"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 45


__ADS_3

"Kita akan bertemu di sana dua hari lagi, berhati-hatilah hubungi papa jika sudah sampai, maaf sekali sayang kau harus diantar sopir saja, ini benar-benar mendesak," sesal papa Imran yang tidak bisa mengantarkan Humairah ke bandara.


Humairah terkekeh, "Aku bisa sendiri papa, naik taksi pun tidak masalah. Baiklah silahkan papa duluan dari tadi ditelepon terus, aku akan bersiap sekarang. Sampai bertemu dua hari lagi, aku akan menghubungi papa jika sudah mendarat, doakan tes ku lancar," jawab Humairah memeluk papanya.


"Selalu papa doakan yang terbaik untukmu sayang, baiklah papa duluan.... Ya Allah tidak bisakah mereka menunggu sebentar," rutuk papa Imran saat ponselnya berdering lagi tanda pertemuan itu cukup penting siang ini.


Humairah tertawa pelan, mereka saling melambai tangan saat papa Imran meninggalkan rumah.


Humairah bersiap dengan koper kecil untuk beberapa pakaian saja, seperti rencana Humairah akan mengikuti tes ujian masuk Universiti Malaya di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia akan berada di sana untuk dua hari persiapan dan mengikuti tes lalu dilanjutkan hingga satu minggu untuk liburan sebagai hadiah dari sang papa yang bangga atas predikat terbaik skripsinya.


Liburan menjelang wisuda akan membuatnya bersemangat pikir Humairah, ia ingin melepas penat atas skripsi yang memusingkan terlebih masalah rumah tangganya yang begitu menyita perasaannya beberapa waktu terakhir.


Dalam perjalanan ia menghubungi ibunya namun tidak dijawab meski sudah berulang kali, ayah Ihsan pun sama tidak ada yang menjawab telepon darinya.


"Ya Allah kenapa tidak diangkat bu? Ayah dan ibu tidak pernah tidak menjawab telepon dariku, perasaanku jadi tidak enak. Masih ada waktu, aku kira mampir sebentar tidak masalah, ayah pasti sudah pulang. Satu minggu di negeri jiran pasti sangat rindu mereka," gumam Humairah tersenyum mengingat ayahnya, entah kenapa ia merasa ingin sekali berjumpa ayah Ihsan sebelum berangkat.


Memberi perintah agar sopir mengantarkannya ke rumah ibu Aini terlebih dahulu karena ia merasa cukup ada waktu untuk mampir walau Humairah sudah berpamitan semalam.


Di kediaman ibu Aini.


Terdapat dua orang perempuan yang tampak sedang berdebat. Ibu Aini dan putri kandungnya Mayang Sari alias dokter Aisyah.


"Inikah yang ibu inginkan? Aku hancur begitu? Semua karena ibu, apa yang menimpaku sekarang adalah karena ibu."


Aisyah berkata seraya menyentuh tangan ibunya, raut wajahnya tampak berbeda. Matanya sayu dihiasi airmata yang tampak menggenang di kelopaknya.

__ADS_1


"Alif menceraikanku, papa Imran menolakku. Di rumah sakit para rekanku mulai membicarakan ku di belakang karena mereka tahu ternyata aku adalah istri kedua yang baru saja dicampakkan. Semua impianku perlahan menghilang, sirna."


Ucap Mayang seraya meniup sesuatu di tangannya, "Hhuuuuuhhhh," seolah meniup debu.


"Mayang," lirih ibu Aini yang terus menggeleng saat putrinya terus berjalan mendekatinya, sedang ia terus mundur seperti ketakutan.


"Dulu Alif mencintaiku menggebu-gebu, sekarang cinta itu seakan terbang seperti debu. Aku tahu cintanya hanya untuk Aisyah, tapi aku mampu mengalahkan ingatannya tentang cinta monyet konyol yang dia cari-cari."


"Akulah wanita yang bisa menguasainya sebelum putri keduamu hadir, dan apa yang paling menyakitkan adalah mereka menikah karena perjodohan yang ibu lakukan. Dan hal yang paling ku benci ternyata Humairah adalah Aisyah si cinta monyet gila yang merebut Alif dariku lagi."


"Ibu jahat padaku, ibu menyayangi Aisyah sejak kecil, ibu mengasuhnya dengan kasih sayang. Dia menyita perhatian semua orang. Aku membencinya yang memiliki kehidupan sempurna."


"Tidak sepertiku yang lahir dari seorang pelayan rendahan, tidak bisa sekolah tinggi jika bukan menjadi anak papa Imran, tidak bisa hidup sejahtera jika aku pulang kampung bersama ibu, dan kenapa ini semua terjadi juga? Aku sudah katakan untuk tidak kembali lagi ke kota ini, tapi apa? Ibu bukan hanya membawa Aisyah pulang kemari, namun juga memberikan jodoh yang ku genggam cukup lama hingga lagi-lagi Aisyah menjadi yang pertama. Aku hanya dapat nomor dua, itu sakit sekali."


Ibu Aini hanya bisa diam tanpa berkata-kata, Aisyah terus mengeluarkan isi hatinya, airmatanya tidak bisa dibendung lagi hingga ia pun telah menangis saat ini namun bukan raut menyedihkan yang terlihat tetapi raut wajah yang membuat bulu kuduk merinding, bukan hanya menyeramkan, namun mengerikan.


Menangis sambil memain-mainkan sebuah pistol, bukan seperti pistol mainan. Benda itu tampak asli dan Aisyah tampak mahir memainkannya seraya terus mendekati ibunya yang masih beringsut ketakutan.


Sesekali ia sesegukan, sesekali pula ia tersenyum hingga tertawa pelan.


"Ibu takut padaku? Ayolah, aku kemari bukan untuk membunuh ibu, melainkan suamimu.... Suami ibu yang harus bertanggung jawab karena telah menikahi ibuku dan membawa kalian pindah ke kota lagi. Aku tidak suka jika hidupku dihancurkan oleh seseorang, aku hancur bu.... Maka suamimu juga harus hancur, hancur oleh pistol ini," seringai Mayang yang telah mendekati ibunya terbentur dinding, hingga ibu Aini tidak bisa lari lagi.


Mayang berbisik, "Bbbboommm," ucapnya menakuti ibunya dengan menarik pelatuk seolah menggertak.


Ibu Aini menangis, "Mayang, sadarlah.... Kenapa kau jadi seperti ini nak? Kita bisa bicara baik-baik, jangan bermain-main dengan senjata itu Mayang."

__ADS_1


"Apa maksudmu bermain-main? Aku serius bu, mana suamimu? Lebih cepat dia mati lebih puas pula hatiku, ibu ingin mengatakan aku gila? Iya, aku gila karena Aisyah. Semuanya karena wanita sialan itu. Seharusnya Aisyah bukan ku tinggal di hutan saja waktu itu tapi ku tenggelamkan di danau biar menjadi mangsa para predator."


Ibu Aini menggeleng, "Kau gila Mayang."


"Pertama suamimu, kedua papa Imran dia berani menolakku pulang padahal aku sudah menjadi putrinya yang berprestasi selama ini, menjadi anak yang baik dan membanggakannya atas apa yang telah ku capai, semudah ini dia melupakanku. Mengubah kamarku menjadi perpustakaan yang dia dedikasikan untuk Humairah tidakkah itu terlalu sombong, lagi-lagi karena Aisyah bu. Karena dia papa melupakanku semudah ini."


Mayang berkata sangat dekat dengan wajah ibunya hingga helaan nafasnya terdengar oleh ibu Aini yang merasa jantungnya bak usai berlari maraton, ketakutan ia benar-benar melihat sisi lain dari Mayang putrinya.


"Ibu mohon Mayang, sayang ayo kita bicara baik-baik jangan main senjata itu berbahaya Mayang bagaimana kau mau membunuh seseorang, itu bukanlah putriku.... Sadarlah nak, ayo Mayang kembali pada pikiranmu, jangan terbawa amarah yang menguasaimu semuanya bisa kita bicarakan dengan baik," bujuk ibu Aini mencoba menjinakkan kemarahan putrinya.


Mayang menatap tajam ibunya, "Anggap saja aku gila bu, aku memang gila...... Aku gila karena kalian tidak ada yang sayang padaku, semua karena kau hanya pelayan rendahan, karena suamimu yang membawa kalian kembali ke kota, karena Alif mencintai Aisyah, karena papa Imran bertemu putri kandungnya dan melupakanku semudah itu, karena Aisyah karena Aisyah Humairah."


"Semua ini bersumber dari wanita sialan itu, perempuan manja yang cantik itu, dikasihi semua orang, dicintai semua orang. Aku membencinya. Aku akan melenyapkan kalian semua hingga tidak ada satupun yang akan berada di sampingnya selain kehilangan dan keputusasaan, seperti yang ku alami sekarang. Aisyah Humairah, wanita terakhir yang akan mati bersamaku. Mati bersamaku!"


"Kau gila, putriku sudah gila," cicit ibu Aini yang kian menangis bukan lagi karena takut namun lebih pada kecewa atas takdir buruk yang menimpa putrinya hingga Mayang menjadi segila ini.


"Iya, aku gila," ucap Mayang menangis lagi, lalu tertawa lagi.


"Aku disini, kau membenciku bukan? Kenapa menyalahkan ibu? Ibu tidak ada hubungannya dengan urusan aku, kau dan mas Alif. Ini murni urusan rumah tangga kita bukan mencari kesalahan ibu dan ayah, terlebih papaku."


"Tidakkah kau sedikit berterimakasih pada papa yang telah membuatmu berdiri tegak hingga saat ini? Berdiri dengan jas doktermu yang aku saja tidak bisa berkuliah kedokteran, punya karir yang bagus, sedang aku harus berjuang dengan beasiswa hanya untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi."


Humairah berdiri di belakang Mayang saat ini, perempuan ini tanpa takut menghadapi mantan madunya itu.


"Kau wanita tidak tahu dengan rasa syukur. Beraninya mengancam ibu kandungmu sendiri? Aku sudah menghubungi polisi, sepertinya harus hukum yang akan membuatmu jera kak Mayang!"

__ADS_1


__ADS_2