
"Seseorang? Siapa maksudmu? Maaf, aku hanya merasa semuanya aneh, aku datang kemari saja banyak karyawan lain menatapku lama, papaku juga bilang aku akan bertemu seseorang di kantor ini, semua seperti teka teki sekarang. Apa dulu saat magang aku punya kekasih disini?"
Daffa ingin tertawa dibuatnya.
"Bahkan lebih dari seorang kekasih," jawab Daffa memancing.
"Benarkah? Lebih dari kekasih, apa maksudmu suami? Yang benar saja, aku masih gadis belum menikah sama sekali."
Daffa hanya tersenyum saja tanpa menjawab lagi. Hatinya masih saja menghangat jika bicara dengan perempuan ini, memandang wajah dan mata Humairah yang teduh nan menenangkan sungguh efeknya lebih hebat daripada obat penenang Diazepam bagi pria ini.
"Maaf, aku biasa memanggilmu apa?" tanya Humairah enggan memanggil nama karena ia sudah mengira bahwa lawan bicaranya ini lebih jauh umur darinya, terlihat bahwa Daffa pria dewasa dan matang dari penampilannya yang rapi dan raut wajah yang tegas.
"Kau terbiasa memanggilku mas Daffa."
"Baiklah mas Daffa, senang bertemu denganmu lagi jika kau tidak menegurku tadi aku sama sekali tidak mengenalmu. Maafkan aku."
Daffa terkekeh, "Santai saja, namanya juga lagi lupa ingatan tentu lupa pada banyak hal yang terjadi."
"Apa aku boleh permisi?" pamit Humairah sopan.
"Kenapa buru-buru, aku ingin ke ruangan yang punya perusahaan. Mau ikut?"
"Wah mas Daffa pasti putranya pimpinan, benar tidak?"
Daffa tertawa kecil menanggapi ucapan Humairah, "Bukan."
"Oh baiklah, aku tidak berhak tahu urusanmu apa mas Daffa. Aku rasa pertemuan kita harus berakhir sampai jumpa lagi, aku harus pergi sekarang. Pulang dari ini aku akan mengunjungi ibuku."
"Ke rumah sakit jiwa?"
"Kau tahu juga ibuku dirawat disana?" tanya Humairah terheran, ia yakin Daffa banyak tahu tentangnya sebelum semua terjadi.
"Iya, tentu saja aku tahu karena kita adalah teman."
"Begitukah.... Baiklah, semoga kita bisa bertemu lain waktu. Maaf, aku akan pergi sekarang." Pamit Humairah saat melihat jam mungil berwarna rose gold di pergelangan tangannya, jam tangan berlogo mahkota berduri pemberian papanya sebagai hadiah wisuda minggu lalu, jam tangan termahal yang pernah ia pakai sebagai penunjuk waktu saat bepergian.
Daffa mengangguk saja, mereka berpisah dengan saling melambai tangan sembari melempar senyum tulus.
Pria itu menghembus nafas perlahan saat menatap punggung Humairah yang menjauh, dalam hati ia merutuki betapa berharganya perempuan itu bagi seorang Alif, cantik dan baik menjadi cover sempurna seorang Aisyah Humairah di mata mereka. Dan betapa menyesalnya ia pernah terniat merebut Humairah dari sahabatnya dengan cara yang sama sekali tidak jantan, menawar Humairah dengan sebuah motor.
Memastikan Humairah telah menghilang dari pandangan, Daffa melanjutkan perjalanan menuju ruangan Alif berada.
Seperti biasa ia masuk tanpa permisi. Hal yang pertama ia lihat adalah seorang lelaki yang menyandarkan kepalanya di kepala kursi kebesaran lelaki itu dengan mata terpejam, lalu Daffa melihat beberapa kertas berserakan di atas meja seorang bos dari sebuah perusahaan besar itu.
Seakan sudah tahu yang masuk itu Daffa hingga Alif bersuara tanpa membuka mata.
"Ckk...... Kenapa lama sekali?" tanya Alif kesal.
"Tenang bung, aku bertemu seseorang di bawah," jawab Daffa santai sambil melihat sekeliling.
Pandangannya jatuh pada sebuah figura yang menghiasi meja kerja Alif, senyum Humairah menghiasi photo itu, photo setelah akad Alif dan Humairah. Dibalut pakaian melayu ala perempuan Malaysia, senyum merekah namun tidak dengan mempelai prianya. Alif tampak hanya tersenyum tipis di sana.
Pakaian melayu pemberian ayah Ihsan yang Humairah pakai ketika sesi photo-photo bersama keluarga ketika itu, jika pada saat akad berlangsung perempuan itu memakai kebaya putih mewah rancangan desainer ternama pemberian mama Rika, namun saat sesi photo Humairah bahkan lebih terlihat mempesona dengan baju kurung sederhana namun terpancar aura kecantikan yang luar biasa.
Daffa meraihnya, ia lihat lekat-lekat photo itu.
"Kalian benar-benar serasi."
Alif menoleh pada Daffa yang memegang figura penyemangat kerjanya. "Taruh di tempat semula, nanti pecah!" perintah Alif sambil memijat kepalanya yang terasa pusing.
Melihat itu Daffa heran.
__ADS_1
"Apa ada masalah?" tanya pria itu seraya meletakkan lagi figura berukuran kecil itu ke tempat semula.
Alif mengangguk pelan.
"Semua berantakan, laporan keuangan bulan lalu sungguh kacau. Aku memecat dua orang yang berani bermain curang denganku."
"Ini benar-benar membuatku pusing," sambung Alif dengan nada sama kesalnya.
Daffa mengerti sekarang.
"Untuk itu ada penerimaan pekerja baru?"
"Iya, aku butuh analis keuangan yang baru, tim audit yang baru. Ini memusingkan."
"Berapa kerugianmu?" tanya Daffa lagi yang matanya menatap sekeliling ruangan dengan heran.
"Tidak banyak, hanya saja aku tidak suka dicurangi seperti ini."
"Aku rasa, aku sudah sangat lama tidak kemari hingga tidak menyadari ruangan ini sudah berbeda, kenapa berubah? Bahkan semuanya?" tanya Daffa yang baru menyadari desain ruangan temannya itu sudah berubah total, cat dinding, bahkan furniture pun semua diganti dengan yang baru, tata letak yang berbeda dari sebelumnya.
Alif menoleh kemana arah pandangan Daffa saat ini.
"Iya, aku mengubahnya."
"Kenapa?"
"Aku ingin menghapus semua jejak dan kenangan buruk tentang Aisyah."
Daffa tertawa juga akhirnya.
"Apa dengan seperti ini kau melupakannya?"
Daffa menatap Alif penuh makna, ia tersenyum sungging saat mengingat Humairah ada di loby kantor ini tadi.
"Apa kau sudah mendapat pengganti pekerja mu?"
"Itu bukan urusanku, dari laporan wawancara penerimaan dilakukan pagi ini. Aku hanya ingin mereka bisa bekerja secepatnya dan memperbaiki semua kekacauan ini."
Daffa mengangguk-anggukan kepalanya seraya berdiri dari kursi, "Iya, dan aku yakin pula salah satu dari mereka itu akan memperbaiki pula kekacauan dalam hidupmu."
"Berhenti bercanda, aku pusing," kilah Alif.
"Dan kau akan lebih pusing lagi setelah bertemu dengan pekerja baru mu nanti. Aku yakin itu." Daffa berkata pasti, senyumnya masih menghiasi bibir sambil melihat-lihat hiasan dinding.
"Kau ini bicara apa?" tanya Alif sembari meraih bungkus rokoknya lalu mengambil satu dan menghidupkannya. Alif kembali pada kebiasaan yang sudah sangat lama ia tinggalkan sejak menikahi Humairah. Namun sejak Humairah lupa padanya ia mulai merokok lagi.
"Tidak, hanya sedang membayangkan bahwa kehidupan kantormu yang memusingkan ini akan berubah mulai besok, aku yakin seyakin yakinnya kau akan sangat pusing dan sedikit gila nantinya."
"Yang gila itu kau, bicaralah yang jelas! Ayolah jangan membuatku tambah pusing," kesal Alif.
Daffa tertawa saja.
"Kenangan Aisyah tidak harus dilupakan bukan?"
"Kenangannya di kantor ini membuat mood bekerjaku jadi buruk, dengan mengubah desain interior ruangan ini cukup membantuku. Aku hanya tidak ingin bayangnya menjadi pengungkit rasa penyesalan yang selalu datang, penyesalan terbesar dan akan selalu ku sesali seumur hidupku. Kebodohan yang tidak akan ku ulangi lagi, dan itu semua mengganggu konsentrasi bekerja ku."
Daffa mengangguk mengerti, "Baiklah, aku paham. Tapi dengan mengubah ruangan ini juga tidak akan mengubah apapun dalam hidupmu, yang berlalu biarlah berlalu. Toh juga Aisyah telah meninggal, sebaiknya maafkan saja dia. Itu akan menjadi urusannya sama Tuhan. Sekarang tatalah hidupmu lagi, ayo move on Alif dari keterpurukan ini. Semua orang punya pengalaman yang buruk, bisa saja ini jadi penentu kualitas hubunganmu dengan Humairah ke depannya."
Alif terdiam, ia menoleh pada figura kecil yang ia sebut penyemangat bekerja nya itu. Senyumnya mengembang, "Aku merindukan istriku."
Daffa tersenyum, "Dan kau akan gila mulai besok."
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan gila. Humairah butuh suami yang sehat akal dan jasmaninya," kekeh Alif.
"Dan kau merusak jasmanimu dengan rokok itu."
Alif terkekeh sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya.
"Sampai kapan kau seperti ini? Tidak berniat mengaku suami pada istrimu?"
Alif menggeleng, "Entahlah...... Mungkin sampai ingatannya pulih, jika saat itu Humairah tidak juga memaafkanku dan tetap ingin berpisah, saat itu pula aku akan mengatur langkah."
"Aku tidak akan memaksa orang yang ku cintai untuk menerima ku lagi, aku pantas dicampakkan. Humairah pantas bahagia, aku tidak akan memaksanya lagi, bertahan dalam keterpaksaaan itu tidaklah baik bagi Humairah. Dia masih muda, aku tidak ingin menghancurkan masa depannya. Aku sadar begitu banyak kesakitan yang ku beri, aku bahkan tidak termaafkan," curah Alif pelan, matanya berkaca-kaca.
"Bagaimana dengan rayuan andalanmu? Marah boleh, berpisah jangan. Padahal aku suka perkataan mu yang itu," ujar Daffa lagi.
"Kau yang suka, Humairah tidak. Sepertinya itu tidak berlaku pada istriku, buktinya dia tetap ingin berpisah. Aaaahhhhh, hidupku benar-benar kacau dan kusut."
"Aku harap kau bisa melerai yang kusut itu mulai besok. Dengarkan aku.... Jika besok kau menemukan seseorang di kantor ini yang mampu membuatmu menggila, maka mulailah membuat kisah baru, kisah yang mungkin akan berbeda dari sebelumnya. Ikatlah dia dengan kesempatan yang Tuhan berikan padamu nanti, percayalah Alif, ini tidak semata-mata kebetulan."
"Ini takdir, aku yakin itu. Dia bahkan kemari sendiri untuk menghampirimu. Allah masih sayang padamu, kesempatan selalu diberikan pada orang yang benar-benar ingin berubah. Jangan sia-siakan itu, jika tidak kau mungkin akan sirna dan mati oleh penyesalan yang berikutnya."
Alif menatap Daffa dengan raut penuh tanya.
"Kau ini bicara apa?"
******
Hari selasa, pukul 7 lebih dikit Humairah sudah berada di plataran parkir kantor yang akan menjadi tempatnya mencari pengalaman bekerja satu tahun ke depan sebelum meneruskan niat untuk kuliah pascasarjana dengan pilihan tetap ke negeri tower kembar yang mana ayah Ihsan pernah merantau ke sana saat ia bujangan.
Perasaannya cukup gugup karena ini bukan magang, melainkan bekerja yang sesungguhnya. Rasa ingin pipis terus saja ia tahan sejak menunggu arahan senior untuk pekerjaan barunya setelah menandatangani kontrak tiga bulan awal percobaan.
Namun sekarang Humairah tidak bisa menahannya lagi. Ia pun berlalu ke arah toilet yang bahkan telah ia hafal letaknya.
Humairah menghembus nafas lega saat telah menuntaskan keinginan miksi nya di sana, ia merapikan roknya lalu membuka pintu keluar dari toilet, matanya langsung mengarah pada punggung seorang lelaki yang tengah membersihkan jasnya dari sebuah noda.
Humairah terkejut, "Hei..... Apa kau mau mengintip wanita yang sedang pipis?"
Pria itu membalik badan, namun disambut dengan pukulan dari tong sampah yang telah diraih Humairah yang tidak memberinya ampun sedikitpun.
"Apa yang kau lakukan?" tanya pria itu berteriak menghindari serangan demi serangan tong sampah yang bahkan membuat jasnya bertambah kotor.
"Kau berani melecehkan ku di hari pertamaku bekerja, berani mengintipku pipis, kau pasti sudah terbiasa mengintip para wanita di toilet pagi-pagi seperti ini, tapi sayang kau tidak bisa lepas kali ini pria jahat, cabul, beraninya masuk toilet wanita."
Cerca Humairah yang memukul pria itu tanpa memberi kesempatan.
Mendengar suara khas Humairah yang terbiasa lembut, namun cukup mengerikan kala sedang mengamuk seperti ini. Alif menghentikan tangan Humairah setelah ia merasa cukup untuk dipukul pagi buta seperti ini.
"Hentikan!" teriak Alif, yang menyesali intonasi suaranya yang meninggi namun mendadak lidahnya kelu saat menatap siapa perempuan yang baru saja berani memukulnya dengan tong sampah.
Mata mereka bertemu, Humairah melepaskan tong sampah itu dari tangannya karena mendadak tangannya lemas seketika bertemu muka dengan pria yang ia anggap telah mengintipnya pipis tadi.
De javu, Humairah merasa adegan ini tidak asing setelah menatap wajah tampan di hadapannya saat ini. Jantungnya mendadak berat saat memompa, dadanya tiba-tiba terasa penuh dan sulit bernapas. Gugup yang Humairah rasakan terlebih sentuhan tangan dingin yang memegang pergelangan tangannya saat ini.
"Humairah?" gumam Alif pelan.
De javu. Humairah merasa de javu.
Bersambung.....
###
Gantung lagi yak.... hihihi, hari ini senin saatnya vote ya bagi yang berkenan.... Makasih muah muah.
__ADS_1