
Di rumah.
Alif meringkuk dalam selimut tebal di atas ranjang besar miliknya dan Humairah.
Istrinya datang dengan segelas teh madu hangat untuk Alif yang masih saja lesu jika di rumah.
"Sayang, bangunlah ini ku bawakan teh madu untuk mu," ucap Humairah seraya mengelus lembut wajah Alif.
Alif membuka mata dengan malas.
"Terimakasih, taruhlah di sana nanti ku minum. Kepala ku pusing Humairah," jawab Alif pelan.
Humairah tersenyum, ia mengambil posisi duduk di tepi ranjang dan mulai memberi pijatan menenangkan di kepala pria itu.
"Bagaimana enak?" tanya Humairah setelah beberapa menit memijat kepala suaminya.
Alif mengangguk dan membuka mata, ia meraih tangan Humairah hingga aktivitas memijat jadi berhenti.
"Terimakasih sayang, ini pijatan ternyaman yang ku rasakan."
Humairah tersenyum mendengarnya, ia membalas dengan sebuah kecupan lembut di sudut bibir lelaki itu.
"Bagaimana, masih kuat ke kantor atau ingin istirahat saja di rumah? Jangan memaksa jika masih lesu, biar aku saja yang ke kantor hari ini," tawar Humairah.
"Tidak sayang, aku masih kuat.... Kau tidak boleh ke kantor sendirian. Aku sudah lebih baik sekarang," jawab Alif cepat seraya bangun dari posisinya semula baring, ia meraih gelas yang berisi teh madu hangat buatan istrinya tadi di atas nakas lalu meminumnya hingga habis.
"Sudah lebih baik?"
Alif mengangguk.
"Mas Alif bagaimana jika kita periksa ke dokter lagi, aku jadi khawatir keadaanmu saat ini. Lihatlah ini sudah berlangsung lama kau selalu lesu dipagi hari."
"Apa kau keberatan punya suami yang mulai sakit-sakitan sekarang? Sayang, jangan tinggalkan aku oke," ucap Alif yang kembali meringkuk memeluk dan membenamkan wajahnya di perut Humairah.
"Apa kau merasa sesuatu yang sangat berbeda dari tubuhmu?"
Alif mengangguk, "Aku sakit Humairah, bagaimana jika ketika diperiksa ternyata aku sedang sakit parah? Apa kau akan meninggalkan ku?"
Humairah tersenyum geli sendiri saat mendengarnya.
"Sayang jangan bicara seperti itu, bukankah kita akan selalu bersama dalam suka dan duka? Dalam keadaan sehat maupun sakit? Oh aku merasa kau meragukan ku mas Alif."
Alif menggeleng, "Tidak Humairah, maafkan aku. Aku hanya takut jika tidak bisa membahagiakan mu karena sakit ini, ketahuilah aku tidak baik-baik saja sekarang. Aku masih sering muntah-muntah tidak jelas, lihatlah badanku jadi kurus karena susah makan."
__ADS_1
"Anggap saja kau sedang diet agar tidak terlalu berat saat menindihku," kekeh Humairah bercanda.
Alif kembali duduk, ia menatap Humairah yang tampak santai.
Dengan senyum Humairah meraih wajah suaminya memberi banyak kecupan di sana, "Bagaimana sudah lebih baik? Kau akan sembuh dengan sendirinya nanti, bersabarlah," kata Humairah penuh arti.
"Sayang, kau membuatku takut.... Kebahagiaan ini terlalu singkat jika memang aku sakit parah, aku pria payah Humairah."
Kembali Humairah membungkam mulut Alif dengan ciuman panjang pembangkit suasana.
"Berhenti bicara yang tidak-tidak, ke kantor atau libur saja?"
Alif tidak menjawab melainkan kembali menyembunyikan wajahnya di perut istrinya dengan manja.
"Mas Alif itu terasa geli."
"Aku baru tahu ternyata lemak perut juga berguna, bisa untuk bermanja manja seperti ini," ucap Alif sambil memainkan wajahnya di sana.
Humairah tertawa dibuatnya, selain merasa geli juga karena ucapan suaminya yang seakan menggelitik. Humairah jadi tidak sabar menunggu nanti malam, kejutan yang akan ia berikan sebagai kado ulang tahun pernikahan mereka yang pertama.
"Kau ingin mengatakan perutku gendut?"
Alif hanya terkekeh saja.
"Andai perut ini ada isinya, pasti akan lebih membahagiakan.... Segera hadir sayang, kami sangat mengharapkan mu," ujar Alif pada perut Humairah setelah menciumnya beberapa kali.
"Tentu saja sayang, anak selalu akan jadi pelengkap kebahgiaan kedua orangtuanya termasuk kita. Semoga kau segera hamil Humairah, aku sangat memimpikan menjadi seorang papa. Anak lelaki yang banyak, itu menyenangkan."
"Hanya anak lelaki? Tidak ingin anak perempuan juga?"
"Bukan itu maksudku, aku ingin anak lelaki yang banyak dan perempuan cukup dua saja."
"Kenapa begitu?"
"Agar kau tidak punya banyak saingan," jawab Alif terkekeh.
Humairah tersenyum mendengarnya.
"Anak yang banyak, membayangkannya saja membuatku ngeri melahirkan berkali kali," jawab Humairah meremas rambut Alif dengan gemas.
"Kau tidak mau?"
"Mas Alif, yang benar saja..... Memangnya kau kira hamil dan melahirkan itu mudah hingga minta anak yang banyak?"
__ADS_1
"Tenang saja, akan ku bantu nanti."
"Bantu apa?" kesal Humairah.
"Ya, bantu mendampingi saat melahirkan, bantu mengurusnya nanti, aku juga akan membantu memijat punggung mu jika kau muntah-muntah saat hamil nanti, semuanya ku bantu jadi kau tenang saja hanya menikmati masa kehamilan dan melahirkan dengan pikiran yang tenang dan bahagia, kau mau apa juga pasti ku beli nanti. Apapun itu, jadi aku ingin kau mengandung dan melahirkan banyak keturunan untukku nanti, aku hanya dua beradik dan kau anak tunggal. Keluarga kita harus ramai jangan mengikuti jejak orang tua kita yang pelit anak."
Kalimat demi kalimat itu begitu entengnya keluar dari mulut pria yang masih memainkan hidungnya di perut Humairah yang kian membesar dengan usia kehamilan akan memasuki bulan ke empat tanpa Alif sadari.
Humairah mengulum senyum, lemak perut yang Alif kira ternyata sudah ada janin di dalamnya.
"Dasar tidak peka," gumam Humairah meremas lagi rambut suaminya dengan gemas.
Alif kembali duduk, lalu bertanya lagi.
"Sayang memang kau tidak merasakan tanda-tanda kehamilan?"
Humairah menggeleng.
"Tapi setelah ku ingat-ingat kau bahkan tidak lagi mens selama kita kembali bersama beberapa bulan ini, sayang kita harus periksa, bisa saja kau hamil tanpa kita sadari."
Alif bersemangat mengatakannya. Humairah menyengir saja sekarang ia bingung sendiri bagaimana menjawab itu semua, ia pikir Alif tidak akan ingat tentang periode haidnya yang memang tidak pernah datang lagi sejak mereka bersama.
"Ayo bangun, kita ke kantor lihat ini sudah jam berapa?" Ajak Humairah menuntun suaminya turun dari ranjang.
"Sayang?"
Humairah terus berkilah agar Alif tidak curiga, ia sudah menyiapkan kejutan untuk malam nanti jangan sampai gagal sebelum waktunya.
"Ayolah, kita ada meeting penting hari ini."
"Humairah, kita harus periksa nanti. Bisa saja kau gemuk karena hamil bukan karena makan."
Humairah membungkam mulut suaminya dengan ciuman mesra.
"Baiklah kita akan periksa besok saja, hari ini kita akan sibuk. Tenanglah mas Alif, jika kita diberi rezeki anak tentu kita akan mendapatkannya nanti, insyaallah kita akan memiliki baaaaaanyak keturunan yang meramaikan keluarga kita. Aku mencintaimu sayang, aku akan mengandung banyak anak lelaki dan dua anak perempuan untukmu, jadi siapkan harta yang banyak untuk menghidupi dan sekolah mereka nanti."
"Awas jika kau mengeluh badanku gendut karena keseringan bongkar mesin!"
Humairah membesarkan matanya dengan lalu mengecup lagi dan lagi bibir Alif dengan gemas.
"Memangnya motor bisa bongkar mesin," kekeh Alif.
"Mas Alif," rengek Humairah.
__ADS_1
"Aku bisa membayangkan bagaimana ukuran pakaianmu jadi xl nanti," goda Alif yang tertawa.
"Iya, dan aku membayangkan kau terus kurus dan tidak gagah lagi karena keseringan muntah-muntah seperti ini," balas Humairah tajam.