"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 36


__ADS_3

"Aku mengantuk, sebaiknya kau pulang. Kak Aisyah akan sampai tidak lama lagi."


Kata-kata Humairah membuat Alif menjadi kesal, ia masih ingin berlama-lama namun benar pula Aisyah telah menghubunginya bahwa perempuan itu akan sampai pada pukul delapan malam ini, Alif akan menjemputnya di bandara.


Menyelimuti istri pertama tercintanya saat ini yang telah memeluk guling, Alif hanya bisa menghela napas saat Humairah kembali terpejam.


"Sayang."


Humairah membuka kembali matanya, ia tersenyum.


"Maaf, aku sangat mengantuk. Aku harus istirahat dan tidur cepat malam ini, besok sampai satu minggu ke depan mungkin aku akan sangat sibuk dengan jadwal penelitian dan bimbingan, aku mohon mas Alif mengerti aku butuh konsentrasi agar cepat selesai, jika tidak ada halangan aku ingin mengejar wisuda bulan depan," jelas Humairah meminta pengertian.


Alif mengangguk, "Aku mendukungmu sayang, jangan sungkan jika kau butuh bantuanku."


Humairah mengangguk lagi, "Pergilah, perjalanan dari rumah ini ke bandara cukup jauh, nanti kak Aisyah bisa lama menunggu."


Terdengar Alif menghembus nafas kasar.


"Aku masih ingin bersama mu," rengek Alif tidak ingin beranjak.


"Kita sudah hampir satu minggu bersama, ayolah sekarang saatnya kau bersama kak Aisyah."


"Ck.... Apa kau mengusirku?"


"Tidak, maafkan ku....."


Alif meraih wajah Humairah mencium seluruh bagiannya, jika diturut rasa hati sebenarnya ia enggan sekali untuk berpisah malam ini, namun benar bahwa ia dan Aisyah harus bicara tentang semuanya.


"Benar tidak mual lagi?" tanya Alif lagi.


"Sudah tidak, tenanglah jangan terlalu berlebihan hanya masuk angin biasa tidak perlu minum obat juga, ayolah sayang aku mengantuk."


"Berjanji padaku jika kau mual atau muntah lagi beritahu aku, minum obatnya jika memang merasa mengganggu," ingat Alif lagi setelah menyimpan sebuah obat di laci nakas.

__ADS_1


"Iya, aku berjanji sayang.... Sekarang pergilah, kasihan kak Aisyah mungkin akan menunggu lama di Bandara, kau juga harus berjanji padaku bicaralah baik-baik dengannya, semua sudah berlalu mas Alif, aku tidak ingin mengungkit sesuatu yang sudah tidak ada gunanya, berilah dia pengertian agar mau menerima kenyataan bahwa aku dan ibunya masih ada hingga saat ini, jika bisa bujuklah kak Aisyah untuk menjenguk ibu."


Alif tidak menjawab melainkan hanya anggukan kepala yang membuat Humairah tersenyum padanya.


"Aku akan menginap di rumah papa selama penelitian dan bimbingan, apa mas Alif boleh?"


"Tentu saja sayang, kau bebas ingin menginap di rumah papa atau ayah Ihsan, yang tidak boleh itu kau meninggalkan ku tanpa sebab."


Humairah berdecak.


"Aku mencintaimu sayang," ungkap Alif lagi dan lagi.


"Iya, aku mendengarnya mas Alif."


Berciuman lama sebagai penutup perjumpaan mereka malam ini.


Mereka berpisah saat Alif benar-benar harus pergi untuk menjemput istrinya yang lain yang akan sampai tidak lama lagi.


Setelah memastikan Alif pergi, Humairah duduk kembali. Ia membuka laci nakas dan mengambil bungkus obat yang dibeli Alif sebelum pulang tadi oleh resep yang dikirimkan madunya lewat pesan.


"Setahuku tidak ada obat mual atau muntah bernama aneh seperti ini, oke mari kita cari di google," gumam Humairah mulai mengetikkan merk obat yang ia pegang saat ini di mesin pencari populer itu.


Ia membaca dengan seksama layar informasi yang ditampilkan, Humairah menutup mulutnya yang hampir ternganga.


"Obat pemicu kontraksi rahim? Memicu aborsi? Astaqhfirullah."


"Apa maksudmu kak Aisyah? Kenapa memberiku obat ini, apa kau kira aku hamil.... Aku aku aku hamil? Apa? Hamil?" Humairah kembali menutup mulutnya terkejut sendiri atas apa yang baru saja ia katakan.


Humairah bahkan berdiri dari duduknya, ia mencari pembenaran atas apa yang ia katakan saat ini, memutar otaknya pada sebuah tanggal.


"Ya Allah..... Aku sama sekali tidak ingat kapan terakhir haid, apa aku memang hamil? Tidak tidak, aku tidak merasakan apapun. Muntah belum tentu hamil," gumam Humairah berjalan kesana kemari dengan bingung.


Pada kenyataannya Humairah sejak menikah tidak terlalu perhatian pada siklus haidnya, ia tidak mengingat jelas tanggal menstruasi yang datang teratur tiap bulannya, namun memang betul pula ia merasa bahwa sudah sangat lama ia tidak datang bulan, tetapi ia tidak mengingat pula berapa lama ia tidak mens saat ini.

__ADS_1


Dadanya jadi berdegup keras, bukan karena cemas melainkan jika benar ia hamil itu artinya ini adalah kabar bahagia untuk suaminya yang beberapa minggu terakhir sering mengatakan menginginkan anak dari Humairah secepatnya.


Senyumnya mengembang, "Bagaimana jika benar aku hamil? Oh itu akan lucu sekali..." gumam Humairah lagi sambil memegang pipinya yang merona.


"Meski terkesan jahat telah memberiku obat ini, aku tetap berterimakasih padamu kak Aisyah karena penasaran dengan informasi tentang obat ini pula aku jadi tahu keadaanku sekarang, aku akan periksa besok saja. Kita lihat jika benar aku hamil itu artinya maduku tidak menginginkannya, aku rasa dia cemburu. Tapi cemburu bukan alasan untuk mencegah agar aku hamil."


"Untuk inilah aku sekolah tinggi agar tidak mudah ditipu siapapun, mencari informasi obat sebelum menggunakannya adalah caraku untuk terhindar dari salah guna obat, dan terbukti saat ini bahwa aku hampir meminum obat pemicu keguguran, ini sangat berbahaya kak Aisyah. Aku tidak heran kau sungguh berani dalam hal apapun bahkan dengan menukar dirimu dengan diriku dimasa lalu."


"Semoga Allah mengampuni mu kak Mayang, kita akan bicarakan ini lain waktu."


"Baiklah Humairah jangan kotori hatimu dengan pikiran negatif, biar saja jika dia jahat bukankah dia memang jahat sejak dulu?" Kekeh Humairah menghibur diri dari rasa kecewa pada madunya yang tega memberi obat pemicu aborsi.


"Aku tidak peduli niatmu kak, yang terpenting suamiku telah memberiku hatinya, dan ini adalah kabar bahagia yang harus ku pastikan kebenarannya," ujar Humairah yakin.


Humairah mengelus perutnya, ada perasaan berbunga saat ini, ia juga menantikan seorang anak yang bisa jadi perekat hubungannya dengan Alif, Humairah yakin jika memang ia mengandung dan melahirkan maka suaminya akan lebih menyayanginya dari sebelum ini.


Tidak ada harapan lain selain mencapai bahagia atas rumah tangganya meski harus berbagi dengan wanita lain, sungguh Humairah tidak mempersoalkan lagi poligami yang mereka jalani. Selagi hatinya ikhlas, beban beratpun akan terasa ringan. Humairah sudah membuktikannya.


Humairah ke kamar mandi, ia membasuh wajah dan berwudhu seperti biasa ia lakukan sebelum tidur.


Menyetel surah Ar-Rahman kesukaannya hingga ia terlelap.


Benar, nikmat mana lagi yang bisa Humairah dustakan. Nikmat dicintai suaminya dengan penantian panjang yang tidak sia-sia, dan sekarang jika benar ia hamil maka pertama kali akan ia lakukan adalah bersyukur bisa menjadi perempuan sempurna yang bisa mengandung.


Rasa syukur itu pula yang tidak dimiliki oleh perempuan lain yang sedang menunggu Alif menjemputnya saat ini.


Wajahnya tampak muram, ia kesal jika benar Humairah hamil itu artinya Alif tidak bisa meninggalkan perempuan itu, dan dirinya harus mengubur keinginan untuk jadi istri satu-satunya bagi Alif.


"Semoga obatnya bekerja Humairah, maaf aku melakukan ini.... Jika kau memang tidak hamil, obat itu tidak pula berbahaya."


Aisyah alias Mayang Sari bergumam sambil terus melihat jam di pergelangan tangannya.


*****

__ADS_1


Lanjut?


__ADS_2