
"Sayang," sapa Alif saat Humairah menemuinya di kursi teras karena papa Imran tidak mengizinkan menantunya itu untuk masuk rumah.
Setelah pembicaraan menegangkan yang terjadi di rumah sakit tempo hari membuat Alif seperti kehilangan separuh jiwanya, Humairah memilih berpisah darinya atas kejadian sial di kantor waktu itu. Lelaki ini menolak keras meski para orangtua telah pun ikut campur dalam masalah ini membujuk Humairah namun sudah beberapa hari perempuan itu tidak mengubah keputusan.
Humairah tidak berkata jujur tentang alasan ingin berpisah, ia masih menjaga harga diri Alif sebagai suaminya di hadapan para orangtua yang mana Alif telah berbuat kesalahan fatal dengan menukar dirinya dengan sebuah motor mahal demi istri Keduanya yang tidak ingin berbagi suami lagi.
Alasan sudah tidak cocok dan tidak menemukan keserasian dalam berumah tangga yang Humairah jadikan alasan ingin bercerai, semua terkejut tanpa angin tanpa hujan ditengah kemelut poligami yang mana Humairah menerima semua diawal sekarang malah mengatakan akan mundur saja demi kebaikan bersama setelah mengalami musibah keguguran.
Alif menatap Humairah penuh kerinduan, sudah tiga hari mereka tidak bertemu setelah pulang dari rumah sakit.
Alif memeluk istrinya tanpa permisi, Humairah tidak menolak namun tidak juga membalas.
"Aku merindukanmu sayang," ucap Alif memeluk istrinya dengan erat sekali, ia merasa nyeri dadanya saat tidak mendapat balasan. Humairah benar-benar dingin padanya sejak menyatakan ingin bercerai dan keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu.
"Aku membawakan mu ini," ucap Alif setelah melepas pelukannya, ia menunjukkan sebuah kantong berisi makanan.
"Terimakasih," jawab Humairah datar sambil menerima makanan tersebut.
"Humairah," lirih Alif dengan wajah lesu.
Humairah menaruh kantong makanan di atas meja di sampingnya, lalu ia melangkah menjauh dengan tangan mulai bersedekap ke dada karena merasakan hembusan angin seolah menusuk jantung.
Perempuan itu berjalan menuju jembatan kecil yang di bawahnya terdapat kolam ikan dikelilingi taman bunga tepat di halaman rumah papa Imran. Alif menyusulnya.
Langit gelap seperti ingin turun hujan tidak lama lagi. Matanya berpendar ke halaman, hatinya masih sama masih patah, bukan karena poligami tapi patah karena suami yang hanya menghargainya layak sebuah barang, barang berharga miliaran. Barang yang akan diserahkan pada lelaki lain dengan sebuah perjanjian tukar menukar layak sistem barter.
"Sayang," panggil Alif lagi dengan suara memelas.
Humairah tersenyum padanya setelah mereka berhadapan.
"Akan turun hujan, sebaiknya kau pulang," ucap Humairah, membuat Alif kian merana baru saja sampai dan mendapat sikap dingin papa Imran yang menerimanya, kini ia disuruh pulang oleh perempuan yang ia rindu-rindukan tiga hari ini.
"Aku tidak peduli, sayang ayolah.... Beri aku kesempatan kali ini saja, kita bicara baik-baik tentang kita oke? Humairah suka atau tidak aku memutuskan untuk tidak akan melepaskanmu meski hanya dalam mimpi, itu tidak akan terjadi Humairah, kita tidak akan berpisah tidak akan pernah, aku janji itu."
"Aku hanya tidak bisa terus hidup dengan lelaki yang tidak pernah menghargaiku, aku lelah mas Alif, aku mengantuk sebaiknya kau pulang," jawab Humairah dingin, sedingin angin yang bertiup saat ini.
"Sayang tidak, jangan katakan itu.... Humairah aku mohon, kau boleh menamparku lagi boleh marah boleh memukulku, kau boleh melakukan apa saja tapi tidak dengan berpisah, sayang aku mohon," ucap Alif yang telah berlutut meraih kedua tangan Humairah dengan tatapan memelas.
"Ini pula yang ku lakukan saat kau menyuruhku memilih antara berpisah atau berbagi saat itu, waktu seakan terbalik sekarang, berdirilah jangan melakukan hal yang sia-sia."
__ADS_1
Humairah membantu Alif untuk berdiri, lalu berkata lagi.
"Aku tidak akan merubah keputusanku mas Alif, sepertinya inilah jalan terbaik untuk kita, kembalilah pada kak Aisyah, jadikan dia satu-satunya wanita dalam pernikahanmu, biarlah aku menghilang bersama waktu, mari kita menjadi manusia yang lebih baik lagi setelah semua ini, percayalah aku bukan wanita pendendam. Kita akan saling melupakan setelah ini."
Alif merasa runtuh dunianya, Humairah berkata dengan nada tenang, tidak ada kemarahan disana namun itulah yang membuat Alif seolah ada ribuan belati menusuk dadanya saat ini, tatapan menenangkan milik Humairah kini berubah menjadi menakutkan meski perempuan itu berkata dengan nada lembut.
Alif menggeleng, matanya berair hidungnya merah sepertinya ia terkena flu mendadak.
"Aku tidak mau, aku mohon sayang jangan katakan itu.... Mungkin maaf sudah tidak berarti lagi bagimu, tapi aku akan terus meminta kesempatan lagi padamu tidak peduli kau bosan aku akan tetap seperti ini, aku tidak mau kehilanganmu Humairah, berilah aku satu kesempatan untuk memperbaiki hubungan ini, aku tidak akan membela diri, aku memang jahat padamu, berilah aku kesempatan sayang.... Kau boleh menghukumku dengan apapun tapi tidak dengan bercerai."
Alif menggenggam tangan istrinya mengecupnya berulang kali, lalu ia meraih wajah Humairah seraya berkata dengan perasaan yang dalam.
"Aku mencintaimu Humairah, jangan tinggalkan aku, aku bisa gila..... Beritahu aku dengan cara apa aku harus membujukmu, sayang kita hampir punya anak, kita akan memilikinya lagi nanti, kita akan bahagia Humairah... Aku mohon jangan tinggalkan aku."
Humairah tersenyum tipis, "Kadang kalian para lelaki hanya tahu cara merayu tanpa tahu cara untuk menyembuhkan luka. Kau pandai merayu ku mas Alif, tapi kau tidak menyembuhkan lukaku. Luka yang akan terus berdarah jika kita masih bersama, aku sudah lelah mas Alif.
"Entahlah mas Alif, aku butuh keseimbangan sekarang, seimbang dalam mencintai, keseimbangan dalam menghargai, dan kau hanya mencintaiku saja tapi tidak menghargaiku."
Kembali Humairah melepaskan diri dari Alif, ia berjalan menuju rumah lagi.
"Humairah," cegah Alif.
Kata Alif dengan nada yakin, ia menempelkan tangan Humairah di dadanya.
"Kau mencintaiku?" tanya Humairah masih dengan raut tenangnya.
"Lebih dari apapun."
"Ingin melakukan apapun untukku?"
"Tentu saja."
"Bisakah kau melakukan sesuatu yang disebut menghargai? Jika sebelumnya kau tidak menghargai aku sebagai istri dan seorang perempuan hingga tega menjualku pada pria lain. Setidaknya sekarang belajarlah menghargai keputusan ku, lalukan itu atas nama cinta yang baru saja kau ucapkan."
"Tidak Humairah, satu hal yang harus kau ketahui jika sebelumnya aku telah berbuat kesalahan fatal padamu, setidaknya kali ini aku tidak akan mengulangi kebodohan yang sama, membuat kesalahan lain dengan melepaskanmu, tidak Humairah, tidak akan ku lakukan lagi. Tidak akan pernah."
Balas Alif dengan yakin, ia tidak peduli jika Humairah akan bosan setelah ini.
Airmata Humairah jatuh juga.
__ADS_1
"Jika begitu buatlah jarak diantara kita untuk sementara waktu, beri aku waktu untuk bernafas, beri aku waktu untuk mengurangi sesak di dada ini, mengertilah mas Alif, terkadang kita butuh jarak agar tidak terlalu sesak dalam kebimbangan, aku akan mempertimbangkan lagi keyakinanmu."
"Pulanglah, aku ingin tidur. Aku mengantuk karena pengaruh obat."
Humairah mundur perlahan melepaskan tangan dari dada Alif, ia berniat kembali masuk ke rumah setelah merasa rintik hujan mulai menyapa wajahnya.
Namun Alif tiba-tiba menggendongnya berjalan masuk ke rumah.
"Mas Alif? Aku bisa jalan sendiri, turunkan aku!"
"Aku tidak mau istriku kehujanan, kau belum boleh berjalan dengan cepat."
"Siapa yang bilang begitu?"
"Dokter."
"Dokter Aisyah maksudmu?" Sindir Humairah.
"Kaulah Aisyahku."
Humairah memutar bola matanya malas, Alif membawanya ke kamar membaringkan perempuan itu perlahan, ia menaikkan selimut hingga dada lalu mengecup seluruh wajah Humairah.
"Aku mencintaimu Humairah, beristirahatlah.... Tentang jarak, aku tetap keberatan, tidak bisa tidur di sampingmu saja aku ingin gila rasanya, jangan meminta hal yang tidak-tidak, bagaimana bisa aku menjauh dari istriku, cukup papa saja yang menghukumku tidak boleh ikut menginap disini, aku yakin kita akan menemukan jalan keluarnya nanti yang pasti bukan sebuah perpisahan."
"Pulanglah, aku mengantuk."
"Tidurlah, aku akan menemui papa dulu."
Alif keluar kamar setelah mencium lagi wajah Humairah yang masih bersikap dingin padanya, Alif baru menyadari sikap Humairah yang seperti ini adalah kelemahan terbesarnya.
Ia mencari keberadaan papa Imran hingga keluar rumah, matanya melirik makanan yang ia bawa tadi, ia raih lalu masuk lagi berniat memberikannya pada sang istri, senyumnya mengembang karena ada alasan untuk masih berada di dekat Humairah.
Namun langkahnya terhenti saat papa Imran bersuara dari belakangnya.
"Pulanglah, biar papa yang memberikan makanan itu pada Humairah."
Terdengar Alif bernafas kasar, niat menemui istrinya lagi harus terhalang sang papa mertua.
*****
__ADS_1
Maaf sekebon ya sayang-sayang aku.... Ga up karena anak lagi sakit, dua-duanya sakit lagi, kemarin-kemarin demam sekarang alergi lagi. aduhhhh maaf yakkkk..... Oke teruskan yaaa stay tune....