"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 40


__ADS_3

"Humairah?" ucap Daffa terkejut.


"Sayang, kau salah paham," ucap Alif meraih tangan Humairah tanpa menghiraukan rasa nyeri bekas tamparan lima jari milik istrinya tadi.


Lagi-lagi Humairah menepisnya, ia menatap satu-satu wajah dari tiga orang yang sedang membicarakannya.


"Aku tidak menyangka kau sejahat ini," cetus Humairah menggelangkan kepalanya, dadanya naik turun menahan sesak yang luar biasa.


"Humairah dengarkan aku dulu," Daffa mencoba mendekati perempuan itu namun Humairah mundur beberapa langkah.


"Ckkk untuk apa kau menangis? Dua lelaki yang kau percaya telah mempermainkan mu sejauh ini, aku rasa kau tidak ada bedanya dengan sebuah barang berharga miliaran, seharusnya kau bangga bukankah terlalu tinggi harga yang Daffa tawarkan hanya untuk mendapatkan seorang janda?" Cetus Mayang tiba-tiba diantara gaduhnya suasana hati Humairah yang terasa meletup-letup saat ini.


Alangkah nyeri dada Humairah mendengar kata seolah ia adalah barang yang berharga miliaran diantara dua lelaki itu.


"Diam kau!" bentak Alif pada Mayang yang masih tidak jauh darinya berdiri saat ini.


"Aku menikah denganmu karena perjodohan, aku jatuh cinta padamu karena ku pikir memang seharusnya aku mencintai lelaki yang menjadi suamiku sedang sebelumnya aku juga memiliki seorang kekasih, sebulan menikah kau malah memberiku ujian terberat diusia ku yang masih sangat muda ini," ucap Humairah disela tangisnya.


"Kau jahat mas Alif, kau pikir aku mau berbagi? Kau pikir mudah menerima keputusan kau menikah lagi? Jika mau aku bisa saja memilih berpisah saat itu, tapi tidak aku mempertimbangkan banyak hal termasuk perasaan orangtua kita yang mengiringi pernikahan kita dengan doa mereka. Aku memilih berdamai dengan kenyataan bahwa suamiku punya tambatan hati yang lain, aku menerima bukan berarti aku bodoh, bukan pula karena aku takut menjadi janda diumur pernikahan yang baru satu bulan."


"Aku mengalah demi kebaikan kita bersama, biar bagaimanapun aku ini perempuan yang juga punya cita-cita untuk menikah sekali saja seumur hidup, jika bisa aku tidak mau memiliki takdir yang harus menikah berkali-kali karena gagal memaknai sebuah pernikahan."


"Aku sakit mas Alif, aku terluka dalam tapi semua itu ku tepis demi sebuah hubungan yang ku harapkan bisa mencapai sakinah bersama mu meski harus berbagi cinta. Aku belajar banyak dari buku poligami yang ku baca, aku menambah pundi-pundi kesabaran agar aku bisa menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa aku harus berbagi dengan wanita lain, wanita yang kau cintai, wanita yang menguasai mu hingga kau lupa janji untuk bisa adil padaku."


"Sampai rasa ikhlas itu ku temukan, aku seolah mati rasa atas rasa sakit, dadaku mulai lapang, langkahku dalam pernikahan kita mulai ringan, aku mengikhlaskan semua yang terjadi padaku, di usia ini, semuda ini aku mampu mengontrol diriku, dewasa adalah pilihanku, aku menerima dipoligami bukan pula berarti aku bodoh dan tidak punya harga diri."


"Tapi dua minggu lalu kau menyatakan cinta padaku, ku pikir inilah buah dari kesabaranku dalam menunggu cinta suami yang ku dambakan sejak menikah, tapi beberapa saat lalu aku mendengar kenyataan lain, kau hampir menukarku dengan sebuah motor."


"Seperti diawal ku katakan aku menerima dipoligami bukan berarti aku bodoh atau tidak punya harga diri, Allah membenci perceraian tapi jika tidak ada jalan lain maka perceraian boleh kita lakukan, seperti halnya kau mas Alif jika memang tidak bisa mempertahankan dua wanita dalam satu mahligai yang sama maka kau boleh melepaskan salah satunya."


"Jika memang benar kau ingin melepaskanku dan menjadikan dia satu-satunya wanita dalam rumah tanggamu, bukan berarti pula kau harus menukarku layak barang. Aku manusia mas Alif, aku wanita lemah, aku punya perasaan, aku bukan robot."


Humairah berkata panjang kali lebar, hingga Alif dan Daffa tidak mampu menepis apapun yang diucapkan wanita yang kian menangis itu.


"Sayang, kau salah paham aku bisa menjelaskannya Humairah aku mohon, ayo kita bicara baik baik," bujuk Alif meraih lagi tangan Humairah namun lagi-lagi ditepis wanita itu.


"Aku manusia biasa mas Alif, aku juga bisa marah. Aku tidak sebaik yang kau kira. Aku diam bukan berarti aku lemah, aku rela berbagi suami bukan berarti aku bisa dibodohi seperti ini, aku bukan barang aku bukan benda yang bisa kalian perebutkan. Aku tidak bisa pula jika harga diriku diinjak, diinjak suami dan sahabatnya yang ku kira adalah pria baik. Ternyata aku salah."


"Aku bertahan sejauh ini demi kebaikan kita bersama, karena aku percaya bahwa komitmen pernikahan itu adalah memperbaiki bukan mengakhiri, aku memaafkanmu dan menerima dimadu tanpa berpikir untuk bercerai sedikitpun."


"Tapi jika kau ingin mengakhiri juga pernikahan kita tidak dengan cara seperti ini, kau bisa bicara padaku baik baik. Cara ini tidak manusiawi mas Alif aku bukan barang."


"Dan kau perempuan yang tidak punya malu sedikitpun, aku memaafkanmu bukan berarti aku melupakan semuanya, aku memaafkanmu demi kebaikan kita bersama demi kebaikan orangtua kita, suami kita, karena aku tahu aku tidak akan menjadi benar dengan menyalahkanmu."


"Kau pikir aku tidak bisa membalasmu? Itu tidak ku lakukan karena aku bukan orang seperti mu, aku bukan wanita pendendam, aku lebih suka berdamai daripada bermusuhan, tapi ku lihat kau sama sekali tidak memperlihatkan etikat baik padaku, kau malah menginginkan mas Alif sepenuhnya disaat aku menerima mu dengan baik meski apa yang telah kau lakukan itu adalah hal paling jahat dan tidak berperasaan, memisahkan ku dari orangtuaku sejak kecil, merebut suamiku, memberiku obat yang berbahaya."


"Kau seorang kriminal kak Mayang, tapi tidak akan membuatku hidup bahagia dengan membalas perbuatanmu, semoga Allah mengampuni mu."


Tunjuk Humairah memakai jari telunjuknya pada wanita itu tanpa takut dengan emosi yang meledak-ledak.


"Dan kau tahu mas Alif, istri muda mu ini telah memberikan obat berbahaya padaku kemarin, dan kau pria bodoh yang percaya begitu saja padanya bahwa benar itu obat pereda mual, tapi sayangnya aku tidak bodoh kak Mayang, aku bukan mas Alif yang buta padamu, aku tidak sepolos yang kau kira, aku tahu itu adalah obat pemicu kontraksi rahim," ucap Humairah menatap Mayang tajam.


Daffa dan Alif tercengang.


"Humairah apa maksudmu?" tanya Alif.


"Iya mas Alif, kau mendengarku dengan baik. Itu adalah obat yang berbahaya, bisa menggugurkan kandungan, aku tidak bodoh justru berterimakasih padamu kak Mayang, karena obat itu pula aku jadi tahu apa penyebab mual dan muntah yang terjadi padaku."


"Aku rasa kau iri padaku, dan orang iri tanda tak mampu. Iya kau jahat padaku menandakan bahwa kau iri karena tidak bisa sepertiku, kau tidak akan mampu menjadi diriku," sambung Humairah masih menatap Mayang tajam seolah menembus jantung.


Alif mengerutkan kening, sedang Aisyah menggertakkan gigi gerahamnya karena geram Humairah telah berani bicara tanpa takut padanya.


"Sayang apa maksudmu?" tanya Alif lagi, Humairah menatapnya dengan jijik.

__ADS_1


"Kau tidak sayang padaku mas Alif, kau jahat tidak lebih baik dari perempuan ini. Benar kata orang-orang bahwa jodoh itu adalah cerminan diri kita sendiri, dan ku rasa kalian benar-benar berjodoh."


Humairah menarik tangan Mayang dengan kasar lalu mendekatkan wanita itu di samping Alif yang kehilangan kata-kata.


"Karena kalian sama, sama-sama jahat, tidak heran jika kalian pantas bersama."


Lalu memejamkan matanya sejenak, menarik nafas dalam seraya Humairah beristiqhfar dalam hati bahwa ia telah kalap saat ini, berkata kasar dan marah-marah.


"Jika memang ingin menjadikannya satu-satunya istrimu, baiklah mas Alif aku juga tidak bisa harga diriku disamakan dengan sebuah motor, aku tidak mau... Dan kau mas Daffa, tidak akan mendapatkan simpatiku karena hal ini, kau sama jahatnya dengan sahabatmu ini, kau pikir motor berharga mu itu sebanding dengan hatiku? Tidak, kau tidak akan pernah mendapatkannya! Aku berhak untuk tidak mau ditukar dengan apapun dengan lelaki manapun, termasuk kau mas Daffa."


Kembali Daffa menciut, ia malu pada Humairah.


"Kita bisa bercerai dengan cara yang baik, kirim surat perceraiannya ke alamat papa akan ku tandatangani tujuh bulan dari sekarang, karena saat ini aku sedang mengandung. Kita bisa berpisah setelah aku melahirkan nanti!"


Ucapan Humairah mampu menusuk jantung Alif, kata-kata cerai saja mampu membuat Alif gila saat ini apalagi kata-kata mengandung yang baru saja istrinya katakan dengan lantang.


Alif tidak mampu berucap, matanya menggenang lidahnya kelu, itu artinya Humairah tengah hamil saat ini, hamil anak yang ia dambakan dari seorang istri seperti Humairah, buah hatinya, buah cinta yang ia angan-angankan menjadi pelengkap kebahgiaannya bersama Humairah yang ia cintai.


"Sayang apa maksudmu?" Alif lagi-lagi ditepis saat ingin mendekati Humairah.


"Humairah kau hamil? Aku mohon kau salah paham sayang, maafkan aku, ayo kita bicara baik-baik, ini tidak benar, aku tidak akan melepaskanmu bahkan dalam mimpi sekalipun," rayu Alif kembali mendekati Humairah tanpa takut ditepis, wajah tampan yang memelas, matanya berkaca-kaca.


"Jangan sentuh aku!" elak Humairah mulai emosi lagi saat melihat tangan Alif mencoba meraih jemarinya lagi.


"Aku akan pulang, ini makan siangmu!"


Ucapan terakhir Humairah sebelum melangkah pergi meninggalkan keheningan dari tiga orang yang tidak mampu membalas Humairah sedikitpun.


Disusul pula suara dari rantang berbahan steinless menggema jatuh ke lantai hingga memekakkan telinga, Humairah membuang makan siang yang ia bawa tadi dengan sengaja tepat di hadapan suaminya.


Alif melihat Humairah pergi meninggalkannya, ia ingin menyusul namun terhenti saat Daffa menatap Daffa memungut sesuatu dari arah rantang dan makanan yang telah berserakan di lantai.


"Apa itu?" tanya Alif.


Alif melihatnya, kertas yang menampilkan gambar calon bayi yang baru tampak sebesar biji kacang dalam sebuah kantong kehamilan, namun di kertas yang kedua ia melihat gambar yang dicetak dalam posisi janin yang lebih nampak dan dekat, janin yang sudah tampak kaki dan tangannya.


Di gambar USG itu pula terdapat umur kehamilan Humairah yang semula ingin menjadi kejutan untuk suaminya saat membuka rantang bekal makan siangnya kali ini.


"Kehamilan Humairah masuk usia delapan minggu," ucap Daffa setelah membaca keterangan dan kode-kode di gambar USG itu lagi.


Menetes sudah airmata yang menggenang di pelupuk mata yang Alif tahan sejak tadi.


Ia menoleh pada wanita yang membuatnya muak, muak akan keegoisan Aisyah yang terus mendesaknya menceraikan Humairah meski ia telah menjelaskan berkali-kali bahwa ia tidak akan melepas Humairah sampai kapanpun.


"Kau tahu soal ini? Kau memberinya obat apa tadi? Obat pemicu yang bisa gugurkan kandungan? Ckkkk.... Apa yang telah merasukimu? Ya Allah, jika bukan wanita sudah ku bunuh kau Mayang, aku rasa Humairah benar tentang jodoh itu adalah cerminan diri kita sendiri," ucap Alif seraya berjalan ke arah meja kerjanya, membuka lagi laci dan mengambil sebuah map di sana.


"Tapi sayang ada yang perlu diralat dari ucapannya yang mengatakan kita berjodoh, karena kau bukanlah cerminan diriku, tidak sama sekali."


"Ya Siti Aisyah, aku menikahimu dengan cara yang baik. Aku akan melepaskanmu dengan cara yang baik pula, aku memilih Humairah, aku memilih bidadariku, aku tahu maaf tidak akan mengubah apa yang terjadi, tapi dengan bersama kita tidak akan menjadi baik, aku tidak bisa lagi bersama mu."


Aisyah menggeleng, "Tidak Alif aku mohon jangan katakan ini, aku tahu kau marah kau kecewa tapi akan membaik setelah ini, jangan katakan apapun Alif aku tidak mau mendengarnya."


"Aku bahkan sudah memikirkan ini jauh sebelum hari ini terjadi, aku tidak akan menyakitimu lagi, kita sudahi pernikahan yang tidak sehat ini, Humairah benar aku tidak akan menjadi benar jika hanya menyalahkanmu. Semoga Allah mengampuni apa yang telah kau perbuat, aku tidak ingin menjadi jahat pula dengan menghabisimu meski aku ingin sekali membunuhmu."


"Saat ini aku mengatakannya dengan sadar, dengan pikiran dan hati yang terbuka, Bismillah...... Siti Aisyah, aku menjatuhkan talak satu padamu. Aku melapasmu dari status istriku, ini surat gugatan cerai dariku, biar semuanya menjadi urusan pengadilan nanti."


Daffa tercengang, ia tidak menyangka akan seperti ini.


"Tidak, Alif kau bercanda bukan?" Aisyah mulai menangis histeris, ia bahkan menarik lengan Alif agar lelaki itu melihat ke arahnya.


"Apa semudah ini kau menceraikanku demi perempuan itu? Aku tidak mau Alif, kita tidak akan berpisah. Tidak akan!"


"Terserah padamu, kita bukan suami istri lagi. Daffa bisa kau membantuku mengantarkan Aisyah pulang, aku akan menyusul Humairah."

__ADS_1


Daffa mengangguk, namun Aisyah dengan histeris memohon dan meminta agar Alif tidak meninggalkannya, ia mencegah Alif pergi namun Daffa menahannya.


"Pergilah susul istrimu, biar wanita ini menjadi urusanku!" ucap Daffa pada Alif, entah mengapa mereka mencair begitu saja, Daffa tahu sekarang Alif benar-benar telah berubah.


Aisyah meronta saat Daffa memeganginya, ia menjadi sangat marah saat matanya melihat map berisi surat perceraian, terlebih matanya juga menjadi panas saat melihat kertas hasil USG di tangan Alif saat ini, ia tiba-tiba mengamuk mengibaskan apa yang ada di atas meja kerja Alif.


Membuat Alif terhenti langkahnya, ia menoleh pada Aisyah yang mengamuk seperti kehilangan akal, lalu mendekatinya berlutut memohon.


"Aku mohon Alif, jangan tinggalkan aku sayang.... kita hanya terlibat salah paham, aku tidak mau kita berpisah, maafkan aku sayang.... Jangan tinggalkan aku Alif, aku mohon," ucap Aisyah berlutut menangis sesegukan.


"Itu tidak mengubah apapun," jawab Alif menahan amarahnya.


Masih saja Aisyah memohon, "Baiklah, aku rela berbagi, aku akan menerima Humairah jika itu yang kau mau asal kau tidak meninggalkan ku, kita akan seperti biasa, aku berjanji Alif aku akan menerima Humairah."


"Aku mencintai Humairah, Aisyah Humairah saja. Ini tidak lagi masalah berbagi, bukan lagi masalah poligami tapi masalah hati dan perasaan. Aku mencintainya, Humairah mengajarkan ku bahwa tidak ada angka dua dalam cinta. Maafkan aku Aisyah, hiduplah dengan baik, kita akan terbiasa nantinya."


Alif berjalan menjauh berniat keluar dari sana dan pulang menyusul Aisyahnya, istri yang tengah mengandung yang akan ia jaga yang akan ia bujuk untuk memaafkannya.


"Dari kejadian ini aku sadar bahwa seharusnya kita tidak perlu memperebutkan hati yang bahkan kita telah tahu siapa pemiliknya sejak awal," sahut Daffa menyesal atas apa yang telah ia lakukan.


Aisyah menatap Daffa tidak percaya, ia menjadi bertambah marah saat Daffa seperti ingin mengalah.


Wanita itu meraih sebuah pulpen dari meja Alif yang tersisa, ia mengancam akan menusuk lehernya.


"Aku akan bunuh diri jika kau masih ingin meninggalkanku! Aku akan menyakiti diriku sendiri jika kau berani keluar dari sini!" teriak. Aisyah.


"Aisyah jangan konyol," cegah Daffa namun Aisyah tidak menghiraukan.


Alif kembali terhenti langkahnya, ia berbalik badan menghadap mereka lagi seraya berkata dengan wajah dingin.


"Aku tidak peduli."


"Alif, aku tidak bermain-main."


"Bukankah itu bagus, jadi aku tidak perlu membunuh wanita yang tega mencoba menghilangkan hak calon anakku untuk hidup dan lahir, kau hampir membunuh janin yang tidak bersalah Aisyah, jangan kira aku memaafkan mu tentang itu."


"Aku benar-benar akan mati," teriak Aisyah lagi.


"Aku tidak peduli."


"Aisyah jangan bodoh, kemarikan pulpen itu," pinta Daffa yang mulai cemas melihat wanita itu tidak sedang bermain main.


"Aku akan mati daripada harus berpisah dari suamiku, aku mendapatkannya susah payah aku tidak bisa melihat Humairah menang dariku."


"Ayolah jangan konyol, Alif?" Daffa menatap Alif seakan bertanya.


Alif menggeleng, ia melihat gambar USG calon buah hatinya sejenak lalu berkata lagi, "Aku tidak peduli, jika dia mati tolong bawa dia keluar dari kantor ku, aku akan pergi sekarang."


Daffa menghembus napas kasar saat Alif benar-benar telah hilang di balik pintu. Ia menoleh pada Aisyah dengan tatapan kesal, wanita itu menangis sesegukan melihat Alif tidak peduli padanya meski ia mati sekalipun.


"Aku akan bunuh diri Daffa, kau lihat saja."


"Huh, aku rasa kau sudah gila. Kau seorang dokter yang butuh dokter. Seperti Alif, aku juga tidak akan peduli, aku tidak ingin menjadi saksi aksi bunuh diri konyol ini, aku juga mencintai Humairah namun tidak pula membuatku gila seperti mu."


"Aku rasa kau butuh satu hal, iman.... Aku rasa kau tidak punya iman."


Daffa berkata enteng seraya ikut pergi dari sana, meninggalkan perempuan yang memang sudah gila.


###


episode terpanjang sepanjang sejarah.... Jangan lupa like dan komen yang ramai yaaaa saya persilahkan.....


biar puas ga mutus mutusssss

__ADS_1


__ADS_2