedaan yang terjadi, tidak rata seperti biasa meski belum besar pula.
Humairah memohon ampun pada sang penciptanya karena telah terhasut oleh amarah yang tidak bisa ia kontrol, ia malu pada dirinya sendiri dan menganggap hal yang tadi itu adalah memalukan, sifat yang tidak perlu ia kembangkan, ia tidak ingin terlarut dalam amarah besar yang berdampak negatif bagi hati dan pikirannya, terlebih ia tengah hamil saat ini.
Lelah menangis, bersujud dan memohon ampun membuatnya lebih tenang, membuat hatinya ringan, dan ia bisa berpikir jernih setelah ini. Ia mengemas mukenah yang biasa menemaninya jika bepergian, mukenah yang selalu sedia di dalam tasnya sejak menikah.
Humairah kian lebih baik dalam beribadah sejak menikah, meningkatkan kualitas beribadahnya itu pula yang membuat Humairah kian dewasa dalam menyikapi permasalahan rumah tangganya yang rumit selama ini.
Perlu masalah berkali-kali untuknya bisa mengerti akan arti dari sebuah tanggung jawab, perlu berpikir dengan hati yang lapang jika ia ingin mengambil sebuah keputusan, bukan seperti tadi marah-marah bahkan mengucapkan kata-kata laknat perceraian yang sangat ia hindari sejak dulu.
Humairah tersenyum tipis, dadanya kian membaik. Ia tahu harus seperti apa selanjutnya, sedang mengemas perlengkapan sholatnya, ia mendengar ponselnya bergetar dari dalam tas, ia rogoh dan lihat siapa yang menelepon.
Seorang dosen pembimbing skripsinya menghubungi, Humairah menerimanya setelah keluar dari masjid.
"Baik bu terimakasih, saya akan ke kampus sekarang," ucap Humairah pada sang dosen yang minta bertemu sebelum ia pergi keluar negeri, dosen wanita yang membimbing Humairah dalam perjalanan skripsinya.
Setelah mengucap salam, Humairah menutup telepon, dan melihat ada banyak panggilan dari suaminya. Ia tersenyum lagi seraya bergumam.
"Maaf mas Alif, sepertinya kita butuh jarak sekarang."
*****
Saat di dalam taksi menuju kampus, Humairah merasa kram pada perut bawahnya, pinggangnya pun menyusul terasa sakit-sakit meski tidak terlalu.
Ia menjadi gusar pula, sakit perut itu bukan seperti rasa ingin buang air. Namun lebih seperti rasa ingin menstruasi yang biasa Humairah alami sebelumnya.
Dengan cepat ia menenangkan pikirannya yang mulai menyangkut paut atas kehamilan yang ia alami, ia berpikir mungkin karena lelah menangis saja.
Sampai kampus ia bertemu Aji, sahabat sekaligus kekasih dari Lola teman baiknya juga.
"Mairah? Kau kenapa?" tanya Aji heran saat menatap wajah meringis Humairah dan jalan yang sedikit membungkuk dari temannya itu.
"Aku merasa perutku sangat sakit Aji, bisa kau tolong hubungi Lola? Oh pinggangku sakit sekali," ringis Humairah yang memilih duduk di sebuah bangku, ia baru saja bertemu sang dosen meski ia menahan sakitnya sejak bimbingan tadi, dan rasa itu kian menderanya saat ini.
Rasanya persis saat ia hendak menstruasi.
"Lola akan kemari, dia di kantin. Ayo ku antar kau ke klinik saja, jangan membuatku cemas Mairah, kau sebenarnya kenapa?"
Humairah telah menjelaskan bahwa ia tengah hamil saat ini, namun ia tidak tahu kenapa perutnya jadi sakit.
"Tidak, ayo tolong antar aku ke rumah sakit saja. Aku takut terjadi sesuatu pada kehamilanku, aku takut Aji. Aku takut sekali," ucap Humairah yang kian gusar ia menangis dan memegang perutnya yang kian merasa kram dan nyeri, ia tidak mau berlama lagi di sana pikirnya, lebih cepat ke rumah sakit lebih cepat pula ia ditangani agar tidak terjadi sesuatu yang sangat ia takutkan.
Beruntung Lola menyusul dengan segera, ia berlari dan melihat Humairah sudah berkeringat dingin, mereka akhirnya memutuskan untuk memesan taksi segera.
Selama perjalanan, ia menangis kesakitan.
"Tenanglah sayang, ayolah kau kuat Mairah, anakmu juga pasti kuat," ucap Lola menenangkan meski ia juga cemas melihat Humairah yang kian meringkuk dalam pelukannya karena sakit yang mulai luar biasa.
"Sakit sekali Lola, ada apa ini aku takut Lola, bagaimana dengan kehamilanku? Oh ya Allah, ini sakit sekali, pinggangku rasanya mau lepas," rengek Humairah lagi, bahkan sepanjang perjalanan ia sudah tidak bisa menahannya.
"Lola, aku merasa ada yang keluar."
"Berhenti bicara yang tidak-tidak, jangan membuatku takut sayang ayolah kau kuat Mairah, kita akan sampai sebentar lagi. Lebih cepat pak!" tegas Lola pada sopir taksi.
"Kita akan sampai nona," jawab si bapak taksi.
Mereka telah sampai depan pintu ruangan gawat darurat, Lola membantu sahabatnya turun disusul Aji yang juga sudah sampai menggunakan motornya.
"Lola!"
"Apa?"
"Lihat itu!" tunjuk Aji pada pakaian Humairah bagian belakangnya, Lola melihat bahwa benar ada darah yang telah tembus di sana, merah terlihat dengan jelas, banyak pula.
"Mairah, kau berdarah."
"Lola aku sudah tidak kuat, ini sakit sekali," kembali Humairah meringis hingga matanya terpejam dan tidak kuat berjalan lagi, ia meremas tangan Lola yang memapah tubuhnya yang telah disambut oleh petugas IGD yang membawa brangkar ke arahnya.
"Ayo berbaringlah, nanti nona bisa jelaskan di dalam," ucap petugas yang bersiap membawa dan mendorong brangkar ke dalam ruangan gawar darurat.
Lola mengangguk, Humairah telah berbaring dan terus menggenggam tangan sahabatnya tanpa berkata-kata lagi.
__ADS_1
Masuk ke ruangan khusus tindakan pasien gawar darurat kebidanan, Humairah ditangani bidan dan dokter wanita yang ramah, ditanyai dan dipastikan apa yang telah terjadi saat ini.
"Oke, saya periksa dulu ya. Jangan malu, kita sesama perempuan. Ayo buka dulu," perintah salah satu bidan yang membantunya membuka celana untuk memastikan perdarahan.
Humairah menurut saja, ia sudah tidak kuat menahan sakit.
Sambil sang bidan memeriksa bagian intimnya, dokter juga telah berada di sampingnya memberi sebuah keterangan.
"Nona Humairah, saya turut menyesal atas apa yang terjadi. Nona perdarahan aktif karena keguguran."
"Apa?"
Dokter itu mengangguk.
"Kehamilan ini tidak bisa dipertahankan. Nanti ibu bidan ini akan mengambil sisa jaringan yang tersisa di jalan lahir, sakitnya akan hilang saat semuanya telah keluar. Saya turut berduka, tapi nona jangan sedih semuanya akan membaik nanti, anda bisa hamil lagi. Semua sudah kehendakNya nona harus ikhlas ya, setelah tindakan selesai kita bisa melakukan USG untuk melihat keadaan rahim anda, mudah-mudahan tidak dilanjutkan dengan kuretase."
Jelas dokter itu dengan ramah, lalu dokter itu menatap Lola yang bahkan tidak bisa berkata-kata karena terlalu terkejut.
"Nona temannya?"
"Iya dokter," sahut Lola cepat.
"Segera hubungi suaminya, nona Humairah butuh dampingan suami dalam hal ini, semua akan membaik nanti, berilah pengertian dan dukungan oke?"
Lola mengangguk lagi, setelah dokter pergi barulah Lola menyadari Humairah menangis dalam diam, hanya bahunya yang tampak gemetar.
"Mairah," lirih Lola memeluk sahabatnya.
Humairah diam saja, ia masih menangis sesegukan tanpa suara. Dan benar saja, setelah bidan itu selesai memeriksa dan mengambil jaringan yang tersisa di jalan lahir barulah Humairah merasa lega sakitnya, hilang begitu saja disusul tindakan berikut yang membersihkan sisa perdarahan oleh sang bidan dengan telaten, memasang infus dan memberi obat untuk kontraksi rahim.
Bidan yang telah cukup senior itu melakukan tindakan sambil memberi kalimat-kalimat menenangkan, dukungan dan memberi pengertian agar jangan terlalu larut dalam kesedihan, Humairah masih muda dan tentu akan hamil lagi setelah kegagalan ini.
Humairah kian menangis dibuatnya, tidak ada yang mendampinginya saat ini selain Lola dan Aji yang menunggu di luar.
"Saya sudah selesai, beristirahatlah sambil menunggu dokter spesialis kandungan datang untuk melakukan USG untuk menentukan tindakan selanjutnya, jika bisa berilah dia makan dan minum agar merasa lebih baik."
Lola mengangguk tanda mengerti atas penjelasan bidan itu.
"Humairah, aku akan hubungi Aji agar beli makanan dan minum untukmu," ucap Lola.
Lola menutup telepon, ia juga menangis saat ini melihat Humairah yang bahkan belum mengatakan apa-apa sejak tadi.
"Aku akan menghubungi suamimu," ucap Lola yang telah memegang ponsel Humairah bersiap mencari nama suami sahabatnya.
"Hubungi papaku, ayah dan ibuku saja. Aku hanya butuh mereka saat ini."
Lola enggan bertanya lagi, ia melakukan itu segera.
Di ruang rawat, Humairah yang kelelahan menangis telah tertidur. Diberi obat dan juga sudah dilakukan pemeriksaan USG, ia patut bersyukur bahwa tidak diperlukan tindakan kuretase yang cukup mengerikan bagi sebagian perempuan.
Papa Imran, ayah Ihsan dan Ibu Aini duduk di sofa, wajah sedih mereka tidak bisa disembunyikan. Meski papa Imran enggan ada Aini di sana namun ia menghargai putrinya yang menginginkan ibunya ada di sana.
Semua terkejut akan hal ini, tidak ada yang tahu Humairah hamil hingga hari ini terjadi, Humairah berniat memberi kejutan pada semua orang, pertama suaminya baru yang lainnya.
Tapi apalah daya ia hanya bisa merencanakan namun Tuhan pula yang menentukan, semua mendapat kejutan ini bersamaan, bukan kejutan bahagia melainkan sebuah musibah.
Alif duduk di samping ranjang pasien istrinya, ia genggam terus tangan itu. Tangan yang memakai cincin berlian yang ia berikan malam itu ketika melamar Humairah dalam kamar mandi. Seperti Humairah, Alif pun sama menangisnya, sesal yang luar biasa atas ketidaktahuan tentang kehamilan Humairah.
Terlebih atas kejadian tadi siang yang membuat semuanya memburuk, mungkin maaf saja tidak akan cukup, Alif tahu ia akan sulit setelah ini, apapun itu semarah apapun istrinya ia akan menerima asal Humairah tidak pergi darinya, Alif tidak bisa membayangkan jika bukan Humairah yang mendampinginya kelak.
Semuanya membisu, tidak ada yang bersuara terlebih ibu Aini yang menahan rasa takut pada mantan majikannya yang bahkan tidak menyapanya sejak tadi.
Para orangtua itu belum ada yang tahu tentang hubungan Alif dan Humairah saat ini.
Humairah membuka mata, Alif tersenyum menyambutnya, lelaki itu tidak segan memeluk dan mencium wajah istrinya karena senang Humairah telah bangun dari tidur. Perempuan itu diam saja tidak bersuara sama sekali, hanya tatapan terluka dipancarkan dari sorot matanya.
"Sayang, apa yang kau rasa? Ingin minum? Ayo katakan sesuatu, aku ada untukmu. Aku sangat menyesal atas semuanya, aku benar-benar tidak tahu kau hamil sayang.... Maafkan aku, percayalah aku terpukul kehilangan calon bayi kita sama sepertimu, Humairah jangan ragukan aku lagi, aku mohon sayang kita bisa punya anak lagi setelah ini, dokter sudah menjelaskannya padaku!" cerca Alif tanpa memberi kesempatan istrinya menjawab, ia terlalu bersemangat saat Humairah membuka mata.
Humairah menatap Alif dengan tatapan dingin, tidak seperti biasanya. Alif menciut seketika Humairah menyingkirkan tangannya seolah tidak ingin dipeluk.
"Aku ingin ke kamar mandi," ucap Humairah datar.
"Ayo biar ku bantu."
"Minggirlah, aku bisa sendiri," jawab Humairah yang telah duduk di tepi ranjang, Alif terkejut dengan sikap itu, sikap yang sama sekali bukan Humairah.
__ADS_1
Dingin, tatapan hingga sikapnya. Alif merasakan istrinya benar-benar marah padanya. Tatapan dingin itu seolah menusuk Alif hingga ke tulang-tulang.
"Sayang?" cegah Alif yang ingin meraih tiang Infus agar ia membantu Humairah berjalan ke kamar mandi.
"Aku bisa sendiri, aku tidak selemah yang kau kira," sarkas Humairah memicingkan matanya pada suami yang entah kenapa kehadirannya sangat mengganggu Humairah.
Papa Imran dan ayah Ihsan mendengar dan melihat sendiri, mereka mulai berpikir bahwa Alif dan Humairah sedang tidak baik-baik saja.
"Nak, biar ibu membantumu," tawar ibu Aini, Humairah kembali menggeleng.
"Aku bisa sendiri bu," jawab Humairah dingin.
Alif mulai kehilangan akal dibuatnya, ia tidak bisa tanpa senyuman Humairah, ia tidak biasa dengan sikap dingin yang seperti ini.
"Sayang," lirih Alif lagi, namun Humairah tidak menghiraukan, ia terus saja ke kamar mandi meski jalannya cukup lambat.
Alif tidak membiarkan istrinya kesusahan, meski Humairah marah ia tetap membantu ke kamar mandi, Humairah tidak lagi menolak namun tidak juga melunak, ia hanya malas menghabiskan tenaga berdebat dengan Alif.
Setelah dari kamar mandi, Alif menggendong istrinya kembali ke ranjang pasien, Humairah hanya menampilkan wajah datar yang mampu membuat Alif menjadi gila.
Tiba-tiba mama Rika datang, ia tampak tergesa-gesa, datang dan memeluk menantunya dengan erat.
"Sayang kenapa tidak memberitahu mama jika terjadi seperti ini? Ya Allah nak, apa Alif tidak menjagamu dengan baik?" tanya mama Rika yang belum tahu apa-apa tentang kehidupan rumah tangga Humairah dan Alif, mama Rika baru saja pulang dari negara tetangga Singapura, itupun karena Alif memberi kabar Humairah masuk rumah sakit siang tadi.
Perempuan paruh baya itu melirik Alif dengan tatapan marah, ia berpikir mungkin saja Humairah keguguran karena ulah Alif yang mengabaikan menantu pilihannya demi wanita lain, wanita yang tidak pernah ia sukai. Baginya menantunya hanya Humairah saja, lalu mama Rika juga terkejut dengan kehadiran papa Imran yang ia tahu pria itu adalah ayah dari istri Alif yang kedua.
"Awas jika ini terjadi karena mu dan wanita itu, awas juga jika kau berani membawanya kemari!" ketus mama Rika pada anaknya.
"Mama, dokter mengatakan aku baik-baik saja, mama lelah dari perjalanan, kenapa harus marah-marah. Semuanya bisa kita bicarakan dengan baik," ucap Humairah pun melirik Alif seraya menyindir dengan menekankan kata baik-baik saja.
Mama Rika melunak, ia memeluk Humairah lagi. Lalu menyuruh menantunya untuk berbaring dan beristirahat, ia segera menghampiri ibu Aini dan ayah Ihsan sahabat sekaligus besannya.
"Kita bisa bicara di luar, biar Humairah istirahat," ajak Ibu Aini menggenggam tangan mama Rika seolah menyiratkan ada banyak hal yang harus mereka bicarakan.
Mama Rika mengangguk, tiga orang tua itu keluar ruangan meninggalkan Alif dan papa Imran yang hanya diam sejak tadi.
Mama Rika sudah lebih dari dua bulan terakhir tinggal di Singapura, mengantar putri bungsunya yaitu adik Alif untuk berkuliah di sana sampai gadis itu benar-benar mandiri dan bisa dilepas sendiri.
Namun hari ini mama Rika terpaksa pulang oleh kabar buruk dari putra sulungnya beberapa jam lalu.
Papa Imran mendekati putrinya, ia meraih jemari Humairah.
"Apa yang ingin kau katakan sekarang, katakanlah, ingin papa belikan sesuatu?" tanya papa Imran perhatian.
Humairah menggeleng seraya duduk kembali, ia tersenyum tipis lalu menjawab, "Aku tidak lapar, aku seperti kehilangan separuh hatiku saat ini bagaimana bisa aku baik-baik saja, bagaimana aku bisa menelan nasi sedang aku baru saja merasa bahagia kemarin karena tahu hamil dan periksa ke dokter, dokter bilang aku sehat, bayiku juga sehat tapi apa yang terjadi hari ini?" Kembali Humairah menangis, melihat itu papa Imran memeluknya, mereka menangis bersama ayah dan anak.
Alif tidak kuat melihat itu maka ia mendekat, matanya pun basah, ia ingin Humairah menumpahkan kesedihan itu padanya, tapi istrinya malah menolak pelukannya.
"Selain ikhlas aku bisa apa?" lirih Humairah lagi masih dalam pelukan papanya, papa Imran menjawab dengan kata-kata menenangkan seperti ucapan para dokter yang menyemangatinya.
"Sayang," panggil Alif, Humairah tidak menjawab ia masih menyembunyikan wajahnya di dada papanya.
"Papa rasa kita perlu bicara empat mata," ucap papa Imran pada Alif, ia yakin terjadi sesuatu pada anak dan menantunya hingga terlihat sekali Humairah mengelak dari suaminya sejak tadi.
Setelah menenangkan dan menyelimuti Humairah agar beristirahat lagi, papa Imran dan Alif pun keluar dari ruang rawat meninggalkan Humairah yang memejamkan matanya.
Sampai pada malam harinya semua kembali ke ruangan Humairah, masuk bersamaan. Alif membawakan makanan kesukaan istrinya.
Ia mendekati Humairah yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang, tampak wanita itu memegang ponselnya.
Langkah Alif terhenti saat lebih dulu Humairah bersuara memecah keheningan ruangan disaat para orangtua sedang berkumpul.
"Aku ingin mengatakan sesuatu pada papa, mama Rika, ayah dan ibu... Ini mungkin akan membuat kecewa kalian."
Airmatanya telah menggenang, menelan ludah dan mencoba mengambil napas panjang lalu Humairah meneruskan. Semua mata melihat pada Humairah terlebih suaminya saat ini.
"Aku dan mas Alif akan bercerai dalam waktu dekat," ucap Humairah yang sudah meneteskan airmatanya.
###
Panjang banget ya episodenya, semoga ga sakit mata bacanya ga abis-abis, oke part ini jangan hujat otor ya yang pasti kalian merasa ga adil pada Humairah, aduhhh ga mau spoiler utk kelanjutannya jadi tetap stay tune ya....
Bakal nyesal kalo ga lanjut. hihihi udah ah otor mau lanjut nulis "Duda lebih menggoda" dulu.
bagi yang belum baca ayo baca, bakal suka suerrrrr yukkk yang mau sebel-sebel manja sama si Zizi yang agresif hmmm mari mampir ke "duda lebih menggoda".
__ADS_1
😘😘