
"Mas Alif," panggil Humairah saat membangunkan pria itu yang masih terpejam.
Alif membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah senyum Humairah yang memandangnya.
"Apa aku tertidur lama?"
Humairah mengangguk.
"Maaf," lirih Alif dengan suara dibuat selemah mungkin.
"Buburnya sudah siap mau makan sendiri atau?"
"Oh aku pusing sekali jika duduk, apalagi harus makan sendiri," kilah Alif.
Humairah tersenyum sambil meraih mangkuk bubur.
"Baiklah, biar ku suap."
Alif tersenyum, ia mendudukkan tubuhnya agar bersandar di kepala ranjang.
"Katamu pusing jika duduk," cetus Humairah seraya geleng kepala.
"Sudah tidak saat mendengar akan disuapi ist... Hmmm maksudku disuapi wanita cantik seperti mu."
"Sakit masih bisa merayu, ayo minum dulu."
Humairah memberikan gelas air putih agar Alif minum terlebih dahulu dilanjutkan menyuapi Alif dengan bubur yang ia buat tadi. Mengobrol tentang kebiasaan masing-masing hingga tidak disadari bubur satu mangkuk pun telah habis.
"Wow, sepertinya mas Alif suka bubur," ucap Humairah memperlihatkan mangkuk kosong di tangannya.
"Iya, dan ini adalah bubur nasi nomor dua terenak selain buatan mamaku."
"Bicara mamamu, apa kau tidak tinggal dengan orangtua disini? Maaf maksudku sepi sekali."
"Mamaku di Singapura, adik perempuanku kuliah di sana."
__ADS_1
"Papamu?" tanya Humairah lagi.
"Sudah lama meninggal," jawab Alif.
"Innalillahi, maaf aku tidak tahu," sesal Humairah.
"Rumah ini dulunya dihuni seorang bidadari, tapi sayang sekali bidadarinya lagi lupa ingatan... Hmmm maksudku lupa jalan pulang," Cengir Alif dengan nada bercanda.
Humairah menatap Alif dengan heran saat mendengar kata bidadari, "Apa kau sudah menikah?"
"Iya," jawab Alif polos.
"Dan kau menyia-nyiakan bidadarimu?"
Alif mengangguk, dan kali ini wajahnya tampak serius. "Iya, dan aku sangat menyesal."
"Dan sekarang kau seorang duda?"
Alif bingung sendiri, ia mengusap lehernya yang tidak gatal.
"Baiklah mas Alif maaf aku terlalu banyak tanya padamu, aku rasa kau sudah lebih baik. Karena kau sudah kenyang kau boleh tidur lagi, aku akan pulang sebentar mengganti pakaian setelah itu akan ke kantor. Istirahat saja, biar ku atur ulang jadwalmu hari ini."
"Oh kepala ku pusing lagi," ucap Alif serius sambil memijat keningnya.
Humairah terkekeh, "Bilang saja masih ingin ku temani di sini."
"Tepat sekali, kau pandai menebak hatiku sayang," canda Alif lagi.
"Mas Alif, jujur padaku........" kata Humairah menatap Alif dengan raut serius.
Alif terdiam. Humairah meraih tangan Alif dan menggenggamnya.
"Ketahuilah, aku merasa aneh meski ini pertama aku kemari tapi aku merasa sudah tidak asing dengan rumah ini, aku hafal tata letak peralatan dapur, aku tahu yang tadi itu adalah kamarmu dan ini adalah kamar tamu, aku merasa sama sekali tidak canggung padamu saat ini. Apa aku adalah tunanganmu sebelum ingatan ku hilang? Mungkin saja aku sering kemari hingga aku merasa sudah biasa di rumah ini."
Alif terdiam lagi, ia lebih bingung saat mendengar kata tunangan.
__ADS_1
"Aku memang lupa ingatan, dan maaf jika aku lupa padamu. Jika kau memang seseorang yang mencintaiku dimasa lalu, tentu kau bisa membantu ingatanku agar lebih cepat pulih. Kau boleh tunjukkan apapun yang bisa mengingatkan tentang kita."
Alif masih bungkam.
"Mas Alif....... Aku merasa gugup saat dekat denganmu, sungguh aku tahu ini bukan perasaan biasa hingga membuat ku percaya bahwa kita memang berada dalam satu hubungan dimasa lalu, setelah datang ke rumah ini rasanya semakin percaya padamu jika kau tidak berbohong soal kita yang sama sekali tidak ku ingat saat ini."
"Kau percaya aku mencintaimu?"
Humairah tersenyum.
"Kita bisa mengulang kisah lama agar mudah ku ingat, kita bisa berkenalan ulang bahkan mungkin lebih dekat dari sebelumnya sebelum kita lanjutkan menikah," jawab Humairah mengelus lembut tangan yang masih ia genggam.
Wajah pucat kini merona terlebih perut yang sudah diisi bubur buatan istri tercinta membuat Alif kembali bergairah untuk hidup.
"Ya Allah, aku seperti mimpi saat ini. Kau percaya padaku Humairah?"
Perempuan itu tersenyum lagi.
"Aku percaya karena papaku juga percaya padamu. Semalam kami juga bicara soal kita, papa bilang kau memang mencintaiku, kita memang sangat dekat sebelumnya. Maka dari itu mari kita jalin hubungan yang lebih sehat lagi, aku rasa papa benar tidak ada salahnya kita memulai dari awal lagi, aku berharap ingatanku bisa pulih lebih cepat. Sekali lagi maafkan aku jika aku melupakan mu mas Alif."
"Ya Tuhan....... Aku sudah tidak tahan Humairah, sayang katakan sekali lagi," ucap Alif bersemangat.
"Yang mana?"
"Yang mana saja."
Humairah tersenyum, "Mari menjalin hubungan yang lebih baik lagi dari sebelumnya, jika kita memang sedang bertunangan.... Kapan kau akan menikahiku? Jika sudah menikah, kau boleh bebas menciumku dimana pun, memanggilku sayang seperti sekarang."
"Oh aku bisa gila Humairah. Sayang percaya padaku, aku serius padamu serius ingin menjadi lebih baik untukmu, untuk sekarang aku masih belum bisa jujur tentang kita, semua rumit dimasa lalu, kita sedang dalam keadaan hubungan yang sangat sulit dijelaskan semua itu karena kesalahanku."
"Humairah."
"Iya mas Alif," jawab Humairah yang merasa wajah Alif kian terngiang dalam benaknya, itu pula yang membuatnya yakin jika ada sesuatu diantara mereka.
"Aku akan memperbaiki diri, memantaskan diri untuk jadi pendamping hidupmu.... Kau benar, kita bisa mulai berkenalan dari awal lagi, menjalin kedekatan yang lebih baik dari sebelumnya, jika dulu kita bisa dekat secara instan namun kini aku merasakan perjuangannya."
__ADS_1
"Baiklah, anggap saja kita bertunangan saat ini. Apa itu artinya kau mau membuka hati untukku?" tanya Alif dengan wajah memelas, tangannya kini yang menggenggam jemari istrinya.
*******