
Hari-hari berikutnya.
Semua berjalan seperti biasa, Humairah mulai terbiasa dengan pekerjaan sebagai seorang sekretaris bagi Alif, pria yang mengaku mencintainya lebih dari apapun.
Lain saat istirahat atau sedang pada waktu luang, pada jam kerja Alif bekerja dengan fokus dan profesional terlebih semangat kerjanya bertambah kali lipat sejak di dampingi istri tercinta. Pun Humairah, ia mengerjakan tugas dan mengatur jadwal Alif dengan baik.
Perempuan ini sungguh kagum pada lelaki yang sedang berkutat dengan map dan kertas-kertas penting di atas meja, jika biasanya Alif sering menggoda dan merengek manja pada Humairah namun lain hal jika sedang bekerja, lelaki itu sungguh fokus dan serius.
"Humairah," panggil Alif tanpa menoleh.
"Iya mas Alif?" sahut Humairah yang segera berdiri dari kursinya mendekati Alif.
"Kau lihat ini, minta Gunawan memperbaikinya. Setelah ini siapkan pertemuan kita satu jam lagi!" Alif memberi perintah setelah menjelaskan beberapa pekerjaan bawahan yang bernama Gunawan yang harus diperbaiki.
Humairah mengangguk mengerti, "Baik mas Alif, hmmmm..... Apa kau ingin minum sesuatu?" tanya Humairah tersenyum.
Alif menggeleng, "Tidak, nanti saja.... Aku akan menghubungi seseorang sebentar."
"Baiklah, sepertinya kau benar-benar sibuk," gumam Humairah saat Alif sudah memegang ponselnya siap menghubungi seseorang.
Humairah ingin beranjak menjauh, membawa map yang harus ia kembalikan pada karyawan bernama Gunawan yang bekerja di ruangan berbeda.
Baru beberapa langkah Humairah kembali berbalik badan saat Alif memanggilnya.
"Sayang, terimakasih. Kau bekerja dengan baik hari ini," ucap Alif meraih tangan Humairah seraya tersenyum lebar.
Humairah merona, Alif selalu sempat mengucapkan terimakasih setelah apapun yang ia kerjakan, meski sedang serius bekerja sekalipun. Perempuan ini mengangguk dengan balasan senyum yang cukup lebar pula menampilkan giginya yang berderet rapi.
"Sudah menjadi tugasku mas Alif, kau pun bekerja dengan baik dan serius. Aku kagum padamu."
"Sayang bisakah kau minta buatkan minuman, dua jus stroberi, rekan sekaligus temanku sedang menuju kemari," ucap Alif pada Humairah, lalu ia kembali fokus pada ponselnya yang menampilkan sebuah pesan.
"Tentu saja mas Alif, dua jus stroberi?"
"Iya, terimakasih Humairah. Kau boleh keluar sekarang."
Humairah mengangguk, meski ia ingin sekali bertanya pada Alif bahwa dua jus stroberi itu minuman untuk siapa, apa mereka perempuan atau lelaki namun Humairah malu untuk bertanya sejauh itu.
Ia kembali melangkah menuju keluar ruangan.
"Humairah."
Humairah menoleh lagi pada Alif yang memanggilnya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu."
Senyum Humairah kembali mengembang, Alif tidak melupakan kata yang mampu membuat Humairah tersanjung bahkan sejak ia bekerja tiga minggu lalu. Kata cinta yang tidak pernah Alif lupakan meski sedang sibuk sekalipun.
"Iya mas Alif, aku mendengarnya."
Lelaki itu berdiri berjalan menghampiri Humairah yang belum jauh beranjak dari sana, tanpa berbasa basi Alif melayangkan sebuah kecupan singkat di pipi Humairah.
"Mas Alif?" cetus Humairah terkejut yang hampir berteriak.
Lelaki itu hanya menyengir, "Oh sayang maaf aku khilaf," ujarnya dengan wajah tanpa merasa berdosa.
"Mas Alif."
Humairah menjadi merah pipinya, entah kenapa ia tidak bisa marah sekarang. Ia merutuki dan sangat malu saat hatinya berkata suka akan kecupan yang masih terasa di pipinya saat ini, kecupan seorang lelaki yang ia lupakan dalam sakitnya.
Ingin marah namun tidak bisa, lidahnya kelu ingin mengatakan sesuatu. Darahnya berdesir, kecupan yang seakan tidak asing baginya, kecupan kecil yang nyata. Bukan seperti kecupan pertama, Humairah sungguh pening memikirkan ada apa dengan dirinya saat ini.
Cup. Satu kali lagi sebuah kecupan Alif layangkan di kening Humairah, membuat perempuan itu bergeming di tempatnya berdiri.
"Mas Alif, apa yang kau lakukan?"
"Ini bukan khilaf, aku mencintaimu Humairah. Asal kau tahu saja kecupan itu bukan yang pertama untuk kita, bahkan kita bisa lebih dari itu. Aku sudah cukup lama menahannya, aku ini lelaki normal sayang, hanya sekedar ciuman aku rasa tidak masalah menjelang ingatanmu pulih, sekarang bibir boleh?" goda Alif lagi pada Humairah yang tercengang menatapnya.
Lembut dan cukup lama, tidak ada aksi menghindar apalagi meronta dari Humairah. Pikirannya tidak sejalan dengan perasaannya saat ini, ciuman itu mengingatkan nya pada sebuah memori, namun masih samar.
Alif tersenyum lebar saat tidak ada penolakan dari istrinya itu. Tidak tahu betapa bahagia ia sekarang bisa melabuhkan sebuah rindu yang lama ia tahan lewat beberapa kecupan.
"Sayang, kau menggemaskan..... Aku rasa ciuman bisa membuat ingatan mu cepat pulih, aku yakin kau merasa de javu saat ini."
"Mas Alif," bentak Humairah saat mendapat lagi dan lagi Alif mengecup bibirnya tanpa permisi, kecupan demi kecupan yang benar-benar membuat dadanya ingin meledak, Humairah merasa de javu. Kecupan manis yang terasa sudah sering ia rasakan, sungguh malu ia ingin pula mengaku bahwa kecupan itu membuat perasaannya benar-benar pada Alif saat ini.
Alif mengangkat tubuh Humairah tinggi-tinggi lalu bergerak memutar hingga Humairah refleks memeluk lehernya dengan erat agar tetap seimbang.
"Oh sayang, kau benar-benar membuatku gila Humairah, segeralah ingat semuanya..... Aku membutuhkanmu, aku mencintaimu, aku tidak ingin kita berpisah lagi, aku ingin hidup dengan mu dalam suka dan duka. Terlalu banyak hal yang telah kita lewati bersama, cinta kita tidak mudah Humairah. Jangan tinggalkan aku Aisyah Humairah. Aku bisa gila jika kita benar-benar bercerai."
"Mas Alif, hentikan!"
Alif berhenti dan menurunkan Humairah yang menatapnya kesal karena merasa pusing.
"Bercerai? Apa maksudmu?"
"Huh...... Kau akan mengingatnya nanti, jangan bicarakan kata-kata laknat itu, aku bahkan enggan mengingatnya. Yang terpenting saat ini aku boleh menciummu, setidaknya rindu dan hasrat ku tidak terlalu menyiksa karena tidak bisa menyentuhmu, ciuman juga sudah cukup untuk saat kondisi mu seperti ini."
__ADS_1
"Mas Alif, apa aku wanita murahan selama berhubungan denganmu?" tanya Humairah sendu.
"Kau bahkan lebih berharga dari bongkahan berlian sekalipun, lebih dari apapun Humairah percaya padaku, aku mencintaimu sepenuh hati, terlalu banyak salahku padamu hingga tidak termaafkan. Tapi percayalah Humairah, aku bersungguh-sungguh ingin memperbaiki diri, aku tidak bermain-main dengan mu, aku ingin kita menua bersama, satu hal yang belum kau berikan padaku sebelum lupa ingatan."
"Apa itu?" tanya Humairah.
"Kesempatan yang hampir hilang."
Humairah terdiam.
"Aku tidak akan bosan memintanya, meminta kesempatan itu agar kau mau menerima ku lagi. Hubungan kita tidak sesederhana sebuah kata pisah, banyak hal yang telah kita lalui dan semua itu tidak mudah. Aku mohon Humairah, jika kau sembuh nanti urungkan niatmu ingin berpisah, jangan tinggalkan aku sayang..... Aku tidak mau."
Humairah menatap Alif dengan mata berkaca-kaca, ia meraih tubuh pria yang lebih tinggi darinya itu. Iya, terdorong oleh apa hingga Humairah memeluk Alif dengan erat saat ini, matanya terpejam seakan merasakan perasaan yang saat ini menyeruak.
Alif tersenyum, demi apa entah mimpi atau tidak pagi ini ia mendapat sebuah pelukan sukarela dari Humairah. Humairah melepas Alif lalu kembali bertanya serius.
"Mas Alif, jujur padaku.... Apa kau adalah suamiku?"
Lama Alif terdiam.
"Sayang, sebenarnya..... "
"Alif."
Terdengar suara dua orang perempuan yang mamanggil nama Alif.
Alif dan Humairah menoleh pada sumber suara. Alif berdecak saat mendapati dua orang yang ia tunggu sejak tadi.
Alif melepas Humairah beralih menerima pelukan dua perempuan itu secara bergantian.
"Oh Alif sayang, aku sangat merindukan mu," ucap perempuan bertubuh gemuk seraya mengacak-acak rambut sahabat lamanya itu.
"Hentikan Rose, aku bisa remuk."
Humairah terpaku, matanya tidak berkedip menatap salah satu dari mereka perempuan cantik bertubuh tidak lebih besar darinya, berlesung pipi sama sepertinya, seksi, hidung mancung dengan dagu yang cantik. Sempurna untuk seorang perempuan.
"Kau tidak merindukan ku Nadine? Lama kita tidak bertemu," ucap Alif menggenggam tangan perempuan bernama Nadine.
Nadine melirik Humairah lalu bergantian dengan Alif.
"Apa dia orangnya? Huh.... Aku tidak percaya atas apa yang terjadi padamu, aku tahu tentang kabar kalian dari reuni sayang sekali kau tidak hadir, jika tidak habis kau diwawancarai teman-teman kita," ucap Nadine terkekeh.
****
__ADS_1
jadi si Nadine dan Rose jadi cameo di sini ya? oke baiklah 😁😁😁 gerombolan orang kayahhhhh