"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 23


__ADS_3

"Bu, aku tidak akan marah. Percayalah, aku hanya ingin ibu jujur padaku. Ini adalah orang yang sama bukan? Aku mengingat wajah papaku saat mudanya, dan photo ini ku dapatkan dari mas Daffa. Ibu tahu apa yang ku ketahui lagi?"


Humairah menunjukkan sebuah gambar pada ibu Aini yaitu gambar tuan Imran yang ia dapat dari Daffa beserta liontin kalungnya.


Ibu Aini tampak ragu, namun ia tidak bisa melihat wajah Humairah sedih, maka darinya ibu Aini mengangguk perlahan seiring airmatanya yang jatuh.


"Dia papaku bu, dia juga ada di kota ini. Dan apa yang paling membingungkan? Kak Mayang, kak Mayang bu.... Apa ibu ingin menjelaskan sesuatu tentang dia?" pancing Humairah agar ibunya tidak berbohong kali ini.


Ibu Aini menegang, "Sayang, apa yang kau bicarakan?"


"Ibu tidak tahu siapa madu dalam rumah tanggaku bukan? Kak Mayang bu, putri kandungmu! Dia beridentitas sebagai Aisyah putrinya tuan Imran, papa kandungku, dialah yang menjadi istri kedua suamiku, oh sayang sekali ibu tidak datang ke pesta pernikahan mereka tempo hari, jika ibu datang mungkin aku tidak akan terlambat mengetahui ini sekarang."


Humairah berkata lantang di hadapan ayah dan ibu angkatnya.


"Aisyah sayang tenanglah, ibumu mungkin ada sesuatu ingin dijelaskan padamu," Ayah Ihsan tampak tenang dalam menyikapi permasalahan ini.


Berbeda dengan ibu Aini, ia tampak semakin menangis. Membuat Humairah menjadi tidak tega.


"Bu, ayolah jangan menangis aku hanya ingin tahu kebenarannya. Ibu bilang kak Mayang ikut pamannya untuk sekolah tapi kenapa aku menemukan dia sebagai Aisyah putri dari papaku? Apa itu alasannya kak Mayang tidak pernah pulang kemari meski libur sekolah?" selidik Humairah lagi.


Ibu Aini masih bungkam, ia tidak tahu harus menjelaskan dari mana, sungguh ia tidak menduga Humairah mengetahui semua ini, ia juga tidak mengira bahwa putri kandungnya yang telah menjadi istri kedua Alif dan menjadi madu dalam rumah tangga Humairah dan Alif.


Ia tidak pernah mendapat kabar tentang itu. Ayah Ihsan hanya bisa mengusap punggung istrinya itu dengan sayang, ia tahu apa yang dirasakan oleh ibu Aini sekarang.


Namun ia juga tidak bisa ikut campur terlalu dalam karena ayah Ihsan merupakan suami kedua dari ibu Aini dan bukan ayah dari Mayang, lagipula kejadian itu sama sekali ia tidak ada hubungannya dengan dirinya yang menikah dengan ibu Aini setelah semua terjadi.


Iya, ayah Ihsan adalah suami kedua dan tidak memiliki keturunan hingga Humairah lah yang menjadi anak kesayangannya.


"Bu, maafkan aku...."


Ucap Humairah sambil memeluk ibunya yang menangis, "Baiklah, aku tidak akan memaksa. Kapan ibu siap ibu boleh menjelaskannya padaku, percayalah apa yang terjadi saat ini tidak akan mempengaruhi hubungan kita, aku menyayangi ibu layak ibu kandungku, itu tidak akan berubah hanya karena hal ini."


"Aku bersyukur bisa mengingat semuanya. Hanya satu tujuanku jika memang orang tuaku masih ada aku hanya ingin memberikan baktiku disisa umurnya, sama seperti aku berbakti pada kalian berdua. Aku harap ibu mengerti, apa aku boleh bertemu dengan papa Imran?"


Ibu Aini menoleh pada wajah Humairah, ia tidak menjawab melainkan menangis semakin kencang.


"Ibu, ayolah kita bisa bicara semua ini dengan baik. Jangan menangis oke?" Humairah kembali memeluk dan menghapus airmata ibunya dengan tangan cantiknya perlahan.


"Ibu bersalah padamu Humairah, maafkan ibu mak maafkan ibu," ucap ibu Aini disela tangisnya.


"Tenangkan diri ibu, aku tidak akan memaksa jika ibu belum siap. Lagi pula apapun yang terjadi di masa lalu, yang terpenting bagiku adalah mengetahui bahwa papaku masih hidup dan masih sehat hingga sekarang, tentang kak Mayang, dia adalah seorang dokter cantik bu, perempuan yang menjadi pilihan hati suamiku. Mas Alif sangat mencintainya bu, kami berdua adalah istri dari pria yang sama."


Mendengar itu ibu Aini semakin menangis pilu, ia tidak mengetahuinya hal ini. Benar kata Humairah andai ia hadir di pesta pernikahan Alif dan Aisyah waktu itu mungkin ia akan mengetahui ini sejak awal.


Karena ibu Aini masih saja bungkam, Humairah memutuskan untuk pamit pulang karena Alif memberinya pesan WA bahwa lelaki itu ingin pulang sekarang.

__ADS_1


****


"Mas Alif?"


Humairah terkejut, suaminya tidak berbohong lelaki itu memang datang dan yang mencengangkan adalah Alif datang dengan buket bunga yang besar, besar sekali.


"Apa aku terlihat aneh?" cetus Alif karena Humairah menatapnya tidak percaya saat ini, ia bahkan dibiarkan berdiri diluar pintu.


Humairah tersenyum lalu mengangguk, "Maafkan aku, ayo masuk dulu."


Alif mengikuti langkah Humairah, lalu tanpa basa basi ia meraih tubuh wanita itu dan mendekapnya dengan erat, iya Alif merasakan jantungnya mulai memompa dengan cepat.


Sejenak Humairah tertegun.


"Ini untukmu," ujar Alif sambil memberikan buket bunga mawar berwarna putih bercampur warna merah muda.


"Mas Alif tidak sedang demam kan?" bukannya langsung menerima Humairah malah meraba kening suaminya dengan heran.


"Maaf, aku tidak pernah memberimu ini."


"Iya bahkan tidak setangkai pun," jawab Humairah terkekeh.


"Baiklah, terimakasih..... Meski ini mengejutkan aku senang akhirnya bisa mendapatkan bunga dari suamiku ini," sambung Humairah lagi sambil memberi kecupan di pipi sang suami, namun hal itu membuat pria itu menjadi malu sendiri.


"Mas Alif datang saja membuatku bahagia, apalagi dengan oleh-oleh bunga mawar yang banyak seperti ini, aku mencintaimu mas Alif!"


"Ayo, apa kita ingin terus berdiri di sini? Aku kira mas Alif tidak akan datang, apa ada barang yang tertinggal?" Tanya Humairah heran, ia mengajak suaminya berjalan menuju ruang tengah sambil terus menciumi mawar dari Alif tadi.


Alif merutuki hatinya yang ingin sekali menjawab bahwa memang ada hal yang tertinggal di sini, bukan barang melainkan hati dan kenyamanan yang ia rasakan mulai sering tertinggal dan tidak ikut ketika ia pulang ke rumah istri keduanya akhir-akhir ini.


"Iya, rasa yang tertinggal," jawab Alif ambigu, Humairah menoleh membuat wajahnya memerah.


"Aku lapar, apa kau memasak?" dengan cepat pula Alif bertanya agar ucapannya tadi tidak mengundang kontroversi.


"Maaf, aku baru pulang dari rumah ibu. Mas Alif mau menunggu? Akan ku buatkan jika begitu."


"Apa kau ke kampus tadi siang?" Alif bertanya hal lain lagi.


Humairah mengangguk, "Iya, aku ada jadwal bertemu dosen pembimbing memangnya kenapa?"


"Kenapa ponselmu tidak aktif waktu itu? Aku menyusulmu ke kampus tapi kau sudah tidak ada, siapa yang mengantarmu pulang?"


"Benarkah? Maafkan aku, ponselku mati habis daya. Mas Alif menyusulku? Apa aku tidak salah dengar?"


"Jangan berkilah, siapa yang mengantarmu pulang? Kau kemana saja sebelum pulang kemari?" tanya Alif lagi dengan nada kesal, ia mengingat wajah Daffa dan Humairah ketika di kampus siang tadi.

__ADS_1


"Aku pulang diantar mas Daffa, maafkan aku... Tadi siang kami bertemu ada sesuatu yang ingin ku tanyakan, setelah itu aku pulang ke rumah ibu, tidak kemana lagi."


"Baiklah, jangan sebut Daffa di depanku. Ayo aku lapar!" Ajak Alif menarik tangan Humairah untuk ke kamar.


"Mas, seharusnya kita ke dapur bukan ke kamar? Mau makan atau tidak? Akan ku buatkan jika kau mau menunggu"


"Tidak jadi, aku akan memakan mu saja!" jawab Alif yang telah sampai kamar, ia meraih buket bunga di tangan Humairah lalu meletakkannya di atas meja rias, lalu ia menarik lagi tubuh istrinya itu untuk duduk di pangkuannya di atas ranjang.


"Mas Alif?"


"Aku cemburu," akhirnya kata itu keluar juga dari bibir seorang Alif yang selama ini tidak pernah melihat Humairah.


"Mas Alif, cemburu benarkah?"


Alif tidak menjawab, ia mulai meraih bibir istrinya dan mereka berciuman cukup lama.


"Cemburu tanda cinta?" cetus Humairah lagi setelah melepas sejenak tautan bibir mereka.


Alif merengkuh tubuh Humairah dengan erat, ada perasaan berdesir ketika mata mereka bertemu, bermacam sensasi yang ia rasakan saat ini pada tubuhnya yang merespon luar biasa akan wanita cantik itu.


"Sepertinya aku mulai jatuh padamu," jawab Alif kembali ambigu, ia sudah sibuk menciumi leher istrinya dengan gemas.


"Jatuh apa? Jatuh cinta maksudmu?" tanya Humairah lagi seraya menghindar karena geli.


Alif tidak menjawab.


"Mas Alif?"


"Apa?"


"Aku serius, apa yang kau katakan tadi? Jatuh apa? Jatuh cinta?"


"Tidak tahu," jawab Alif membalas tatapan mata bening Humairah yang kian membuat otaknya sakit untuk berpikir keras.


"Mas Alif?"


"Panggil aku sayang mulai sekarang!"


"Apa?"


"Panggil aku sayang, jangan mas mas mas terus!" kesal Alif tapi ia masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher polos Humairah.


"Sayang."


"Bagus," ucap Alif tersenyum, ia menatap wajah istrinya dengan jarak yang sangat dekat, hidung mereka beradu, pun dengan mata mereka yang saling menatap dengan dalam.

__ADS_1


"Kau jatuh cinta padaku?" tanya Humairah pelan lagi serius.


Alif tidak menjawab melainkan membawa tubuh mereka untuk rebah di ranjang besar dan empuk itu.


__ADS_2