
"Maaf pak Alif, kami kurang sopan. Nona Merry memaksa bertemu dengan anda," ucap Dewi seraya menunduk sopan.
"Alif, ayolah aku harus bicara padamu."
Alif tertegun sejenak, "Ada apa ini?" tanya Alif kian heran.
"Begini pak ----" ucapan Dewi menggantung saat Merry segera memotongnya lebih dulu.
"Alif, aku salah satu pelamar untuk posisi sekretaris mu."
Alif mulai mengerti arah pembicaraan sekarang.
"Maaf Merry, aku butuh sekretaris laki-laki bukan perempuan."
"Alif aku mohon, aku butuh pekerjaan ini. Kita adalah teman lama, kenapa harus pelamar lelaki saja yang berkesempatan untuk posisi ini?"
"Karena aku mau lelaki, bukan perempuan. Aku rasa tidak harus memberikan alasan untuk itu," jawab Alif.
"Aku janda dengan tiga anak Lif, bantulah aku dengan menerimaku di posisi sekretaris mu yang kosong. Aku butuh sekali pekerjaan, kita teman Lif setidaknya pertimbangkan hal itu aku bersedia diwawancarai secara profesional oleh wanita HRD ini, aku sudah punya pengalaman lebih dari lima tahun di bidang ini. Aku keluar dari perusahaan lama karena sudah tidak nyaman, aku pernah mendapat pelecehan di sana."
"Maaf aku tidak harus ikut campur masalah mu," jawab Alif enteng, mendengar itu Dewi ingin tertawa dalam hati.
"Alif, aku tidak punya pekerjaan saat ini. Aku butuh sekali pekerjaan ini."
"Kenapa tidak melamar pada posisi lain saja?"
"Aku sudah terbiasa menjadi seorang sekretaris, aku ahli dibidang ini setidaknya aku membutuhkan gaji lebih besar dari posisi yang lain."
__ADS_1
Alif menghela nafas dibuat Merry yang tampak terus memelas.
"Kenapa kau hanya mau laki-laki saja?"
"Karena aku tidak mau istriku cemburu, aku akan banyak menghabiskan banyak waktu dengan sekretaris selama di kantor, meeting dan tentu banyak pekerjaan lain yang mengharuskan aku berhubungan terus dengan seorang sekretaris, dan aku mau lelaki bukan perempuan." Tegas Alif tanpa mengubah ekspresi.
"Lagi pula apa salahnya sekretaris laki-laki? Tidak melulu perempuan yang harus jadi sekretaris bukan? Perempuan yang pernah menjadi sekretaris ku hanya dua sebelumnya, Poppy yang sudah ku pindahkan di bagian lain, dan Humairah istriku yang sekarang sedang hamil besar hingga terpaksa ku ganti dengan sekretaris baru. Dan aku tidak mau ada wanita lain setelah mereka."
"Apa? Oh ayolah Alif, itu alasan konyol. Lagi pula kita teman kenapa istrimu harus cemburu. Lucu sekali jika kau takut istrimu dalam hal ini."
Dewi kian gugup mendengar wanita ini cukup berani dalam berkata-kata.
"Tidak ada hal konyol jika menyangkut istriku juga bukan karena takut padanya hingga aku seperti ini, aku melakukannya untuk diriku sendiri, aku adalah pria beristri jika bisa aku meminimalkan ruang untuk dekat dengan wanita manapun meski itu urusan pekerjaan sekalipun."
"Jika kau memaksa itu akan percuma. Silahkan keluar aku ada urusan lain, alasan teman lama juga termasuk hal konyol untuk alasan bisa diterima di perusahaan ku, ketahuilah Merry aku profesional dalam hal bekerja."
Alif berkata serius, lalu ia menatap Dewi yang terasa sesak dadanya mendengar setiap perkataan bosnya itu.
"Dewi, silahkan ajak Merry keluar! Aku akan menelepon mama ku."
Merry terdiam di tempatnya, ia tidak mengira Alif berubah sejauh itu. Jika sekolah dulu Alif adalah sosok lelaki yang ramah dan mudah berteman.
Sekarang terlihat kejam hanya karena seorang istri, Merry pernah suka pada Alif dulunya, pengagum rahasia Alif saat di kelas mereka. Ia menjadi janda saat ini, ia pikir mendekati Alif dengan alasan kasihan padanya yang menghidupi tiga anak seorang diri akan mudah dalam mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar.
Namun semua tidaklah seperti yang ia bayangkan, Alif bahkan tidak tertarik untuk kasihan padanya sedikit pun dan terkesan pula mengusir, setiap orang bisa berubah tentu masa sekolah yang indah dulu tidak lagi sama ketika mereka telah sama-sama dewasa seperti saat ini, semua pada takdirnya masing-masing.
Dewi membujuk Merry untuk keluar. Namun saat mereka keluar cukup terkejut saat mendapati Humairah di balik pintu yang tidak tertutup sempurna.
__ADS_1
"Nona Humairah," sapa Dewi canggung.
Merry lama menatap istri Alif itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu berhenti pada perut Humairah yang membesar.
Wajahnya jadi tidak ramah, hanya senyum tipis seperlunya. Pun Humairah ia cukup tercengang mendengar percakapan antara suaminya dengan dua orang perempuan ini. Merry yang berkenalan dengannya di rumah sakit beberapa bulan lalu.
"Iya, apa kalian sudah selesai?"
Dewi mengangguk, "Iya, kami akan keluar sekarang. Permisi nona Humairah."
Humairah mengangguk lalu tersenyum, namun Merry tidak, ia menjadi kesal sendiri.
"Apa hebatnya wanita itu?" gumam Merry ketika mereka telah menjauh.
"Wah, kau tidak tahu betapa berpengaruhnya seorang istri pada suaminya, seperti nona Humairah pada pak Alif. Banyak kisah terjadi pada rumah tangga mereka, aku mengagumi sosok perempuan seperti nona Humairah, dia wanita hebat," jawab Dewi tersenyum penuh arti.
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena tidak semua perempuan bisa seperti dia, dan aku tidak perlu bercerita padamu karena apa. Semua sudah berlalu, kami di kantor ini tidak bisa bicara apapun soal mereka jika tidak ingin kehilangan pekerjaan. Tapi rata-rata kami karyawan kantor ini adalah pengagum pasangan itu."
"Bisa kau cerita padaku? Sepertinya menarik."
"Maaf nona Merry, aku rasa aku tidak punya kewajiban untuk konfirmasi padamu soal apa yang terjadi pada mereka. Aku rasa kita bisa berpisah di sini, aku banyak pekerjaan lain."
"Kalian semua menyebalkan!" kesal Merry menghentakkan kakinya ke lantai.
Namun tidak juga menghalangi Dewi untuk pergi dari sana.
__ADS_1