
"Mas Alif."
"Mas Alif."
Namun belum juga pria itu menoleh, ia sibuk berdebat dengan mama Rika soal cara menggendong bayi, lebih tepatnya rebutan ingin menggendong bayi mungil yang masih lelap memejamkan matanya.
"Mas Aliiiiiiif," panggil Humairah menahan kesal.
12 jam pasca melahirkan di kamar rawat, Humairah menatap suami dan mertuanya dengan raut heran yang tidak mendengar panggilannya sejak tadi.
Dua orang yang tengah berbahagia oleh hadirnya bayi lelaki milik Humairah itu seakan enggan melepas bayi yang diberi nama Ariq Gunawan Pratama, nama yang disandingkan dengan nama belakang kedua kakeknya.
Disaat bersamaan papa Imran masuk dari arah pintu, ia tampak geleng kepala melihat besan dan menantunya terlihat sekali raut bahagia mereka, lalu pandangannya jatuh pada Humairah yang hanya diam menyaksikan dari atas ranjang.
"Papa?" sapa Alif yang baru menyadari papa mertuanya datang.
"Istrimu memanggil," kata papa Imran seraya menunjuk arah Humairah dengan ekor matanya.
Alif menoleh pada Humairah, ia menghembuskan nafas karena telah mengabaikan istrinya.
Alif meninggalkan Ariq pada mamanya, ia segera mendekati Humairah. Papa Imran menghampiri mama Rika.
Sama-sama merupakan cucu pertama dari dua keluarga kaya dan terpandang, sungguh baik sekali nasib bayi lelaki itu terlahir dari rahim seorang Humairah perempuan berhati lembut dan pemaaf, cantik luar dalam. Kehadiran bayi ini merubah semua hati bahkan tentu akan merubah hari-hari dua keluarga sekaligus.
"Boleh ku gendong?" tawar papa Imran yang merasa gemas.
Sedang itu, Alif mendekati istrinya.
"Sayang kau memanggilku?"
Humairah mengangguk lalu menjawab pelan, "Aku haus."
Alif menoleh pada botol air mineral yang berada di atas laci pasien tidak jauh dari Humairah berada.
__ADS_1
"Sayang, kau bisa mengambilnya sendiri kan?"
Humairah tidak menjawab melainkan memberi tatapan tajam.
Alif tersenyum, lalu ia mengambilkan istrinya minum, pria itu tahu sekarang bahwa Humairah tengah mencari perhatian karena ia sudah cukup lama mengabaikan istrinya yang mana baby Ariq lebih menarik perhatian semua orang sejak kemarin.
"Baiklah maafkan aku," ucap Alif seakan tahu arti dari tatapan Humairah.
"Aku ingin pipis," cetus Humairah seraya meraih tangan suaminya.
"Ayo aku bantu," jawab Alif yang segera menuntun Humairah yang hendak turun dari ranjang.
"Aku ingin digendong, oh aku sangat lelah melahirkan..... Kepalaku juga sedikit pusing saat berjalan," kilah Humairah penuh drama.
"Baiklah, aku mengerti sekarang..... Sepertinya ada aroma cemburu, aku merasa seperti punya dua bayi," seru Alif yang terkekeh seraya menggendong Humairah menuju kamar mandi pasien.
Humairah hanya tertawa pelan, ia mencium pipi Alif dengan sayang.
Sampai dalam kamar mandi.
"Iya sayang, ada apa?" jawab Alif menoleh sekilas, ia sibuk menggantikan pembalut istrinya.
"Maaf merepotkan mu."
"Kenapa repot? Tentu aku harus membantu segala sesuatu atas keperluan sebelum atau setelah istriku melahirkan. Jangan sungkan sayang....." jawab Alif santai, lalu ia membantu memasangkan pakaian dalam pada Humairah dengan telaten.
"Kenapa kalian semua tidak memperhatikan ku? Entah kenapa aku jadi cemburu, kau mengabaikan ku, hanya sibuk menggendong Ariq saja."
Alif terdiam, ia meraih wajah istrinya setelah selesai membenarkan pakaian dalam Humairah lalu ia membantu pula memasangkan korset khusus setelah melahirkan di perut istrinya.
"Maafkan aku jika kau merasa seperti itu, aku benar-benar bahagia atas kelahiran putra kita, jangan diambil hati oke..... Jika kau butuh sesuatu katakan saja, panggil saja aku, jangan memendamnya hingga merasa diabaikan, tidak sama sekali Humairah, aku tidak mengabaikanmu."
Humairah menatap Alif cukup lama.
__ADS_1
"Apa aku terkena sindrom baby blues?"
"Apa itu?" tanya Alif.
"Semacam depresi setelah melahirkan, karena tidak mendapat perhatian, cemburu pada bayi yang lebih diperhatikan daripada ibunya, ya semacam itu..... Dan aku merasakannya sekarang, aku benar-benar sedih kau mengabaikan ku mas Alif."
"Oh sayang jangan membuatku cemas, memangnya ada hal seperti itu?"
Humairah mengangguk, "Iya, aku pernah membaca artikel seputar pasca melahirkan."
Alif terdengar menghela nafas panjang.
"Sayang mendengar kata depresi saja sudah membuatku stress, jangan berpikir yang tidak-tidak Humairah..... Tidak sama sekali, baiklah maaf jika aku salah," ucap Alif sambil meraih Humairah dalam pelukannya.
Terdengar suara mama Rika memanggil.
"Sayang, kalian sedang apa? Kenapa lama sekali? Baby Ariq menangis ingin menyusu," panggil mama Rika seraya berteriak.
Alif tersenyum saat saling melempar tatap dengan istrinya.
"Kau dengar, tidak ada yang mengabaikan sayang..... Kami semua membutuhkanmu, aku butuh senyuman istriku, jangan berpikir yang tidak-tidak sayang," rayu Alif yang mengecup kening Humairah cukup lama.
"Alif.... Kau apakan Humairah nak, ayo segera keluar kasihan putramu sudah haus," teriak mama Rika lagi.
Alif terkekeh lagi, "Sekarang giliran aku yang akan cemburu, Ariq pasti lebih menguasai benda ini dalam waktu yang cukup lama," ucap Alif menggoda Humairah dengan memainkan dadanya yang memang telah berisi ASI yang banyak.
Humairah akhirnya tertawa juga, ia menepis tangan Alif dari sana.
"Jangan macam-macam."
"Huh, aku akan puasa lama pada benda ini," goda Alif lagi seraya mencium dada istrinya dengan gemas.
"Mas Alif."
__ADS_1
"Baiklah, ayo keluar!" ajak Alif yang merasa cukup untuknya berbasa basi sedang putranya sudah menangis ingin segera diberi ASI.
Humairah mengangguk, Alif menuntunnya keluar kamar mandi menuju putra mereka yang sudah menangis kehausan.