
Ada banyak cara menikmati sepotong kehidupan saat kalian sedang tertikam belati sedih, salah satunya dengan menerjemahkan banyak hal yang menghiasi dunia dengan cara tak lazim.
Saat melihat gumpalan awan di angkasa, saat menyimak wajah-wajah lelah pulang kerja, saat menyimak tempias air yang membuat bekas di langit-langit kamar, dengan pemahaman secara berbeda maka kalian akan merasakan sesuatu yang berbeda pula. Memberikan kebahagiaan utuh jarang disadari atas makna detik demi detik kehidupan.
Humairah pamit pulang pada ayah ibunya setelah makan siang, ia juga meminta izin untuk membawa serta kotak kenangan masa kecilnya itu untuk ia bawa pulang ke rumah.
Kalung berliontin hati yang diakui oleh ibu Aini dan ayah Ihsan adalah miliknya saat kecil juga ia pakai sebagai pemanis lehernya, terlebih Humairah bahagia bisa melihat kenangan photo ayah ibu kandungnya dari kalung itu.
"Kita sudah sampai nona," ucap pak sopir taksi online yang Humairah tumpangi saat ini, lamunannya buyar saat menyadari ia telah sampai di depan pagar rumahnya.
"Oh, iya pak terimakasih..."
Setelah membayarkan sesuai tarif aplikasi, Humairah membuka pagar dan segera masuk ke rumah saat waktu telah menunjukkan tengah hari.
Adzan berkumandang terdengar dari toa sebuah masjid bernama Al-hidayah yang berdiri kokoh di komplek perumahan yang Humairah tempati saat ini, menunjukkan waktu Dzuhur telah masuk.
Humairah memiijat lehernya yang terasa lelah, ia taruh tas dan ponselnya di kamar, sebelum melaksanakan kewajiban shalat Humairah tergugah untuk ke dapur membuka sebuah rantang yang ia bawa dari rumah ibunya tadi.
Senyumnya mengembang saat melihat aneka kue tradisional yang ia dan ibunya buat untuk merayakan ulang tahunnya tadi pagi.
Humairah duduk di kursi dan menyantap lagi kue manis berbahan tepung ketan yang diisi unti kelapa dan dibungkus daun pisang muda, orang bilang namanya kue bugis, entahlah Humairah menyukai makanan ini sejak ia kecil, ibu Aini pandai membuat kue.
Setelah merasa cukup Humairah kembali ke kamar, mandi dan melaksanakan shalat dzuhur. Masih memakai mukenah, Humairah kembali meraba lehernya, ia lepas kalung itu lagi dan menatap photo yang menjadi pengisi setiap bilik liontin hati itu.
Humairah berusaha mengingat siapa ayahnya, wajah itu kian familiar diingatannya, namun Humairah sukar sekali mengingat siapa itu, padahal ia merasa belum lama berjumpa dengan pria itu. Humairah kian penasaran, benarkah ayahnya masih hidup?
Karena terlalu memaksa, ia menjadi pusing seketika mendengar dering ponselnya di atas nakas.
Humairah tidak mampu berdiri akibat rasa pusing di kepalanya saat ini, tiba-tiba ia mengingat sebuah bayangan masa lalu, namun tidak jelas hanya sepotong sepotong saja, ingatan itu datang bagai lampu blitz yang hidup lalu mati, hidup lagi dan mati lagi begitu seterusnya hingga Humairah mengerang kesakitan pada kepalanya.
Perempuan itu menangis, wajahnya berkeringat hingga ia mencoba menetralisir keadaan ini dengan mengatur napas, ia diamkan tubuhnya sejenak lalu memejamkan matanya mencoba menenangkan diri.
Hingga tidak terasa Humairah tertidur sendiri di atas ranjang.
Sampai pada bunyi dering ponselnya membangunkannya sejak tadi, Humairah mengusap matanya barulah ia tersadar, ia melirik ponsel yang nama sang suami tertera di sana di susul bunyi gedoran pintu yang begitu kuat, Humairah menjadi cemas hingga ia tidak sempat menerima telepon dari Alif.
Humairah bergegas keluar kamar dan membuka pintu, belum juga ia melihat jelas siapa yang datang, malah tubuhnya terkejut ketika mendapat sebuah pelukan yang mendadak.
"Mas Alif?" Humairah yang melirih dengan rasa terkejutnya.
__ADS_1
"Humairah, kenapa tidak membuka pintu sejak tadi? Kau kenapa? Kau juga tidak menerima telepon dariku?" cerca Alif dengan banyak pertanyaan, ia memegang wajah Humairah yang masih memakai mukenah. Wajah pria itu tampak cemas.
Humairah segera menggeleng, "Aku tidur mas, maaf."
"Huh.... Kau membuatku cemas," Alif memeluknya lagi.
"Ayo kita masuk dulu mas jangan di ambang pintu!" Humairah melepas pelukan lalu meraih tangan suaminya agar masuk.
"Tunggulah sebentar, aku akan taruh mukenah ini dulu," ucap Humairah meninggalkan Alif ke kamarnya seraya membuka mukenah yang ia kenakan shalat dzuhur tadi.
Ia melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul tiga sore, Humairah tidak menyangka ia bisa tertidur selama itu.
Setelah berberes mukenah, Humairah merapikan rambutnya yang ia cepol ke atas menggunakan sebuah tusuk konde ala korea, Alif memeluknya dari belakang, mencium leher istri pertamanya itu dengan lembut.
"Mas?" Humairah berbalik badan.
"Aku merindukanmu," jawab Alif meraih bibirnya tanpa berbasa basi.
Lama berciuman, membuat Humairah kekurangan oksigen untuk bernapas, Alif melepasnya dengan sebuah senyuman manis seorang suami. Humairah menjadi heran.
"Aku akan menginap di sini."
Alif mengangguk, "Iya, apa kau keberatan?"
"Mas Alif bicara apa? Tentu saja aku senang suamiku pulang setelah sekian purnama melupakanku," jawab Humairah dengan nada menyindir.
"Kau sedang menyindirku?"
"Mas merasa tersinggung? Baiklah, aku hanya bercanda... Mau teh atau kopi?"
Alif menggeleng, "Aku ingin mengurungmu di sini," jawab Alif yang meraih pinggangnya hingga tubuh mereka menempel sempurna, ia raih lagi bibir istrinya, kali ini tidak ada ampun hingga mereka mencapai ranjang.
"Mas Alif, tidakkah ini terlalu terburu? Aku tidak akan lari, ini masih sore."
Alif terkekeh, "Tidak harus menunggu malam untuk menyentuh istriku bukan? Aku merindukanmu Humairah."
Alif membelai wajah cantik itu dengan lembut. Humairah menjadi terlena, ia tidak ingin mengingat bahwa sebenarnya ada wanita lain yang juga mendapatkan perlakuan yang sama atau mungkin lebih manis dari ini.
Tentu Humairah akan melayani suaminya dengan baik, itulah salah satu tugasnya sebagai istri entah itu istri ke berapa.
__ADS_1
Humairah menerima semua perlakuan manis Alif sore itu, melayani suaminya di ranjang sebelum matahari terbenam. Manis tentu saja permainan Alif selalu manis jika di ranjang, mereka memadu kasih dicelah pancaran sinar matahari sore yang menyeruak di balik tirai jendela kamar yang menghadap ke barat.
"Jangan berkb, aku menginginkan anak."
Ucapan Alif ketika mereka menyelesaikan permainan dengan saling berpelukan di bawah selimut tipis di ranjang berukuran king size itu mampu membuat Humairah merasa geli pada perutnya, ia tidak menyangka Alif akan berkata seperti tadi.
"Benarkah? Mas Alif ingin anak dariku?" tanya Humairah seakan tidak percaya.
"Tentu saja aku menginginkan anak."
"Maksudmu anak dari kami berdua?"
Alif menatap Humairah setelah mensejajarkan wajah mereka.
"Aku bicara tentang kita."
"Apa mas Alif kemari karena bertengkar dengan kak Aisyah?"
Alif menggeleng, "Syasya pergi pelatihan di luar kota, jadi aku akan pulang kemari selama dia di sana."
Ucapan itu seolah berubah menjadi sebuah belati yang menancap pada jantungnya tanpa permisi, hanya sebagai persinggahan Alif selama wanita yang dicintainya itu berada di luar kota.
"Oooohhh begitukah?" Humairah tidak bisa berkata-kata lagi, semula ia pikir kepulangan sang suami memang disengaja oleh Alif karena akan adil padanya sebagai istri pertama tapi ternyata tidak.
Humairah bangkit, Alif menahannya.
"Mau kemana?"
"Mau mandi mas, ini sudah masuk waktu ashar."
"Mandi bersama?"
"Mas...." Humairah menatap Alif dengan wajah malas, tidak bukan malas melainkan sedikit kecewa atas alasan Alif pulang ke sana.
Alif menyukai rengekan manja Humairah, ia menangkap tubuh mungil itu lagi untuk masuk dalam selimut lagi.
*****
Jangan lupa Like, koment, sesekali kasih hadiah dong😉
__ADS_1