100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Merasa kacau


__ADS_3

Seperti orang gila, aku memasuki bangunan besar rumah sakit itu sambil terus berlari tergesa, mengabaikan rasa nyeri pada perutku yang biasa terjadi saat aku lelah berlari ataupun sekedar berjalan.


Mendatangi meja resepsionit untuk menanyakan korban kecelakaan pesawat, dan setelah mendapatkan informasi yang tepat, aku kembali berlari menuju ruang yang dimaksud.


Cukup sulit bagiku karena aku mudah bingung dan bahkan sering kali tak tahu arah, mungkin juga karena rasa panik yang berlebih.


Setelah cukup lama mencari, akhirnya aku sampai pada lantai yang merawat korban kecelakaan pesawat, kudatangi meja perawat yang ada di depan beberapa pintu ruang rawat, menanyakan nama Emil yang mungkin saja namanya sudah terdata.


"Emil Cornelius O'clan," sebutku lantang dengan nafas yang tersengal.


"Kamar 307."


"Okay, thankyou!"


Aku kembali berlari melihat satu persatu nomor kamar.


"304, 305, 306, 307." dapat.


Saat aku hendak masuk dan tanganku yang sudah siap mendorong pintu kaca itu seketika terhenti kala aku dapat melihat dengan jelas pemandangan yang ada di dalam sana dari luar.


Emil duduk di atas brangkar, dan seorang wanita yang kuyakin Dokter jika melihat dari pakaian snelli yang dikenakannya, mengalungkan kedua tangannya di leher Emil, dan mereka sedang berciuman. Ya Tuhan,,,,


Sakit, aku tak bisa membohongi hatiku jika perasaanku sangat terluka, aku yang sangat mengkhawatirkannya justru disambut dengan pemandangan epic yang membuatku kecewa.


Rasanya tubuhku tiba-tiba lemas dan ingin ambruk, jika saja dering ponselku tak kembali menyadarkanku jika aku berada pada situasi seperti apa, aku memang istrinya, tapi hanyalah sebuah ikatan pernikahan kontrak. Dan dia tidak mencintaiku.


Kurogoh tas selempang yang kukenakan, mengambil benda pipih yang terus bergetar itu. Sexyola.


Aku menghela nafas kasar, tidak berniat menjawab sampai dering itu berhenti sendiri.


'Ting!' satu pesan masuk.


[Aku akan naik pesawat sekarang, bagaimana Emil? Kau sudah bertemu dengannya?]


[Kenapa kau diam saja, Namira? Setidaknya balas pesanku, kau hanya membacanya tanpa memberikan jawaban apapun padaku, aku mengkhawatirkan Emil, apa kau tahu itu?]

__ADS_1


Aku tersenyum sinis, entah apa yang ingin aku tertawakan, benarkah menertawakan Sexyola yang berhubungan dengan Emil? Sedangkan di sini, Emil bisa berciuman dengan siapa saja tanpa Sexyola tahu, atau sebenarnya aku menertawakan diriku sendiri, yang memiliki nasib seburuk ini, mendapat pesan dari teman ranjang suamiku, dan juga melihat suamiku secara langsung berciuman dengan wanita lain. Ya Tuhan,,,, apa lagi yang lebih epic dari ini?


Kulihat ke dalam sana melalui pintu kaca, ciuman mereka sudah berakhir, Dokter itu mengobati luka Emil yang berada di kening, dan aku mengambil foto mereka, lalu kukirimkan pada Sexyola.


^^^[Dia baik-baik saja,]^^^


kalimat yang mengiringi foto Emil yang kukirimkan.


[Syukurlah, aku sangat mengkhawatirkannya.]


^^^[Kau sangat dekat dengan Emil, kurasa kau juga tahu bagaimana hubunganku dengannya, aku sudah memberitahumu keadaan Emil, aku pulang, kau bisa datang ke City Hospital room 307 untuk menjemputnya.]^^^


Kumasukkan kembali ponselku ke dalam tas setelah aku menonaktifkannya, aku tidak ingin menerima pesan apapun lagi dari Sexyola.


Aku hendak berbalik untuk pergi, namun aku kembali menatap ke dalam sana sekali lagi untuk melihat Emil. Memastikan jika dia memang baik-baik saja. Dia nampak bicara dengan Dokter wanita yang menciumnya tadi, entah obrolan seperti apa yang mereka bicarakan, mungkin pertemuan selanjutnya untuk memanaskan ranjang, tapi raut muka Emil nampak sangat datar, sedari tadi seperti tak berekspresi. Entahlah, mungkin itu sudah menjadi gayanya sekarang.


Okay, Emil baik-baik saja. Dan aku harus segera pergi sebelum Emil melihatku di sini.


***


Aku menangis begitu kencang meluapkan sakit hati yang kurasa, menahan air mata sejak melihat pemandangan epic di Rumah Sakit tadi membuatku sesak dan akhirnya tidak tahan.


"Hiks hiks hiks hiks,,,, aaaahhh.... Dasar bang.sat, bajingan. Pria breng.sek, Buaya, monster,,,, hiks hiks hiks,,,, aku benci kau Emil..... Aku benci...." aku berteriak histeris. Memukul guling dan bantal beberapa kali sebagai sasaran amukan, satu pack tisu telah habis, dan sampahnya berceceran di lantai dekat ranjang, beberapa yang lainnya juga ada di atas tempat tidur.


"Hiks hiks hiks,,,, aku sangat membencimu, Emil. Kau pria paling bang.sat yang pernah kukenal. Kenapa kau tidak mati saja dalam kecelakaan.... Hiks hiks hiks ...."


Aku terus menangis meraung, tidak tahu bagaimana caranya bisa berhenti, merasakan hati yang begitu perih. Aku tahu Emil memang seperti itu, tapi melihatnya berciuman dengan wanita lain di depan mataku secara langsung, tentu itu sempurna merusak mental pertahanan yang susah payah selama ini kuciptakan.


***


Aku bangun saat menyadari hari malam sudah berganti siang, sepertinya aku terlalu banyak menangis semalaman, hingga aku lelah dan tidak sadar tertidur pada pukul berapa. Yang jelas saat ini aku bangun saat jam di ponsel menunjukkan pukul 11 siang.


Lihatlah diriku, mata bengkak disertai lingkar panda, dan wajah sembab yang sangat buruk, rambut amburadul serta badanku yang mungkin saja bau. Serta kamar yang berantakan. Tisu-tisu bekas air mata dan ingus bertebaran di mana-mana.


'Klek!' aku membuka pintu, keluar dari kamar, berpikir jika aku hanyalah seorang diri di rumah ini, dan Emil masih di Rumah Sakit, namun ternyata aku salah.

__ADS_1


Saat aku sampai di dapur hendak mengambil air putih, Emil sudah duduk di kursi meja makan, dan Sexyola tengah berdiri menghadap kompor, sedang memasak. Entah sejak kapan mereka datang, mungkin semalam, atau pagi tadi.


"Namira,,,, selamat pagi, menjelang siang!" seru Sexyola saat berbalik dan mendapati aku yang berdiri terkejut di ambang pintu.


"Hai, sexy, selamat pagi," sahutku.


Kulihat Emil yang hanya menatap datar lurus ke depan, sama sekali tak menoleh ke padaku atau sekedar menyapaku, ya Tuhan,,,, kenapa dia hanya diam seperti batu.


Aku melewati meja makan, menuang air lalu meneguknya.


"Kau pasti lapar, bergabunglah, kita makan bersama." seru Sexyola yang telah usai memasak.


"Hem, terimakasih." jawabku sungkan.


Aku ingin bertanya pada Emil, bagaimana keadaannya, tapi aku tidak berani, aku melihat tidak ada keramahan di wajah Emil yang hanya menatap datar pada titik yang tak pasti.


"Ayo, Namira. Duduklah. Kita makan bersama." ajak Sexyola yang sudah terlebih duduk berhadapan dengan Emil.


"Ah, kurasa, aku belum lapar, sexy. Kalian lanjutkan saja, aku kembali ke kamar." ucapku sambil memberikan senyum kaku yang kupaksakan, lalu segera melangkah untuk pergi kembali masuk ke dalam kamarku.


"Kau bahkan tidak menanyakan kabarku, Nami, aku baru saja mengalami kecelakaan."


DEG.


Langkahku terhenti mendengar suara Emil yang berbicara. Apa dia marah karena aku tidak datang ke Rumah Sakit? Dan bahkan diam saja setelah dia pulang? Lantas apa yang harus kulakukan? Sedangkan aku melihatnya berciuman dengan wanita lain kemarin, aku bahkan merasa tertekan dan harus menangis semalaman untuk menenangkan perasaanku yang terlukai.


"Kau,,,, terlihat baik-baik saja. Apa kau terluka parah?"


"Prang,,,,!" beberapa benda terbuat dari kaca pecah berserakan di lantai setelah Emil menyapu meja makan dengan lengannya.


"Kita pergi, Sexy." ucap Emil penuh penekanan dan Sexyola langsung berdiri, mengikuti Emil yang sudah terlebih dulu melangkah pergi meninggalkan meja makan dan berjalan melewatiku, bahkan Emil dengan sengaja mendorong diriku dengan bahunya yang kekar.


"Aahh!"


Aku gemetar, berdiri tegang dan terpaku. Untuk pertama kalinya aku melihat emosi dalam kilatan sorot mata Emil, dan untuk pertama kalinya perabot rumah pecah meski kami tidak sedang bertengkar. Dan ini membuatku merasa,,,, kacau.

__ADS_1


***


__ADS_2