
"Papa jangan bercanda," ucap Alif mulai cemas.
'Papa tidak sedang bercanda, jika bisa segeralah pulang. Humairah butuh suaminya saat ini,' jawab papa Imran yang juga tidak kalah cemas terlihat dari raut wajahnya yang sedang berbicara dengan menantunya melalui layar ponsel canggih.
"Mana istriku? Apa bisa bicara?"
'Humairah sudah berada di ruang bersalin, papa tidak boleh masuk, dia didampingi mama mu saat ini. Lekaslah pulang jangan banyak tanya.'
Alif bernafas lega, ia bersyukur mama Rika sengaja pulang ke tanah air sudah sejak satu minggu yang lalu karena perempuan paruh baya itu tidak ingin melewatkan kesempatan dalam menunggu hari kelahiran cucu pertamanya yang diperkirakan akan lahir dalam waktu dekat.
Alif tidak mengira secepat ini, padahal Humairah tidak mengeluh sakit apapun sejak semalam, oleh karena itu pula ia kini berada cukup jauh dari rumah sakit tempat Humairah akan melahirkan, ia tengah berada dalam meeting penting di sebuah hotel.
"Aku harus bagaimana sekarang?" Alif merasa bingung sendiri karena terlalu gugup mendengar istrinya sudah ingin melahirkan.
'Alif, jangan bodoh ayo menyusul ke rumah sakit sekarang!'
"Papa, aku benar-benar cemas jarak ke rumah sakit akan memakan waktu yang cukup lama, bagaimana jika aku ketinggalan menyaksikan putraku lahir?"
'Kau saja sudah membuang waktu dengan bicara seperti itu, segera menyusul.'
Tampak papa Imran bernafas kasar menghadapi menantunya yang belum juga menutup telepon.
"Huh, papa ayolah aku ingin bicara pada Humairah. Bagaimana kondisinya saat ini? Apa dia kesakitan?"
'Istrimu sudah di dalam, papa tidak bisa masuk. Humairah tidak mengatakan apapun, namun dia terus saja menangis menahan sakit.'
"Oh ya Allah, aku harus apa sekarang...... Perjalanan cukup jauh, jalan pada jam seperti ini juga lagi sedang padat-padatnya."
'Jika kau ingin cepat, kau bisa menggunakan helikopter kemari.'
"Ide bagus."
'Alif jangan bercanda!'
"Iya baiklah aku hanya bercanda. Papa, aku benar-benar gugup sekarang."
'Iya, dan kau mungkin tidak akan sampai kemari jika terus bicara tidak penting seperti ini yang akan buang waktu saja.'
"Aku harus pamit pada rekan kerja ku dulu."
'Kenapa tidak dari tadi.'
"Apa papa gugup menghadapi kelahiran putraku?"
'Lebih dari itu, Humairah putriku satu-satunya papa hanya berdoa semoga persalinannya lancar dan selamat.'
"Oh aku benar-benar cemas, aku saja bingung sekarang harus apa," balas Alif lagi.
'Alif,' bentak papa Imran.
"Iya iya baiklah, aku menyusul sekarang..... Assalamualaikum."
Alif menutup panggilan video mereka sepihak, papa Imran hanya bisa menghela nafas saat ini. Ia mengerti perasaan Alif yang tentu bingung dan cemas menghadapi persalinan istrinya, papa Imran pun teringat ketika muda dulu saat menunggu kelahiran Humairah ia tak kalah gugup dan bingung saat mendampingi istrinya melahirkan putri yang saat ini juga sedang berjuang menahan sakitnya kontraksi sebelum benar-benar melahirkan.
Alif memberikan perintah pada Belinda untuk mengurus semuanya, benar saja sekretaris pilihan istrinya itu cukup bisa diandalkan. Belinda bekerja dengan baik dan cerdas meski dibumbui rasa kesal ada kala pria gemulai itu suka menggoda Alif jika sedang serius.
__ADS_1
Alif berjalan setengah berlari menuju mobilnya, ia akan menempuh jarak yang cukup jauh menuju rumah sakit dengan waktu tidak kurang dari empat puluh menit jika perjalanan normal, namun bisa jauh lebih lama jika sedang padat pengendara.
Selama perjalanan ia sulit untuk mengemudi dengan tenang, dadanya sesak, nadinya cepat, tekanan darahnya terasa naik turun oleh rasa gugup yang tidak bisa ia sembunyikan.
Ini pengalaman pertamanya sebagai seorang lelaki yang akan bergelar ayah sebentar lagi, pikirannya sudah kemana-mana saat berjauhan seperti ini, ia takut Humairah tidak bisa menahan sakit sebelum waktunya melahirkan, ada pula terlintas bagaimana jika istrinya tidak kuat dan harus berakhir operasi sesar.
Membayangkan Humairah menangis menahan sakit saja sudah membuat hatinya hancur saat ini, bagaimana dengan niatnya ingin punya anak banyak jika sudah seperti ini pikir Alif.
Selama dalam menempuh perjalanan Alif tidak henti berdoa yang terbaik untuk keadaan istrinya, melahirkan normal atau jika harus sesar akan sama saja yang terpenting Humairah dan bayinya selamat dan sehat, Alif tidak menginginkan apapun saat ini selain istrinya melahirkan dengan selamat.
Hampir satu jam, Alif segera turun dari mobil ia berlari menuju ruang bersalin dimana sudah terdapat papa Imran di sana.
"Papa."
"Oh kau sudah datang nak, ayo masuklah Humairah menunggumu sejak tadi."
Papa Imran segera memberi ruang untuk Alif melewatinya menuju kamar bersalin. Menantunya itu hanya mengangguk tanpa banyak kata.
"Mama," panggil Alif pada mamanya yang tampak setia memijat pinggang Humairah yang kesakitan.
"Kau sudah datang sayang, ayo kemarilah Humairah membutuhkan suaminya. Kenapa lama sekali? Dia sudah pembukaan delapan, tidak akan lama lagi bisa melahirkan" ucap mama Rika.
"Maafkan aku, jalannya macet. Mama lelah? Mama bisa duduk di luar, biar aku yang di sini," ucap Alif setelah memeluk mamanya.
Mama Rika mengangguk, ia juga sudah cukup lama berdiri yang mana tangannya tidak berhenti memberi pijatan sejak dari rumah hingga ke rumah sakit pada pinggang Humairah agar membantu mengurangi sakit.
"Mama terimakasih."
"Tentu sayang, Humairah juga putriku jangan lupakan itu."
Setelah mama Rika keluar, Alif mendekati Humairah.
Humairah hanya mengangguk tanpa berkata-kata, airmatanya terus mengalir.
"Sayang, maaf aku telat..... Kenapa tidak bilang jika kau merasa ada tanda-tanda ketika aku masih di rumah? Kau membuatku cemas Humairah."
"Aku kira hanya kontraksi palsu karena datangnya tidak terlalu sering, aku juga tidak ingin kau melewatkan meeting penting itu, tidak tahunya sampai rumah sakit sudah pembukaan enam," jawab Humairah pelan disela tangisnya.
"Huh, jangan bicarakan apapun saat ini. Mana yang sakit?"
"Kenapa bertanya, sakit semua mas Alif," kesal Humairah.
"Hei ayolah, katakan saja.... Jangan ditahan, kau boleh marah padaku jika itu bisa mengalihkan perhatianmu dari rasa sakit, kau juga boleh memukul ku."
"Mas Alif tenanglah, ini ruang bersalin jangan membuatku malu dengan heboh seperti itu, aku tidak akan berteriak karena sakit, itu memalukan dan berlebihan, yang namanya ingin melahirkan tentu saja akan sakit yang enak itu ketika proses pembuatannya," jawab Humairah sambil memegangi tangan suaminya dengan kuat.
"Aku ikhlas dengan sakit ini, aku bahkan bahagia bisa merasa sempurna menjadi perempuan."
Alif tertawa pelan, ia bangga dengan istrinya yang benar-benar kuat menahan sakit, tidak bersuara apalagi mengaduh seperti kebanyakan perempuan yang ingin melahirkan, hingga hanya airmata yang menunjukkan betapa sedang sakitnya Humairah saat ini.
"Sayang aku mencintaimu."
Humairah menatap suaminya dengan kesal.
"Kau ingin minum?" tawar Alif lagi.
__ADS_1
Humairah menggeleng.
"Sayang aku benar-benar gugup saat ini."
"Mas Alif bisa diam tidak, aku sedang sakit. Mendengar kau mengoceh membuatku bertambah sakit."
"Katanya ikhlas, tapi marah-marah."
"Mas Aliiiiiiif."
Alif tersenyum, ia naik dan duduk ke tepi ranjang, ia dekap Humairah yang masih meringkuk miring ke kiri itu dengan gemas.
"Aku mencintaimu Humairah, aku mencintaimu aku mencintaimu. Kau pasti kuat, kau perempuan hebat. Aku akan memberimu semangat, mana yang sakit? Biar ku pijat."
Alif mulai memberi usapan-usapan seraya memberi pijatan menenangkan bagi Humairah di punggung hingga pinggangnya seperti yang mama Rika lakukan tadi.
"Mas Alif."
"Iya sayang."
"Sepertinya aku sudah tidak tahan ingin mengejan."
Alif terperanjat mendengarnya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa itu tanda ingin lahir?"
"Mas Alif ayolah jangan bercanda, tentu kau harus memanggil ibu bidannya sekarang," jawab Humairah yang sudah berkeringat dingin.
Alif bertambah bingung saat istrinya mulai mengedan dan berubah posisi menjadi terlentang, ia menyingkap kain yang menutupi tubuh bagian bawah Humairah, pria itu menjadi terkejut.
"Sayang, kepala.... Maksudku kepalanya sudah terlihat, bagaimana ini?" Alif cemas campur haru dengan apa yang dilihatnya. Menyaksikan istri melahirkan adalah hal yang terasa mengubah dunianya saat ini.
"Mas Alif, aku sudah tidak tahan."
Lirih Humairah sambil mengedan yang tidak dapat ia tahan lagi.
Bersamaan dengan kebingungan Alif datang dua orang bidan yang menangani Humairah bersama mama Rika.
"Mama."
"Tenanglah, itu tandanya cucuku akan segera lahir."
Mama Rika mengambil posisi di sebelah kanan menantunya, sedang Alif berasa di sisi kiri istrinya, ia menggenggam tangan Humairah dengan erat.
Dua bidan penolong persalinan Humairah sudah menyiapkan segala sesuatunya, Humairah mulai dituntun untuk meneran yang baik dan benar, benar saja hanya kurang dari sepuluh menit suara tangisan bayi laki-laki itu menggema seluruh ruangan bersalin.
Alif meneteskan air matanya tanpa bersuara, ia mengecup kening Humairah cukup lama setelah bayi itu benar-benar lahir dengan lengkap dan tidak ada satupun yang kurang.
"Alhamdulillah, wah rambutnya hitam dan lebat," ujar mama Rika yang sangat antusias mendekati cucu pertamanya itu.
Alif tersenyum haru, lalu ia beralih lagi pada Humairah yang memejamkan mata.
"Sayang, sayang.... Humairah kau kenapa? Sayang?" Alif memegangi wajah lelah dan pucat istrinya dengan cemas.
"Bu bidan, lihat istriku kenapa diam dan terpejam seperti ini?" tanya Alif cepat pada dua bidan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
Dua bidan dan mama Rika sontak terkejut atas teriakan Alif.
"Mas Alif diamlah, aku hanya mengantuk bukan pingsan," jawab Humairah membuka matanya sedikit lalu terpejam lagi.