"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 63


__ADS_3

Seperti hari-hari sebelumnya, setiap pagi Alif menyapa Humairah di meja makan, pria itu datang pagi-pagi buta hanya untuk memandang istrinya sarapan di pagi hari.


"Mas Alif?"


"Hai sayang," sapa Alif dengan senyum seperti biasa, ia sedang minum kopi bersama papa mertuanya.


Humairah hanya membalas dengan hembusan nafas dalam, hari-harinya tidak lepas dari sosok bos tampan yang bahkan tetap hadir meskipun ini adalah hari minggu.


"Kemarilah Humairah," ucap papa Imran mengulurkan tangannya.


Humairah menyambut tangan papanya lalu ikut duduk di samping pria paruh baya itu.


"Mas Alif mau kemana rapi begitu?"


"Mengajakmu berkencan," seringai Alif seraya mengedipkan sebelah mata.


Humairah menoleh papanya yang sejak tadi menahan senyum.


"Papa rasa tidak ada salahnya untuk menikmati hari libur dengan jalan-jalan, nak Alif bisa menemani akhir pekan mu sayang."


Humairah menatap Alif, ia tahu bahwa pria itu sudah merencanakan ini bersama sang papa.


"Tapi tidak sepagi ini juga, lagi pula mana ada tempat kencan yang buka pagi buta. Maaf mas Alif..... Pagi ini aku berencana menjenguk ibuku, jika ingin mengajakku pergi sebaiknya nanti siang saja," balas Humairah.


"Tidak masalah, aku bisa mengantarkanmu."


Papa Imran juga mengangguk setuju, Humairah hanya bisa menatap dua pria di hadapannya itu secara bergantian.


"Papa dan mas Alif begitu kompak padahal ini masih sangat pagi."


*****


Humairah berjalan berdampingan dengan Alif saat menyusuri koridor rumah sakit jiwa, mereka berjalan menuju sebuah ruangan yang terletak di sudut kiri lingkungan rumah sakit, ruangan yang menjadi tempat menginapnya ibu Aini.


Alif tidak banyak bicara saat masuk ke sana, ini pertama kali bagi Alif menjenguk ibu mertuanya bersama Humairah, biasanya ia hanya datang seorang diri hanya untuk menyapa dan melihat perkembangan ibu yang mengasuh Humairah sejak kecil.


Sampai di sana tampak ibu Aini duduk di salah satu kursi, kondisinya masih sama seperti terakhir kali Humairah datang minggu lalu, masih menarik diri dari yang lain.


Duduk seorang diri tanpa bicara, hanya melamun saja sepanjang hari setidaknya itu yang dikatakan perawat jaga.


"Apa mas Alif malu punya calon mertua yang dirawat di sini?" tanya Humairah tiba-tiba sebelum mendekati ibunya yang belum menyadari kedatangan mereka.


Alif menggeleng, "Kenapa harus malu, dia ibumu akan menjadi ibuku juga. Kau harus tahu Humairah, karena ibu Aini kita dijodohkan. Ayah dan ibumu adalah teman lama mamaku, mereka menjodohkan kita."


Jawab Alif dengan arah mata pada punggung ibu Aini.


"Benarkah?"


Alif mengangguk, "Iya," jawab Alif singkat, ia seperti menahan sesuatu. Dadanya tiba-tiba merasa penuh dan sesak saat ibu Aini berbalik badan tepat mengarah pada mereka berdiri, mata Alif melihat wajah menyedihkan itu, badan kurus ibu Aini, mata kosong nan sayu, dan pakaian yang kusut.


Teringat pula ia pada kejadian itu, kejadian yang merenggut dua nyawa sekaligus. Ayah Ihsan yang tidak memiliki salah apapun ikut menjadi korban, Humairahpun sama menjadi korban kebutaan hati istri keduanya hanya saja ia masih diberi umur yang panjang hingga bisa lolos dari maut waktu itu.


"Aku rasa kau saja yang menemui ibu Aini, aku lupa ponselku tertinggal di mobil," ucap Alif dengan mata berkaca-kaca.


"Mas Alif?" Humairah menangkap raut sedih pria itu, ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh Alif.


Alif tidak menunggu tanggapan Humairah, ia pergi begitu saja meninggalkan istrinya menemui ibu Aini seorang diri. Meski Humairah heran ia membiarkan Alif menjauh, ia kembali fokus pada ibunya.


****


Alif diam saja sejak mobil mereka meninggalkan area parkir rumah sakit jiwa. Humairah menjadi terheran, wajah Alif tampak murung tidak bersemangat seperti pagi tadi.


"Mas Alif, apa kau keberatan jika mampir sebentar ke makam ayah dan mamaku?"


Alif menoleh pada Humairah lalu ia mengangguk arti setuju.


"Maaf merepotkan mu," lirih Humairah seraya menunduk.


"Tidak, aku tidak repot sama sekali."


"Tapi kau diam sejak tadi, mungkin saja kau tidak suka mengantar ku menjenguk ibu, sekarang kau diam membuatku bingung. Jika kau ada masalah atau urusan lain kau boleh turunkan aku di toko bunga depan sana, kau boleh pergi."


Alif melirik Humairah, "Sayang bukan itu maksudku, huh..... Aku hanya sedang banyak pikiran saja bukan tidak suka mengantar kau kemana pun, aku siap mengantarmu kemana saja kau mau, jangan berpikir seperti itu oke?" jawab Alif meraih tangan Humairah.


Alif singgah ke toko bunga tidak jauh dari area pemakaman. Humairah membeli beberapa tangkai mawar berwarna kuning dan putih yang dirangkai menjadi satu, sedang Alif membeli setangkai mawar merah.


"Apa itu untukku?" tanya Humairah tersenyum saat melihat mawar merah yang dibeli Alif.


Namun Alif menggeleng.


"Bukan."


"Ck.... Memangnya kau ingin memberikan bunga itu untuk siapa selain aku di sini?" balas Humairah kesal.


"Ini untuk my Aisyah."


"Aisyahmu yang mana?" tanya Humairah tersenyum sungging.


Alif terdiam sejenak lalu ia tersenyum lebar, "Tentu saja Aisyah Humairah, memangnya Aisyah yang mana lagi?" jawab Alif memberikan mawar itu langsung mengenai hidung Humairah.


"Terimakasih, so sweet sekali calon suamiku."


Humairah menerimanya dengan senyum yang tak kalah lebar, ia mencium mawar merah itu berulang kali. Melihat senyum merekah istrinya membuat Alif kian merana dalam hati.


"Andai kita di kamar hotel sekarang, habis kau ku makan Humairah, huh.... Ini benar-benar menyiksaku," gumam Alif kesal sendiri.


"Jauhkan pikiran mesum itu dari calon suamiku ya Allah," balas Humairah terkekeh saat Alif menatapnya kesal.

__ADS_1


Mereka berjalan kaki setelah keluar dari mobil yang parkir di luar area pemakaman. Alif gugup sendiri seiring mendekatnya mereka ke makam ayah Ihsan yang tidak jauh dari sana terdapat juga makam perempuan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.


"Kau lihat itu, dia juga meninggal dihari yang sama dengan ayahku, namanya Siti Aisyah umurnya masih muda sangat sayang sekali," ucap Humairah seraya menunjuk makam Aisyah setelah menaruh bunga di makam ayahnya.


Alif bergeming, matanya ikut mengarah pada arah tunjukkan tangan istrinya, ia melirik lagi nisan ayah Ihsan, terngiang ia senyum teduh ayah mertuanya, sahabat mamanya waktu muda.


Pria sebaya orangtua Alif itu pula yang mengizinkan Humairah untuk dipinang mama Rika waktu itu. Alif ingat sekali terakhir bertemu ayah Ihsan saat mereka makan bersama disuatu sore sebelum Humairah marah padanya.


Alif sudah tidak tahan, matanya panas bahkan telah pula berair, ayah Ihsan sahabat mamanya waktu muda, karena mereka pula ia bisa berjodoh dengan Humairah.


"Mas Alif, kau kenapa?"


"Aku menunggu di mobil saja," jawab Alif dengan suara beratnya.


Humairah belum sempat berkata lagi namun Alif lebih dulu pergi dari sana, menarik napas dalam Humairah membiarkan lagi Alif menjauh. Kembali ia fokus untuk berdoa di makam ayahnya.


Beberapa menit kemudian Humairah berjalan keluar pemakaman menuju Alif berada, ia melihat punggung lelaki itu bergetar.


Humairah kian mendekat pada Alif yang sedang duduk di sebuah bangku, ia melihat jelas bahwa lelaki seperti Alif juga bisa cengeng, pria itu menangis tersedu sambil menutup wajahnya.


"Mas Alif?"


"Humairah, kau sudah selesai?" tanya Alif yang segera menghapus airmatanya.


"Mas Alif kenapa?"


"Tidak, aku hanya sedang terkenang ayahmu saja."


"Kau menangis."


"Oh sayang ayolah, rahasiakan ini dari siapapun. Kau membuatku malu," lirih Alif kesal sendiri.


Humairah tersenyum, "Baiklah ayo pulang, ini sudah waktunya makan siang."


Alif mengangguk lesu, ia menoleh sejenak pada makam ayah Ihsan dan makam Aisyah yang memang tidak jauh dari pagar, lalu ia mengernyitkan dahi saat melihat ada sebuah mawar kuning di gundukan tanah mendiang mantan istri keduanya.


Dalam perjalanan pulang.


"Sayang, kau menaruh bunga pada makam perempuan yang di samping ayah?"


Humairah mengangguk.


"Kenapa? Kau mengenalnya?" tanya Alif penasaran.


"Tidak, aku hanya kasihan. Makam itu seperti tidak pernah dikunjungi apalagi ditaruh bunga, setiap aku kemari makam itu masih sama tidak ada yang mengunjungi, tidak ada yang menabur bunga, tidak pernah kulihat ada tangkai bunga yang datang untuknya."


Alif menelan ludah.


"Andai kau mengingat semuanya Humairah," gumam Alif pelan, ia kembali fokus mengemudi namun pikirannya menerawang jauh pada sebuah masa lalu.


"Kau bisa cerita jika memang perlu diceritakan mas Alif, aku ingin sembuh aku ingin tidak ada teka teki diantara kita," ucap Humairah menatap Alif dari samping.


"Kenapa begitu? Apa kau menyakitiku sebelum aku sakit?"


"Bahkan lebih dari itu," jawab Alif lesu.


"Benarkah? Apa masalah kita begitu pelik hingga wajahmu terlihat sedih jika seperti ini."


"Humairah, jangan tinggalkan aku...." Alif malah menghentikan mobil lalu meraih tangan istrinya dengan raut memohon.


Humairah tersenyum lagi.


"Memangnya aku mau kemana? Kita akan menikah, apa yang kau takutkan?"


Terdengar bunyi tarikan nafas frustasi dari pria itu.


"Kau hampir meninggalkan ku Humairah, aku banyak salah padamu.... Sayang percayalah aku tidak ingin kita berpisah, aku tidak mau Humairah. Kau boleh marah, kau boleh diam, kau boleh memukulku tapi jangan berpisah. Sebelum kau mengingat semuanya, aku harap aku masih mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki semuanya."


"Apa serumit itu hubungan kita?"


"Aku mencintaimu Humairah, kau saja. Aku ingin kita menikah seperti pasangan lain, aku mohon Humairah jika suatu saat kau ingat semuanya, kau tidak boleh pada pendirian mu diawal yang tetap ingin berpisah, berilah aku satu kesempatan lagi. Aku benar-benar akan gila jika tidak bisa bersamamu. Sayang percaya padaku, apapun yang akan kau ingat nanti tetaplah bersamaku, bersama pria pengecut ini. Kau bebas marah 24 jam padaku tapi kita tidak akan berpisah oke?"


Humairah menatap Alif dengan raut bingung bercampur gemas.


"Mas Alif, aku memang belum mengingat semuanya tentang kita. Tapi aku rasa kesungguhan mu saat ini cukup membuatku terharu. Tenanglah, mari kita jalani hubungan ini dengan semestinya, tentang masalah rumit yang kau sebutkan tadi asal kau tahu aku tidak suka masalah yang berlarut larut tentu saja aku memaafkanmu."


Alif terdiam lagi.


"Andai kau bicara maaf dalam keadaan ingat semuanya Humairah, tapi aku ragu jika kau akan tetap seperti dulu ketika ingat semuanya nanti, oh aku benar-benar pusing," gumam Alif lelah sendiri, ia melapas tangan Humairah lalu kembali menjalankan mobilnya.


Humairah terkekeh, "Aku mulai ingat sesuatu tentang kita."


"Apa?"


Alif menghentikan lagi mobilnya.


"Iya, aku mulai mengingat wajahmu yang menggemaskan ini, tampan dan cengeng," ucap Humairah seraya mencubit pipi Alif dengan gemas.


"Sayang benarkah?"


Humairah tersenyum lalu mengangguk.


"Lalu? Kau mengingat apa lagi? Ingat tentang ciuman?"


"Mas Alif," bentak Humairah kesal.


"Sayang ayolah ingat tentang keintiman kita, please..... Aku sudah lama bersabar Humairah. Setidaknya ingatlah tentang kemesraan kita," rengek Alif dengan perasaan kesal bercampur gemas ingin segera mendekap istrinya jika boleh.

__ADS_1


"Kemesraan? Hei kita belum menikah, mana bisa bermesraan yang benar saja," sanggah Humairah.


"Huhhhhhhhhh, baiklah jika tidak bisa bibir beri aku ciuman pipi saja," cetus Alif lagi.


"Mas Alif berhenti bercanda."


"Cium tangan saja."


"Tidak boleh."


"Huh, baiklah cium jauh saja... Muaahhh," goda Alif lagi.


Humairah hanya bisa tertawa pelan, ia berpaling ke luar jendela mobil, menatap jalan yang sepi pengendara yang melintas.


"Aisyah Humairah."


"Iya mas Alif."


"Aku mencintaimu."


"Iya, aku percaya," jawab Humairah lembut seraya membalas tatapan Alif padanya.


"Sayang...."


"Apa lagi?"


"Berilah aku satu kesempatan."


"Kesempatan apa lagi?" tanya Humairah kesal.


"Semacam golden ticket."


"Kesempatan terakhir maksudmu?"


Alif menoleh Humairah sekilas lalu pria itu mengangguk.


"Aku berjanji akan lebih baik lagi Humairah, aku mohon sekali. Jangan tinggalkan aku," rengek Alif lagi.


"Jika begitu katakan padaku kapan kau berniat menikahi ku?"


Alif menghembus napas kasar.


"Baiklah ayo kita ke KUA sekarang!"


Humairah hanya geleng kepala saja.


"Sayang," panggil Alif lagi.


"Hmmmmm."


"Please, di pipi saja oke?"


"Tidak boleh."


"Humairah."


"Iya mas Alif."


"Hidup bersamaku?"


"Insyaallah."


"Sampai tua?"


Humairah tidak menjawab dengan kata-kata melainkan sebuah senyuman saja.


"Sayang."


"Apa lagi mas Alif?"


"Cium, satu kali saja."


Humairah menggeleng.


"Humairah."


"Iya, aku mendengarnya mas Alif."


"Aku mencintaimu."


"Iya, aku tahu."


"Aku bersungguh-sungguh Humairah."


"Aku percaya, lalu sampai kapan kita akan berada di mobil jika jalannya lambat seperti ini?"


"Beri aku semangat."


"Semangat mas Alif," jawab Humairah memberi semangat.


"Bukan itu."


"Lalu?"


"Beri aku ciuman."


"Menikah dulu."

__ADS_1


"Oh Humairah, kau membuatku gila."


Alif tampak begitu frustasi.


__ADS_2