"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 12


__ADS_3

"Padamu pemilik hati yang tak pernah ku miliki, yang hadir sebagai bagian dari kisah hidupku. (Kekasih Bayangan, Cakra Khan)"


Humairah memandang langit luas yang tampak tak bertepi, bintang bertaburan menemani sang purnama yang mengembang sempurna. Hembusan angin menerpa wajah cantiknya yang telah dipoles riasan sederhana dengan gincu merah muda mewarnai bibir tipis milik Humairah.


Senyumnya getir disaat mengingat seorang suami yang ia harapkan datang mencegahnya pergi ke pesta malam ini, atau mungkin seorang suami yang akan menemaninya untuk menghadiri acara pesta ulang tahun salah satu teman les pianonya yang baru ia kenal dua minggu yang lalu.


Humairah telah bersiap dengan dress muslimahnya yang berwarna biru muda terdapat aksen mutiara di beberapa bagian dada hingga tangannya, dipadu dengan kerudung yang berwarna senada, tas kecil sudah ia sandang di bahu hanya tinggal menunggu sang taksi online menjemputnya.


Lama Humairah bermain rumput dengan kaki yang terbungkus heels berwarna transfaran yang menjadi hantaran pernikahan dari pihak Alif ketika meminangnya dua bulan lalu.


Sempat mengurungkan niat untuk pergi namun Rina sang teman baru lebih dulu menghubunginya mengingatkan kembali acara tersebut.


Menarik napas dalam, Humairah tahu ini malam minggu, dimana sang suami tengah bermalam panjang dengan madunya menikmati malam yang sangat dinanti para pasangan muda.


Terlihat dari postingan sosial media Aisyah, bahwa Alif membawanya makan malam romantis di sebuah restoran tepi pantai.


"Baiklah, bukankah aku juga akan bermalam minggu dengan teman baruku? Tidak seharusnya aku merubah dandananku menjadi wanita sedih, akan banyak orang menertawakanku nantinya, tidak perlu mengumbar pada dunia bahwa aku hanyalah istri bayangan bagi suamiku"


"Hidup tidak sesingkat itu Humairah, bersemangatlah," gumam Humairah menyemangati dirinya sendiri dengan berkaca pada kamera ponselnya melihat penampilannya lagi.


Tidak lupa pula Humairah mengembangkan senyum seraya memejamkan satu matanya menghadap kamera depan ponsel itu sambil menekan layar untuk mengabadikan wajah imutnya malam ini.


Lalu Humairah membagikannya di laman Instagram dan Facebooknya, bukan rahasia bahwa Humairah sering dan suka membagikan momen bahagianya di sosial media layak anak muda lainnya, ia juga mempunyai banyak pengikut karena Humairah sering membagikan tips-tips merias wajah yang telah banyak ditonton para penikmat dunia maya.


Terlebih Humairah cukup menjadi idola di kampusnya, selain pintar dan cantik gadis itu dikenal humble pada semua teman ditambah semua mengenalnya sebagai kekasih dari presiden Badan Eksekutif Mahasiswa kampus ungu, Rasya.


Tidak ada yang tahu bahwa perempuan itu tengah menjalani cobaan terberat dalam hidupnya, dinikahi tanpa memberitahu banyak orang, dimadu lalu tidak diacuhkan seperti sekarang.


"Nona Humairah?" tiba-tiba terdengar suara seorang pria setengah baya memanggilnya dari luar pagar rumahnya.


Humairah menoleh, lalu ia berdiri dan berjalan mendekat, "Benar, apa bapak taksi pesananku?"


Pria itu mengangguk, "Iya nona, saya sopir taksi pesanan nona tadi maaf telat jalan cukup ramai, ayo silahkan!" ajak bapak itu sopan setelah Humairah membuka pintu pagarnya.


Dan merekapun berlalu menuju sebuah pesta yang diadakan secara privat di salah satu restoran ternama.


Humairah tampak berjalan canggung, ia tidak menyangka jika pesta ulang tahun bisa seramai ini, ia menepuk keningnya sendiri baru teringat bahwa Rina adalah mahasiswa dari universitas yang berbeda dengannya. Tentu Rina mengundang teman sekelasnya juga di sana.


Seorang pria bersuara berat memanggilnya dari arah samping, ia menoleh dan tersenyum.


"Mas Daffa juga datang? Katanya tidak sempat tapi apa ini kau datang lebih dulu dariku?" Sapa Humairah tanpa canggung.


Daffa terkekeh, ia menatap Humairah tidak berkedip.


"Iya, awalnya tidak sempat tapi inilah aku yang bahkan sudah dari tadi mencarimu," jawab Daffa tersenyum lagi yang menampilkan giginya yang berderet rapi.


"Benarkah? Oh maaf, aku baru datang karena taksi yang ku pesan terjebak macet cukup lama. Baiklah, apa mas Daffa tidak lelah berdiri?"

__ADS_1


Mereka saling melempar senyum, lalu memutuskan bergabung dengan teman les yang mereka kenal menikmati makanan yang tersedia sebelum beramai-ramai menyanyikan lagu ulang tahun dan menikmati pesta dengan kebersamaan sebagai teman yang baru saling mengenal.


Humairah terlarut dalam kebersamaan, ia merasa sedang di dunia yang berbeda, di sana semua teman baru, wajah baru, tempat baru, yang belum pernah Humairah kunjungi sebelumnya, bergabung dengan para wanita dan pria dari kalangan berada, tidak ada yang tahu bahwa Humairah adalah perempuan dari keluarga sederhana.


Sampai pada Rina meminta Daffa untuk memainkan piano sambil bernyanyi, gadis itu sudah menaruh hati pada dokter tampan tersebut saat pertama mengikuti les piano.


Daffa maju tanpa berpikir panjang, ia pikir kapan lagi menunjukkan kebolehannya dalam bernyanyi di hadapan Humairah, entahlah kenapa ia bersemangat untuk melakukan itu.


Jari-jari ramping milik seorang dokter tampan yang terbiasa menangani pasien di rumah sakit itu telah mulai memainkan tuts tuts piano dengan indahnya. Semua hening, menunggu sang pemilik tubuh itu mulai mengeluarkan suara melalui mic yang melekat di sana.


Dengan percaya diri Daffa menegakkan tubuhnya menatap Humairah, ia pun belum bisa mengartikannya kenapa ia begitu bersemangat ingin pamer saat ini. Humairah tersenyum padanya. Daffa mulai bernyanyi.


Hembusan angin meniup wajah alam....


Mataku tak berkedip menatap langit....


Terlalu luas tak bertepi pandang....


Bisakah aku menyentuh awan....


Berwaktu-waktu aku mengasuh rasa....


Mendengarkan jiwaku berkata-kata....


Tak mungkin aku abaikan kata hati....


Kuharus jujur pada hatiku....


Kau dan aku tak bisa bersama....


Bagai syair lagu tak berirama....


Senyumku melepaskan kau pergi....


Engkau bukanlah sebuah kesalahan....


Tak pernah aku menyesal mengenalmu....


Tapi biarkanlah aku terbang bebas....


Mencari cinta sejati....


Berwaktu-waktu aku mengasuh rasa....


Mendengarkan jiwaku berkata-kata....


Tak mungkin aku abaikan kata hati....

__ADS_1


Kuharus jujur pada hatiku....


Kau dan aku tak bisa bersama....


Bagai syair lagu tak berirama....


Senyumku melepaskan kau pergi....


Humairah menatap penampilan memukau Daffa tanpa berkedip, bukan hanya kepandaian pria itu bermain piano secara sempurna namun juga dalam hal menyanyikan lagu milik Cakra Khan berjudul Mencari Cinta Sejati itulah membuat Humairah bertambah kagum pada sahabat suaminya ini.


Kagum Humairah sangat kagum pada Daffa, terlebih Humairah menyukai pria dengan suara bagus dan pandai bermain alat musik, ia teringat Rasya sang mantan kekasih yang ia putuskan saat memilih menerima perjodohan dengan Alif beberapa waktu lalu.


Tepuk tangan menggema membuyarkan lamunan Humairah, ia ikut bertepuk tangan sambil tersenyum pada Daffa yang berjalan mendekatinya.


"Apa kau terpesona padaku?" tanya Daffa terkekeh melihat raut Humairah.


"Aku sangat kagum, mas Daffa sudah seperti seorang Anang Hermansyah," jawab Humairah tertawa pelan.


"Apa kau mengejekku, tidakkah kau merasa aku lebih keren?"


"Iya iya yang tadi itu keren sekali, aku tidak menyangka dibalik wajah pak dokter yang biasa mengobati pasien ini ternyata bisa juga menjadi Ahmad Dhani."


"Bukankah Ahmad Dhani lebih cocok kau sandingkan dengan suamimu?"


Humairah tertawa, "Oh aku tersindir," jawab Humairah tertawa lagi. Daffa menikmati wajah ceria Humairah malam ini seakan tanpa beban.


"Kau sudah mahir mas, kenapa repot ikut les lagi?"


"Aku sama denganmu, ingin mengasah dan belajar lagi tentang alat musik itu. Aku belum sepandai yang kau kira."


Tanpa mereka sadari Rina menatap keduanya yang berinteraksi sangat akrab, Rina merasa didahului oleh Humairah, ia tidak mengetahui bahwa teman barunya itu telah menikah, oleh karenanya ia pikir Humairah sengaja mendekati Daffa di sana.


Humairah dan Daffa mendekati Rina berniat pamit pulang karena Humairah tidak ingin pulang terlalu larut.


Saat mendekati Rina yang berdiri di samping kue ulang tahunnya yang besar bergambar karakter idolanya anggota boyband asal negeri gingseng BTS, iya Rina adalah salah satu Army.


"Rin, maaf aku tidak bisa lama. Rumahku jauh takut kena macet. Sekali lagi selamat ulang tahun, aku mendoakan yang terbaik untukmu," ucap Humairah memberi pelukan dan selamat pada Rina untuk yang kedua kalinya setelah ia datang tadi.


Rina tersenyum sungging, entah kenapa ia jadi tidak menyukai Humairah karena melihat kedekatan wanita itu dengan Daffa tadi.


"Iya, terimakasih sudah datang," jawab Rina datar.


Humairah merasa aneh, Rina tidak seramah ia ketika datang. Rina bertambah buruk moodnya saat Daffa juga menyusul Humairah untuk pamit pulang.


Baru beberapa langkah Humairah merasa tersangkut heelnya pada alas meja yang menjuntai ke lantai tempat kue ulang tahun berada. Rina melihat itu mengambil kesempatan pada Humairah yang tampak telah tersungkur, ia menyenggol kue ulang tahun itu agar ikut jatuh menimpa Humairah.


Benar saja semua terjadi begitu cepat, Humairah memejamkan matanya sesaat merasakan dadanya tertimpa kue ulang tahun saat ia mencoba untuk berdiri.

__ADS_1


"Humairah," ucap Daffa terkejut, saat ia kembali dari toilet.


Semua mata melihat pada perempuan malang itu.


__ADS_2