
Dengan senyum yang menghiasi wajahnya Alif keluar ruangan setelah melihat jam di pergelangan tangannya bertepatan akan istirahat makan siang sebentar lagi.
Berjalan pasti melangkah ke arah ruangan para staf keuangan kantor yang kebetulan berada pada satu lantai yang sama. Namun semua tidaklah semudah yang ia kira, entah datang dari mana hingga pemandangan yang cukup membuat matanya panas dan dadanya terasa penuh hingga sulit bernafas saat ingin masuk ke sana.
Ruangan tampak sepi karena para pekerja kantoran itu tengah menikmati waktu istirahat makan siang mereka, hanya tersisa Humairah dan salah satu karyawan lain yang masih sibuk dengan komputernya.
Terlihat seorang lelaki yang baru dua bulan menjabat HRD di kantor ini Arya sedang merayu seorang wanita berhijab warna hitam yang duduk di bilik kerjanya, bilik kantor yang terbuat dari furniture kayu bergaya minimalis modern yang dibatasi dengan partisi berbahan akrilik dari satu meja dengan meja yang lain yang dilengkapi komputer yang menunjang pekerjaan mereka.
"Maaf mas Arya, apa maksudmu memberi ku bunga?" tanya Humairah yang merasa bingung saat Arya tiba-tiba menghampirinya lalu memberikan setangkai bunga mawar berwarna merah muda.
"Apa menurut mu salah memberi mawar pada wanita cantik disiang hari?" rayu Arya, pria itu terkekeh melihat ekspresi wajah canggung Humairah.
Humairah terdiam, ia belum menerimanya.
"Ayolah, ini hari pertama mu bekerja anggap saja ini sebagai penyemangat." Arya menyodorkan lagi bunga mawar itu pada Humairah yang tidak bergerak dari kursinya.
Humairah menerima mawar itu dengan sungkan, "Terimakasih, baiklah aku menerimanya sebagai tanda selamat datang di kantor ini," jawab Humairah tersenyum.
"Tepat sekali, selamat datang dik Humairah si gadis cantik lulusan terbaik semoga pekerjaan memusingkan ini tidak memudarkan senyuman di wajahmu. Berhubung ini sudah jam makan siang, bagaimana jika merayakan perkenalan kita dengan makan siang bersama?"
Arya berdiri dengan senyum merekah nan tebar pesona pada Humairah yang menjadi incaran hatinya sejak kemarin. Tidak memungkiri pria ini menyukai Humairah berawal dari wawancara kerja dilanjutkan dengan perkenalan tadi pagi saat mendampingi Humairah menandatangani kontrak pekerjaan hingga ia terlihat akrab seperti sekarang.
"Kau lihat ini?" tunjuk Arya pada sebuah kotak bekal yang ia bawa di satu tangannya yang lain.
__ADS_1
Humairah mengerutkan kening, "Mas Arya bawa bekal?"
Pria itu mengangguk, "Aku adalah pria baik yang tidak suka jajan diluar, aku selalu membawa kotak bekal dari rumah agar higienis dan terjaga kesehatannya. Ingin makan bersama? Aku membawa dua sekaligus khusus untuk dik Humairah," rayu Arya lagi, meski sedikit berbohong tentang kotak bekal yang baru hari ini ia bawa demi menarik perhatian Humairah.
"Benarkah? Hmmmm ...... tapi sayang sekali, maafkan aku mas Arya, aku tidak bisa karena aku sedang berpuasa hari ini," tolak Humairah halus meski dalam hati ia segera meminta ampun pada Tuhannya karena berbohong puasa, ia hanya berjaga-jaga untuk tidak mudah diajak makan dengan pria yang baru ia kenal terlebih makanan itu dari rumah si pria yang belum tentu berniat baik padanya.
Pada kenyataannya Humairah merasa sungkan dan tidak menyukai sikap Arya yang terlihat sekali merayu dan mendekatinya tanpa basa basi padahal mereka baru berkenalan tadi pagi, namun Arya sudah gencar mendekatinya berani memberi mawar dan menawari makan dari kotak bekal yang belum tentu terbebas dari niat jahat pikir Humairah. Terlebih tatapan mata pria itu, tatapan mata keranjang yang tidak bisa dibohongi.
Humairah bukan anak remaja yang mudah termakan rayuan dan gombalan dari seorang pria, ia sudah cukup dewasa dalam bersikap pada lelaki seperti Arya. Hanya Rasya pria yang ia percaya semua perkataanya karena mereka memang telah saling mengenal lama.
"Hei ini hari selasa, bukankah puasa sunnah di hari senin atau kamis?" selidik Arya.
Humairah menggeleng pelan.
"Maaf mas Arya, aku berpuasa untuk membayar hutang puasa ku yang telah lalu."
"Oh begitukah? Baiklah maafkan aku, jika begitu aku juga tidak akan makan siang ini demi menghormati mu yang berpuasa, bukankah kita bisa mengobrol saja, disini pengap maukah kita mengobrol di ruang terbuka? Aku tahu ada taman dengan pohon rindang di belakang kantor ini, udaranya sejuk di sana kau pasti suka."
Arya tidak kehilangan akal untuk bisa berlama-lama bersama perempuan cantik berlesung pipi itu, wajah yang semakin membuatnya penasaran dan tertantang untuk menaklukkan hatinya saat Humairah pandai berkilah, ia tidak ingin kesempatan itu terbuang sia-sia terlebih ini adalah hari pertama Humairah masuk bekerja.
Namun belum Humairah menjawab terdengar suara bariton berasal dari arah belakang mereka berdua, karena suara itu mereka serentak menoleh pada seorang pria yang dadanya kembang kempis mendengar mereka mengobrol tadi terlebih Arya terlihat seperti memaksa Humairah agar mau pergi dengannya.
"Ehemmmmmm."
__ADS_1
"Pak Alif?" Arya terkejut.
Humairah bingung, ia tidak mengira pria yang ia pukul tadi pagi dipanggil dengan nama yang ia ketahui adalah CEO kantor ini dari nama yang tertera pada surat kontraknya.
"Apa maksudmu pak Alif ini bos kita?" tanya Humairah pelan pada Arya.
Arya mengangguk, "Iya, pak Alif adalah CEO kantor ini."
"Aku tunggu kalian di ruanganku, sekarang!" kata Alif yang langsung pergi dengan raut wajah yang merah padam.
Humairah menggigit bibir bawahnya seraya menunduk takut, bagaimana jika pria itu datang untuk memanggilnya terkait pemukulan di toilet tadi pagi.
"Benarkah dia orangnya? Apa maksudmu dia pak Alif Zayyan Pratama?" tanya Humairah sekali lagi.
Arya mengangguk, "Aku rasa ada sedikit masalah, ayo kita temui saja mungkin pak Alif memanggil kita terkait surat kontrak."
Humairah mengangguk, lalu seseorang tampak menghampirinya yaitu karyawan wanita di sebelahnya yang baru selesai mematikan komputernya.
"Kak Sherly," ucap Humairah terkejut saat mendapat sentuhan tangan Sherly di pundaknya.
"Iya, sebaiknya kalian temui pak Alif sesuai perintah. Mungkin kau akan mengingat sesuatu jika sering bertemu bos kita itu," bisik Sherly di telinga Humairah lalu ia mengerlingkan satu mata menggoda Humairah.
Sherly adalah senior yang cukup menjalin kedekatan dengan Humairah dan Lola saat magang dulu, ia tahu pula bahwa istri bosnya itu tengah mengalami lupa ingatan dari Lola yang merupakan sepupu Sherly sendiri.
__ADS_1
"Tapi aku rasa saat ini dia sedang marah, jadi berhati-hatilah untukmu Arya, karena kau sungguh berani mengganggu kenyamanan pak Alif saat ini."
Sherly menatap Arya setelah berkata ambigu, membuat Humairah dan Arya merasa bingung dengan sikap dan perkataan Sherly.