"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 39


__ADS_3

Daffa, seorang dokter umum berumur tiga puluh tahun. Tampan, kaya, pandai bermain musik dan punya suara bagus, suka motor balap. Menggeluti dunia kedokteran atas kehendak orangtuanya yang sudah bosan karena hampir seluruh anggota keluarga terdiri dari pengusaha.


Masih lajang, pemilih dalam hal wanita namun ada satu wanita yang mampu mengalihkan dunianya. Aisyah Humairah, perempuan yang ia cintai dalam diam meski ia tahu perempuan itu adalah istri dari sahabatnya Alif.


Tidak tahan melihat perempuan yang ia cintai terus hidup dalam ketidakpastian rumah tangga dengan hubungan segitiga yang tidak pernah adil bagi Humairah, Daffa berani membuat penawaran pada sahabatnya sendiri agar mendapatkan Humairah yang memang seperti istri tidak dianggap selama ini.


Siapa yang menyangka bahwa Humairah adalah gadis kecil yang ia sukai belasan tahun lalu, kini semua terungkap. Lelaki ini telah menemukan Aisyah kecilnya dahulu, perempuan yang sama dengan Humairah, seperti gayung bersambut sebuah kesepakatan terjadi diantara Daffa dan Alif.


Alif bersedia melepas istri pertamanya dengan alasan kasihan dan tidak ingin melukai Humairah terlalu dalam lagi dalam pernikahan yang tidak adil itu, begitu juga Daffa bersedia menyambut Humairah untuk membahagiakan perempuan itu yang telah diabaikan oleh sahabatnya dalam waktu lama.


Dan kesepakatan itu turut serta sebuah motor balap berharga miliaran rupiah yang Daffa tawarkan untuk meyakinkan Alif agar mau melepas Humairah.


Daffa tengah berdiri tegak, tangannya mengepal saat melihat beberapa orang utusan Alif mengembalikan motor berkekuatan besar yang telah ia berikan pada sahabatnya itu beberapa waktu lalu.


"Bagaimana bisa kau mencurangiku Alif?" gumam Daffa merasa geram, terlebih ia baru pulang dari luar kota bersama keluarga karena ada kerabat ibunya yang meninggal dunia.


Lelah dan mengantuk saja belum hilang, namun tiba-tiba motor balap itu pulang ke rumahnya diantar dua orang utusan Alif yang memberi pesan bahwa kesepakatan mereka dibatalkan.


Baru juga akan menghubungi Alif menanyakan perihal motor, tapi lebih dulu sebuah pesan dari istri kedua Alif yaitu Aisyah rekannya sesama dokter di rumah sakit tempat mereka bekerja.


Pesan yang berisi rekaman live IG akun Humairah beberapa hari yang lalu. Daffa baru melihatnya, perkataan Alif tempo hari tidaklah sesuai dengan yang ia lihat saat ini.


Dalam video dua insan suami istri itu tampak mesra dan bahagia, lalu apa arti dari kesepakatan mereka beberapa waktu lalu yang mana Alif mantap ingin melepaskan Humairah dan tidak akan menyakiti perempuan itu lagi.


"Cihhhhh.... Apa maksudmu dengan semua ini, aku bukanlah lelaki yang bisa kau permainkan meski kita sahabat sekalipun, kau menerima tawaranku tempo hari, lalu apa ini? Kau bahkan mengembalikan motor ini sekarang, dasar pengecut, serakah."


Gumam Daffa dengan nada pelan, ia semakin mengepalkan tangannya merasa Alif tidak bersikap jantan dengannya. Jika memang tidak berniat melepaskan setidaknya jangan memberi harap padanya yang memang sangat menanti janda Humairah untuk ia pinang membahagiakan perempuan itu melebihi yang Alif berikan.


Daffa sangat mengharapkan Humairah, ia berharap pula Alif akan menepati janji bukan main batal seperti ini.


****


"......"


"Waalaikumsalam, sayang kau dimana?"


"......"


"Aku mau makan siang masakan istriku boleh?"


"......"


"Huh, baiklah aku akan menunggumu jika begitu, segeralah kemari aku merindukanmu sayang."


"....."


Setelah mengucap salam sebagai penutup, Alif kembali duduk di kursi kebesarannya. Senyumnya tidak pudar saat mengetahui Humairah akan membawakan makan siang ke kantor hari ini.

__ADS_1


Alif juga telah membuat sebuah pengumuman yang mengejutkan semua karyawannya pagi ini. Memberitahu seisi kantor bahwa Humairah yang sedang mereka gosipkan menjadi pelakor dalam rumah tangganya itu adalah istri pertama yang ia sembunyikan.


Mengakui sebuah hubungan segitiga meski harus kehilangan wibawa, membuat semua karyawan wanita yang menggunjing Humairah tidak berkutik saat Alif memberi ultimatum bahwa jika dimasa yang akan datang mereka masih berani menyinggung masalah Humairah maka mereka bersiap untuk kehilangan pekerjaan.


Tanpa Alif sadari salah satu karyawan adalah seorang teman bagi Aisyah, apa yang baru saja Alif lakukan telah sampai pula di telinga istri keduanya siang ini. Yang mana hubungan mereka memang tidak membaik sejak percakapan semalam.


Alif membuka laci, ia mengambil sebuah map. Lama ia memandang map itu, teringat pula ia pada sebuah obrolan serius semalam bersama istri keduanya Aisyah.


Semalam.


"Aku tidak percaya ini," ujar Aisyah yang mulai geram dengan arah percakapan mereka, matanya sudah berair.


"Aku lebih tidak percaya pada apa yang telah kau lakukan, kau sungguh berani mempermainkan sebuah ikatan darah."


"Ini adalah urusan pribadiku dengan Humairah, jangan kau sangkut paut dengan pernikahan kita, aku mohon Alif," Mayang menatap Alif dengan memelas.


"Iya, dan kau lupa bahwa Humairah adalah istriku. Yang pertama pula," sarkas Alif mulai jengah, sejak tadi percakapannya ditanggapi dengan sikap keras kepala Aisyah yang mendarahdaging.


"Karena Humairah kita bisa menikah, karena Humairah. Karena ketulusannya pula aku jatuh cinta. Kau ingin bilang aku bodoh terserah, sudah ku putuskan untuk melanjutkan kehidupan rumah tanggaku dengan Humairah, Aisyahku yang telah kau hilangkan, jangan lupa kau yang telah sengaja membuat Aisyah kami hilang."


"Aku tidak mau! Jangan berubah Alif, kita sudah sepakat untuk melepasnya. Apa kau lupa kita berdua yang telah menyakitinya, bukan aku saja tapi kau... Kau juga menyakitinya selama ini. Aku yakin pula cintamu hanya sesaat saja ketika kau mengetahui bahwa dia adalah Aisyah, jangan konyol Alif yang kau sebut itu adalah cinta monyet yang seharusnya tidak berpengaruh pada perasaanmu sekarang."


"Iya kau benar, Aisyah kecil adalah cinta monyet bagiku. Tapi Humairah membuatku jatuh cinta bahkan sebelum aku mengetahui semua ini, jatuh sejatuh jatuhnya, jatuh cinta setelah menikah itu berbeda, aku merasakannya. Jika bersamamu hanya ada obsesi, tidak dengan Humairah bahkan aku rela mati untuknya."


"Sadarlah Aisyah, jika bukan karena Humairah mungkin saat ini ingin sekali aku menceraikanmu, tapi Humairah lagi-lagi menahanku karena ini pernikahan bukan sebuah permainan yang bisa saja ku akhiri kapan saja. Ini bukan lagi masalah cinta namun lebih dari pada itu."


"Ck..... Kau berlebihan, ini konyol aku tidak menyukai arah pembicaraan ini. Aku memang jahat padanya, tapi aku adalah wanita yang mengisi hatimu sejak lama terlepas dari cinta monyet gila mu itu. Akulah Aisyahmu bukan dia, kau tidak bisa mempermainkan ku Alif, aku tidak mau," kilah Aisyah kesal.


"Aku mulai tidak menyukai sikapmu yang egois, seharusnya kau bisa adil pada Humairah yang telah memberi jalan kita menikah. Bukan malah terus meminta keputusan agar aku melepasnya, aku berdosa pada mama telah mengingkari sebuah janji menjaga Humairah dengan baik, bukan malah terjerumus pada konflik poligami yang aku tidak pandai di dalamnya."


"Pilihan orangtua tidak pernah salah, tidak heran jika mama tidak menyukaimu. Kau memang tidak pernah manarik di mata semua orang dan aku adalah pria bodoh yang lagi-lagi terjerumus pada obsesi karena kau bernama Aisyah, seharusnya kau sadar betapa besar pengaruh cinta monyetku pada Aisyah kecil yang kau tinggalkan di hutan, hingga membawaku menyukaimu."


"Aku mohon Alif, aku tidak bisa berbagi lagi. Aku mohon kita tetap seperti biasa, jangan berubah hanya karena masalah ini. Kau milikku, bukan Humairah," ucap Aisyah menangis sesegukan, menahan tangan suaminya memohon agar tetap melepaskan Humairah.


"Jika begitu jangan berharap aku melapaskan cinta monyetku lagi kali ini, jika kau rela berbagi aku akan pertimbangkan lagi keputusan ini."


Tegas Alif, jika bukan karena Humairah mungkin ia tidak ingin berbasa basi pada wanita seperti Mayang, meski ia harus menahan agar tidak salah dalam keputusan, lagi pula pilihan menikah dengan wanita ini adalah pilihannya sendiri, setidaknya Alif bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi.


Mayang tidak peduli apapun, Alif adalah miliknya. Humairah masih sama seperti ketika mereka kecil, mudah dibohongi dan dirayu jadi akan mudah jika melepas Humairah tanpa harus menyakiti perempuan itu lagi.


Semua juga sudah terlanjur, semua sudah berlalu. Mayang tidak ingin Humairah kembali menghalangi bahagianya saat ini, jika kecil Humairah mendapatkan kasih sayang semua orang, dan sekarang Humairah telah mendapatkan semua itu kembali, ibunya dan papa Imran memihaknya.


Tidak dengan Alif, tidak sama sekali. Alif suaminya, bukan mudah memasuki hati Alif selama ini, meski obsesi. Aisyah sudah tidak bisa mundur dalam hal ini. Humairah yang seharusnya pergi dari rumah tangga mereka bukan dia.


Daffa, jawabannya ada pada Daffa. Aisyah bisa meminta bantuan pada temannya itu.


Alif tersadar saat pintu ruangannya diketuk, seorang pria masuk tanpa basa basi berjalan cepat ke arahnya, tampak pula seorang perempuan melangkah menyusul lelaki itu ke arahnya pula.

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang jika ingin kemari?" sapa Alif tersenyum pada Daffa.


Lelaki itu tidak menjawab dengan kata-kata melainkan dengan sebuah pukulan yang berhasil mengenai perut Alif yang tidak sempat menghindar.


Bugh.....


Aisyah berteriak, "Daffa, apa yang kau lakukan?!"


Aisyah membantu suaminya yang hampir terhuyung ke belakang.


"Kau curang pria sialan.... Kau curang padaku!"


"Ada apa ini, hei...." sergah Alif kesal saat merasa sakit pada perutnya.


"Kau masih bertanya? Kau mengembalikan motor tanpa bicara padaku, ini tidak ada dalam kesepakatan Alif. Kita sudah sepakat bukan?"


"Maafkan aku tentang itu, ayo kita bicara baik-baik jangan seperti ini. Aku memang salah, kita semua salah. Ayo kita luruskan masalah ini, aku tidak akan menukar istriku dengan apapun," jawab Alif serius, ia membalas tatapan Daffa tidak kalah tajam.


Daffa kembali mendorong tubuh Alif kasar, "Kau bilang apa? Dasar pria pengecut, serakah.... Kita sudah sepakat kau mendapatkan motor impianmu, dan aku akan mendapatkan Humairah, perempuan impianku. Kau pikir aku main-main menginginkannya?"


"Aku mencintai Humairah, dan lelaki yang bisa membahagiakannya adalah aku bukan kau pria serakah, menyakitinya berkali-kali... Seharusnya kau sadar diri Alif, Humairah terlalu sempurna untukmu, bukankah kau berjanji tidak ingin menyakitinya lebih lama lagi?"


"Aku merelakan motor impian agar perempuan itu tidak lagi tersakiti, aku bersiap menerima jandanya sekalipun, dan sekarang kau memilih bertahan yang akan menyakiti dua wanita sekaligus. Aku tidak mau Humairah kembali sakit dengan menjadi istri yang akan terus kau abaikan nantinya, kau tidak akan pernah bisa adil Alif, tidak akan pernah aku yakin itu."


"Ayo kembali pada kesepakatan awal, kau mendapatkan motor itu dan aku akan mendapatkan Humairah."


Mayang menyimak pertikaian dua sahabat itu dengan raut penuh arti.


Alif maju mendekati Daffa dengan tangan yang telah mengepalkan tinjunya. Namun baru saja akan melangkah lebih dulu sebuah suara mengejutkan semuanya.


"Apa? Menukar Humairah dengan sebuah motor?"


"Apa maksud kalian?" tanya Humairah yang telah mendengar percakapan itu di ambang pintu ruangan suaminya, tangannya gemetar sambil memegangi rantang kecil yang ia bawa dari rumah sebagai makan siang suaminya.


Langkahnya perlahan mendekati tiga orang yang mendadak pias dan pucat, airmata Humairah bahkan telah membasahi wajah teduhnya, tidak kali ini bukan teduh melainkan merah menyala, seakan menyiratkan sebuah amarah.


Matanya merah menatap Alif bergantian dengan Daffa, bibirnya bergetar saat kembali bertanya.


"Aku mendengarnya dengan jelas, kau menukarku dengan sebuah motor?" tanya Humairah menatap suaminya yang sudah sangat cemas.


"Sayang, tidak....." Alif mendekati Humairah, meraih tangannya namun sayang langsung ditepis dengan kasar oleh istrinya.


Disusul sebuah tamparan keras berlabuh di pipi Alif, bukan sekali tapi empat kali.


Plak plak plak plak.


Bersambung.....

__ADS_1


Anakku sakit, maaf ya slow up.


Baca juga "Duda lebih menggoda" jamin bagussss😘😘😘


__ADS_2