
Makan malam berlangsung dengan hangat dan menyenangkan, kami semua saling lempar candaan seputar banyak hal, termasuk Aretha yang mengutarakan keinginan Zio untuk memiliki 4 orang kembar anak, dua anak perempuan, dan dua lagi jagoan. Membuat Aretha bergidik ngeri dan semua orang tertawa.
Sedangkan Namira? Ia nampak tersenyum namun terkadang saat netranya melihat keromantisan antara Zio dan Aretha, mata cantik itu nampak berkaca-kaca, aku tahu, dia pasti merasa sedih karena tak seberuntung saudarinya. tunggulah, Nami, kau akan mendapatkan semua kebahagian di dunia ini sampai aku memperbaiki semua dan kau akan kuhujani dengan seluruh cinta.
"Lantas, bagaimana dengan rencana kalian?" kini Nenek berpindah bertanya padaku dan Namira, sesaat Namira terbatuk terkejut akan pertanyaan yang nenek lontarkan, beda halnya denganku yang sangat senang, akhirnya mendapat kesempatan untuk menunjukkan keromantisan kami di hadapan semuanya.
"Kami sedang berusaha keras, nek." kurangkul bahu Namira hingga menempel pada dadaku sebelah, Namira nampak terkejut akan tindakanku, dan aku tahu itu, tapi apa yang bisa ia perbuat? Selain hanya tersenyum cengir kuda, menerima tindakanku. Karena kami tengah bersama keluarga besar dan dia tidak akan bisa menolakku, ini kesempatan emas yang tak akan kusia-siakan.
"Benar kan, sayang?" aku mengerling pada Namira yang menahan kesal dari raut mukanya yang justru harus dipaksakan tersenyum kaku.
"He em, iya," angguk Namira sedikit menajamkan sorot matanya padaku namun tetap saja bibirnya wajib melengkung ke atas, ah,,,, kenapa istriku ini sangat menggemaskan? Rasanya aku ingin melahapnya saja.
"Nenek sudah sangat tua, nenek juga sangat merindukan kakek kalian, tapi nenek masih sangat berharap untuk bisa melihat generasi selanjutnya dari keluarga O'clan," ucap Nenek terdengar ada seperti sebuah permintaan.
"Nenek jangan khawatir, kami selalu berjuang setiap malam, pagi, siang dan sore. Tinggal Tuhan yang menentukan hasilnya," Aku semakin mengencangkan rangkulanku pada tubuh Namira.
Kini tawa Daddy, Mommy Di dan Nenek pecah, sedang Zio memberi kode pada Aretha dengan jemari tangannya yang bergerilya di belakang punggung sang istri lalu seketika mendapat pukulan telak dari Aretha. Aku hanya tertawa saja melihat kekonyolan mereka yang tak disadari oleh yang lain.
"Enghh,,," kau tahu aku kenapa? Tiba-tiba kakiku di bawah sana terasa sangat sakit, dan senyum istri seksiku mengembang semakin lebar.
Aku hanya bisa tersenyum kecut sambil menghela napas kasar, dasar istri kurang ajar, dia menginjak kaki suaminya dengan kejam, Namira benar-benar istri di atas standar, namun tak berperasaan.
"Sayang," aku memanggil Namira dengan lembut.
"Hah? Iya sayang," jawab Namira lembut seolah menyuarakan kemenangan,
Jangan berpikir kau sudah menang, istriku, karena sandiwara ini akan lebih menguntungkanku, meski kau, istri kejamku berusaha menyakitiku, tapi aku akan terus berusaha memanjakanmu, sayangku.
"Terimakasih, karena sudah menjadi istri terbaik untukku," aku mengecup pipi Namira, membuat seluruh keluarga tersenyum bahagia, ah, meski sedikit kecewa karena sasaranku meleset, aku sebenarnya berniat mengecup bibir Namira, namun wanita ini pintar berkilat, dia menoleh cepat saat aku beraksi, alhasil pipi halusnya yang kudapatkan. Tidak apa, ini sudah menjadi awal yang bagus.
"Nenek sangat senang, keluarga kita dilimpahi keberkahan, cinta dan kasih sayang," Nenek masih bicara dilanjut dengan Daddy dan Mommy Di.
Aku tak lagi begitu peduli dengan obrolan mereka karena kini kami tengah fokus berbisik berdua.
"Sandiwaramu terlalu berlebihan, Mr. Emil." bisik Namira menahan kesal.
"Karena aku adalah aktor terbaik," aku menjeda sesaat.
"Istriku, sayang!" lanjutku yang membuat Namira hampir saja melotot tajam namun menyadari posisi kami saat ini, senyumnya lah yang malah mengembang.
__ADS_1
Aku suka sandiwara ini, kenapa kami tidak tinggal bersama keluarga saja dari dulu, setidaknya kami bisa terus bersandiwara dan aku bisa terus menggoda Namira.
"Kau akan menyesal!" bisik Namira sangat pelan, pandangan matanya fokus pada semua orang, tapi lisannya berbisik padaku.
"Aku akan membalas lebih dari yang kau bayangkan, seperti barusan, kau menginjakku, dan aku menciummu,"
"Itu bukan ciuman, itu hanya sebuah kecupan, apa kau begitu bodoh sehingga tak bisa membedakan mana ciuman dan mana kecupan?" celoteh Namira sambil tersenyum menanggapi obrolan dari semua orang.
"Aku sedikit lupa, biar kuingat-ingat dulu, ah,,,, iya, ciuman itu dengan lidah, dan sedikit lu.matan. Apa kita akan mencobanya nanti saat di kamar?" aku meremas paha Namira di bawah meja.
"Emil!" jerit Namira lepas kendali, apa yang Namira lakukan menarik perhatian semua orang, dan kini semua mata tertuju pada kami. Oh,,,, aku suka ini, melihat wajah merah Namira menahan malu dan dia akan mencari alasan sebagai jawaban.
"Ada apa, Namira?" tanya Nenek mewakili rasa penasaran semua orang.
"Oh,,,, itu nek,,,," Namira nampak berpikir, dan dia gugup tak mendapatkan jawaban.
"Kak Emil kenapa?" Carol memperjelas permasalahan, bukankah tadi Namira menjerit menyerukan namaku? Mampus kau sayang, apa yang sekarang akan kau katakan sebagai jawaban, aku hanya akan diam dan tak akan membantumu. Rasanya aku bisa mendengar sendiri gelak tawaku yang terbahak di dalam hati.
"Namira,,,," Aretha memanggil.
"Apa jari jemari Emil juga suka merayap bebas seperti jari jemari kakaknya?" selidik Aretha sambil menatap penuh arti pada Fabrizio yang membuat nenek geleng kepala, sedang Daddy dan Mommy Di hanya tersenyum malu, dan Carol, bocah itu mengernyit bingung.
"Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti," gerutu Carol. Aku hanya bisa tersenyum senang melihat kekacauan seru yang Namira ciptakan.
Baru setelah itu Aretha yang dibawa Zio dalam gendongan ala bridal, seolah mereka adalah pengantin baru yang baru saja menikah, oh,,,, ayolah,,,, itu pemandangan yang menyakiti hatiku, hey,,,, mereka melupakan bayi kecil mereka yang harus terima nasib dalam asuhan suster. Dasar orang tua durhaka.
"Sayang!" seru Aretha.
"Ssstt,,, kau dengar apa kata nenek? Kita harus bekerja keras siang dan malam." beo Fabrizio membuat telingaku panas.
Sialan, mereka akan enak-enakan sedangkan aku masih harus berjuang untuk menaklukkan Namira.
***
'Brak!' pintu kamarku ditutup Namira dengan keras, terkesan dibanting.
Well, perang dunia akan dimulai, perisai apa yang harus kukenakan untuk melindungi diri?
"Emil,,,," Namira mulai menunjuk jari padaku bersiap mengawali serangan, namun aku lekas mengelak dengan merebahkan diri di atas ranjang.
__ADS_1
"Aaahh,,,, aku sangat lelah, rasanya aku mau langsung tidur saja." Aku sudah tengkurap di atas ranjang.
"Kau,,,,"
Abaikan saja ceramah dari radio rusak itu, aku hanya harus tetap memejamkan mata agar dia tidak bisa menggangguku, lalu ikut merebahkan dirinya di sebelahku, dan kita akan berbagi ranjang.
"Emil, bangun. Kita perlu bicara," BUGH, BUGH." Namira memukulku dengan bantal.
"Kenapa kau tidur di atas ranjang? Aku yang akan tidur di sini, kau,,,, kau tidur di sofa, Emil! Apa kau tidak mendengarku?"
"BUGH,,,, BUGH,,,,"
"Apa kau serius dengan itu?" Aku bangun karena Namira terus memukulku, bahkan di kepalaku, bukan hanya bantal, guling pun menjadi senjatanya, dasar Namira dan bantal guling yang sama-sama sialan.
"Of course, cepat turun atau aku akan terus memukulmu."
"BUGH, BUGH!"
"Aahh,,,, ya ya ya ya, aku akan ke sana."
Terpaksa, aku pun berjalan menuju sofa sambil membawa bantal, dan Namira melenggang ke dalam kamar mandi dengan gaya angkuh setelah memenangkan peperangan, tapi aku suka. szxsszzzzz. Dia lebih seksi saat marah-marah.
Aku sudah berbaring di atas sofa yang tak muat menampung seluruh tubuhku yang tinggi, kakiku terlalu panjang untuk ukuran sofa yang sedang.
Namira keluar dari kamar mandi dengan baju ganti. Satu setel baju tidur berbahan celana dan kemeja lengan pendek, sepertinya dia sudah membuat pertahanan. Memangnya apa yang Namira pikirkan? Itu tidak akan cukup melindungi dirinya jika aku benar-benar menerkam.
"Ingat, jangan melewati batasanmu, kalau kau sampai berani menyentuhku, maka aku akan mematahkan tanganmu," sebuah ancaman? Yah, kedengarannya seperti itu. Apa aku takut? Tentu tidak, aku hanya sedang berusaha menaklukkannya dengan cinta.
"Nami, lihatlah kaki panjangku dengan sofa ini, aku sangat tidak nyaman, sedangkan besok kita harus melakukan perjalanan ke makam kakek, apa kau tidak kasihan padaku harus tidur dalam posisi seperti ini? Ini pasti membuat tubuhku pegal-pegal! Nami,,,," istriku yang kejam tidak menanggapi, seolah tak peduli ia malah memakai masker kecantikan lalu merebahkan diri manja di atas ranjang, menarik selimut sampai sebatas dada.
Sekitar 30 menit berlalu, aku tetap terjaga, tetap tidak bisa tidur, mengubah posisi beberapa kali, kau tahu apa yang sebenarnya terjadi? Bukan hanya karena tidur di sofa itu tidak nyaman, tapi juga karena juniorku yang menegang, menginginkan Namira dalam dekapan.
Okay, aku harus membuat rencana atau aku benar-benar tidak akan tidur semalaman, menyentuh Namira tentu tidak mungkin. Bermain solo? Bukan ide yang terlalu buruk.
'Apa dia sudah tidur?'
Aku bangun, berjalan perlahan ke arah tempat tidur, terdengar dengkuran halus dari istri seksiku yang menandakan jika ia telah terlelap, dan kuharap ia benar-benar terlelap.
Well, ada handbody, satu pack tisu, dan aku tidak perlu ponsel di tanganku seperti biasanya, karena yang setiap malam fotonya kulihat dalam ponsel, kini orangnya berada di dekatku, yah, aku telah naik ke atas ranjang, merebahkan diri di samping Namira, melihat wajah cantiknya setelah kulepas masker sheet yang tadi ia kenakan, dan aku memulai ritual.
__ADS_1
"Aaahhhh,,,, ssshh,,,, aahh,,,, Namira,,,, aahhh,,,,!"
****