
Humairah hanya diam menyimak interaksi akrab antara pria yang baru saja menciumnya itu bersama dua orang perempuan asing yang ia tidak kenal sebelumnya.
Humairah mengeluh dalam hati, betapa Alif tidak canggung memeluk wanita lain di depan matanya sendiri.
"Hei, kenapa kau diam saja? Aku salut padamu, bisa bertahan dengan pria yang telah mendua dan menyebalkan ini, kalian cukup viral waktu itu hingga semua teman sekolah kami mengetahuinya. Aku senang akhirnya melihat kalian baik-baik saja."
Humairah membalas tatapan Nadine dengan raut bingung.
"Viral?" gumamnya pelan seraya melirik Alif yang tersenyum kaku seraya mengusap leher.
"Baiklah, mari kita duduk dulu," ajak Alif pada kedua temannya.
Lalu lelaki itu menghampiri Humairah yang diam tidak bergeming.
"Sayang, maaf mereka teman sekolahku dulu. Baiklah, kau bisa temui Gunawan terkait pekerjaan kita tadi juga jangan lupa minta Ima bawakan dua jus stroberi yang ku sebut tadi oke! Kami akan bicara bertiga, kau boleh kemari jika kami sudah selesai nanti."
Lain maksud Alif lain pula tanggapan Humairah, perempuan itu merasa kesal sendiri saat Alif secara tidak langsung mengusirnya dari sana, sejak bekerja baru kali ini Alif minta ia keluar ruangan jika ada tamu.
"Baik," jawab Humairah singkat.
Ia berlalu keluar ruangan, namun saat hendak menutup pintu ia berhenti sejenak dan kembali memperhatikan Alif berinteraksi dengan akrabnya bersama dua orang perempuan tadi.
"Setelah menciumku, kau bahkan bisa memberi pelukan pada wanita lain di depanku. Apa seperti itu pergaulan mas Alif selama ini? Bebas berpelukan dengan wanita manapun, ini baru dua wanita bagaimana jika ada banyak wanita yang dia peluk selama satu hari?" gumam Humairah mengelap matanya yang mulai basah.
Tidak ingin berlama-lama melihat keakraban Alif bersama wanita lain, Humairah bergegas melanjutkan niat awal untuk bertemu Gunawan urusan file pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan bos mereka.
Setelah selesai membahas tentang file, Humairah keluar dari ruangan para staff kantor yang sedang fokus pada bilik kerja masing-masing. Perempuan itu bingung ingin kemana, ia melihat jam di pergelangan tangannya, lalu beralih pada ponsel namun belum ada tanda-tanda Alif menyuruhnya untuk kembali ke ruangan mereka.
"Aisyah Humairah," panggil seseorang.
Humairah menoleh.
"Hai, mas Arya?"
Lelaki berwajah manis itu mendekati Humairah yang tersenyum padanya.
"Hai Humairah, lama tidak berjumpa."
"Hmmmm iya, maaf kemana saja kau hingga tidak pernah bertemu di kantor ini?" tanya Humairah heran.
Arya terkekeh, "Apa kau mencariku?"
"Tidak juga, aku hanya merasa sejak hari itu aku tidak pernah melihatmu lagi," jawab Humairah tersenyum juga.
__ADS_1
"Kau benar, sejak hari kita dipanggil ke ruangan pak Alif saat itu pula aku dipindahkan ke kantor cabang yang berada di kota sebelah, aku kemari ada urusan," jawab Arya jujur.
"Oh begitukah, maaf aku tidak tahu."
"Humairah," ucap Arya yang menatap wajah perempuan itu cukup lama.
"Iya mas Arya."
"Jika kau tidak keberatan, aku ingin mengobrol lebih lama lagi. Sungguh aku rindu bicara padamu, temani aku ngopi?"
Humairah berpikir sejenak, lalu ia melihat lagi ponselnya namun belum ada tanda-tanda Alif memberi pesan menyuruh kembali, rasa kesalnya kembali saat mengingat Alif mungkin saja melupakannya saat ini karena terlalu asyik bicara pada kedua teman perempuannya tadi.
Menarik napas dalam akhirnya Humairah mengangguk.
"Baiklah, ayo kita bisa mengobrol di kantin," jawab Humairah tersenyum.
"Yes! Ayo..." ajak Arya dengan raut senang.
Di kantin.
Menunggu kopi disuguhkan Arya gencar menanyakan kabar Humairah selama mereka tidak bertemu.
"Humairah, jujur padaku...."
"Apa hubunganmu dengan pak Alif hingga aku langsung dipindahkan hari itu juga karena beliau marah ketika kita dekat dihari pertama kau bekerja tempo hari? Apa kau adalah adik pak Alif?"
Humairah tersenyum mendengar kata adik.
"Adik? Darimana kau mengambil kesimpulan hingga kau kira kami adalah kakak beradik?" tanya Humairah tersenyum lebar, ia merasa geli sendiri mendengar tanggapan Arya tentang hubungannya dengan Alif saat ini.
"Apa benar begitu? Sebab pak Alif memperlihatkan gambar kalian berdua saling merangkul, itu seperti photo adik kakak. Jadi tidak heran dia marah padaku karena mendekatimu, dia bahkan memukulku hingga berdarah. Maafkan aku Humairah, apa pak Alif pikir aku tidak pantas mendekati adiknya?"
"Aku punya karir yang bagus, aku juga akan bertanggung jawab sebagai lelaki. Aku benar-benar jatuh cinta padamu Humairah bahkan pertama kali kita bertemu ketika wawancara, aku mencari cara agar bisa bertemu denganmu tapi pak Alif benar-benar memberiku pekerjaan yang berat hingga aku sibuk di kantor cabang yang baru buka, ada banyak wawancara lowongan pekerjaan yang dibuka, semuanya menjadi urusanku. Hari ini aku baru sempat kemari."
"Meski terkesan tidak tahu malu berani mendekati adik bos sendiri, tapi tidak ada salahnya mencoba bukan? Aku adalah lelaki yang suka penasaran jika tidak bisa menaklukkan seseorang."
"Aku ingin mengenal mu lebih dekat lagi Humairah, aku tidak takut pada kakakmu itu."
Humairah akhirnya tertawa juga hingga perutnya sakit sendiri, tawanya berhenti saat pelayan kantin mengantarkan dua gelas minuman di meja mereka. Gelas kopi dan gelas jus mangga kesukaan Humairah jika minum di kantin kantor.
"Kenapa kau tertawa?"
"Terimakasih," ucap Humairah pada pelayan kantin.
__ADS_1
Lalu ia kembali fokus pada Arya yang menatapnya serius.
"Silahkan diminum dulu kopinya, mas Arya jangan terlalu terburu-buru aku akan menjawabnya nanti, minumlah dulu."
Arya mengangguk lalu mengambil gelas kopi dan mulai menyesapnya pelan. Pun Humairah, ia meminum jus mangga pesanannya tadi lewat sedotan.
"Mas Arya, aku bukan adiknya pak Alif."
Arya berhenti lalu ia meletakkan kembali gelas kopi ke atas meja.
"Lalu?"
"Aku adalah tunangannya."
"Apa?" Arya terkejut hingga tersedak liurnya sendiri.
Humairah mengangguk.
"Iya, maaf tidak memberitahu mu.... Aku juga bingung saat mengetahui ini, aku menderita amnesia hingga mas Alif juga termasuk seseorang yang ku lupakan."
Humairah menjawab dengan apa yang ada dipikirannya.
"Jadi kalian bukan adik kakak?" tanya Arya memastikan sekali lagi.
"Bukan."
"Bertunangan?"
Humairah mengangguk lagi.
"Huhhhh..... Asal bukan istrinya saja, bertunangan itu adalah hal biasa. Itu artinya dia memukulku tempo hari karena cemburu bukan karena marah karena kau adiknya," ucap Arya tersenyum sungging seraya geleng kepala.
"Humairah."
"Iya."
"Sebelum janur kuning melengkung kau bukanlah milik siapa-siapa, aku ingin mengenalmu lebih jauh Humairah, aku tidak pula takut pada pak Alif meski tunanganmu sekalipun, jika dia tidak memberimu kepastian biar aku saja."
"Kau benar mas Arya, aku tentu bebas berteman dengan siapapun."
****
Lanjut...
__ADS_1