100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Ke Singapura


__ADS_3

"Merindukanku, Namira?"


Sontak aku berdiri, membalikkan badan menghadap Emil yang perlahan menegakkan tubuhnya yang tinggi tegap. Dan kini kami saling menatap. Dia yang terlihat santai, dan aku yang tak bisa menyembunyikan kegugupanku.


Aku menelan saliva kasar sebelum akhirnya berhasil menyuarakan sebuah kalimat, entah kenapa saat Emil begitu dekat dan sangat intens seperti itu tadi selalu membuatku hampir lepas kendali.


"Tidak," sanggahku cepat.


"Mana ada menanyakan keberadaan seseorang bisa langsung disimpulkan sebuah rasa rindu? Hah, tidak masuk akal."


Menghindar adalah jurus andalanku, dan aku sudah siap melangkah untuk segera pergi dari sana menuju kamar.


"Kau baik-baik saja?"


Okay, aku sadar aku baru saja menangis saat dalam perjalanan pulang, dan rambutku yang berantakan juga belum sempat kurapikan,. apa Emil menyadari keamburadulanku ini?


"Hem," jawabku hanya berhem ria. Lalu kembali melangkah.


"Tidak ada perusahaan yang mempunyai jam pulang pada jam segini,"


Aku kembali berhenti, memahami apa yang Emil bicarakan. Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya? Yah, katakan saja, kenapa tidak? Memang itu kenyataannya.


"Aku akan resigne."


"Secepat itu?" Emil duduk pada sofa, menyilangkan sebelah kakinya yang panjang bertumpang pada paha. Sangat santai dan elegan.


"Iya,"


"Baru tiga hari," aku diam tak menimpali.


"Tapi aku senang mendengarnya,"


Sontak aku melihat Emil yang ternyata juga melihat ke arahku.


"Khem, itu urusanku, lagi pula, kau sendiri masih di rumah jam segini, apa kau tidak pergi ke kantor? Ah,,,, iya ya ya ya, kau adalah bosnya, jadi kau bisa pulang dan pergi sesukamu," sebuah senyum cengir kuda mengakhiri kalimatku.


"Ada perjalanan bisnis yang harus kulakukan nanti siang, dan aku ingin istirahat sebelum terbang,"


"Terbang?" well, aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku yang entah mengapa ada rasa tak terima, maksudku, tidak rela, bukan, maksudku,,,, aaahh,,,, aku tidak mau Emil pergi, lebih tepatnya, meninggalkanku.


"Kau akan pergi jauh? Kemana?"


"Singapura, hanya dua hari." Emil berdiri, menghampiriku dan kini kami saling berhadapan dalam jarak yang cukup dekat.

__ADS_1


Aku terus menatapnya memohon agar dia tidak pergi, atau setidaknya mengajakku dalam perjalanan bisnisnya, andai Emil mengerti arti tatapanku itu. Tapi yang kudapat bukanlah sesuai harapan.


"Jaga diri baik-baik." ucap Emil sambil mengacak rambutku, lalu ia masuk ke dalam kamarnya, berjalan santai dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam celana.


Ya Tuhan,,,, aku ingin menangis sekarang, dan benar saja, buliran bening itu satu persatu luruh begitu saja.


Bodoh, lagi pula kenapa aku memiliki keinginan Emil akan mengajakku? Sedangkan hubungan kami tak sebaik itu.


***


Aku mengirim email pada pihak HRD, sebuah surat pengunduran diri atas ketidak nyamanan bekerja, dan aku bahkan menulis tak mengharapkan gajiku selama tiga hari bekerja.


Setelah itu pikiranku menerawang pada banyak hal kejadian sejak tadi pagi, mulai dari Emil yang memasak, bertemu Ardhan sang mantan, dan juga Patricia, terlebih tentang rencana kepergian Emil siang nanti untuk urusan bisnis.


Aku menangis sesenggukan dalam diam, selimut menutup seluruh tubuhku hingga sampai ke kepala. Aku ingin menangis dalam kegelapan, dan cara ini cukup ampuh untukku menyalurkan rasa sedih.


"Ibu, ayah, Aretha, aku rindu kalian. Aku ingin pulang." lirihku dalam Isak tangis.


"Tok tok."


Seseorang mengetuk pintu kamarku dari luar.


"Iya!" sahutku dari dalam kamar enggan membuka pintu. Sial, bahkan suaraku terdengar serak dan parau.


"Makanlah, Laurent sudah memasak makanan untukmu, dia akan menemanimu di rumah sampai aku pulang."


Aku memejamkan mata semakin erat, entah mengapa hatiku sangat sakit mendapati Emil akan pergi meninggalkanku dan tanpa memberikan tawaran padaku untuk ikut bersamanya.


Aku tidak menanggapi, terlalu larut tenggelam dalam kesedihanku seorang diri, dan saat aku keluar kamar, Emil tak lagi kudapati, ia telah pergi tanpa pamit dan tanpa mengucapkan kata perpisahan.


***


Apa dulu saat kecil kalian pernah mengalami ditinggal ibu ke pasar dan tanpa berpamitan? Lalu kalian menangis selama itu sampai ibu kembali pulang dan hati kalian masih terasa sangat sakit, seperti itulah yang saat ini kurasakan. Aku sedih karena Emil telah pergi.


Rumah ini tiba-tiba terasa sangat sepi tanpa adanya Emil, malamku yang biasanya suram semakin kelam.


Aku berdiri di depan pintu kamar Emil, ingin rasanya aku masuk ke dalam lalu berbaring dia atas ranjangnya, memeluk bantalnya, yang pasti meninggalkan aroma bvlgary juga sampo yang sudah sangat melekat pada tubuhnya, kurasa itu cukup untuk menenangkan hatiku yang kacau saat ini.


"Nyonya," Laurent datang, ia tengah memasak makan malam untukku tadi, mungkin sekarang pekerjaannya sudah selesai.


"Nyonya baik-baik saja?"


"Aku tidak apa-apa, Laurent, apa makanannya sudah siap?"

__ADS_1


"Sudah, Nyonya, mari, silahkan."


"Ayo!" kutarik tangan Laurent menjauh dari pintu kamar Emil, menuju meja makan yang ada di dapur.


"Temani aku makan," seruku mencoba tersenyum, menyamarkan keadaan hatiku yang berantakan.


"Kau tidur di mana, Laurent? Kamar kami hanya ada dua. Bagaimana kalau tidur di kamarku saja? Kita berbagi kasur."


"Tidak, Nyonya, aku akan tidur di sofa ruang tamu saja. Itu sudah cukup."


"Kau yakin?"


"Iya, Nyonya."


Kami terus mengobrol selama makan malam, dan masih melanjutkan obrolan saat kami menonton film kesayangan di tv ruang tamu. Dengan adanya Laurent membuatku merasa cukup baik, setidaknya aku memiliki seorang teman.


Film yang kami putar selesai, dan saat kulihat Laurent, ternyata dia sudah terlelap dalam tidur, aku menghela nafas, pasti Laurent sangat lelah seharian ini, pekerjaan yang ia lakukan lebih banyak dari biasanya.


Kumatikan tivi, lalu menyelimuti tubuh Laurent dengan benar, setelah itu masuk ke dalam kamarku.


Ponsel, kumainkan benda pipih itu dengan sebuah harapan yang mungkin menjadi kenyataan, harapan adanya sebuah pesan. Dan harapan hanyalah harapan, karena Emil bahkan tak mengirim satu pesan pun meski hanya sekedar ucapan selamat malam. Atau sekedar mengabarkan tentang dirinya sendiri saat ini, apa dia sudah sampai? Apa dia baik-baik saja?


"Emil,,,," lirihku penuh rasa. Apakah cintaku tumbuh semakin subur setelah melewati satu bulan lebih hidup bersamanya? Lantas bagaimana dengan hancurnya aku nanti saat kami harus berpisah? Sedangkan Emil, dia masih tidak mencintaiku, dia tidak menginginkanku.


***


Aku bangun sangat siang, menikmati hari bebas tanpa pekerjaan. Sarapan yang sudah tersaji di meja makan, serta rumah yang bersih nan rapi menambah ketenangan.


"Apa tidur anda lelap, Nyonya?" Laurent menyajikan nasi dan ayam goreng di piringku.


"He em, cukup lelap, duduklah, kita sarapan bersama,"


"Maaf, Nyonya, aku sudah sarapan tadi, mungkin, satu jam lagi aku makan siang." jawab Laurent sambil tersenyum, menyadarkanku jika aku bangun terlalu siang.


"Oh," aku mengangguk-angguk pelan.


***


Tidak tahu mau melakukan apa, tanpa adanya Emil membuat hidupku terasa ada yang kurang, hampa? Mungkin, Emil, sedang apa dia sekarang?


Kuperiksa berulang kali, lagi dan lagi laman pesan kontaknya, berharap Emil akan mengirimiku sebuah pesan, namun yang ada hanyalah terakhir dilihat, dan saat dia online, aku sangat berharap ia mengetik, namun cukup lama aku menunggu, hingga tulisan online itu akhirnya berubah menjadi kembali terakhir dilihat.


"Ck." kesal. Tentu saja aku merasa kesal.

__ADS_1


***


__ADS_2