
"Maaf, aku rasa kau salah sangka. Ini adalah toilet lelaki jika tidak percaya bacalah papan tulisan itu!"
Tunjuk Alif gugup, bahkan tangannya tampak gemetar setelah memastikan wajah perempuan yang memukulnya dengan tong sampah itu adalah benar Humairah alias istrinya.
Lidahnya kelu ingin mengatakan apa sebab kejadian ini begitu membuatnya terkejut, bagaimana bisa Humairah ada di kantornya saat ini. Di toilet lelaki pula, Alif pun sama de javu dengan adegan tadi, Humairah memukulnya dengan tong sampah untuk kedua kalinya di toilet yang sama seperti mereka belum saling mengenal dahulu.
Humairah menatap Alif tidak berkedip, lalu tersadar saat matanya mengikuti arah tangan Alif yang menunjuk papan tanda bahwa ucapan lelaki itu adalah benar mereka tengah di toilet lelaki saat ini.
Dengan tak kalah gugup Humairah segera membungkuk meminta maaf berkali-kali.
"Maafkan aku, maaf sekali. Aku yang salah telah salah masuk toilet, maafkan aku," ucap Humairah berulang kali.
Alif terdiam, ia hanya terpaku melihat sikap Humairah yang terus meminta maaf seraya menundukkan wajah.
Ia sedang berpikir keras kenapa istrinya berada di sana saat ini, memakai pakaian hitam putih dengan tanda pengenal yang telah di gantung di leher perempuan itu seperti semua karyawan yang lain.
Karena Alif tidak menyahut permintaan maafnya, maka Humairah mengangkat wajah kembali menatap mata Alif yang tampak menatapnya sendu.
"Pakaianmu jadi kotor, maafkan aku.... Kau pasti marah, ayolah mari kita berdamai. Ini adalah hari pertama ku bekerja, jangan karena hal ini aku akan mendapat masalah besar nantinya jika kau mengadu dan tidak terima, maafkan aku sungguh aku tidak mengira akulah yang salah masuk toilet."
"Bekerja?" gumam Alif bertanya pada dirinya sendiri.
"Hei..... Buka saja jasmu, biar ku cuci. Percayalah aku benar-benar meminta maaf."
Humairah merasa heran lelaki itu lagi-lagi tidak menyahut perkataannya. Namun saat ia ingin berkata maaf lagi ternyata Alif pergi begitu saja dengan jas yang cukup kotor oleh sampah yang terbuyar dari tempatnya saat Humairah memukul pria itu tanpa ampun, bahkan Humairah sangat merasa bersalah ketika melihat kening pria itu juga mendapat pukulan mentah darinya.
Perempuan itu ingin mengejar namun urung saat melihat sampah berserakan karena ulahnya tadi, akhirnya Humairah memilih untuk membereskan kekacauan yang ia buat sebelum kembali ke ruangan yang menjadi tempatnya bekerja.
Alif dilanda penasaran luar biasa, mengapa Humairah ada di kantornya saat ini, memakai tanda pengenal sebagai pekerja pula. Sialnya ia hampir tidak bisa menahan diri saat menatap Humairah yang terus meminta maaf dengan wajah menggemaskan di toilet tadi, wajah yang ia rindukan, wajah pengubah mood buruknya selama ini.
Alif tampak menghubungi sekretarisnya melalui interkom.
"Bawakan file cv pekerja baru yang diterima kemarin dari bagian personalia, sekarang!"
Perintah Alif pada Poppy sang sekretaris yang telah bekerja cukup lama padanya.
'Baik pak.'
Jawab Poppy yang terkejut dengan nada tinggi dari atasannya itu, meski ia bingung namun ia tidak bisa berkata tidak.
__ADS_1
Selang Alif menunggu Poppy membawakan file yang dimintainya, ia tergerak untuk menghubungi papa Imran.
Dadanya gugup tidak mau berhenti, perasaan tidak nyaman terus saja menghampiri sejak pertemuan dengan istrinya di toilet. Entahlah Alif merasa serba salah saat ini. Mau mengerjakan apapun terasa bingung sendiri.
Ia menyingsingkan lengan kemeja berwarna krem yang ia pakai, jas kotor terkena noda sampah telah ia tanggalkan dari badan kekarnya.
Berjalan ke arah jendela, berdiri menghadap gedung-gedung tinggi yang memenuhi kota, namun belum juga papa mertuanya menerima telepon.
Sampai Poppy mengetuk pintu dan masuk membawakan dua map yang Alif yakini ada biodata istrinya di sana.
"Maaf pak Alif, hanya ada dua file cv pekerja yang baru diterima bekerja mulai hari ini, benarkah ini yang pak Alif maksud?" Tanya Poppy seraya maju meletakkan map di atas meja kerja Alif.
Alif mengangguk saja, ia menduduki kursi kerjanya dengan perasaan tidak sabar membuka salah satu map yang diberikan Poppy.
Poppy menatap Alif dengan bingung, ia memberanikan untuk bertanya lagi.
"Maaf pak, apa ada masalah dengan penerimaan kemarin?"
"Tentu saja salah, siapa yang berani mempekerjakan istriku?"
"Apa?" Poppy terkejut namun masih bingung.
Gadis itu membaca dengan perlahan namun, ada rasa ingin tertawa Poppy saat ini. Memang benar itu adalah cv Humairah istri dari bosnya sendiri, namun yang membuat geli adalah KTP Humairah masih berstatus belum kawin. Ada apa ini pikirnya dalam hati?
"Benar, ini adalah nona Humairah."
Semua karyawan lama mengenal Humairah termasuk Poppy sendiri yang pernah tidak sengaja mengintip pertikaian antara Alif, Humairah, Daffa dan mendiang Aisyah beberapa bulan lalu yang terjadi hingga membuat kantor cukup heboh.
Dalam benaknya Poppy mulai membayangkan jika benar gosip yang beredar bahwa bosnya itu tengah tidak baik-baik saja dengan istrinya hingga tidak tahu bahwa istri sendiri melamar pekerjaan di kantor yang dipimpin suaminya.
Belum lagi gosip bercerai yang juga mulai terendus biang gosip kantor ini. Namun yang membingungkan bagi gadis berumur 30 tahun ini adalah kenapa Humairah mau bekerja di kantor ini padahal ia dan Alif tengah gonjang ganjing rumah tangga.
"Jangan suka menebak-nebak, istriku sedang menderita lupa ingatan. Soal KTP memang istriku belum sempat mengubah statusnya ke pencatatan sipil. Awas jika kau bergosip tentang ini!" Sergah Alif saat menatap Poppy yang melamun seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh sekretarisnya itu.
"Maafkan aku pak, aku aku mengerti sekarang," jawab Poppy terbata dan menunduk takut, ia baru memaklumi kejadian ini karena alasan lupa ingatan yang Alif jelaskan.
"Mayang Sari?" Gumam Alif lagi setelah sekilas membaca nama yang tertempel di map satunya lagi.
Poppy mengangguk, "Iya pak, dia juga pekerja baru yang diterima berbarengan dengan nona Humairah hari ini."
__ADS_1
"Berhentikan dia, cari yang lain saja."
"Apa?"
"Maksud pak Alif? Apa ada yang salah, penerimaan ini sudah melalui wawancara dan pertimbangan yang matang dari HRD, dan pantas untuk pekerjaan ini," sanggah Poppy seakan protes, karena map yang bosnya inginkan adalah map biodata Humairah kenapa yang satunya jadi terkena imbas?
"Aku tidak suka namanya kenapa ada banyak nama Mayang Sari di kota ini? Ini membuat ku pusing, jangan bertanya lagi ikuti saja perintahku. Suruh HRD baru sialan itu menghadapku setelah makan siang nanti karena dia tidak sopan mempekerjakan istriku."
Poppy hanya geleng-geleng kepala dalam hati, sungguh bosnya labil layak anak ABG akhir-akhir ini dan itu sedikit merepotkan pekerjaannya belum lagi sikap Alif yang menyebalkan sejak gonjang ganjing rumah tangga yang sudah diketahui khalayak kantor mereka.
"Kau boleh keluar!"
Poppy mengangguk seraya mengambil lagi map bertuliskan nama Mayang Sari dari hadapan Alif kecuali map biodata Humairah.
"Baik pak, aku permisi."
Sepeninggal Poppy, kini tinggallah Alif yang menatap lekat-lekap pas photo istrinya yang menempel di kertas biodata Humairah.
Ponselnya berdering.
"Assalamualaikum papa," sapa Alif segera mengangkat telepon dari mertuanya.
Alif tersenyum saat papa Imran mengatakan bahwa lelaki paruh baya itu sudah mengetahui dan menyetujui Humairah mulai bekerja di kantor Alif pagi ini.
"Papa, aku hanya....." Alif tidak meneruskan kalimatnya yang telah dipotong papa Imran.
'Nak Alif, sampai kapan kau menghindar? Ini bukan semata-mata kebetulan saja, papa rasa ini jawaban kegamangan hatimu tentang keadaan Humairah yang melupakan kau sebagai suaminya, ini seperti menjemput jodoh. Humairah datang dengan sendirinya ke kantor mu, dia menjemput suaminya secara tidak sadar. Kenapa tidak kau ambil kesempatan ini untuk kembali mengambil hatinya? Seperti orangtua lain, sungguh papa ingin kalian berbaikan. Jika bisa papa tidak ingin putri semata wayangku berganti suami."
Alif terdiam, ia teringat obrolan dengan Daffa kemarin, barulah ia paham tentang perkataan sahabatnya itu yang ia yakini telah bertemu Humairah lebih dulu.
Senyumnya mengembang saat mendengar nasihat dari papa Imran yang seolah memberinya semangat baru. Perasaannya tiba-tiba berbunga layak remaja baru saja bertemu kekasihnya.
Setelah menutup telepon, Alif berdiri dari kursi. Ia berjalan ke toilet yang tersedia di sudut ruangannya, ia membasuh muka dan menatap lama pantulan wajahnya di cermin wastafel.
"Iya, papa benar Daffa juga benar. Yang berlalu biarlah berlalu, bukankah wanita akan luluh dengan seribu bunga? Mungkin saja Humairah akan luluh juga dengan seribu cara yang bisa ku tempuh untuk mendapatkan kesempatan itu lagi."
Gumam Alif yakin.
#####
__ADS_1
Maaf slow up, otor nya lagi sibuk di Real Life dan lagi kurang sehat juga 😨😨😨