"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 71


__ADS_3

"Humairah?" Alif memastikan lagi penglihatannya bahwa benar perempuan yang sedang tersenyum padanya itu adalah Humairah.


"Iya mas Alif," jawab Humairah masih dengan senyumnya yang berubah menjadi geli sendiri melihat keterkejutan Alif mendapatinya juga berada di mobil pria itu sekarang.


Lama mereka saling memandang dalam keheningan, Humairah masih dengan senyumnya dan Alif dengan wajah sedihnya.


Beberapa jam sebelumnya, Humairah pamit pada papa Imran untuk menghadiri agenda mediasi kasus perceraiannya dengan Alif.


Semalam sudah bicara panjang lebar, dari hati ke hati bersama sang papa, telah pula ia bermunajat dalam dua rakaat tengah malamnya meminta kemantapan hati untuk babak baru kehidupan rumah tangganya dengan Alif, untuk langkah yang akan ia ambil demi masa depan yang lebih baik lagi.


Paginya, Humairah menyempatkan diri berziarah ke makam tiga orang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya, mama Rania yang melahirkannya, ayah Ihsan yang membesarkannya dengan kasih sayang layak ayah kandung, terakhir ia tampak menaruh seikat bunga mawar bermacam warna pada makam perempuan bertuliskan nama Siti Aisyah.


"Aku memaafkanmu kak Aisyah, ikhlas adalah hal yang terbaik yang pernah ku rasakan. Kau bagian dari perjalanan hidupku, bagian dari takdirku, bagian dari rumah tanggaku, kisah kita mengajarkan banyak hal padaku, rasa sakit, kecewa tapi juga ada banyak cinta disana. Semoga Allah mengampuni mu, aku sudah jauh lebih baik hari ini. Kau hadir sebagai pengalaman berharga bagiku."


Humairah tersenyum tulus setelah mengatakannya, ia tengadahkan tangan seraya berdoa sebelum meninggalkan makam Aisyah.


Humairah keluar mobil yang diantarkan oleh sopir papa Imran tepat di area parkiran gedung pengadilan negeri tempat dimana sidang mediasi akan ia jalani.


Baru akan melangkah, ia tidak sengaja melihat Alif yang berdiri mematung setelah keluar mobil, tidak lama ia melihat pula Alif berjalan menuju kembali ke mobil, saat itu pula ia terniat mengerjai seraya mengambil kesempatan saat Alif lengah ikut masuk ke mobil untuk melihat reaksi pria itu saat tahu ia telah duduk di sampingnya.


Benar saja Alif sungguh terkejut, bagaimana wajah yang sudah satu minggu tidak ia jumpai itu tengah duduk di sampingnya, duduk dengan bibir merona oleh senyum, wajah cantik yang tampak berseri dari biasanya, lesung pipi yang selalu muncul karena bibirnya tidak berhenti tersenyum sejak tadi.


Iya, Alif yakin itu adalah Humairah asli bukan sebatas halusinasi belaka, terlebih saat perempuan itu bersuara.


"Jangan menatapku seperti itu aku malu..." Lirih Humairah dengan suara manjanya.


"Humairah."


"Iya mas Alif, ini aku Humairah, sekretarismu juga istrimu."


Alif tertegun sejenak, lama ia memperhatikan penampilan dan wajah Humairah saat ini.


"Humairah?" cicit Alif lagi.


Perempuan itu ingin sekali tertawa rasanya melihat wajah bos menyebalkan itu tampak gemas namun wajah itu pula yang ia rindukan satu minggu ini.


"Iya mas Alif."


"Kenapa kau datang kemari?"


"Untuk ikut hadir pada jadwal mediasi kita."


Alif terdiam.


"Kau ingat sekarang?"

__ADS_1


Humairah tersenyum, ia tidak menjawab.


Alif menangis lagi, ia menatap Humairah dengan serius.


"Baiklah Humairah, mungkin kau sudah mengingat semuanya, semua prahara rumah tangga kita yang menjadi alasan penting hilangnya ingatanmu. Iya hari ini adalah jadwal sidang mediasi kita yang pertama, aku sangat berharap pada mediasi ini terlebih ada kau juga yang akan hadir."


Menarik napas dalam lalu Alif melanjutkan.


"Jika memang tidak bisa jalur mediasi, kau masih sama seperti dulu masih tetap ingin berpisah, aku bisa apa. Aku banyak salah padamu, aku lelaki jahat yang merusak masa-masa yang seharusnya kau lalui dengan indah sudah hampir tujuh bulan ini, aku menyesali perbuatanku yang memberimu madu pahit bahkan diawal pernikahan yang seharusnya kita lalui dengan bahagia, aku pula yang jahat dengan egoisnya ingin memilikimu padahal sudah sangat menyakitimu bahkan terniat melepasmu untuk Daffa sebagai gantinya aku mendapatkan sebuah motor."


"Aku lelaki jahat yang tidak menghargaimu Humairah, aku suami yang tidak tahu diri. Aku menyakitimu berkali-kali namun sekarang dengan sombongnya tetap ingin bersama padahal kau sudah jelas sekali ingin berpisah bahkan sebelum kau amnesia."


"Aku tidak akan memaksamu lagi Humairah, mungkin bahagiamu bukan bersama lelaki sepertiku. Kau menyukai Arya, membuatku sadar bahwa setiap hati bisa berubah, dulu kau menunggu ku dengan cinta, sekarang aku tahu semua sudah tidak sama. Aku pantas kau campakkan, selain harus ikhlas aku bisa apalagin?"


Humairah tersenyum seraya tangannya menghapus airmata lelaki cengeng itu menggunakan jari-jari lentiknya.


"Bilang ikhlas tapi menangis, ayolah jangan cengeng," balas Humairah masih tersenyum geli.


Alif menjadi lebih menangis lagi, ia benar-benar tergugu sekarang.


"Humairah, aku tidak mau berpisah.... Sungguh aku ingin kita masih bersama, aku aku...."


Humairah segera memotongnya.


Ia meraih kedua tangan suaminya seraya berkata lagi, "Mas Alif, terkadang berpisah itu bukan berarti berhenti saling mencintai tapi berhenti untuk saling menyakiti."


Alif terdiam, ia masih menatap Humairah dengan tatapan terdalam, hatinya luluh lantak mendengar kata-kata Humairah.


"Kau benar, dengan berpisah aku akan berhenti menyakitimu."


Humairah merasa gemas, ia mengecup kedua punggung tangan Alif yang ia genggam saat ini.


"Aku tidak bilang begitu, kata-kata tadi hanya sebuah ungkapan yang bisa mewakili beberapa keadaan."


"Inilah indahnya pernikahan, jika kita tidak bisa menyelesaikan masalah di rumah, ada para ahli yang bisa memberi kita pencerahan. Dan untuk itulah kasus perceraian dimulai dengan jalur mediasi agar kedua pihak bisa diselamatkan dengan nasehat-nasehat mereka jika memang masih bisa bersama kenapa tidak?"


Alif terdiam, ia termangu mendengar perempuan itu bicara dengan tenang tanpa airmata apalagi dengan suara yang tinggi, sama sekali tidak. Humairah bahkan bicara masih dengan senyum yang menghiasi bibir merah mudanya.


"Maafkan aku mas Alif, aku juga cukup egois selama ini. Aku juga bukan perempuan sempurna, aku banyak salahnya. Masalah rumah tangga kita tidaklah terlalu besar, hanya saja aku yang belum terlalu dewasa menanggapinya, usiaku yang masih muda dan banyak faktor lain yang menyebabkan aku tidak sedewasa wanita yang telah matang berumah tangga."


"Aku mencintaimu mas Alif, bahkan saat hilang ingatan pun aku tetap jatuh cinta padamu juga, tidak peduli seberapa sakit ketika diawal pernikahan, semuanya sudah pun berlalu kita tidak bisa merubahnya tapi kita bisa menyikapinya dengan baik hingga kita bisa melewati semua ini dengan baik pula, pelajaran berharga yang tidak harus kita hindari, jika menghadapi masa depan bersamamu kenapa aku harus repot seorang diri."


"Humairah?"


Perempuan itu mengangguk, "Papa benar, menjadi janda itu tidak mudah. Semua bisa diperbaiki, ini adalah ujian rumah tangga kita untuk menjadikan kita lebih baik lagi. Ingin mendengar nasehat para ahli?"

__ADS_1


Humairah bertanya pada Alif setelah melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan mediasi mereka akan dimulai dalam lima belas menit lagi.


"Aku masih percaya bahwa komitmen sebuah pernikahan itu memiliki ikatan yang kuat, saling memperbaiki bukan saling mengakhiri."


"Humairah? Benarkah apa yang kau katakan ini?"


Humairah tersenyum lagi, ia mengelap seluruh wajah Alif dengan tissu.


"Ayolah jangan cengeng, mungkin hari ini kita akan mendengar nasehat dan pelajaran berharga dari mediasi ini. Aku juga ingin yang terbaik untuk kita bersama. Maafkan aku yang sempat ingin berpisah yang seharusnya tidak pernah ada, aku wanita normal yang bercita-cita menikah sekali seumur hidup."


"Aku mencintaimu mas Alif, masih sama tidak pernah berubah. Bukankah cinta harus memiliki? Aku memiliki mu, kita bisa menjadi lebih baik dengan bersama. Semua yang kita lalui tidaklah mudah, mencabut perasaan terdalam darimu tidaklah sesederhana yang ku bayangkan sebelumnya, seperti kau yang menyesal akupun menyesali pernah terniat bercerai, kata yang dibenci Allah yang seharusnya aku menundukkan egoku untuk tidak mengucapkannya dalam keadaan apapun."


"Humairah jangan bercanda," lirih Alif kesal seakan tidak percaya.


"Ayolah, kita bisa masuk sekarang," ajak Humairah lagi seraya menggenggam tangan Alif dengan erat, ia berkali-kali mengingatkan waktu di jam pergelangan tangannya.


Alif kehilangan kata-kata, ia bahkan bingung ingin mengekspresikan perasaannya saat ini.


Mereka keluar mobil, berjalan menuju gedung pengadilan saling mengeratkan genggaman tangan, Alif masih diam dalam bahagia. Ada pula rasa tidak percaya, namun Humairah menggenggam tangannya seolah meyakinkan.


Lelaki itu kikuk sendiri, lidahnya bahkan kelu ingin mengucapkan kata cinta yang tertimbun dalam hati.


"Sayang," lirih Alif pelan ketika mereka sudah bertemu dengan para pengacara yang siap mendampingi mereka.


Humairah tersenyum, "Kita tidak akan berpisah, anggap saja kita sedang mengikuti pelatihan datang kemari."


"Humairah."


"Iya mas Alif."


"Kau tidak sedang mengerjai ku kan?"


Humairah terkekeh, ia melihat sekeliling para orang sedang lengah, dengan cepat ia mengecup bibir Alif. Hanya sekilas namun efeknya mampu membuat Alif mematung dengan dada yang ingin sekali meledak.


"Berhenti bertanya seperti itu, apa kau ingin aku berubah pikiran?"


"Tidak tidak tidak tidak, jangan! Sayang jangan tinggalkan aku," rengek Alif memeluk Humairah dengan erat.


Salah satu pengacara yang ditunjuk papa Imran mendampingi Humairah dalam kasus ini tersenyum seraya mendekat pada dua insan itu.


"Apa masih perlu mediasi?" goda perempuan yang berumur empat puluhan itu.


Humairah tertawa pelan seraya mengangguk. "Masuk?" tanya Humairah setelah melepas pelukan.


Alif mengangguk namun tidak lama ia lunglai luruh ke lantai. Alif pingsan sebelum mediasi dimulai.

__ADS_1


__ADS_2