"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 67


__ADS_3

Alif terpaku, Humairah marah padanya perihal kedatangan dua perempuan teman sekolahnya dulu.


Alif melihat gelang di tangannya, ia menghubungi Nadine memberitahu bahwa gelangnya terjatuh di ruangannya.


Humairah berjalan kaki, ia berniat naik bis saja dengan arah kantor papanya, sedang menunggu di halte ia tidak sengaja melihat ke arah seorang pria keluar dari mobilnya dan seorang perempuan juga keluar dari mobil yang lain.


"Mas Alif?"


Humairah melihat jelas bahwa lelaki itu adalah calon suaminya, bertemu dan bicara dengan wanita cantik yang diakui Alif adalah sahabat jaman sekolahnya dulu. Dada Humairah kembali bergetar.


"Aku benar-benar cemburu, dia cantik sekali....."


Gumam Humairah melihat Alif dan Nadine dari arah halte tempatnya berdiri saat ini.


"Terimakasih banyak teman, aku sangat sayang dengan gelang ini, gelang kenang-kenangan dari ayahku...." ucap Nadine menerima gelangnya dari Alif.


"Baiklah maaf tidak bisa lama, ada banyak pekerjaan menungguku," balas Alif dengan senyum tipis khas wajahnya.


"Baiklah, sekali lagi terimakasih."


Nadine memeluk Alif.


"Lepaskan aku, lain kali jangan berpelukan lagi jika kita bertemu. Istriku cemburu, dia tidak suka kemesraan kita," kilah Alif terkekeh.


"Aku tahu, aku sengaja melakukannya.... Kau terlambat Alif, istrimu baru saja melihatnya...Dia baru saja naik bis," ucap Nadine menujuk bis yang baru melewati mereka.


"Oh sial, kau sengaja mengerjaiku?"


Alif melihat bis yang membawa Humairah kian menjauh.


"Kau sungguh lucu jika takut pada istri, baiklah sebaiknya kejar dia. Aku tidak akan ikut campur," jawab Nadine mengangkat kedua tangannya seraya terkekeh geli.


Alif segera naik mobil mengejar bis yang ditumpangi oleh Humairah. Pikirannya kacau jika Humairah benar-benar marah melihat ia dan Nadine berpelukan lagi padahal wanita itu meninggalkannya di kantor tadi oleh sebab yang sama.


"Sayang ayolah angkat teleponnya," gumam Alif saat terus menghubungi Humairah namun tidak dijawab oleh wanita itu, ia juga tidak tahu kemana arah bis tadi sebab sudah tidak terlihat di jalanan yang ia tempuh yang sepi pengendara hingga bis berjalan lebih cepat dari biasanya.


Sampai Alif mendapat sebuah pesan dari Humairah, ia tersenyum saat membukanya namun segera pudar saat membaca isinya.


"Oh..... Ini sungguh berat, inikah rasanya jadi suami yang dilupakan."


Alif menghembus nafas kasar setelah memberhentikan mobilnya untuk mengurungkan niat mengejar bis yang membawa Humairah.


Isi pesan agar Alif memberinya waktu untuk istirahat dan tenang, Humairah menolak bertemu saat ini. Perempuan itu hanya ingin jauh dari bosnya sebentar saja.

__ADS_1


Alif menyandarkan kepalanya yang cukup pusing menghadapi Humairah.


Tanpa mereka sadari, surat gugatan perceraian yang dilayangkan Humairah beberapa bulan lalu telah mula diproses pihak pengadilan,tercetak sudah surat panggilan sidang mediasi yang dijadwalkan akan berlangsung tiga hari lagi terhitung mulai tanggal hari ini.


Surat panggilan sidang itu akan dikirimkan melalui pos ke alamat masing-masing kedua pihak yang terlibat Humairah dan Alif.


Pada kenyataannya Alif tidak bisa mencabut gugatan itu meski papa mertuanya sudah menawarkan tempo hari, Alif tetap pada pendiriannya jika Humairah yang harus mencabut niat gugatan itu jika sudah ingat semuanya nanti. Hingga menjelang itu semua Alif gencar merayu dan membujuk Humairah meski belum mengingat apapun saat ini.


Namun surat panggilan telah pula siap dilayangkan ke rumah mereka padahal Humairah masih belum memberi tanda akan mengingat Alif sebagai suaminya.


*****


Malam harinya, Alif mendapat telepon dari papa Imran yang mengatakan bahwa Humairah tengah dijemput oleh seseorang dan itu lelaki yang mengaku teman baru Humairah.


"Apa maksud papa?" tanya Alif tidak sabar.


"Iya, istrimu dijemput pria bernama Arya. Humairah mengatakan bahwa pria itu teman barunya, mereka tidak pergi jauh hanya makan malam di restoran tidak jauh dari rumah papa," jawab papa Imran di seberang telepon.


Alif mengambil nafas dalam-dalam agar tidak salah pendengarannya saat ini. Arya bukankah pria itu adalah pria yang tempo hari berani mendekati Humairah di kantor waktu itu.


Setelah menutup telepon Alif bergegas menuju restoran yang papa Imran beritahu tadi.


Dalam mobil Alif terus menghubungi Humairah namun tidak dijawab sekalipun, dadanya benar-benar sesak saat ini, ia tidak rela jika Humairah ditatap lelaki lain lelaki mata playboy seperti Arya.


Dalam perjalanan ia melewati sebuah apotek, ia tiba-tiba mendapat sebuah ide agar Humairah tidak lagi mau pergi dengan lelaki itu.


Setelah sampai restoran Alif berjalan setengah berlari namun terhenti saat matanya melihat jelas pada arah meja sudut yang dihuni dua orang yang sedang tertawa dalam sebuah obrolan. Darahnya seakan mendidih, senyuman lelaki itu membuatnya ingin marah.


"Awas kau Arya, beraninya kau mendekati perempuan yang sudah menjadi milik orang lain. Milikku Humairah hanya menjadi milikku saja."


Alif merencanakan sesuatu yang dibantu oleh pelayan restoran yang rela ia bayar mahal.


Sampai pada Arya izin ke toilet pada Humairah, Alif hanya memantau saja dari kejauhan. Alif juga mengikuti kemana mobil Arya membawa Humairah ketika pulang.


Di jalanan sepi, Humairah menerima sebuah pesan dari papanya bahwa ia harus berhati-hati pada lelaki yang baru dikenalnya seperti Arya bisa saja lelaki itu berniat jahat padanya.


Humairah menatap Arya penuh tanya yang mana lelaki itu fokus mengemudi sambil bernyanyi mengikuti irama lagu yang diperdengarkan oleh radio mobil.


Humairah melirik kantong celana yang dipakai Arya saat ini, tampak sebuah benda dalam kemasan yang bermerk familiar untuk sebuah benda yang mirip alat kontrasepsi k*ndom berwarna merah dengan varian stroberi hampir terjatuh dari kantong celana milik Arya.


Dadanya cemas, ia mendadak takut luar biasa.


"Mas Arya, bisa turunkan aku di sini saja."

__ADS_1


"Ada apa Humairah?"


"Aku bilang turunkan aku sekarang."


"Humairah, tidak bisa ini sepi. Kenapa? Hei?" Arya meraih tangan Humairah yang tampak gemetar.


Humairah menepis tangan lelaki itu dengan kasar, "Berhenti atau aku lompat dari mobil ini!"


Arya menginjak rem, mobil baru berhenti Humairah telah pula keluar dengan cepat. Berlari dari Arya yang menatapnya heran, berlari terus berlari dengan perasaan takut.


Bersamaan dengan Alif yang meneleponnya.


"Mas Alif, jemput aku sekarang. Aku takut!"


"Humairah, kau dimana?"


"Aku sedang di jalan Juanda tidak jauh dari rumah sakit," jawab Humairah terengah engah dalam larinya.


Ia melihat ke belakang bahwa Arya tengah mengejarnya dalam kebingungan.


"Oh sayang kebetulan sekali, aku berada tidak jauh dari jalan itu. Tunggu aku Humairah."


Alif tersenyum penuh arti seraya menjalankan mobilnya tidak jauh dari sana.


"Humairah."


Humairah meronta saat Arya berhasil meraih tangannya.


"Lepaskan aku!"


"Kau kenapa hei?"


"Kau masih bertanya? Dasar lelaki tidak tahu malu, kau berniat jahat padaku mas Arya, aku tidak menyangka kau seperti itu."


"Apa maksudmu?"


"Kenapa kau mengajakku lewat jalan sepi seperti ini? Juga kenapa aku melihat ada kond*m di saku celana mu? Kau berniat jahat padaku mas Arya, aku tidak bisa pergi dengan lelaki yang punya otak mesum seperti mu, aku bukan wanita lemah yang bisa kau perdaya!"


"Kond*m apa maksudmu?"


Humairah tidak menjawab lagi, ia berlari menjauh lagi setelah melihat mobil Alif mengarah padanya.


Humairah berhambur memeluk Alif saat pria itu turun dari mobil dengan mata yang sudah menangis ketakutan, namun dibalik itu terdapat senyum puas seorang Alif seraya menatap tajam Arya yang melihat mereka berpelukan.

__ADS_1


***


Lanjut dong!


__ADS_2