
Humairah telah bersiap dengan pakaian kerjanya, baru saja keluar dari kamar ingin menuju meja makan Humairah dibuat terkejut oleh pemandangan di hadapannya.
"Hai...."
Humairah tercengang, baru hari pertama akan berangkat ke kantor bersama tapi kenapa bosnya bisa sarapan bersama papanya saat ini.
"Pak Alif..... Maksudku mas Alif kenapa ada di sini?"
"Bukankah kau menyuruhku untuk izin pada papamu?"
Sebuah pertanyaan dilempar Alif lagi padanya, membuat Humairah ingat perkataannya kemarin tentang meminta izin papanya untuk berangkat bersama hari ini dan seterusnya.
"Sayang, kemarilah...." sambung papa Imran yang tersenyum penuh arti menatap putrinya yang kebingungan.
Humairah mendekat, "Papa sudah bilang, kami sudah saling mengenal dekat. Kau ingat?" tanya papa Imran saat Humairah telah duduk di sampingnya.
"Ah iya, maaf aku hampir lupa. Pantas saja kalian seakrab ini. Silahkan dilanjutkan sarapanmu mas Alif, maaf aku lama bersiap maklum belum terbiasa bekerja jadi sedikit bingung dalam berpenampilan."
Alif menatap papa mertuanya sekilas, "Tidak masalah. Aku akan setia menunggu mu," jawab Alif tersenyum dengan mata yang tidak berkedip.
"Ehemmmm." Papa Imran berdehem seakan memberi kode bahwa mereka tengah berada di meja makan.
Humairah merasa aneh dibuat sikap Alif yang berbeda tiba-tiba, ia hanya menyengir lalu mempersilahkan bosnya itu untuk melanjutkan lagi sarapannya.
Alif menyalami dan mencium tangan mertuanya sama seperti yang baru saja Humairah lakukan, Humairah tersenyum melihatnya ternyata seorang seperti Alif juga bisa sopan pada orangtua padahal mereka akrab tapi tidaklah membuat Alif memperlakukan papanya layak teman sebaya.
Namun saat hendak masuk mobil Humairah kembali dibuat terkejut. Ia jadi teringat sesuatu.
"Silahkan masuk, dijamin aman," kata Alif saat membuka pintu mobil untuk Humairah.
"Terimakasih mas Alif, aku bisa buka sendiri."
"Aku tidak suka dibantah, biar aku yang bukakan pintu untukmu."
"Huh..... Baiklah," jawab Humairah yang langsung masuk dan duduk di bangku samping kemudi.
Hening cukup lama dalam perjalanan, Alif tidak tahu harus berkata apa selain bersyukur dalam hati bahwa mereka kembali bisa pergi berdua seperti ini.
"Mas Alif maaf jika aku salah, tapi aku rasa mobil ini pernah ku naiki sebelumnya."
Alif menoleh, senyumnya mengembang tatkala ia berpikir mungkinkah Humairah sudah mengingat mobilnya saat ini?
__ADS_1
"Kau mengingat sesuatu?"
Humairah menoleh padanya dengan senyum geli. Sedang Alif tidak sabar menunggu jawaban perempuan itu.
"Apa kau punya teman seorang sopir taksi online? Sebab aku pernah menaiki mobil ini sebagai taksi online beberapa waktu lalu, dan orang itu mengajakku berkenalan dengan nama Alif. Aku rasa kalian mirip dari ciri fisik, hanya saja wajahnya memakai masker."
Alif terdiam, ia baru teringat akan hal itu.
"Maaf mas Alif bukan maksud menyinggung mu dan menyamakanmu dengan sopir taksi. Maaf jika aku salah, mungkin hanya mirip saja."
Humairah jadi tidak enak hati melihat pria itu diam seperti tersinggung.
"Benarkah? Aku baru tahu bahwa ciri fisik ku sungguh pasaran, jangan sungkan aku tidak akan tersinggung lagipula apa salahnya jadi sopir taksi, halal juga," jawab Alif santai sambil terus mengemudi pelan, pelan sekali bahkan telah memakan waktu hampir setengah jam padahal jarak rumah papa Imran dari kantornya hanya sekitar lima belas menit saja.
Humairah mengangguk tersenyum lagi. Sesekali ia melirik Alif yang sedang menyetir.
"Maaf mas Alif apa kau tidak merasa kita terlalu lambat? Ini sudah setengah jam lebih."
"Iya, aku sengaja agar kita bisa berlama-lama berdua seperti ini," jawab Alif pelan, pelan sekali.
"Apa?"
"Bukan itu maksudku, ini adalah hari pertama ku bekerja sebagai sekretarismu, maklum akan ada banyak hal yang harus ku pelajari dan sesuaikan dengan kemampuanku agar kau tidak kecewa dengan hasil kerjaku nanti," balas Humairah pelan.
"Tenang saja, aku siap menjadi mentormu nanti bahkan 24 jam jika kau butuh aku mengajarimu aku akan siap."
Humairah menatap Alif canggung, Humairah menangkap niat lain yang tersirat dari sikap hingga perkataan Alif padanya terkesan memperlakukannya istimewa.
Humairah bernapas lega saat sudah tiba di kantor mereka, meski ia terus berjalan menunduk karena banyak yang menatapnya aneh, ia pikir mungkin saja para karyawan lain akan menggosipkannya karena bisa menjadi sekretaris Alif dalam waktu sekejap mata.
Sampai di depan ruangan Alif Humairah berkata, "Terimakasih tumpangannya mas Alif, aku akan ke ruanganku sekarang, aku butuh waktu untuk belajar jadi jangan bosan menegur jika aku melakukan kesalahan nantinya," ucap Humairah sopan.
"Kita akan bekerja di ruangan yang sama, kau akan bekerja di ruangan ku bukan di ruangan biasa yang Poppy tempati selama ini."
"Apa?"
Alif mengangguk, Humairah dipersilakan masuk setelah ia membuka pintu. Tidak ingin membantah akhirnya Humairah menurut saja.
Kembali ia terkejut dengan tata letak meja kerja yang ia yakini adalah meja kerjanya mulai hari ini. Meja kerja yang saling berdampingan bahkan sengat dekat dengan meja kerja Alif, tidak ada jarak hingga meja itu tampak berdempetan.
"Mas Alif?"
__ADS_1
"Iya, kau akan duduk bekerja di sampingku, ayo!"
"Mas Alif, aku hanya merasa ini aneh dan berlebihan. Aku tahu ruangan sekretaris akan terpisah dari bosnya, tidak seperti ini apalagi meja kita berdempetan, ini tidak masuk akal. Kau bos dan aku anak buahmu, tidak sejajar seperti ini. Maaf, aku rasa ini terlalu berlebihan untuk seorang sekretaris," protes Humairah.
"Kau tidak boleh membantah, ini sudah ku atur sedemikian rupa agar kau tetap berada di dekatku jadi tidak perlu bicara melalui interkom lagi."
"Mas Alif?" lirih Humairah sambil terus melihat meja kerja itu.
"Aku menyukaimu Humairah, itu jawabannya."
"Apa?" Humairah kembali terkejut.
"Iya, bahkan lebih dari itu. Andai kau mengingat sesuatu tentang kita," ucap Alif menatap istrinya cukup lama.
"Apa? Apa maksudmu tentang kita? Apa kita saling mengenal sebelumnya? Maaf mas Alif aku menderita amnesia, jadi tidak semua orang ku ingat sekarang."
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, aku tahu kau amnesia saat ini, aku harap kau segera sembuh dan mengingat sesuatu tentang ku. Menjelang semua itu terjadi aku rasa aku akan berusaha keras padamu."
Humairah dilanda kebingungan, Alif terkekeh.
"Ayolah, biarkan semua berjalan seiring waktu. Yang aku tahu kau sekretaris ku mulai hari ini, bekerja di sampingku, pergi meeting bersamaku dan semua keperluan pekerjaan ku menjadi pekerjaan mu juga, aku tidak bermain-main Humairah, aku sudah melakukan visum keningku atas penganiayaan yang kau lakukan kemarin. Jangan membantah, semua demi kebaikan kita bersama. Aku tidak suka kau didekati Arya, berhati-hatilah dengannya dia adalah seorang playboy di kantor ini."
Humairah bergeming.
"Mari duduk, ku ajarkan banyak hal tentang pekerjaanmu mulai sekarang. Jangan lupa aku menyukaimu Humairah, jadi aku harap kau ikut berdegup ketika berada di dekatku. Aku rasa ini awal yang baik untuk masa lalu kita."
Benar saja, Humairah merasa panas pada pipinya. Kenapa perkataan Alif seakan ada benarnya, ia bahkan terus berdegup sejak dari rumah tadi. Ia terus berusaha mengingat apa memang mereka punya suatu hubungan hingga Alif bisa bicara seperti tadi.
"Hei, ingin terus berdiri?"
Humairah tersadar, ia segera menyusul Alif untuk duduk di kursinya. Alif tampak mendekatkan kursi mereka hingga mereka bisa memulai pelajaran seputar pekerjaan sekretaris saat ini, sangat dekat namun Humairah tidak berusaha menghindar padahal ia tidak terbiasa bicara sedekat itu dengan seorang lelaki sebelumnya.
Humairah memperhatikan Alif bicara, semua arahan tentang pekerjaan barunya itu. Senyum tipis ia sembunyikan, Alif sungguh punya pesona di matanya saat bicara, cukup lama ia memandang, memanglah wajah itu tampak tidak asing, membuat Humairah kian penasaran atas apa yang Alif katakan tadi. Berusaha mengingat namun belum ada tanda-tanda pria itu muncul di ingatannya.
"Kau mengerti sampai di sini?" tanya Alif.
"Belum," jawab Humairah menggeleng polos dengan pandangan tidak terputus. Netra mereka bertemu, saling memandang cukup lama.
"Aku suka tatapanmu," gumam Alif pelan namun tentu bisa didengar Humairah.
"Iya, tatapanmu juga tidak asing. Jika memang kita punya suatu hubungan dimasa lalu, bisakah kau jujur padaku hubungan apa itu?"
__ADS_1