"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 74


__ADS_3

Humairah menggenggam tangan suaminya seraya menatap dengan senyuman yang menenangkan.


"Sudah lebih baik?" tanya Humairah pada Alif yang tampak gugup dengan mata berkaca-kaca.


Pria itu tidak menjawab melainkan hanya sebuah anggukan kepala yang memberi tanda pada istrinya bahwa ia sudah siap sekarang.


Humairah kembali tersenyum, "Turun sekarang?"


"Iya," jawab Alif singkat.


Mereka turun mobil, Humairah tampak menggandeng tangan Alif sambil membawa keranjang berisi kelopak bunga aneka warna. Mereka hendak mengunjungi makam ayah Ihsan dan Aisyah.


Sampai di pusara ayah yang telah membesarkan istrinya Alif mulai menangis dalam diam, ada rasa menyesal karena telah terlambat datang waktu kejadian itu hingga ia tidak bisa mencegah Aisyah berbuat kejam pada ayah yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kisah pelik mereka.


Menyesal tidak memiliki banyak waktu untuk bercengkerama dengan ayah mertuanya ini, sahabat mamanya hingga ia bisa bertemu dan berjodoh dengan bidadari yang terus menggenggam tangannya saat ini.


Menabur bunga, membacakan doa, membersihkan area sekitar makam membuat Alif terbayang saat-saat tertawa bersama ayah Ihsan pada beberapa kesempatan sebelum meninggal dunia, hanya beberapa kesempatan saja mereka bisa menjadi menantu dan mertua yang baik, sayang sekali waktu kebersaman mereka terlalu singkat.


Beralih pada makam mantan istrinya Aisyah, Alif dan Humairah memanjatkan doa, menabur bunga seperti yang mereka lakukan pada makam ayah Ihsan, namun kali ini Alif hanya diam, terpaku pada Humairah yang telaten mencabuti rumput liar yang tumbuh area makam agar terlihat bersih dan terurus.


"Sayang, ayo kita pulang?" tanya Alif saat menangkap tangan Humairah lalu membersihkannya dari sisa tanah dan rumput yang membuat tangan istrinya jadi kotor.


Humairah mengangguk mengerti arti tatapan suaminya yang tidak ingin berlama berada di sana.


Mereka kembali ke mobil dengan perasaan lega, setelah semuanya berlalu, hubungan yang kian baik dari hari ke hari, saling mencintai saling menggenggam tangan menatap masa depan.


Humairah bahagia meneruskan hidup bersama pria itu, pria yang mencintai dan dicintai olehnya dalam sebuah ikatan suci pernikahan.


Mereka baru saja pulang dari liburan panjang hampir satu bulan mengelilingi beberapa negara di Asia, sebagai tanda kembalinya rajutan cinta yang lama renggang, bulan madu versi Alif dan Humairah meski bukan pengantin baru lagi namun perjalanan ini sungguh bermakna, intim berdua seakan tidak terpisahkan yang diakhiri dengan menunaikan ibadah umroh di tanah suci.


Alif menjadi kesal jika mengingat perjalanan pertama mereka mengunjungi negara yang dijuluki negeri gingseng Korea Selatan, bagaimana tidak meski ia begitu malas dengan Humairah yang seorang perempuan muda pada umumnya yang mengidolakan para oppa oppa korea.


Menghadiri beberapa acara konser Idol K-pop, mengunjungi lokasi syuting drama Korea yang lagi hits saat ini demi menyenangkan Humairah meski dalam hati ia sungguh tidak suka istrinya mengidolakan mereka yang ia anggap lelaki yang bahkan lebih cantik dari wanita, dan idola perempuan yang terlalu imut di sana.

__ADS_1


"Mas Alif lihat, jika diperhatikan wajahmu selalu datar dan tidak bersahabat ketika difoto. Lihat saja fotonya jadi aneh," ujar Humairah terkekeh geli saat melihat lihat kembali momen mereka di Korea Selatan beberapa minggu lalu.


Alif memutar bola matanya dengan malas, Humairah selalu mereview setiap momen yang terjadi saat mereka pergi liburan.


"Aku tidak suka jadi raja," jawab Alif kesal saat Humairah menunjukkan foto mereka sedang mengenakan pakaian raja dan ratu layak drama Korea.


"Wah, bukankah enak jadi raja bisa punya selir yang banyak?" goda Humairah.


Alif menggeleng, "Tidak, aku hanya punya permaisuri saja. Satu dan selamanya," jawab Alif tersenyum seraya mengecup punggung tangan istrinya dengan satu tangan yang bebas dari stir mobil.


"Oh..... Aku tersanjung," balas Humairah penuh drama.


"Ayolah berhenti melihat foto itu, moodku jelek di sana."


"Wah oppa Alif merajuk."


"Berhenti memanggilku seperti itu, menggelikan."


"Oppaaaaaaaa oppaaaaaa, oppa Alif......" goda Humairah lagi seraya terkikik geli.


"Oppa... Saranghae," ucap Humairah menatap dan bersandar di lengan suaminya dengan manja.


"Apa itu?"


"Kata cinta dari bahasa Korea."


"Apa artinya?"


"Aku mencintaimu mas Alif," jawab Humairah dengan nada penuh cinta.


"Aku juga mencintaimu sayang, sekarang kita sudah sampai," balas Alif yang telah menghentikan mobilnya pada tempat biasa setelah memberi kecupan di puncak kepala istrinya.


Humairah baru menyadari bahwa mereka telah pula memasuki halaman rumah.

__ADS_1


*****


Malam harinya, dibawah sinar cahaya yang temaram Alif terpaku pada sosok perempuan seksi memakai jubah tidur berenda bagian paha, belahan dada yang terlihat sungguh menggoda. Pemandangan indah yang terbiasa ia lihat sebagai pengantar tidur, tubuh dan wajah cantik sebagai penutup hari yang melelahkan.


Memainkan piano dengan piawai, nada demi nada Humairah bunyikan lewat tuts piano yang dibelikan papanya beberapa bulan lalu, kali ini ia memainkan nada dari lagu 'Right Here Waiting For You' dari Ricard Mark.


Mengalun merdu, mengingatkan Alif pada penantiannya pada Humairah beberapa waktu lalu, menunggu Humairah ingat padanya, menunggu perempuan itu kembali padanya.


Alif menghampiri istrinya setelah satu lagu selasai, yang segera disambut Humairah dengan pelukan dan kecupan bibir yang senantiasa ia layangkan setiap jam kebersaman mereka.


"Aku mencintaimu mas Alif."


"Aku bahkan lebih dari itu Humairah, kau hidupku."


"Benarkah?"


"Bahagia bersama ku sayang," ucap Alif dengan tatapan dalam, diakhiri oleh adegan ciuman panjang yang membawa mereka kembali menyatu di ranjang panas sebagai pelebur rasa lelah nan penuh cinta diiringi hujan yang mulai rintik kasar di luar rumah.


Beberapa bulan berlalu, kehangatan selalu menyelimuti rumah tangga Alif dan Humairah meski belum ada tanda-tanda akan hadirnya calon buah hati namun keduanya mengambil kesempatan sebagai pengerat hubungan dengan selalu intim berdua dan saling mengenal lebih dalam lagi satu sama lain tanpa terbebani oleh keinginan agar Humairah segera hamil kembali.


Humairah masih bekerja seperti biasa mendampingi sang suami dalam pekerjaan, sebagai sekretaris andalan serta penyemangat kerja bagi Alif yang semakin posesif.


Alif dan Humairah sedang berdekatan fokus menghadap laptop, berdiskusi masalah pekerjaan, tiba-tiba buyar saat Daffa masuk tanpa permisi membawa seorang wanita.


"Hai," sapa Daffa canggung.


"Hai, mas Daffa.... Ayo silahkan," Humairah persilahkan tamu mereka mendekat.


"Siapa yang kau bawa ini?"


Dengan malu Daffa menjawab pelan, "Kenalkan ini Aisyah Sarah calon istriku."


Alif tertegun pun istrinya.

__ADS_1


"Jangan menatapku seperti itu, kita sama saja. Tidak bisa jauh dari yang namanya Aisyah. Ini membuatku malu."


"Panggilannya Sarah," sambung Daffa lagi.


__ADS_2