"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 82


__ADS_3

"Mas Alif," panggil Humairah saat kembali.


Suaminya menoleh meski panggilan telepon belum dimatikan.


"Istriku sudah kembali, kami menantikan mama pulang. Jaga kesehatan, titip salam untuk Arina."


Alif mengakhiri pembicaraan dengan mamanya saat Humairah masuk. Senyum ia kembangkan seraya uluran tangan menyambut Aisyahnya yang kian mendekat.


"Sayang, jadi kau bertemu Lola?" tanya Alif.


Humairah mengangguk, ia menunjukkan sebuah kantong plastik berisi makanan.


"Iya, hanya sebentar saja kebetulan giliran namanya dipanggil masuk wawancara, jadi aku hanya mengambil titipan ibunya saja," jawab Humairah seadanya.


"Apa itu?"


"Ini makanan ringan buatan ibu Lola sendiri, ibunya punya usaha rumahan."


"Humairah?" lirih Alif saat menyadari raut wajah istrinya yang tidak biasa.


Humairah memeluk suaminya mata berkaca-kaca, Alif menjadi heran namun tentu ia juga membalasnya dengan tak kalah erat.


"Apa apa hei?" Tanya pria itu.


"Mendengar mas Alif bicara seperti itu pada Merry, aku jadi bertambah takut," jawab Humairah seraya membenamkan wajahnya di dada sang suami.


Alif mengerutkan keningnya sejenak barulah ia tersadar.


"Hei sepertinya ada yang menguping," Kekeh Alif.


"Jangan tinggalkan aku mas Alif."


Alif tersenyum mendengarnya, ia melepaskan pelukan lalu menatap wajah istrinya yang menggemaskan.


"Tidak akan, itu tidak akan terjadi jika bukan maut yang mengambil ku. Aku mengerti perasaanmu, ayolah jangan dianggap serius itu hal biasa dalam pekerjaan," jawab Alif tersenyum lebar setelah memberi kecupan kening yang cukup lama.


"Apa? Hal biasa? Iya aku bisa melihatnya selama jadi sekretaris mu. Banyak godaan pada pekerjaan ini, ck.... kau menyebalkan," ucap Humairah dengan kesal, raut wajahnya yang kian menggemaskan jika sedang merajuk seperti ini membuat Alif sungguh tergila-gila pada istrinya.


"Hei kenapa jadi marah, aku menolaknya."


"Itu karena aku cemburu bukan? Jika aku tidak cemburu pasti kau sudah menerimanya tadi karena kasihan dia janda tiga anak," Humairah menatap tajam Alif seakan ingin memakan suaminya hidup-hidup jika mengingat raut tidak ramah Merry padanya tadi.


"Aku tidak akan menerimanya, aku tidak bilang begitu."


"Heh..... itu karena kau takut padaku."


"Wah aku benar-benar takut sekarang, apalagi kau sedang marah seperti ini, mengerikan...." kekeh Alif lagi.


"Mas Aliiiiiiif......" rengek Humairah dengan manja.


Alif menangkap tubuh istrinya lagi, memeluk dan menciumi seluruh wajah Humairah yang menggemaskan dengan puas.


"Aku mencintaimu sayang, bukankah kita berjanji untuk saling memperbaiki diri? Aku rasa sikapku di kantor seperti tadi adalah awal mula untuk menjaga diri, berhati-hati mengambil keputusan, mempertimbangkan dari banyak hal terutama perasaan pasanganku."


"Aku merasakannya sekarang betapa indahnya saling menghargai antar pasangan, tidak sembarang dekat dengan siapa pun apalagi itu seorang perempuan. Tidak ada yang penting selain perasaan istriku, maaf aku belum sempurna jadi lelaki.... Tapi belajar untuk terus lebih baik itu butuh proses, aku hanya butuh kau percaya padaku."


Humairah meneteskan air matanya juga.


"Aku mencintaimu mas Alif, aku percaya padamu," jawab Humairah memeluk suaminya lagi.

__ADS_1


"Aku bahkan lebih mencintaimu sayang, ayolah jangan seperti ini."


Humairah mengangguk dengan perasaan haru.


"Kau boleh ikut memilih kriteria sekretaris pria yang cocok jadi pengganti mu nanti," ucap Alif lagi.


Humairah jadi berbinar.


"Boleh seperti itu?"


"Tentu saja sayang, kau bebas menentukan aku harus punya sekretaris pria seperti apa nanti. Yang terpenting dia sudah banyak pengalaman dalam bidang ini."


"Apa boleh ada intervensi dariku soal ini?"


"Apa yang tidak untukmu, kau bisa mendampingi Dewi dalam wawancara."


"Ide bagus."


"Kenapa kau jadi senang begitu? Oh apa kau suka mewawancarai banyak pelamar pria?"


Humairah terkekeh, "Anggap saja cuci mata."


"Sayang, oke baiklah tidak jadi. Kau tidak boleh kemana-mana!"


"Mas Alif...."


Humairah memberi ciuman panjang sebelum meninggalkan Alif lagi menuju ruangan wawancara, entahlah perempuan ini sungguh berminat dan bersemangat untuk ikut memilih proses seleksi pelamar yang hadir wawancara kerja hari ini.


******


Tiga hari setelah mendapat seorang sekretaris baru menggantikan Humairah dalam bekerja.


Alif tampak memasang wajah kesal saat pertama bertemu dengan seorang pria yang menjadi sekretaris barunya mulai hari ini.


Pria itu hanya mengangguk polos tanpa berani membantah lagi seperti tadi, bibirnya manyun ke depan seraya menatap punggung Alif yang menjauh.


Alif tidak tahan ingin bertemu istrinya seakan ingin sekali ia protes pada Humairah tentang sekretaris baru yang istrinya pilihkan untuknya saat ini.


Mengemudi kencang menuju tempat Humairah mengikuti kelas hamil sejak usia kehamilan enam bulan, ia rutin mendampingi istrinya mengikuti semua kegiatan kelas kehamilan sebanyak dua kali dalam seminggu.


Alif berjalan setengah berlari karena ia merasa terlambat beberapa menit, benar saja Humairah sudah berdiri menunggunya di ambang pintu ruangan senam hamil.


"Sayang maaf aku telat," ucap Alif sesaat memeluk dan mencium kening istrinya.


"Tidak masalah, kita bisa menyusul," ajak Humairah seraya menggandeng lengan suaminya untuk masuk.


Alif merasa heran ruangan sepi tidak ada siapapun selain mereka.


"Mana yang lain?"


"Mereka sudah lebih dulu menuju kolam renang, ayo ganti pakaian!"


"Apa? Sayang kau tidak bilang ada kelas di kolam renang?" tanya Alif dengan raut bingung.


Humairah baru mengingatnya, ia memang lupa memberitahu hari ini kelas di kolam renang. Ia menggigit bibir bawahnya saat Alif dengan kesal tidak membawa pakaian ganti, hingga pria itu terpaksa masuk ke kolam renang dengan hanya memakai celana kerja dengan melepas atasnya saja.


Terlebih mereka sedikit terlambat dari beberapa pasangan yang mengikuti kelas yang sama yang sudah lebih dulu berada dalam kolam renang beruntung kelas belum dimulai.


"Huh kau menyebalkan...." ucap Alif mencubit pipi Humairah dengan gemas.

__ADS_1


"Maaf, aku lupa memberitahu. Lupakan, bagaimana sekretaris baru mu?" tanya Humairah dengan raut geli. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Alif.


"Oh aku bahkan lupa ingin protes tentang itu padamu," cetus Alif menatap Humairah tajam.


"Memangnya kenapa? Aku rasa dia yang terbaik jadi sekretaris mu, aku sendiri yang mewawancarai dia..... Dia pintar dan cerdas."


"Iya tapi tidak pria gemulai juga Humairaaaaaaah."


"Sayang, meski dia agak sedikit kurang jantan tapi aku yakin dia yang terbaik dari pelamar lain. Bukankah bagus, dia rajin dan rapi mana tahu nanti dia bisa merapikan jas suamiku ini jika dirasa kusut ketika hendak meeting," balas Humairah dengan memainkan jarinya di dada Alif.


Alif bergidik ngeri saat membayangkan perkataan istrinya.


"Ya ampun Humairah, membayangkannya saja membuat bulu kudukku berdiri rasanya aku ingin muntah. Kau tahu, baru hari pertama bekerja saja dia memintaku untuknya bekerja seperti mu yang satu ruangan denganku, enak saja.... Itu menggelikan."


Alif tampak kesal dengan menghembus nafas kasar, Humairah terkikik geli karenanya.


"Mas Alif ayolah, kau akan terbiasa nanti......"


"Bisakah kau ganti saja? Pria sungguhan bukan separuh separuh." Kata Alif dengan raut memohon.


"Namanya Barry, tapi dia minta dipanggil Belinda yang benar saja Humairah...... Aku rasa dia tidak waras, mana ada sekretaris gemulai seperti itu," kesal Alif lagi.


"Mas Alif, tidak boleh menilai seseorang dari luarnya saja. Dia cukup berpengalaman, aku yakin dia bisa diandalkan, aku melihat penampilannya juga tidak berlebihan meski tidak tampak laki, namun sopan dan imut, aku suka padanya.... Dia ramah dan mudah bergaul," balas Humairah dengan santai.


"Ckkk.... Iya, untung saja dia tidak memanjangkan rambutnya, oh kalian membuatku kesal," kilah Alif lagi seraya mengusap wajah istrinya dengan air.


"Apa kau ingin menggantinya dengan Merry? Ayo mengaku saja, tidak suka pada Barry itu hanya alasan saja."


"Aku tidak bilang begitu," jawab Alif cepat.


Humairah menatap suaminya dengan kesal, membuat Alif bertambah bingung.


"Sayang kenapa jadi bahas Merry?"


"Iya namanya mirip. Barry separuh wanita, Merry wanita sungguhan bukan?"


"Sayang apa hubungannya?"


"Bagaimana menurut mu tentang Merry?"


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Jawab saja."


"Dia teman sekolah SMA ku, tidak lebih."


"Bukan mantan?"


"Sayang jangan mengada-ada, berteman dekatpun tidak apalagi mantan, Humairah ayolah kenapa jadi bahas Merry?"


"Dia cantik tidak?"


"Semua wanita itu cantik."


"Mas Aliiiif," rengek Humairah.


"Huh, baiklah dia jelek matanya juling."


"Mas Alif itu termasuk body shaming."

__ADS_1


"Huh aku salah lagi."


Tanpa mereka sadari mereka telah menjadi pusat perhatian sejak tadi, berada di sudut kolam renang asyik bercanda berdua membahas hal yang kurang penting, sesekali saling memberi kecupan pipi, ada pula pertengkaran manis yang membuat pasangan hamil lainnya menjadi iri.


__ADS_2