
Humairah tersenyum saat angin sore menyapa wajahnya yang teduh, dadanya kian lapang seakan tanpa beban meski ia tengah disibukkan dengan persiapan wisuda yang akan dilaksanakan tiga minggu dari sekarang.
Jadwal keberangkatannya pun telah ditentukan esok hari untuk menuju Kuala Lumpur demi mengikuti tes masuk Universiti Malaya salah satu universitas terbaik negeri tower kembar tersebut, dimana disanalah Humairah berniat melanjutkan pascasarjana.
Daun kering berguguran, sudah sangat lama ia meninggalkan les piano sejak sibuk skripsi dan menyelesaikan kuliahnya, hari ini Humairah baru saja berpamitan pada teman-teman les karena akan berhenti sampai disini saja.
Tidak ada Daffa di sana, ternyata pria itu tidak melanjutkan les itu sama dengan Humairah, Daffa benar-benar sibuk dengan pekerjaan di rumah sakit.
Melangkahkan kaki mengayun indah menyusuri trotoar, Humairah menikmati pemandangan sore hari ini dimana akan ia rindukan nantinya. Ia tidak memungkiri bahwa ia juga pasti akan merindukan seseorang yang telah banyak memberinya pengalaman hidup di usianya yang masih sangat muda, Alif Zayyan Pratama suami yang masih menempati hatinya terdalam.
Humairah memilih berpisah bukan karena tidak cinta, namun karena demi kebaikan bersama. Baik untuk harga dirinya agar bisa lebih dihargai lagi, ia menikah dengan Alif bukan untuk ditukar dengan sebuah motor, tidak Humairah tidak mau lagi terinjak harga dirinya oleh dua lelaki yang ia percayai.
"Biarlah waktu yang akan menyembuhkan luka," gumam Humairah masih dengan senyum hangatnya, sehangat matahari sore ini.
Humairah melihat jam di pergelangan tangannya, sudah waktunya ia ke bandara untuk mengantarkan mertuanya mama Rika yang akan terbang lebih dulu darinya menuju negara yang hanya bersebelahan dengan Malaysia.
Setelah beberapa menit naik taksi, ia sampai bandara. Berjalan menuju mama Rika yang sudah terlihat berdiri di sana.
"Mama," panggil Humairah.
Mereka berpelukan.
"Apa aku terlambat?"
Mama Rika tersenyum lalu menggeleng, "Beberapa menit lagi."
"Sayang, berjanji pada mama atas apa yang telah menimpamu jangan kau dendam pada mama yang telah menjodohkanmu dengan Alif, karena mama kau menderita sejauh ini, mama tidak menyangka putra mama bisa sejahat itu padamu."
"Percayalah mama tidak akan membela Alif dalam hal ini, meski akan berpisah mama mohon jangan lupakan mama Aisyah, mama sayang padamu," sambung mama Rika memeluk Humairah lagi.
Humairah menggeleng lalu terkekeh pelan.
"Dan mama juga harus percaya aku bukanlah wanita pendendam, aku telah melewati banyak hal berharga dari pernikahan kami, meski hatiku menginginkan menikah sekali saja seumur hidup namun sepertinya takdir berkata lain, aku benar-benar ingin istirahat dari pria yang bernama Alif. Biar Allah yang memberi jawaban pula atas apa yang terbaik untuk kami nanti, doa mama akan mempengaruhi kebaikan kami bersama."
"Mama menyayangimu Aisyah, doa mama yang terbaik untukmu, Alif akan menerima apa yang telah ia lakukan, mama tidak akan melarangmu pergi darinya. Kita berencana Tuhanlah menentukan, benar katamu biarlah jawaban Allah yang memutuskan yang terbaik buat kalian berdua, jika memang tidak berjodoh lagi mama harap kau tidak melupakan mama."
Humairah menghapus airmata mama Rika dengan jari lentiknya lalu berkata, "Aku mencintainya, namun harga diriku tidak untuk dipermainkan, wanita tidak pantas diperlakukan layak barang oleh lelaki manapun apapun alasannya. Aku sangat tidak setuju dalam hal ini, saling mencintai saja tidak cukup, saling menghargai itu penting. Dia tidak menghargaiku, aku tidak bisa terus bersama orang yang tidak bisa menghargai perempuan."
"Aku menyayangi mama terlepas dari permasalahan ini, aku pikir dengan menjauh akan lebih baik, sebab jarak dan waktu akan menyembuhkan semuanya. Jika jodoh mungkin akan bertemu lagi, siapa yang tahu bukan?"
__ADS_1
Mama Rika tersenyum juga, "Jika boleh egois mama masih ingin kau yang menjadi istri Alif, tapi biarlah mama memintanya pada Allah saja," kekeh mama Rika.
"Baiklah sayang, mama akan mengunjungi mu nanti, persiapkan tes mu dengan matang mama mendukungmu Aisyah Humairah."
Mereka berpelukan sebelum berpisah.
*****
Alif sakit, dua hari ia hanya bisa mengurung diri tanpa ke kantor. Ia menempati rumahnya bersama Humairah, kepalanya sungguh pusing menghadapi perpisahan yang sudah di depan mata, belum lagi Humairah akan berangkat kuliah di luar negeri.
Itu artinya ia akan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hubungan dan membujuk Humairah jika sudah berjauhan nanti, ia ingin sekali ikut membuntuti Humairah hingga ke negeri jiran, namun ia tidak bisa pula abai dengan perusahaan yang sedang dalam genggamannya.
Dengan wajah lelah dan pucat ia membuka pintu, ternyata Aisyah yang datang.
"Kau? Pulanglah aku sedang malas bertemu denganmu," ketus Alif malas bahkan untuk melihat wanita itu.
"Alif, aku kemari hanya ingin menjengukmu Daffa bilang kau sakit. Aku bawakan buah untukmu."
Aisyah menunjukkan keranjang buah di tangannya, Alif menerimanya.
"Terimakasih," ucap Alif menghargai.
"Boleh aku masuk?"
Aisyah terkekeh, "Istri? Jangan kau kira aku tidak tahu kalian juga akan bercerai, aku senang mendengarnya setidaknya tidak salah satu diantara kami yang memilikimu."
"Ada apa kau kemari? Kita sudah tidak ada urusan."
"Aku hanya ingin bersilaturrahmi, mana tahu kau mau menerimaku lagi. Humairah memilih pergi bukankah itu bagus untuk kita, ayolah sayang bukankah ini yang kita inginkan selama ini? Menyingkirkan wanita itu dari pernikahan kita."
Humairah terhenti langkahnya, ia pikir Aisyah dan Alif ingin berbaikan. Ia mengurungkan niat untuk mengambilkan barang-barang pribadi yang tersisa di rumah mereka namun Aisyah tampak lebih dulu ke sana, tidak ingin memperkeruh suasana Humairah memilih pergi saja.
"Pulanglah, itu tidak akan terjadi," ucap Alif dingin.
"Kau mencintainya?" tanya Aisyah yang tersenyum sungging.
"Lebih dari itu."
"Kau akan terus mengejarnya?"
__ADS_1
"Iya, sampai ujung dunia sekali pun."
"Baiklah, jika begitu akulah yang akan membuatmu tidak akan bisa mengejarnya lagi," sahut Aisyah dengan raut penuh arti.
"Apa maksudmu?"
"Begini lebih baik, tidak ada yang bisa memilikimu, jika bukan aku tidak pula dengan Humairah, tidak akan ku biarkan."
"Jangan bicara bodoh, pergilah... Aku malas berdebat, aku pusing."
"Cepat sehat sayang, aku mencintaimu Alif... Aku akan pergi."
Alif menatap kepergian Aisyah dengan raut tanya, apa maksud perkataan wanita itu.
Humairah mengunjungi ayah dan ibunya sepulang dari melihat Alif dan Aisyah tadi.
Makan sore bersama, berkumpul minum teh hangat di teras rumah sederhana mereka membawa kebahagiaan tersendiri bagi seorang Humairah.
"Ayah pasti merindukanmu nak," ucap ayah Ihsan yang mengusap puncak kepala Humairah dengan sayang.
"Aku belum pergi ayah, aku baru akan tes bukan langsung kuliah. Lagi pula jika pun aku telah berkuliah di sana nanti, ayah dan ibu akan sering mengunjungiku juga. Aku sudah bicarakan ini dengan papa dan papa setuju jika papa berkunjung maka ayah dan ibu juga ikut."
"Entahlah sayang, ayah merasa sangat berat jika berpisah denganmu walau ada kemungkinan akan berkunjung ke sana. Maafkan ayah jika banyak salah dalam mendidikmu, tidak bisa menjagamu dengan baik selama menjadi anak ayah."
"Hei kenapa jadi bicara seolah kita akan berpisah jauh ayah, aku pergi ke negeri tetangga, tidak jauh dan ku pastikan ayah dan ibu akan ikut papa jika berkunjung nantinya, jangan buat aku sedih dengan berkata seperti ini, ayah adalah ayah terbaik yang aku miliki."
Ibu Aini hanya bisa tersenyum melihat keakraban ayah dan anak itu.
Tanpa mereka sadar, Aisyah menjatuhkan airmatanya dari kejauhan melihat pemandangan yang berhasil membuat hatinya merasa diremas oleh tangan tak kasat mata. Sakit sekali, Humairah diperlakukan layak anak kandung oleh ibunya, dan pria itu pria yang membuatnya merasa ingin marah karena pria itu menikahi ibunya hingga membawa ibu dan Aisyah ke kota lagi hingga menyebabkan semua ini terjadi.
Tangannya terkepal saat mengingat pula semalam ia datang ke rumah papa Imran namun ditolak mentah oleh lelaki yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri, kamarnya telah pun di renovasi menjadi sebuah perpustakaan mini teruntuk Humairah yang suka membaca dan menyimpan referensi. Tidak ada tempatnya lagi di rumah papa Imran, hanya kebencian yang ia rasakan.
"Kadang untuk melumpuhkan lawan, aku harus pula memakan daging sendiri," gumam Aisyah dengan raut penuh arti.
****
Catatan penting:
Dalam novel ini Humairah dan Alif adalah karakter utama jadi jangan marah ya jika yang ga suka pasangan ini, alurnya sudah tercipta sejak awal, otor punya jalan cerita yang sudah disetting sebaik mungkin maaf jika kurang berkenan di hati pembaca, tidak semua keinginan pembaca sya bisa turuti.
__ADS_1
Nikmati alurnya, jika suka anda bisa lanjut jika tidak suka harus tetap lanjut 😅😅😅😅 jangan php in ditengah jalan, karena ditinggal pembaca ditengah jalan itu jahat 😅 becanda.
Oke lanjut, saya ga akan spoiler ya 😋😋