"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 70


__ADS_3

Humairah menatap punggung suaminya dengan mata yang tampak merah dan basah, setelah Alif menghilang ia terduduk sendiri di kursi kerjanya.


Mengusap wajah beberapa kali seraya beristiqhfar dalam hati agar menetralisir perasaannya saat ini, perasaan sesak yang melanda sejak ketegangan yang terjadi antara Humairah dan Alif suaminya.


Ia berdiri menuju laci meja kerja Alif, membuka dan mengambil sebuah figura dari sana. Lama Humairah menatap gambar dirinya dan Alif dalam bingkai kecil itu, gambar penuh dengan senyuman manis keduanya, saling merangkul layak saudara belum lagi jika diperhatikan wajah mereka menjadi mirip saat berdekatan hingga tidak heran Arya mengira mereka adalah adik kakak, itu adalah pose bebas yang spontan terjadi saat sang Photografer memberi arahan pada mereka saat itu.


Alif pergi dari kantor, tidak tahu kemana hingga ia mematikan ponselnya meninggalkan Humairah yang sekarang sedang membereskan file-file di atas meja, menerima tamu penting yang seharusnya bertemu dengan bosnya, ia bekerja seperti biasa bekerja dengan cerdas dan hati-hati dalam membereskan semua masalah kantor hari ini meski Alif tidak berada di sana.


Pada malam hari setelah satu minggu Alif menghilang, tidak ke kantor, tidak ada kabar hingga harus Humairah yang mengontrol semua pekerjaan suaminya di kantor, map yang menumpuk di atas meja, beberapa pertemuan penting yang semuanya diselesaikan oleh Humairah dengan baik satu minggu ini sebab tidak ada komunikasi apapun antara Humairah dan Alif setelah pertengkaran pagi itu.


Selama di kantor, Humairah tidak memungkiri ia kehilangan sosok bos agresif itu, rayuannya, perhatiannya, kata sayang dan cinta dari pria itu yang sudah satu minggu tidak Humairah dapatkan, wajah yang membuatnya kesal sekaligus gemas dari Alif tidak ia temui sekarang, ada pula rasa kecewa dan rindu yang menyatu karena Alif tidak menghubunginya sejak hari pertengkaran mereka.


"Katanya cinta, tidak ingin berpisah tapi sekarang malah menghilang, mas Alif kau memang menyebalkan," gumam Humairah kesal sendiri.


Humairah membereskan mukena berbahan sutra yang baru lepas dari kepalanya setelah menunaikan wajib isya' beberapa menit lalu.


Cahaya yang temaram cukup membuat hatinya terenyuh saat membuka kembali album kenangan, sebuah kolase gambar-gambar pernikahan. Humairah menyembunyikan senyum saat mengenang masa-masa itu.


Ia tersentak saat mendengar ketukan pintu dari luar disusul suara papa Imran yang memanggil namanya.


"Papa," ucap Humairah saat membuka pintu kamar.


"Belum tidur?"


Humairah menggeleng seraya menjawab, "Belum mengantuk, baru selesai sholat. Papa butuh sesuatu?"


"Temani papa ngopi?" tawar papa Imran dengan raut senyumnya.


"Bilang saja papa ingin bicara sesuatu padaku."


"Oh sayang kau pandai membaca hati papa, ayo!"


Humairah mengangguk seraya menerima uluran tangan papanya, album foto masih ia pegang hingga keluar kamar.


"Buatkan papa kopi, kemarikan album itu papa ingin melihatnya," ucap papa Imran pada Humairah.

__ADS_1


Perempuan itu hanya bisa terkekeh, ia memberikan album itu lalu pergi ke dapur membuatkan kopi untuk sang papa tersayang.


Beberapa menit kemudian, tampak anak dan ayah kandung itu tengah bicara santai berdua di teras rumah, sesekali bercanda. Namun sekarang tampak serius saat Humairah memegang sebuah kertas yang diberikan papanya.


"Humairah."


"Iya papa," sahut Humairah seraya mengelap airmatanya setelah lama ia terpaku dengan surat panggilan sidang mediasi perkara gugatan perceraiannya beberapa waktu lalu yang baru mulai memasuki babak baru yang diproses pengadilan negeri yang tertera tanggal yang jatuh pada besok pagi, itupun karena sidang ditunda yang seharusnya akan digelar beberapa hari yang lalu.


"Kau tahu apa yang bisa dibanggakan dari orang yang mencintai kita?"


Humairah menoleh, ia diam tidak menjawab.


"Karena tidak semua orang bisa seperti dia. Tidak semua pria bisa mencintaimu seperti Alif," ujar papa Imran lagi.


Humairah terdiam.


"Kau marah padanya, kau pun sama tidak jujur jika sudah mengingat semuanya. Bukankah kau pergi dengan Arya memang sengaja ingin melihat aksi suamimu?"


Humairah masih diam, ia memang melakukan itu namun yang membuat Humairah kecewa adalah Alif memfitnah Arya hingga ia berpikir yang tidak-tidak, terlebih saat tahu Arya dipecat karena alasan pribadi.


Humairah mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan papa Imran dengan seksama. Airmatanya sesekali tetap mengalir.


"Jika kau merasa hatimu telah kehilangan separuhnya, maka hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Kembali atau terganti? Semua pilihan ada di tanganmu nak, papa bicara seperti ini bukan pula memaksamu, kau tahu yang terbaik untukmu papa pun ingin yang terbaik untuk putriku, semua pun telah berlalu. Sudah terlanjur begini adanya, tapi kita bisa mengubah cara kita menyikapinya agar tetap bahagia."


"Dari benci menjadi suka, dari menolak menjadi menerima, dari menangis menjadi tersenyum, insya Allah hatimu akan jadi tentram, percayalah Alif juga tidak ingin semua ini terjadi, semua sudah berjalan sesuai takdir. Selalu ada hikmah disetiap cerita."


"Mungkin kita tidak akan bertemu jika kau tidak menikah dengan Alif, tidak menjadi madu bagi Aisyah waktu itu, hingga dipernikahan mereka kita bisa bersua dan ikatan batin mengikuti kita, papa merasakannya saat itu. Sayang ayolah."


Humairah menangis lagi sekarang, ia membenarkan dalam hati soal pertemuannya dengan papa Imran berawal dari pernikahan Alif yang kedua, di sanalah ia mengingat wajah papa Imran saat mendapati kembali ingatan masa kecilnya.


"Hatimu patah, hati Alif juga patah karena semua ini. Bukankah hati perlu dipatahkan agar bisa menyatu dengan hati yang lain, saparuh hatimu separuhnya lagi hati suamimu, bukankah bisa saling melengkapi seperti ini?"


Papa Imran menggoda Humairah dengan menyatukan kedua tangannya membuat simbol love.


"Papa," rengek Humairah.

__ADS_1


Humairah tersenyum kesal dalam tangisnya, ia berdiri lalu duduk di kursi panjang tempat papa Imran duduk saat ini, ia memeluk papanya dengan manja.


****


Hari ini, selasa tepat pada tanggal panggilan sidang mediasi perkara perceraian Aisyah Humairah dan Alif Zayyan Pratama.


Alif keluar mobil dengan langkah lesu, wajahnya pucat seperti kehilangan gairah hidup. Pada kenyataannya Alif jatuh sakit selama satu minggu yang lalu bahkan dirawat di rumah sakit selama empat hari karena demam berdarah, namun ia tidak memberi tahu siapapun kecuali Daffa yang merawatnya di sana.


Badannya tampak kurus karena kehilangan nafsu makan selama sakit, terlebih tidak ada yang memperhatikannya selama di rumah sakit, berharap Humairah namun ia tidak berani jujur mengingat perempuan itu sedang marah sekaligus kecewa padanya terkait Arya hingga Alif memilih untuk menikmati sakitnya seorang diri.


Hari ini, ia paksakan datang agar mediasi dengan pihak yang hanya akan dihadiri oleh pengacara Humairah berjalan dengan baik, ia ingin sekali mengulur waktu agar semuanya bisa diperbaiki, namun ia tidak ingin memaksakan lagi Humairah untuk menoleh padanya.


Alif tidak ingin mengecewakan Humairah lagi jika ia terus memaksakan kehendak sedang perempuan itu tetap ingin berpisah terlebih saat ini sudah hadir pula lelaki lain yang Humairah sukai.


Menarik napas dalam, Alif mengusap sudut matanya yang sudah basah seraya mengucapkan nama Tuhannya dalam hati memohon doa yang terbaik untuknya dan juga Humairah dalam babak baru nasib rumah tangganya.


Namun baru beberapa langkah Alif terhenti pikiran dan hatinya tidak sejalan, kakinya berat untuk melangkah meninggalkan parkiran menuju pintu masuk gedung pengadilan, ia berbalik arah masuk kembali ke mobilnya.


Alif menangis di sana, ia labuhkan kepalanya pada stir mobil, matanya terpejam dengan airmata membasahi wajah, bahunya bergetar menahan suara tangis yang ingin sekali keluar, ia tidak mau bercerai, ia tidak mau berpisah dari perempuan bernama Aisyah Humairah itu.


Rasanya sakit sekali yang Alif derita saat ini, ditengah badannya yang sama sekali tidak dalam kondisi baik, lambungnya mulai perih karena tidak selera untuk sarapan disusul rasa mual akibat asam lambung yang mulai naik. Belum lagi hatinya yang bahkan tidak tentu sakitnya seperti apa hingga seolah mati rasa saat ini.


Alif menangis dalam diam, hanya suara sedu sedan yang terdengar sesekali seiring bahunya yang terus bergetar.


Tanpa ia sadari seorang wanita telah duduk di bangku sampingnya saat ini, mengulum senyum sejak tadi.


Alif mengangkat wajahnya, menarik napas dalam-dalam lagi guna menetralisir perasaannya, ia mengusap wajah berulang kali lalu ia bersandar lagi di kursi kemudinya seraya menengadah ke atas, matanya yang semula terpejam ia buka dan duduk sempurna menghadap ke depan lagi.


Alif menghapus airmatanya, lalu saat ia ingin mengambil air mineral di sampingnya untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering, barulah ia tersadar bahwa ada seseorang di sampingnya.


"Hai," sapa wanita itu.


Alif begitu terkejut bahkan terperanjat dari duduknya.


"Humairah?"

__ADS_1


******


__ADS_2