"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 46


__ADS_3

Semua terjadi begitu cepat, Humairah terseok seok mengeret kakinya menuju ayah Ihsan yang telah berlumur darah demi menyelamatkannya dari cekikan Mayang.


Ibu Aini menangis histeris mendapati suaminya tergeletak tanpa nyawa, Mayang pelakunya perempuan yang masih tidak berhenti terkekeh sambil menangis itu masih menyeringai mengerikan karena puas berhasil melepaskan tiga peluru yang tepat mengenai dada kiri sang ayah tiri yang telah mendorongnya menjauh ketika mencekik Humairah.


"Kau benar-benar psikopat," tunjuk Humairah marah setelah mencoba membangunkan ayahnya berulang kali.


Namun lagi-lagi Mayang tertawa, "Sudah ku katakan, dialah orang pertama yang ingin ku bunuh! Selanjutnya kita Humairah..... Kita akan mati dengan dua peluru yang tersisa, biar ibu menyaksikan dua putri sekaligus suaminya mati di depan mata kepalanya sendiri, biar ibu menjadi gila karena semua ini terjadi karenanya."


Ibu Aini menatap Mayang dengan tatapan marah sekaligus luka, ia bahkan kehilangan kata-kata menghadapi anak perempuannya sendiri.


"Papa Imran pun akan mati perlahan, kau tidak tahu bukan jika papa menderita sakit jantung? Kematianmu akan membawa nyeri hebat pada dada kirinya, sakit yang menjalar ke punggung hingga membuatnya sulit bernapas saat menyaksikan putri kesayangannya ini mati untuk kedua kalinya, dulu kau hampir dianggap mati namun papa percaya kau akan pulang suatu saat, namun kali ini dia akan tahu pula bahwa kau benar-benar telah tiada setelah hari ini."


Humairah merasa geram namun perlawanannya terasa sia-sia dari tenaga yang Mayang miliki, lehernya masih sangat sakit akibat cekikan Mayang tadi, ia tidak mengira bahwa wanita itu memang bengis dan kejam, mencekik seperti ingin membunuh, seperti kerasukan setan hingga Humairah hampir kehilangan nyawa jika ayah Ihsan tidak mendorong Mayang ketika lelaki paruh baya itu pulang, belum lagi kaki Humairah sakit tertimpa meja.


Semua tampak kacau, ibu Aini pun telah tersungkur dengan luka lebam di keningnya, entah sejak kapan Mayang melepaskan tembakan, namun bukan sekali melainkan tiga kali hingga ayah Ihsan tidak mampu bersuara lagi ketika peluru menembus dadanya.


"Ayah, bangunlah aku mohon..." Humairah menangisi ayahnya yang terbujur kaku, pucat pasih tidak ada rona di wajah lelaki itu lagi selain warna percikan darah yang berasal dari dada.


"Kau memang gila Mayang, kau gila," lirih ibu Aini dengan tangis pilunya, suaranya parau akibat tangis dan rasa marah bercampur aduk hingga ia menjadi lemas sendiri saat menyentuh tangan suaminya yang tidak bergerak sama sekali.


"Iya, aku gila.... Gila karena wanita ini, wanita yang merebut semua kebahagiaanku, merebut ibuku, merebut lelaki ku, merebut papaku juga, kaulah sumber segalanya Humairah, Aisyah Humairah sialan, kau pantas mati!"


Mayang tertawa kecil lalu menodongkan pistol ke kepala Humairah yang masih tergugu menangisi kepergian ayah Ihsan.


Jantungnya berdebar kencang, ia benar-benar ciut saat pistol tepat mengarah ke kepalanya saat ini.


"Kenapa? Apa kau takut mati? Jangan bermain-main denganku Humairah, aku bisa menarik pelatuknya saat ini juga. Ayahmu telah mati, sekarang kau ku beri waktu untuk berpamitan dengan ibumu tersayang ini," ucap Mayang yang berdiri tegak tepat di samping Humairah.


"Mungkin hukuman matipun tidak akan cukup untukmu Mayang, kau gila dan kejam. Lepaskan Humairah, aku mohon lepaskan dia.... Kau boleh membunuhku saja sebagai gantinya," ucap ibu Aini membuat penawaran disela tangisnya.


"Tidak, ibu tidak boleh mati secepat ini. Ibu harus melihat kami mati bersama hari ini, tidak ada yang memiliki papa Imran, tidak ada yang memiliki ibu, tidak ada yang memiliki Alif. Kami akan mati dengan dua peluru ini, ibu akan gila, papa dan Alif juga akan gila, bukankah itu menyenangkan?"


Humairah memejamkan matanya takut, saat Mayang memain-mainkan pistol di keningnya. Dadanya naik turun, ia begitu takut. Bukan takut untuk mati namun lebih takut saat ia menyadari belum banyak persiapan saat harus menemui sang pencipta nantinya.


"Tidak, hentikan Mayang jangan Humairah ibu mohon, biarkan Humairah pergi dari sini. Ini urusan kita, bukankah kau bilang ibu yang salah padamu, ibu yang paling bersalah dalam hal ini, ayo silahkan kau bunuh saja ibu jangan Humairah. Ibu mohon Mayang, biarkan Humairah pergi," lirih ibu Aini yang beranjak dari jasad suaminya lalu berlutut memohon pada wanita yang masih tidak bergeming dari tempatnya berdiri itu.


Bagaimana mereka tidak takut pada Mayang, wanita itu mengamuk menghancurkan segala isi rumah dengan tongkat baseball yang ia dapatkan dari sudut rumah. Menjambak Humairah hingga terlepas hijabnya, rambut panjang Humairah terburai lalu menyeret pula perempuan yang bertubuh kecil darinya itu ke dinding kemudian mencekik Humairah hingga tidak bisa bernafas, Mayang benar-benar layak sedang kerasukan setan.

__ADS_1


Hidung Humairah pun tampak keluar darah akibat pukulan. Namun berhenti saat ayah Ihsan mendorongnya dengan kuat hingga menjauh barulah Humairah mencari nyawa namun belum juga bernapas dengan lapang tiba-tiba terdengar pula suara tembakan menggema mengarah pada dada ayahnya. Humairah berteriak, ia ingin mencegah namun Mayang lebih dulu menendang sebuah meja berbahan kayu jati di samping Humairah hingga kakinya tertimpa.


Tembakan ketiga membuat ayah Ihsan benar-benar kehilangan nyawa tanpa bisa berkata-kata lagi.


Sampai saat ini, ketakutan mencekam perasaan Humairah, rentetan kejadian mengerikan yang ia alami beberapa saat ini membuat kepalanya pusing. Wajah Mayang yang mengerikan, seperti iblis yang siap menerkamnya. Tertawa, menangis, tertawa lalu menangis lagi namun tidak juga melepas pistol yang telah menghilangkan satu nyawa itu.


Mendadak lemas tangan Humairah yang berniat ingin melawan, tubuhnya seperti kehilangan tenaga, belum lagi saat matanya mengarah pada sang ayah yang tidak bergerak sama sekali.


Kepalanya pusing, dadanya gugup bukan main, ia ingin pingsan rasanya, ingin muntah ada pula, tenggorokannya yang masih terasa sakit akibat cekikan iblis wanita itu membuat Humairah merasa betapa lemahnya ia, tangannya gemetar ketakutan. Takut sekali, ia tidak tahu mungkin saja ini adalah hari terakhirnya di dunia melihat gelagat Mayang yang memang seperti ingin membunuhnya dengan keji.


Saat itu pula terdengar suara berat seorang lelaki, Humairah menoleh pada pria yang berlari ke arahnya namun berhenti saat menyadari sesuatu.


"Mas Alif."


"Humairah," teriak Alif lalu mundur lagi saat Mayang tersenyum padanya dengan menaikkan satu alisnya lalu melirik Humairah yang masih dalam ketakutan yang besar sebab pistol belum juga menjauh dari kepalanya.


"Bagus, kebetulan sekali kau datang Alif ku sayang....."


"Hentikan kegilaan ini Aisyah, ayo kita bicara.... Kita bisa bicara berdua, kemarilah pegang tanganku ayo kita bicara baik-baik di luar, aku mohon jauhkan senjata itu dari Humairah," bujuk Alif mengulurkan tangannya.


Alif datang setelah mendapat telepon papa Imran yang mana sopir yang mengantar Humairah lah yang memberitahu duluan karena sang sopir telah kabur karena ketakutan.


Mayang menatap Alif dengan raut penuh arti.


"Satu kata untuk Humairah?" cetus Mayang lagi.


"Cinta," jawab Alif pasti, ia melirik Humairah yang mulai mencari cara untuk lari dibantu ibu Aini sedang Alif meladeni wanita gila itu.


"Satu kata untukku?" tanya Mayang lagi, kali ini dengan tatapan memelas, mata sedih yang tampak mengerikan.


"Iblis," kata Alif tanpa ragu.


"Kau penyesalan terbesar dalam hidupku, kau adalah hal yang ingin sekali ku hapus dari ingatanku, jangan menyalahkan siapapun atas yang terjadi padamu, kau seperti tidak punya Tuhan saja, tidak semua hal bisa sejalan dengan kehendakmu."


"Kita tidak bisa memilih ingin terlahir sebagai anak siapa, kenapa menyalahkan ibu yang telah melahirkan mu, kenapa pula menyalahkan Humairah yang sejatinya dialah yang paling dirugikan atas ulahmu. Kau tidak mengenal rasa syukur, tidak tahu berterimakasih. Humairah memaafkanmu dengan mudah kau malah berbuat demikian, jika ingin mati mati saja sendiri jangan membunuh orang lain untuk ikut dengan kegilaan mu."


Alif berkata lantang dan mulai sedikit lega saat Humairah menjauh dari senjata mematikan itu, namun Mayang tidaklah bodoh, ia tersenyum saat tahu arti tatapan Alif, ia melirik Humairah yang beringsut menjauh dengan perlahan.

__ADS_1


"Tidak semudah itu menipuku, kau akan mati Humairah," ucap Mayang yang segera meraih tubuh Humairah dengan satu genggaman saja, hingga Humairah berteriak ketakutan lagi saat Mayang menyeringai padanya yang siap dengan senjata itu lagi.


Namun Alif meraih dan mendorong Mayang dengan kasar dan cepat hingga membentur dinding, Humairah terjatuh akibatnya.


"Sebelum itu terjadi, ada baiknya aku yang akan membunuhmu duluan," ucap Alif geram bukan main, ia telah habis kesabaran saat melihat Humairah dicengkram Mayang begitu kuat di depan matanya, istrinya tampak banyak luka dan sangat menyedihkan, Alif tidak bisa membiarkan Mayang lebih lama lagi.


Hanya dengan satu tangan Alif mencekik Mayang, satu tangan terkepal telah mengudara ingin meninju wajah wanita gila itu.


Namun lagi-lagi Alif cukup ngeri melihat wajah Mayang yang menatapnya begitu dalam, tatapan kosong lagi mengerikan, wanita itu tersenyum lebar tanpa takut sedikitpun. Hingga tangan Alif menjadi lemas sendiri.


"Tidak sayang, aku tidak akan membiarkan kau jadi pembunuh, aku akan mati Alif.... Aku akan mati," balas Mayang dengan sendu.


"Matilah jika begitu, enyah dari kehidupan yang tidak kau syukuri ini, enyahlah dari kehidupanku dan Humairah. Kau adalah penyesalan terbesarku Aisyah, aku menyesali seumur hidup pernah menikahimu!"


Aisyah tersenyum lebar, menampilkan giginya yang rapi, tangannya mengarahkan pistol ke kepalanya, dan tanpa berkata kata lagi Aisyah menarik pelatuk hingga terdengar sebuah suara yang sangat memekakkan telinga bagi Alif dan ..........


Humairah ikut menyaksikan hal itu menutup mata dan telinganya seraya memanggil suaminya, "Mas Alif!" teriak Humairah ketakutan, saat suara tembakan terjadi ia pun luruh ke lantai tergeletak tidak sadarkan diri.


Disusul suara ibu Aini, "Mayaaaaang, Mayang..."


Tangan Alif melepaskan leher wanita itu ketika suara tembakan terjadi, di depan matanya dengan jarak yang sangat dekat ia menyaksikan sendiri aksi bunuh diri yang mengerikan, Aisyah menembakkan peluru ke kepalanya sendiri hingga menembus dan ikut pula terbuyar otaknya.


Alif tercengang sejenak, lalu ia melihat wajah Aisyah yang tergeletak di lantai dengan mata terbuka sempurna, mulut yang tertawa. Wanita itu benar-benar mati bunuh diri di hadapan Alif lelaki yang ia cintainya, seketika mual mendera Alif bukan hanya mual ia telah pula memuntahkan seluruh isi lambungnya di sana.


Muntah melihat kematian yang mengerikan itu, Alif muntah sejadi-jadinya.


Alif mundur dan menjauh, ia melirik istrinya yang telah pingsan dan meraih Humairah dalam pelukannya, bersyukur yang mati bukanlah perempuan itu.


Ia gendong Humairah keluar dari rumah itu, meninggalkan ibu Aini yang telah menangis histeris mendekati putrinya yang sudah tidak bernyawa, mati Mayang telah mati.


Ibu Aini menangis pilu saat menutup mata putrinya, lalu melirik pula jasad suaminya di sana, hari yang tidak pernah ia pikirkan, hari mengerikan yang terjadi hanya karena sebuah kesalahan yang pernah ia lakukan dahulu.


Andai ia mengembalikan Humairah pada orangtuanya dulu, andai ia tidak menuruti Mayang untuk membawa Humairah pulang kampung, andai tidak ada yang tertukar nasib dua anak itu mungkin tidak akan ada perjodohan antara Alif dan Humairah.


Tidak akan pula terjadi hal seperti ini jika saja Mayang bukan siapa-siapa, bukan menjadi putri tuan Imran yang membuat Mayang tumbuh menjadi pribadi yang ambisius dan sombong karena telah banyak yang dicapai namun harus sirna seketika Humairah mengambil alih sang papa.


Ibu Aini hanya bisa menangisinya sekarang, anak dan suaminya hilang bersamaan. Lelaki yang membawanya ke kota lagi karena sebuah pekerjaan yang lebih baik daripada di kampung, lelaki yang baik tiada celah, menerima status jandanya yang saat itu mengasuh Humairah. Ayah Ihsan adalah suami terbaiknya, karena pindah ke kota ini pula yang membuatnya bertemu lagi dengan putri kandungnya yang tidak pernah ia jumpai lagi belasan tahun lamanya.

__ADS_1


Kini dua orang itu telah terbujur kaku di depan mata kepalanya sendiri. Mati oleh peluru yang Mayang tembakkan. Siapa yang bisa menebak perasaannya saat ini. Hanya sebuah tangis saja yang terdengar, tangis yang kian pilu saat menyadari ucapan Mayang telah tunai saat ini.


Ucapan ancaman bunuh diri yang selalu Mayang sebut ketika kecil, ketika ia akan mengembalikan Humairah pada orangtuanya dulu hingga ia memilih pulang kampung untuk menghindari ancaman itu. Namun sekarang lagi-lagi ancaman bunuh diri tapi kali ini benar-benar telah dilakukan mati akibat tembakan sendiri.


__ADS_2