
Humairah memainkan nada demi nada melalui kepiawaiannya menggunakan alat musik piano. Terdengar mengalun indah namun terasa menyayat hati.
Humairah sesekali memejamkan matanya seakan ikut terlarut dalam nada yang ia mainkan, Humairah juga menghiasi bibirnya dengan senyum tipis saat bermain piano baru yang dibelikan papanya tempo hari.
Sesekali ia bersuara sesuai lirik lagu yang sedang ia mainkan, seperti sepotong bait lagu Soledad dari Westlife yang tengah membuat hatinya tersentuh. Entah karena apa hingga Humairah suka sekali dengan lagu ini.
*** Even when I close my eyes
There's an image of your face
And once again I come to realize
You're a loss I can't replace
Soledad
It's a keeping for the lonely
Since the day that you were gone
Why did you leave me
Soledad?
In my heart you were the only
And your memory lives on
Why did you leave me
Soledad? ***
__ADS_1
Bahkan karena lirik itu pula butiran bening menggenang di pelupuk matanya yang indah seperti menyiratkan makna yang begitu dalam pada hati Humairah.
Sampai pada papa Imran menyentuh pundaknya, Humairah menoleh perlahan ia hentikan jarinya dari tuts tuts piano.
"Kau sedang sedih?" tanya papa Imran.
"Aku hanya bosan," jawab Humairah yang langsung memeluk papanya.
"Kau ingin pergi kemana? Bagaimana jika kita liburan akhir pekan, kau bisa mengajak Lola untuk menemanimu," tawar papa Imran yang tidak ingin melihat Humairah murung karena setelah wisuda putrinya hanya di rumah saja.
Humairah menggeleng, ia menatap papanya penuh arti.
"Ayolah katakan saja sayang, kau ingin apa?"
"Bolehkah aku bekerja? Aku bosan di rumah, lagi pula impian kuliah di Kuala Lumpur harus tertunda tahun depan, bagaimana jika satu tahun ini aku memperkaya pengalaman saja dengan bekerja di perusahaan yang butuh kemampuanku?"
Papa Imran terdiam sejenak, lalu ia tersenyum seraya menjawab.
"Tentu saja sayang, kau bahkan bisa bekerja di kantor papa saja. Bagaimana?"
"Tidak, itu tidak fair papa.... Perusahaan papa sedang tidak membuka lowongan, ingin menaruh ku dimana? Aku tidak ingin bekerja karena nepotisme," tukas Humairah.
"Hmmm sebenarnya aku sudah mencari perusahaan yang sedang butuh seorang akuntan sepertiku sejak kemarin, aku hanya takut papa tidak mengizinkan."
"Oh sayang, papa tidak akan memaksamu Humairah, kau bebas memilih ingin bekerja dimana saja asal kau nyaman, lagipula tujuanmu mencari pengalaman memanglah sebaiknya di perusahaan lain, jika di kantor papa kau tentu akan selalu diistimewakan. Tidak bisa tidak karena kau juga pemiliknya di sana."
Humairah tersenyum puas.
"Papa boleh aku bekerja di tempat lain?"
Papa Imran mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ada satu perusahaan yang kebetulan pas dengan ijazahku, mereka membutuhkan analis keuangan internal perusahaan mereka dan itu dibutuhkan secepatnya hanya sampai besok surat lamaran harus diterima mereka, dan mereka juga menerima freshgraduate seperti ku, tidak ada salahnya mencoba bukan? Mana tahu rejeki ku di sana."
"Memangnya perusahaan mana yang kau maksud nak?"
"PT. Jaya Pratama, perusahaan yang aku pernah magang di sana. Setidaknya pengalaman magangku di sana kemarin itu bisa menjadi nilai plus untuk mereka mempertimbangkan menerima ku nantinya."
Humairah menjawab semangat.
"Apa tadi? PT. Jaya Pratama?" tanya papa Imran memastikan pendengarannya lagi.
Humairah mengangguk, "Iya papa tidak salah dengar PT. Jaya Pratama, jika boleh aku akan mengirimkan surat lamaran ku hari ini."
Mendengar nama perusahaan itu membuat senyum papa Imran mengembang sempurna.
"Kenapa kau memilih perusahaan itu? Tentu masih banyak perusahaan lain yang juga pasti membuka lowongan yang sama?"
"Entahlah, aku rasa karena pernah magang di sana menjadi alasannya, bukankah itu akan mempermudah beradaptasi nantinya jika sudah paham seluk beluk perusahaan itu. Doakan aku bisa diterima," jawab Humairah menggenggam tangan papanya.
"Baiklah sayang, jika itu pilihanmu papa bisa apa selain bedoa agar kau bisa berjodoh dengan perusahaan itu," ucap papa Imran yang membalas pelukan putrinya dengan sayang.
"Mana tahu juga berjodoh dengan pemiliknya," kekeh papa Imran pelan.
Humairah menatap wajah papanya seakan bertanya.
"Maksud papa?"
"Tidak, papa hanya berandai-andai saja."
"Papa mengenal pemiliknya? Oh aku tahu sekarang tentu saja kalian para pengusaha saling mengenal satu sama lain."
"Iya, papa mengenalnya. Bahkan sangat dekat. Biarlah kau tahu sendiri nanti, papa yakin kalian akan bertemu," jawab papa Imran penuh arti.
__ADS_1
"Meski aku tidak mengingat siapa pemimpin perusahaan itu, tapi aku cukup yakin jika yang memimpin perusahaan itu sama seperti papa yang sudah tentu kalian sebaya. Apa papa ingin aku berjodoh dengan pria tua?" canda Humairah yang memeluk papanya lagi dengan manja.
Papa Imran hanya tertawa saja, dalam hati ia menggumam, "Mungkin memang Alif masih berjodoh denganmu, bahkan kau sendiri yang menghampirinya. Dan Alif, kau akan mendapatkan kejutan, pilihanmu untuk menjauh malah akan berdekatan oleh takdir. Biar bagaimanapun kalian masih suami istri, bisa saja dengan bekerja di kantor yang sama akan membuat Humairah mengingat semuanya, tentu kenangan magang akan menyapa Humairah di sana."