"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 25


__ADS_3

Humairah tersenyum lagi, ia tahu Alif mulai cemburu pada sahabatnya.


"Mari tidur, aku mengantuk!" ajak Humairah yang semakin meringkuk dalam dekapan suaminya, senyumnya tidak memudar meski matanya mulai terpejam, alangkah bahagianya Humairah malam ini, pertama kali ia merasakan dekapan penuh cinta dari seorang suami yang mencintai wanita lain selama ini, namun sekarang dekapan itu tercipta untuknya.


"Hei, kita belum selesai bicara!" sanggah Alif.


Hening.


"Sayang?" Alif melirik ke arah wajah Humairah yang telah memejamkan mata dalam kungkungan lengan besarnya, lelaki itu tersenyum lalu mencium wajah istrinya dengan gemas.


"Mas Alif," rengek Humairah yang semakin mengantuk, ia terganggu.


"Kau membuatku gemas sayang," ucap Alif hampir menggigit dagu Humairah.


Membuat Humairah kembali membuka matanya yang telah menyipit, "Aku mencintaimu mas Alif, aku harap ini bukan mimpi."


"Aku bahkan lebih mencintaimu Humairah, aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun, aku juga tidak akan melewatkan bidadariku lagi setelah ini, tidurlah sayang. Mimpi yang indah!" seru Alif seraya mengecup kening Humairah cukup lama, mereka mengeratkan pelukan, Humairah bisa tidur dengan nyaman dalam dekapan suaminya, suami yang mulai mencintainya.


Alif berkata dengan penuh perasaan, ia bahkan tidak pernah berkata demikian dalamnya pada Aisyah sekalipun. Namun dengan Humairah, ia bahkan sulit menggambarkan perasaannya yang terlalu dalam untuk diungkapkan, Alif merasakannya sekarang, betapa berharganya seorang Humairah baginya, tidak akan ia jumpai lagi istri yang semacam ini.


Diumur Humairah yang masih sangat muda ia mampu bersikap dewasa meski pernikahan ini sungguh berat baginya, namun sama sekali ia tidak menyerah untuk bisa tetap bersama dalam mahligai yang sama meski harus berbagi cinta dengan wanita lain dan diabaikan dalam waktu yang lama.


****


Pagipun bergulir, Alif menghadap cermin. Ia tengah bersiap mengancingkan kemeja kerjanya, wajahnya cerah secerah mentari pagi ini.


Hatinya kian berbunga saat mendapati pantulan bayangan istrinya datang dari arah belakang, Humairah menghampirinya dengan senyuman tulus seorang istri pertama.


Alif segera berbalik badan, menyambut Humairah yang juga telah rapi.


"Bisa ku bantu?" tawar Humairah.


"Dengan senang hati sayang," jawab Alif memberikan pada Humairah agar mengancingkan kemejanya yang tersisa beberapa kancing.


"Selain ke kampus, kau akan kemana lagi?" tanya Alif sambil membelai wajah sang istri yang fokus dengan kancing kemeja.


"Mungkin akan ke suatu tempat."


Alif mengernyitkan dahinya.


"Dimana itu?"


"Mas Alif akan tahu nanti, aku berniat ke sana bersama mu.... Tapi, itupun jika kau mau dan tidak sibuk, aku rasa disana kita bisa sejenak kembali ke masa lalu, bernostalgia tidak ada salahnya kan?" jawab Humairah yang telah selesai mengancingkan kemeja Alif yang melekat sempurna di tubuh kekarnya.


"Apa ini semacam teka teki? Apa maksudmu dengan bernostalgia?"


"Itu rahasia, kau akan mengetahuinya nanti. Yang terpenting sekarang adalah kau punya waktu pergi bersamaku atau tidak?" tanya balik Humairah dengan senyuman yang tidak pudar sejak semalam.


"Tentu saja aku ada waktu, apapun untukmu!" jawab Alif mengecup puncak kepala istrinya yang telah mengenakan jilbab yang senada dengan outfitnya hari ini.

__ADS_1


Lama Alif memperhatikan penampilan Humairah, "Kau memang seperti seorang mahasiswa yang masih gadis," ucap Alif kagum.


"Iya, lagi pula tidak ada yang tahu aku sudah menikah selain Aji dan Lola."


Alif terdiam, Humairah terkekeh melihat raut suaminya.


"Aku hanya bercanda, jangan dipikirkan."


Alif menggeleng, "Kau benar, maafkan aku soal ini. Beri aku waktu untuk menyiapkan segalanya," balas Alif dengan nada ambigu.


"Apa mas Alif mulai memikirkan untuk go publik tentang keberadaan istri pertamamu ini?" tanya Humairah bercanda.


Alif diam, namun ia mengangguk.


"Aku akan mengumumkan pernikahan kita jika waktunya tepat, aku juga tidak ingin kau hidup dengan identitas tersembunyi, kau istriku... Istri Alif Zayyan Pratama."


"Sayang aku hanya bercanda, lagi pula semua tahu tentang kak Aisyah jangan membuat keadaanmu jadi sulit, kau akan mendapatkan banyak cibiran nanti apalagi dari kaum anti poligami, pikirkan status sosialmu. Kau bukan orang sembarangan, aku tidak masalah dengan semua ini," jawab Humairah.


"Aku tidak peduli, aku tidak ingin menyembunyikan istri pertama ku lagi, aku tidak melakukan itu lagi Humairah, bersabarlah aku akan mengatur waktu yang tepat untuk kita," kata Alif dengan wajah serius.


Humairah menggeleng, "Bagiku itu tidak lagi penting mas Alif, yang ku inginkan hanya hatimu, kau menghargaiku dan menganggap ku ada dalam pernikahan ini, menempatkanku dengan posisi yang sama dengan kak Aisyah di belahan hatimu yang lain, dan kau akan berlaku adil setelah ini seperti janjimu sebelumnya, itu lebih dari apapun, tidak masalah orang lain menganggap ku bukan siapa-siapa bagimu. Selagi aku bisa menjaga diri dan kehormatan sebagai istri kenapa tidak, ini bukan hal sepele apalagi orang kantor tidak ada yang mengetahui kau punya dua istri."


Alif menatap Humairah dengan mata yang hampir basah, ia dekap lagi tubuh mungil istrinya itu dengan erat.


"Mas Alif? Ayolah sayang kenapa jadi cengeng pagi-pagi," cetus Humairah ketika mendapati suaminya menangis saat ini.


"Aku benar-benar menyesal telah melakukan semua ini, aku menyesal Humairah. Aku memang lelaki yang buruk, jangan tinggalkan aku Humairah, aku mohon tetaplah bersamaku," lirih Alif dengan suara terisak.


"Ya ampun, kita akan berangkat sayang, ayo hentikan. Berhenti menyesali apa yang terjadi, aku sudah ikhlas lagi pula kita sepakat untuk memperbaikinya bukan? Ayolah aku baru saja merasa bahagia sejak semalam, aku tidak mau merusak hari-hari berikutnya dengan sebuah tangis, suamiku ini sudah membalas cintaku tidak ada hal lain yang lebih dari ini ku harapkan," ucap Humairah menengadahkan wajahnya menghadap Alif.


"Aku mencintaimu Aisyah Humairah, berjanjilah kau tidak akan meninggalkan ku?"


Humairah tersenyum geli, "Memangnya aku mau meninggalkan mas Alif kemana? Aku hanya ke kampus," jawab Humairah mengelap airmata Alif dengan tangan cantiknya.


"Berhenti menangis, apa mau ku abadikan momen ini? Mas Alif lucu ketika menangis, jangan buat aku tertawa, tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain dicintai suami sendiri, aku memaafkan mu sungguh, jangan bicara seperti itu lagi, kita akan memulai lagi dari awal."


Humairah ingin sekali tertawa, namun ia tidak tega. Alif benar-benar seperti anak kecil, menangis hingga tersedu sedan.


"Mas Alif, ayolah kita mau berangkat atau tidak?"


Alif menggeleng.


"Jangan bercanda, aku harus bertemu pembimbing sesuai janji," kilah Humairah yang tengah melihat jam di pergelangan tangannya.


"Aku tidak mau berpisah," jawab Alif serius.


"Ya Allah..... Berpisah apa mas Alif? Jangan bicara yang aneh-aneh."


"Maksudku, kita tidak akan keluar rumah hari ini!"

__ADS_1


"Apa? Sayang jangan bercanda, kau akan ke kantor dan aku akan ke kampus sesuai rencana. Huh..... Kenapa jadi seperti ini?" gumam Humairah seraya mencium gemas bibir suaminya.


Alif diam, ia memeluk Humairah lagi.


"Mas Alif?"


"Tidak mau."


"Huh, baiklah kita akan mengurung diri di rumah hari ini tapi bagaimana jika kak Aisyah pulang dan meminta kau bersamanya? Bukankah aku juga akan ditinggal?"


"Aku tidak peduli, ponselku sudah ku matikan," jawab Alif enteng.


Humairah memukul dada suaminya dengan kesal.


"Enak saja, tentu kau harus adil pada kami berdua. Jika dia pulang dari luar kota tentu kau harus pulang kesana, kecuali jika kau memilih satu diantara kami, huh ternyata repot juga jadi dirimu mas," canda Humairah.


Alif terdiam, "Aku memilihmu Humairah," gumam Alif dalam hati.


"Oke baiklah, hentikan drama ini ayo berangkat sebelum pakaian kita kusut!" ajak Humairah lagi.


"Tidak, kita tidak akan kemana-mana!" jawab Alif yang segera menggendong istrinya menuju balkon yang terdapat di kamar mereka.


"Mas Alif?" rengek Humairah, ia sudah berjanji dengan dosen pembimbing skripsinya, tidak mudah bertemu sang dosen super sibuk itu selain hari ini.


"Tidak, kau tidak boleh bertemu siapapun hari ini!" jawab Alif mengecup bibir Humairah yang tengah memasang wajah kesal.


"Huh... Kenapa suamiku jadi posesif seperti ini?"


"Karena aku mencintaimu," kilah Alif saat mereka telah sampai balkon, ia duduk di kursi namun tidak melepas Humairah yang ikut duduk dipangkuannya.


Humairah tersenyum, Alif mencintainya, itu lebih dari apapun sekarang.


"Apa kita hanya akan duduk di sini?"


"Memangnya kau mau bercinta di area terbuka?" goda Alif, Humairah terkekeh ia merasa lucu.


"Dengan wajah habis menangis seperti ini mas Alif bisa-bisanya bicara hal mesum."


"Apa kau ingin aku menangis lagi?"


Humairah semakin tertawa, "Oh aku punya bayi sekarang," kekeh Humairah.


"Bicara tentang bayi, bagaimana jika kita menginap di hotel nanti malam? Kita buat bayi di sana."


"Sayang ayolah jangan bercanda," kilah Humairah.


"Aku serius, biar kita cepat punya anak."


"Aku bahagia bersama mu mas Alif dimana pun itu, tidak mesti di hotel, tentang anak kita serahkan semuanya pada yang maha kuasa, aku siap mengandung keturunan mu, kapan pun kesempatan itu diberikan, aku akan siap!" ucap Humairah membelai wajah suaminya.

__ADS_1


"Aku bahagia bersama mu Humairah, sekarang aku mengerti pilihan mama tidak pernah salah, tentang kesalahanku padamu, percayalah aku akan menyesalinya seumur hidup."


__ADS_2