
Dua hari kemudian.
Humairah membuka mata, ia melihat satu persatu orang yang berada di dekatnya.
Senyumnya mengembang saat menatap seorang gadis sebayanya yang kebetulan berada tepat di samping ranjang pasien.
"Lola."
"Mairah, kau sadar? Oh sayang aku mencemaskanmu," ucap Lola langsung memeluk Humairah yang baru saja mendudukkan diri.
"Pelan-pelan bodoh, Mairah baru saja sadar!" cetus Aji yang menarik lagi tubuh kekasihnya dari ranjang Humairah.
Humairah terkekeh saja, ia membetulkan selang infusnya lalu menatap pada dua sahabatnya penuh tanya.
Lalu papa Imran mendekat dengan raut bahagianya karena putri semata wayangnya telah sadar dari tertidur hingga dua hari lamanya.
"Sayang, syukurlah kau sudah bangun. Kami semua mencemaskanmu nak." Papa Imran juga memberi pelukannya. Namun Humairah menjadi heran.
"Maaf, anda siapa?" tanya Humairah saat melepas pelukan pria paruh baya yang terasa asing baginya.
Lola dan Aji saling menoleh.
"Lola, aku bingung.... Apa aku sedang sakit? Kenapa aku sampai dirawat? Mana ayah dan ibuku?"
Papa Imran mendengar pertanyaan Humairah menjadi lebih bingung lagi.
"Sayang, ini papa!" kata papa Imran lagi.
Humairah masih terlihat bingung, ia menatap lagi dua temannya.
"Mairah, kau tidak mengingat papa mu?" tanya Lola.
Humairah menggeleng, "Maafkan aku, apa aku sakit parah? Aku tidak mengingatnya, mana ayah dan ibuku? Apa mereka sedang pulang?"
"Kau benar-benar tidak ingat? Lalu kau ingat kami?" tanya Aji penasaran.
Humairah mengangguk, "Tentu saja aku ingat dua sahabatku, bagaimana aku bisa lupa pada kalian. Yang benar saja, ayolah jangan menatapku seperti itu apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa aku mengalami kecelakaan?"
Papa Imran saling tatap dengan dua sahabat anaknya, lalu ia berkata lagi, "Paman akan memanggil dokter," ucap papa Imran.
Lola dan Aji mengangguk serentak tanda mengerti bahwa mereka harus menjaga Humairah. Lola ingin bicara tentang keadaan Humairah saat ini namun Aji lebih dulu memotongnya dan berbisik agar Lola tidak banyak bicara sebelum dokter datang.
"Kenapa kalian seperti menyembunyikan sesuatu? Apa yang terjadi? Aku sakit apa dan kenapa aku tidak mengingat apapun sebelum sadar ternyata sudah seperti ini?" tanya Humairah mendesak kedua temannya agar jujur.
"Tenang Mairah, dokter akan datang. Biar dokter saja yang menjelaskan kami takut salah," jawab Aji menenangkan.
"Oke baiklah, berapa lama aku sudah dirawat?"
"Dua hari," jawab Lola cepat.
Humairah mengangguk mengerti, lalu ia bertanya lagi.
"Mana ayah dan ibuku?"
__ADS_1
Untuk pertanyaan ini Lola dan Aji dilanda gugup, Humairah seperti lupa ingatan. Baru dua hari lalu Humairah sendiri yang mengalami kejadian mengerikan menyaksikan ayahnya meninggal. Setahu Lola dan Aji bahwa ibu Aini belum juga datang ke rumah sakit untuk menjenguk Humairah karena masih sibuk mengurus acara tahlilan tiga hari suami dan putrinya.
Namun baru tadi pula Lola mengetahui bahwa ternyata ibu Aini tidak baik-baik saja saat ia berkunjung, ibu Aini hanya mengurung diri dalam kamar. Tidak makan sudah dua hari tidak pula menemui tamu yang datang melayat, ia hanya mengurung diri dalam keheningan sejak pemakaman anak dan suaminya yang menggemparkan warga sekitar atas kejadian mengerikan itu.
"Ibumu pulang sebentar," jawab Lola lagi.
"Begitu rupanya, lantas apa dua hari ini hanya kalian berdua yang menjengukku?"
Lola mengangguk polos.
"Huh.... Apa Rasya tidak datang menjenguk?"
Lola dan Aji saling menoleh lagi.
"Rasya?"
"Iya, lalu siapa lagi teman dekatku jika bukan pria pencemburu itu. Apa dia begitu sibuk hingga belum sempat kemari?"
Humairah membicarakan Rasya sambil tersenyum kesal. Lola sudah tidak tahan ia penasaran atas apa yang terjadi pada Humairah, papa Imran belum juga datang membawa dokter.
"Mairah, aku ingin bertanya serius padamu."
"Bertanya apa? Hei berilah aku minum dahulu, tenggorokan ku terasa kering," rengek Humairah pada Lola seperti biasa mereka biasa di kampus.
Aji segera mengambilkan sebotol air mineral dari meja laci di samping ranjang pasien lalu memberikannya pada Humairah. Perempuan itu meminumnya hingga habis.
"Sepertinya kau memang haus," cetus Lola tercengang melihat temannya menenggak minuman sampai habis.
"Iya, ayo kau ingin bertanya apa?" tanya Humairah kembali pada pembicaraan awal.
Humairah menggeleng.
"Kau tidak ingat paman Imran?"
"Siapa dia? Apa paman yang memelukku tadi?"
Lola mengangguk, "Mairah, paman Imran adalah papa mu, maksudku papa kandungmu."
Humairah tercengang ia bertambah bingung. Saat bersamaan papa Imran datang bersama seorang dokter.
Dokter memberikan beberapa pertanyaan pada Humairah, lalu sang dokter memeriksa lagi pasiennya dengan seksama.
Di luar, Alif yang membawa buket bunga mawar yang besar. Ia sudah tidak sabar setelah mendapat telepon dari papa mertuanya yang mengabari bahwa istrinya telah bangun.
Namun langkahnya terhenti saat mendengar dokter sedang berbicara pada Humairah seperti sedang wawancara yang mana dokter bertanya dan Humairah menjawab.
Alif mendengar semua pertanyaan dan jawaban yang diberikan istrinya, Alif menjadi ciut saat ingin masuk ketika dokter mengatakan sesuatu yang membuatnya tertegun.
"Sepertinya nona Humairah mengalami lupa ingatan, jangan khawatir ini akan membaik seiring waktu. Nona bisa beristirahat sekarang, biar saya bicara dengan orangtua anda di luar saja."
Humairah mengangguk mengerti, ia menjadi pasien yang kooperatif saat diajak berbicara oleh dokter demi kesehatannya. Papa Imran mempersilahkan dokter untuk bicara dengannya di luar untuk penjelasan lebih lanjut tentang keadaan Humairah.
Alif bersembunyi ketika papa Imran dan dokter keluar ruangan istrinya, lalu ia ingin masuk lagi namun kembali terhenti saat mendengar Humairah bertanya lagi pada dua temannya.
__ADS_1
"Apa benar aku lupa ingatan? Tapi kenapa masih ingat pada kalian?"
Lola menjawab bingung, "Aku pun bingung, kau bahkan ingat pada mantan kekasihmu Rasya, ingat tugas kuliah, bertanya persiapan magang.Aneh, padahal kau sudah lulus lebih dulu dan akan wisuda bulan depan."
"Kau tidak ingat Kuala Lumpur?"
"Mantan apa maksudmu? Kuala Lumpur?"
"Iya sayang, kau dan Rasya sudah berakhir, bahkan sudah sangat lama, kau sudah lulus Humairah dan hampir ke Kuala Lumpur jika tidak mengalami ......" jelas Lola gemas, Aji menutup mulutnya agar tidak meneruskan kalimat.
"Benarkah? Yang benar saja, tapi aku merasa hubungan kami baik-baik saja, jangan membuatku bingung Lola, aku dan Rasya tidak sedang bertengkar bukan? Aku merasa tidak ada masalah serius diantara kami sejauh ini."
Lola bersungut kesal, Humairah tidak mengingat suaminya sedikitpun.
"Kau tidak mengingat pak Alif?"
Humairah bertambah bingung, "Siapa lagi pak Alif?"
Lola bernapas kasar, "Baiklah, aku takut salah bicara, dokter sudah mengatakan kemungkinan kau sedang amnesia, jadi jangan berpikiran berat dulu oke.... Istirahatlah," jawab Lola lagi yang menyelimuti Humairah.
"Aku sudah tidur dua hari, sekarang kau menyuruhku tidur lagi," rajuk Humairah.
"Lalu kau mau apa?"
"Mana ponselku, aku akan menghubungi Rasya."
Sekatika Alif melemas saat meyakini bahwa Humairah memanglah lupa, lupa padanya lupa akan pernikahan mereka. Ia melihat sendiri raut berseri Humairah saat bertanya tentang lelaki lain.
Ia melirik lagi papa Imran dan dokter yang menjauh, ia segera menyusul untuk mendapatkan informasi jelas tentang keadaan istrinya saat ini.
"Papa," panggil Alif.
"Alif, ayo kemarilah dokter ingin bicara!"
Mereka pun masuk ke ruangan khusus dokter tidak jauh dari ruang rawat Humairah.
"Apa yang terjadi pada istriku dokter?" tanya Alif tidak sabar.
"Nona Humairah mengalami amnesia Disosiatif, amnesia yang disebabkan oleh trauma psikologis dan stress berat oleh kejadian tertentu bukan amnesia seperti biasa orang cedera kepala. Sepertinya kejadian kemarin lusa itu meninggalkan trauma bagi pasien."
Papa Imran dan Alif menyimak betul perkataan dokter.
"Hal ini membuat pasien tidak mengingat poin-poin informasi yang sebenarnya penting, amnesia ini sama dengan amnesia lainnya yang tentu kehilangan informasi dari ingatan pasien. Keluarga tidak perlu cemas berlebihan, ingatan nona Humairah masih ada namun tersimpan sangat dalam di pikiran hingga tidak dapat diingat."
"Meski begitu, ingatan nona Humairah bisa pulih dengan sendirinya seiring waktu dan dapat muncul dipicu keadaan sekitar. Sebagai orangtua dan suaminya, tentu anda-anda ini bisa membantu pasien dalam mengingat informasi yang hilang, namun perlahan saja sebab tidak mudah memulihkan pasien dari rasa trauma. Perlu diingat bahwa amnesia ini disebabkan oleh trauma psikologis dan stress berat, saya rasa kejadian itu benar-benar meninggalkan sebuah trauma mendalam bagi pasien."
"Hanya itu yang bisa saya sampaikan, yang lainnya bagus tidak ada masalah, kakinya hanya meninggalkan memar biasa nanti akan diberi obat penghilang rasa sakit agar mudah berjalan, kondisi lain nona Humairah sudah stabil dan boleh pulang besok."
Mendengar itu papa Imran melihat Alif yang telah terduduk lesu.
"Alif."
"Trauma psikologis, Humairah tidak mengingatku pa.... Dia sama sekali tidak mengingat pernikahan kami, itu artinya aku berada dalam ingatan yang dia simpan dalam karena aku juga termasuk dalam trauma itu."
__ADS_1
****
Alif yang terlupakan, tuh yang nanya Alif keenakan ga dapat balasan apa-apa, sekarang mari tertawa jahat 😅😅 dia tersimpan dalam rasa trauma yang dilupakan Humairah. Diajak cerai aja dia mau gila, lah ini dilupakan secara sia-sia 😁😁😁