
Sebelum baca vote dulu dong๐๐
******
Sebuah ultimatum membuat Alif tidak berkutik, ia mengalah dan berhasil membujuk Humairah untuk tidak mengundurkan diri dari pekerjaan sebab kejadian konyol minggu lalu.
Semua peraturan terpaksa ia tanggalkan demi Humairah tetap bertahan pada posisi sekretaris, tidak bisa jemput dan antar pulang lagi, meski begitu Humairah masih setuju untuk tetap bekerja satu ruangan dengan Alif. Mereka bekerja dalam diam dan sikap dingin Humairah yang masih marah pada Alif terkait drama minta cium waktu itu.
Meski Alif setiap hari mengatakan cinta pada Humairah, tentu Humairah menanggapi itu hanya sebuah candaan seorang Alif saja agar ia terpedaya untuk memaafkan kejadian minggu lalu.
Pagi ini, Alif sudah tidak tahan hingga ia akhirnya tetap bersikukuh menjemput Humairah untuk berangkat bersama karena sudah satu minggu berlalu dari kejadian itu.
Namun kalah langkah karena hanya terdapat papa mertuanya yang hendak menaiki mobil.
"Papa," panggil Alif memanggil pria paruh baya itu.
Papa Imran menghentikan niat masuk mobil, ia melihat ke arah Alif.
"Alif kau kemari?"
Alif segera menyalami mertuanya seraya melihat-lihat sekitar mencari Humairah.
"Kau mencari istrimu?"
Alif mengangguk, "Humairah ingin naik bis hari ini, baru saja berjalan kaki ke halte, katanya rindu naik bis ketika kuliah dulu. Tentang tempo hari, bersabarlah..... Papa mengerti posisi mu."
Alif mengangguk, "Ini salahku, tidak bisa mengontrol diri," jawab Alif lesu.
Papa Imran terkekeh, "Seharusnya biarkan dia bekerja di bagian yang seharusnya, jika berdekatan seperti itu tentu saja kau mana tahan."
Alif menghembus nafas kasar, "Tidak, Humairah akan tetap di posisi sekarang. Di ruangan lain tentu akan banyak yang mendekati nya, itu tidak boleh terjadi."
Papa Imran tertawa lagi, "Bersabarlah, dekati dia pelan-pelan bukan main cium cium sembarangan. Sibukkan diri dengan pekerjaan mu seperti biasa, biarlah kedekatan kalian mengalir. Tarik perhatiannya dengan suatu hal yang manis bukan hal yang mesum seperti tempo hari."
"Papa membuatku malu," cicit Alif pelan seraya menunduk malu.
"Percayalah takdir Allah itu yang terbaik, papa yakin Humairah mencintaimu Alif hanya saja dia memilih berhenti untuk luka yang selanjutnya. Papa rasa semua hal bisa diperbaiki mulai sekarang. Hei kenapa malah bicara, ayo sebaiknya tinggalkan mobilmu, kejar dia sekarang. Bisnya akan datang lima menit lagi."
Ucap papa Imran sambil melirik jam tangannya.
"Oh, papa benar-benar mertuaku yang terbaik," jawab Alif tersenyum memeluk papa Imran sejenak.
Ia mengatur langkah, meninggalkan pria paruh baya itu yang segera naik mobil melanjutkan niat untuk ke kantor.
"Iya karena papa rasa berganti suami belum tentu membuat putriku punya kehidupan yang lebih baik," gumam papa Imran seraya menjalankan mobilnya.
Alif berjalan setengah berlari mengejar Humairah yang tengah menunggu bis.
"Oh sial," gumam Alif mempercepat larinya mengejar bis yang baru saja berjalan.
Beruntung ia masih mendapat kesempatan dan berhasil naik sebelum bis benar-benar pergi dari sana.
"Alhamdulillah, huh....." bersyukur Alif saat berhasil menaiki bis sambil menghembuskan nafas.
Alif mengatur napas yang tersengal, berlari cukup membuatnya berkeringat, benar saja matanya langsung mengarah pada seorang perempuan cantik memakai kerudung berwarna cokelat susu dengan motif bunga di sudutnya yang terjuntai indah menutupi punggung Humairah, perempuan itu tidak menyadari Alif telah berdiri di belakangnya.
Humairah terus mengembangkan senyum menatap keluar jendela, ia benar-benar terkenang saat awal kuliah dulu sering naik bis bersama ayahnya yang hendak berangkat bekerja.
Namun senyum itu tidak bertahan lama, berganti bulir airmata jatuh dari pelupuknya saat bayangan wajah teduh ayah Ihsan menghampiri, wajah tersenyum yang sudah sangat lama tidak ia jumpai dan Humairah sadar senyum ayahnya tidak akan pernah lagi ia jumpai sampai nanti.
Menarik napas dalam, Humairah menghapus airmatanya seraya bergumam pelan, "Aku merindukan kita yang dulu ayah, ayah ibu dan aku."
Alif duduk di sebelahnya saat berhasil bertukar tempat dengan perempuan hamil yang semula di samping Humairah.
"Mas Alif," sapa Humairah cukup terkejut, saat menoleh ke samping kirinya.
__ADS_1
"Hai," sapa Alif juga.
Menghembus napas kesal Humairah bertanya, "Apa kau menjemputku?"
"Iya, dan papamu bilang kau naik bis hingga aku mengejarmu kemari. Alhamdulillah, aku tidak ketinggalan," jawab Alif penuh drama.
Humairah tidak menjawab lagi, melainkan kembali menatap keluar jendela, senyum tipis tidak mampu ia sembunyikan, entah kenapa Humairah suka melihat bosnya berwajah berkeringat seperti sekarang, tampan seperti yang hadir dalam mimpinya semalam. Kemarahannya minggu lalu hilang begitu saja, padahal sudah satu minggu ia tidak bersikap hangat pada pria itu.
"Menyebalkan," gumam Humairah pelan seraya mengulum senyum, ia teringat lelaki itu mengatakan cinta setiap hari selama satu minggu ini.
"Kau bicara sesuatu?"
"Tidak," jawab Humairah ketus.
"Oh kenapa perutku jadi mual," ujar Alif yang merasa pusing tiba-tiba dan perasaan tidak nyaman pada perutnya.
Humairah menoleh pada Alif yang tampak pucat seketika, "Hei mas Alif kau kenapa?"
Belum Alif menjawab ternyata muntah lebih dulu keluar dari mulutnya, muntahan roti tawar yang tampak belum sempurna dicerna oleh lambung kini membanjiri pakaian Humairah entah sengaja atau tidak Alif muntah tepat mengarah ke perempuan itu.
Humairah mengurut punggung Alif tanpa berpikir panjang, semua mata penumpang lain menatap Alif antara jijik dan geli bagaimana seorang pria gagah dan tampan berpakaian rapi tiba-tiba muntah mengotori bis.
Alif muntah sejadi-jadinya, membuat Humairah menjadi iba.
"Kau mabuk perjalanan, apa kau tidak pernah naik bis sebelumnya?"
Alif hanya menggeleng saat telah selesai mengeluarkan seluruh sarapannya tadi, ia menengadahkan kepala seraya bersandar, Alif mengatur napas.
"Ini memalukan, maafkan aku pakaian mu jadi kotor. Kau pasti jijik," ucap Alif menatap Humairah dengan wajah pucatnya.
Humairah menggeleng, "Bukan masalah, dulu aku kecil juga sering mabuk perjalanan. Mungkin karena kau tidak pernah naik bis sebelumnya jadi jiwamu terkejut," kekeh Humairah sambil mengeluarkan tisu dari tasnya.
"Memang ada jiwa terkejut? Oh aku pusing Humairah, ayolah kita naik taksi saja," rengek Alif menatap Humairah yang dibuat manja.
"Baiklah, aku juga harus berganti pakaian," jawab Humairah setelah berpikir sejenak.
Ia meminta sopir bis memberhentikan mereka setelah Humairah mengelap sisa muntah Alif yang tersisa mengenai bangku bis menggunakan tisu, Alif salut pada istrinya. Perempuan itu tampak telaten dan tidak jijik sedikitpun.
Mereka turun setelah meminta maaf telah mengotori bis. Benar saja wajah Alif kian memucat, awalnya memang Alif sedang tidak enak badan, ia sudah beberapa kali muntah sejak semalam namun ia memaksa tetap ke kantor dan menjemput Humairah pagi ini hingga terjadi kondisinya seperti sekarang.
"Mas Alif, kau sakit?" tanya Humairah saat mereka sudah dalam taksi.
"Iya, sepertinya aku terkena gangguan pencernaan, sejak semalam aku muntah," jawab Alif lesu.
"Lalu kenapa memaksa ke kantor, baiklah aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu."
Alif tersenyum, ia menyebutkan alamat rumah yang mereka tempati waktu bersama dulu. Taksi menuju ke sana setelah diberi perintah.
Mereka sampai rumah, Humairah terdiam sejenak saat ingin masuk. Dadanya gugup, kepalanya sakit tapi masih bisa ia tahan.
Humairah memapah Alif tanpa ragu, masuk dan menatap seluruh ruangan yang tampak tidak asing baginya.
Bahkan ia langsung saja membawa Alif ke kamar mereka dulu yang Humairah hafal dimana letak kamar itu saat ini, namun Alif mencegah.
"Bawa aku ke sana saja, kamar tamu. Kamarku sedang diperbaiki."
Alif tidak ingin Humairah terkejut nantinya jika masuk kamar mereka sebab di sana banyak figura gambar mereka menikah dulu dalam bingkai besar, tentu Alif tidak ingin memberi kejutan pada Humairah disaat ia sakit seperti ini. Kejutan yang belum tentu Humairah menerimanya. Biarlah Humairah mengingat sendiri nanti.
"Mas Alif, wajahmu pucat sekali. Jika kau sedang muntah-muntah sebaiknya hindari dulu makanan seperti roti, itu akan merangsang muntah lagi, istirahatlah. Aku akan buatkan bubur untukmu, apa ada beras di dapur?"
Humairah bertanya setelah membantu Alif baring ke ranjang kamar tamu. Pria itu tidak langsung menjawab melainkan meraih jemari perempuan cantik itu dengan lembut.
"Humairah," lirih Alif.
"Iya mas Alif," jawab Humairah tersenyum tipis, ia tidak menepis tangan Alif seperti sebelumnya, ia membiarkan tangannya digenggam lelaki berwajah pucat dan lesu itu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu."
Humairah tersenyum, "Aku tahu."
Alif mendadak segar, "Darimana kau tahu? Apa kau mengingatku? Mulai mengingat tentang kita?" tanya Alif semangat.
Humairah terkekeh, "Bukankah kau sering mengatakannya di kantor, bahkan sudah satu minggu kau membujukku dengan kata cinta, tapi itu aneh dan terkesan bercanda. Tidak mungkin kau jatuh cinta secepat itu padahal baru satu minggu pula aku bekerja pada mu."
Terdengar bunyi nafas kasar dari Alif, ia mendadak menatap Humairah dengan kesal.
"Sulit sekali membuatmu percaya."
"Percaya itu mudah, yang sulit itu menjaga kepercayaan," jawab Humairah menatap Alif penuh arti.
Alif terdiam.
"Ada beras di dapur?" tanya Humairah lagi.
Alif mengangguk saja, "Baiklah, tidurlah dulu akan ku buatkan kau bubur. Jika kita sedang mengalami muntah sebaiknya hindari makanan padat, makan bubur saja oke?"
Alif tersenyum, "Terimakasih sayang."
"Ckkk.... Berhenti memanggilku sayang!"
Humairah berdiri namun Alif tidak melepas genggaman tangannya.
"Mas Alif, aku akan ke dapur."
"Aku mencintaimu."
Wajah Humairah memerah dan merona, malu sekali ia rasa saat ini saat menatap Alif begitu serius mengatakannya. Ia tidak pernah mendengar pria menyatakan cinta secepat ini bahkan baru satu minggu bertemu dan bekerja pada bosnya itu.
"Aku akan ke dapur."
"Beri aku ciuman dulu!"
"Mas Alif!"
Alif terkekeh, "Aku hanya bercanda."
Humairah melepaskan tangan Alif, "Jangan lupa tentang pasal pelecehan."
Alif tersenyum lagi, membiarkan Humairah meninggalkannya ke dapur.
Humairah menuju dapur tanpa bertanya pada Alif dimana letaknya, langkahnya terhenti saat melewati sebuah kamar yang ia yakini tadi adalah kamar Alif yang sedang diperbaiki.
Lama ia memandang pintu kamar, kepalanya cukup pusing saat sebuah bayangan menyapanya, bayangan yang tidak jelas untuk diingat. Senyumnya mengembang sempurna seraya geleng kepala, ia pun berlalu ke dapur.
Memasak dan menyiapkan bubur, Humairah hafal semua tata letak peralatan dapur. Ia cukup tercengang kenapa ia sama sekali tidak kesulitan berada di dapur padahal baru pertama kali kemari.
Humairah membawa semangkuk bubur setelah hampir setengah jam ia habiskan di dapur.
Alif tertidur, Humairah menaruh mangkuk bubur di atas nakas.
Ia menatap wajah Alif cukup lama. Humairah bahkan meraih tangan Alif menggenggamnya dengan erat, ia menoleh pada cincin di jarinya.
"Aku merasa hal yang sama mas Alif, ini terlalu aneh dan cepat untukku. Apa kita adalah sepasang kekasih dimasa lalu? Atau kita bertunangan mungkin? Kenapa tidak jujur saja hubungan apa yang tercipta diantara kita? Papa akrab denganmu, bahkan papa berharap kita berjodoh, apa kita sudah dijodohkan sebelumnya?"
"Tapi jika kita hanya sepasang kekasih, kenapa kau mesum sekali?"
"Aku gadis baik-baik, aku tidak pernah dicium sebelumnya, Rasya tidak pernah menciumku, kami punya hubungan yang sehat, bukan kekasih pada umumnya. Apa dulu kita berpacaran kau bebas menciumku? Apa aku bukan lagi gadis baik-baik?"
"Atau kita sudah menikah?"
"Oh itu tidak mungkin, tidak mungkin aku melupakan suamiku sendiri."
__ADS_1