"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 73


__ADS_3

Alif terpaku saat masuk rumah mereka, semua sudah tertata rapi dari terakhir ia keluar tadi pagi-pagi sekali, lalu ia menatap Humairah penuh tanya.


"Aku masih memiliki kuncinya, aku kemari saat kau sudah pergi pagi-pagi sekali. Aku heran kemana saja kau sepagi itu," gumam Humairah seraya menarik tangan suaminya menuju dapur.


Alif heran lagi.


"Sayang?"


"Aku memasak sebelum kemari, jadi kita bisa makan siang tanpa harus keluar lagi. Bukankah niatmu ingin mengurung diri? Jadi kita butuh tenaga untuk itu, ayo kita makan agar kau tidak loyo," canda Humairah seraya terkekeh geli.


"Ck..... Aku tidak bisa berkata-kata lagi."


"Ayo kita makan, perutmu sudah meronta sejak tadi aku mendengarnya.... Lain kali jangan sia-siakan istrimu lagi agar ada yang mengurusi hidupmu, lihatlah hidup seorang diri itu tidak mudah, meski kau bisa membayar pelayan namun tetap saja tidak sama dengan pelayanan istrimu yang cantik ini," oceh Humairah sambil mendorong suaminya duduk lalu memberi Alif minum yang semuanya sudah terhidang di atas meja makan.


Alif hanya menurut tanpa membantah, ia bahkan bingung sendiri harus apa saat ini. Humairah memang yang terbaik baginya, masih sama seperti dulu melayaninya dengan baik tampak tulus dan tidak dibuat-buat, tidak pernah berubah dari pelayanan dalam bentuk apapun, lihat saja selama bekerja jadi sekretaris Humairah mengerjakan semua tugas dengan cepat dan baik, tidak membantah apalagi melawan bosnya.


Hanya saja ini terlalu sempurna bagi Alif yang bahkan masih merasa hari ini seperti sebuah mimpi saja, hal yang ia takutkan selama ini tidak benar-benar terjadi, Humairah masih nyata di sampingnya saat ini, nyata sekali bukan sekedar hayalan saja perempuan itu kembali berperan sebagai istrinya sekarang melayaninya penuh cinta persis saat awal-awal pernikahan, Humairah tidak berubah sama sekali.


"Sayang," lirih Alif pelan, pria itu melingkari pinggang ramping istrinya dengan satu tangan yang mampu membuat Humairah menempel padanya.


"Hmmmmm, ada apa?" tanya Humairah saat menoleh pada Alif yang tampak berkaca-kaca dengan tatapan elang nan sendu yang cukup menghujam ke jantung Humairah saat saling memandang seperti ini.


"Menua bersamaku, please."


Humairah mengangguk seraya berhenti dari aktivitas menyiapkan nasi di piring. Ia mengubah posisi duduk hingga tampak berhadapan, lalu ia raih wajah Alif tanpa berpikir panjang ia memberikan kecupan bibir yang banyak pada pria itu.


"Iya, sampai maut memisahkan," jawab Humairah seraya membelai rahangnya.


Alif tersenyum, ia bahkan tidak bisa berkata lebih panjang lagi karena terlalu bahagia saat ini.


"Kita bisa makan sekarang? Tenanglah, aku tidak akan lari mas Alif, makan yang kenyang lalu kita bisa ke kamar setelah itu."


Alif berdecak gemas.


"Ckkk... Kau pandai menggoda sekarang."


"Menggoda suami sendiri itu menambah imun, ayo makan!" ajak Humairah lagi setelah kembalo fokus pada piring, tidak memungkiri ia juga lapar saat ini.


Mereka menghabiskan satu piring porsi nasi yang telah disiapkan Humairah tadi, makan sambil mengobrol tentang hal-hal ringan yang menarik hati tanpa terasa telah selesai makan siang.


"Kau bisa ke kamar dan mandi, segarkan badanmu sayang, aku akan menyusulmu nanti setelah membereskan semua ini."


Alif menggeleng, "Aku akan menunggumu, kita mandi bersama."


Humairah terkekeh, ia sudah tahu akan seperti ini.

__ADS_1


"Baiklah, tunggulah sebentar aku bereskan ini dulu."


Alif mengangguk lagi, lalu ia duduk dan diam memperhatikan gerak gerik Humairah dalam mengerjakan tugas dapur, mengelap meja dan mencuci piring bekas makan siang.


Pemandangan yang sudah sangat lama tidak Alif nikmati, sungguh ia merasa rugi telah melewati hari-hari berarti selama berbulan-bulan tanpa Humairah, nyata sekali istri pilihan mamanya ini sungguhlah yang terbaik dalam hal apapun.


Humairah menyelesaikan pekerjaan dapur dengan baik, ia menghampiri Alif yang masih melamun.


"Sayang."


Alif terkejut saat Humairah duduk di pangkuannya.


"Maaf, aku melamun."


"Aku sudah selesai, lihatlah bajuku basah ayo kita mandi!"


Alif tersenyum lalu mengecup bibir istrinya dengan gemas.


"Aku mencintaimu Humairah."


"Iya, aku percaya."


"Mandi bersama?" tawar Alif saat ia menggendong Humairah menuju kamar.


Humairah mengangguk.


Alif menjawab lewat ciuman panjang yang membawa mereka pada rasa terlena hingga masuk ke kamar.


Alif tertegun saat memasuki kamar mereka, semua yang tampak tidak seperti tadi pagi.


"Wah, ini kejutan... Aku hanya menyuruh memindahkan piano saja kemari tidak mawar-mawar itu juga, ini pasti ulah papa. Kau tahu mas Alif papa sangat antusias mengerjaimu, papa paling bersemangat melihat kita kembali bersama."


"Ini seperti kamar pengantin baru," seloroh Humairah terkagum-kagum melihat keindahan kamar mereka yang didandani layak kamar pengantin baru.


Alif menjadi mengerti sekarang saat melihat suasana kamar mereka yang berubah, kelopak mawar dimana-mana, terdapat piano di sudut kamar mengarah ke balkon. Bahagianya tidak sampai pada Humairah saja, semua yang dilakukan perempuan itu benar-benar membuat Alif kehilangan kata-kata.


Alif menyunggingkan senyum lalu mengecup bibir Humairah sekilas lalu menjawab dengan pelan.


"Iya, sebagai rasa terimakasih aku akan memberikan papa banyak cucu setelah ini."


Humairah tersenyum mendengarnya.


"Baiklah, masih berniat mandi bersama atau langsung ke ranjang?" Goda Humairah lagi.


"Oh sayang, aku rasa kita bisa mulai dari kamar mandi," seru Alif yang sudah berjalan menuju kamar mandi mereka.

__ADS_1


Diguyuri air mengalir dari shower, Humairah dan Alif tidak melepas tautan bibir mereka bahkan sejak drama mandi dimulai. Saling membuka pakaian hingga tersisa dalaman saja, Alif sungguh ingin gila rasanya saat Humairah benar-benar melayaninya dengan sempurna, pemandangan lama yang tidak ia jumpai selama berbulan-bulan.


Rambut Humairah yang kian panjang, tubuh yang kian berisi dan sintal membuat Alif seperti sedang dimabuk asmara saat ini, rasanya seperti pengantin baru.


Tidak ingin berlama lagi, keduanya menyelesaikan mandi agar tubuh mereka menjadi segar ketika di ranjang nanti, Alif kembali menggendong wanita itu keluar kamar mandi yang hanya dibalut handuk saja.


Sampai ranjang Alif tidak memberi kesempatan bagi Humairah barang sebentar, ia melepaskan semua rindu dan hasrat yang terpendam selama ini, pun Humairah ia sama sekali tidak menghindar.


Perempuan ini menerima semua perlakuan Alif meski hari masih siang, tidak menyurutkan pasangan ini yang berniat bercinta sepuasnya setelah sekian lama pisah ranjang.


Namun sedang asyik menggerayangi setiap inci tubuh istrinya, tautan bibir mereka terlepas oleh dorongan Humairah saat tangannya mulai mengarah ke area penting seorang wanita.


"Sayang?" tatap Alif penuh tanya.


"Mas Alif, aku merasa ada yang keluar."


"Apa maksudmu?"


"Ah.... Aku rasa aku keluar darah haid sekarang, iya memang seharusnya pada tanggal hari ini."


"Humairah jangan bercanda, aku sudah tidak tahan," erang Alif kesal sendiri mendengar pernyataan Humairah yang tentu akan merugikannya dalam posisi seperti ini.


Humairah terkekeh melihat raut kesal suaminya, ia membalikkan posisi saat ini yang semula ia di bawah sekarang Humairah tampak menindih Alif suaminya dengan gerakan menggoda.


"Tapi bohong," ucap Humairah seraya terkekeh geli.


"Kau terlalu bersemangat sayang, aku hanya bercanda mas Alif. Aku milikmu siang ini, akan melayani suamiku ini sepuasnya, kita cukup lama berpisah, aku mengerti hasrat mu tidak memungkiri aku pun sama. Aku merindukan mu juga mas Alif, rindu keintiman kita seperti ini."


"Tanggal hari ini adalah puncak masa kesuburanku.... Ayo kita beri papa cucu," kata Humairah yang diakhiri kecupan bertubi-tubi pada seluruh wajah suaminya.


"Oh, kau pandai menggodaku Humairah.... Aku sudah tidak tahan, jangan mengatakan apapun lagi, aku milikmu kau bebas melakukan apapun."


"Women on top, anggap saja bagian dari sikap emansipasi," balas Humairah seraya berbisik mesra, ia mulai membuat Alif bergelinjang manja di atas ranjang penuh kelopak mawar penuh cinta.


Merajut kasih yang lama mereka rindukan, suara erangan basah dari keduanya mewarnai kamar yang hanya disinari pancaran matahari siang menjelang sore yang masuk melalui celah gorden.


Alif dan Humairah menyatu dalam gairah cinta yang memabukkan, tatapan yang membuat darah kian berdesir, sentuhan bibir yang membuat keinginan bercinta datang lagi dan lagi. Tunai sudah niat mereka yang memang ingin bercinta sepuasnya siang hingga sore ini.


Hingga kelelahan membawa mereka dalam sebuah tidur siang yang saling mengeratkan pelukan, Alif meringkuk manja dalam dekapan dada sang istri dengan perasaan yang membuncah bahagia tiada tara dengan tubuh yang dibalut selimut tebal menutupi tubuh polos mereka. Saling tertidur sebab kehilangan banyak tenaga karena terlalu bersemangat buka puasa.


Alif dan Humairah kembali bersama dalam ikatan jodoh dari sang maha kuasa, berniat saling memperbaiki diri, menjadikan masa lalu acuan agar lebih saling menghargai dan bahagia untuk masa depan, Alif berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyia-nyiakan istrinya.


Pun Humairah, perempuan ini benar-benar ikhlas menerima semua takdir yang menghampirinya di masa lalu, kunci bahagianya ada pada suaminya, ia membenarkan perkataan papa Imran bahwa tidak semua pria bisa mencintainya seperti Alif, ia bangga akan hal itu.


Semua sudah berlalu, tidak ada pria yang sempurna, seperti suaminya yang tidak luput dari kesalahan. Harapan selalu ada disetiap doa, Humairah merasakannya saat ini, ia mencintai suaminya, masa kelam yang lalu tidak harus selalu diganti pemeran lelakinya agar masa depan lebih baik.

__ADS_1


Cukup bermuara pada ikhlas, semuanya akan terasa ringan. Madu pahit yang pernah Alif berikan kini ia rubah menjadi obat tidak harus ia buang, obat penakar dan penentu sikapnya di masa depan.


Selalu ada cerita di setiap pernikahan, dan Humairah merasa ia telah berhasil melewati masa itu dengan baik.


__ADS_2