100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Terungkap


__ADS_3

Tim Potter yang selalu melakukan pengintaian selama 24 jam terhadap praduga tersangka Robi Hansen, segera melapor pada Detektif jika saat ini Robi Hansen telah melakukan transaksi jual beli senjata api dengan gank ilegal yang kemungkinan adalah jaringan mafia, namun mereka hanyalah anak buah rendahan.


"Jangan berurusan terlalu dalam, kita tidak tahu siapa yang sedang kita hadapi, kumpulkan bukti, lalu tinggalkan lokasi." perintah Detektif terhadap Timnya yang dinamai Tim potter.


"Baik," patuh ketua Tim Potter.


***


Fabrizio didampingi kuasa hukumnya menemui pihak kepolisian, penangkapan terhadap Robi Hansen akan dilakukan dengan bukti-bukti yang ada, dan itu akan dilakukan secara diam-diam karena pihak kepolisian meyakini jika Robi Hansen tidak hanya beroperasi seorang diri. Pasti ada yang memback up.


"Dia adalah karyawan OC Restauran, tapi kenapa dia ingin menyerangku? Atasannya sendiri?" Emil masih tidak dapat mempercayai praduga yang sudah disepakati bersama.


"90% pelaku tindak kejahatan adalah orang sekitar kita, Mister, bahkan mereka adalah orang terdekat kita." ujar polisi yang langsung diangguki setuju oleh Detektif.


***


Semua bekerja dengan cepat, Robi Hansen ditangkap di apartemennya sepulang dari bekerja di OC Restauran, ia dibawa ke ruang penyidik. Dengan bukti-bukti yang ada. Namun pria yang benar memiliki Tato bintang di belakang telinganya itu tentu saja mengelak, tidak menerima tuduhan yang diberikan.


"Aku butuh pengacaraku, aku juga berhak untuk tidak menjawab pertanyaan konyol dari kalian, bukti yang kalian miliki sama sekali tidak kuat."


Polisi pun terpaksa membebaskan Robi Hansen kembali setelah kedatangan pengacaranya dan membayar biaya penangguhan, apalagi bukti-bukti itu memanglah tidak cukup kuat.


"Dia hanyalah pelayan OC Restauran, bagaimana bisa dia tinggal di apartemen kelas menengah yang terbilang cukup mahal, dan bahkan memiliki pengacara handal?" Emil semakin bingung, jika diingat, meski gaji karyawan O'clan terbilang besar, tapi jika hanya pegawai rendahan juga pasti tidak akan cukup untuk menunjang pembiayaan hidup yang terbilang wah. Bahkan pria bernama Robi itu juga memiliki motor yang cukup mahal berwarna merah.


"Aku membutuhkan bantuanmu," Fabrizio berbicara dengan seseorang melalui ponsel.


"Kau akan menggunakan jasa bayang hitam?" tanya Detektif. Dan Fabrizio mengangguk pasti.


Hanya Emil di sini yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, dia memang terlalu santai dan hanya main-main selama ini, sedangkan Fabrizio selalu bergerak misterius, dingin, angkuh dan kejam sebelum ia bertemu dengan Aretha. Dan sisi Fabrizio yang lama telah dibangkitkan oleh musuh yang mencoba bermain dengan keluarganya.


***


BUGH BUGH BUGH


"Aaahhh!" wajah Robi Hansen penuh luka, memar, darah dan lebam.


Pelakunya adalah mereka yang disebut sebagai bayangan hitam oleh Detektif dan Fabrizio.


"Aku tidak memilik aturan sepeti pihak kepolisan, aku juga tidak berhati lembut seperti saudaraku yang hanya bertanya padamu lalu menunggu jawaban darimu, aku adalah Fabrizio O'clan. Satu kali bertanya, dan langsung mendapat jawaban, atau pukulan yang akan kau terima."


Fabrizio menggerakkan kepala dan tim bayang hitam kembali memukuli kepala Robi Hansen. Saat seseorang membawa pisau kecil dan bersiap mengarahkan pisau itu ke mata Robi, pria itu akhirnya berteriak.


"Aku akan mengatakannya, aku akan mengatakannya."


Niiiitt,,,,,,


Jawaban didapatkan, dan semua sesuai seperti dugaan Fabrizio, mematahkan teori kepolisian Paris.


"Aku sudah melakukan tugasku dengan baik, sekarang giliranmu, aku tidak akan ikut campur lagi. Kau harus bisa menyelesaikan masalahmu." ucap Fabrizio pada Emil, setelah itu ia pergi bersama timnya, membawa tersangka dan bukti rekaman, menyerahkannya pada polisi namun meminta kasus untuk ditutup, dan itu beralih menjadi permasalahan keluarga.


Yang terpenting, kini Emil dan Namira telah terbebas dari pengawasan, dan mereka bebas jika ingin pergi kemana saja. Kasus telah ditutup.


***


Emil masih betah duduk di kursi kebesarannya, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, dia harus menemui seseorang namun Emil sangat ragu, orang itu adalah tersangka utama, dia adalah sahabatnya, orang yang selalu ada untuk Emil. Lantas kenapa dia malah tega melakukan itu pada Namira, istrinya?

__ADS_1


Sudah cukup merenung, Emil berdiri, menghubungi seseorang lewat telepon.


"*Bisa kita bertemu?"


"......"


"Baiklah, aku akan datang ke apartemenmu*."


***


Emil melajukan mobil sangat kencang menuju apartemen orang tersebut, sepanjang jalan ia terus memikirkan banyak hal, persahabatannya, kebersamaannya, lantas apa arti dari semua itu selama ini?


Ponsel Emil berdering, Namira memanggil,,,,


"Sayang, kau di mana? Kenapa belum pulang? Ini sudah malam,,,, apa kau tidak merindukanku?" celoteh Namira saat Emil mengangkat panggilan itu.


"Aku akan pulang terlambat, ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda, kau tidurlah dulu, aku mencintaimu,"


Terdengar Namira yang marah-marah dan protes dari seberang sana, namun akhirnya ocehan wanita itu berhenti ketika Emil mengatakan akan mengajaknya pulang ke Indonesia esok hari.


"Benarkah? Okay, okay, okay, baiklah, aku akan langsung tidur sekarang, aku mencintaimu,,,," teriak Namira antusias.


Emil selalu senang saat ia bisa membahagiakan istrinya, itu adalah hal yang tak bisa diungkap dengan kata-kata. Membuat pasangan kita tertawa dan bahagia, namun senyum Emil seketika sirna, kala ia mengingat alasan utama mereka akan datang ke Indonesia.


'Bagaimana nanti reaksi Namira terhadapnya?'


***


'Cyaacckk,,,,!'


"Jadi, benar, kau adalah otak dibalik semua kejadian ini?" Emil sekali lagi bertanya dengan tegas, ia merasa sangat sakit hati oleh pengkhianatan Sexyola.


"*Aku akan melakukan semua ini karena kau, Emil. Kau berubah semenjak kau jatuh cinta dengannya, kau mengabaikanku, kau tidak lagi peduli padaku, Emil, kau tahu, kau adalah partner terbaikku, aku, aku telah jatuh cinta padamu Emil."


"Apa kau sudah gila, Sexyola? Kita sama-sama tahu jika kita melakukannya karena naf.su dan itu bukan karena cinta. Aku hanya mencintai Namira, hanya Namira."


"Kau brengsek, Emil. Kau membuatku muak dengan semua yang kau lakukan karena wanita sialan, itu."


"Jaga mulutmu Sexyola, jangan sampai aku benar-benar melupakan hubungan baik kita sebelumnya dan mendaratkan pukulan di wajahmu jika kau masih mengumpat istriku, hubungan kita selesai, Sexyola. OC Restauran akan diurus kembali oleh Fabrizio, dan dia yang akan memutuskan bagaimana nasib saham keluargamu, dan juga nasibmu setelah ini*."


Emil melangkah hendak pergi, keluar dari apartemen Sexyola, namun wanita itu mencoba mencegahnya dengan menarik tangannya.


"Jangan pergi, kumohon jangan pergi, temani aku malam ini, aku akan memuaskanmu, aku sangat merindukanmu, Emil, tidak ada yang bisa bermain lebih baik darimu, tidurlah denganku, Emil,,, aku ingin,"


"Berhenti bermain Sexyola, kau tahu Fabrizio orang yang seperti, apa. Dia bisa menghabisi seluruh keluargamu tanpa ampun."


"Aahh,,,!" Emil menepis kasar tangan Sexyola hingga wanita itu terhuyung menabrak daun pintu. Dan Emil melangkah pergi.


***


*Flash back.


"Emil, kau di mana*?"


"Aku di apartemen,"

__ADS_1


"Sendirian?"


"Iya, Namira di rumah besar,"


"Kalian bertengkar lagi?"


"Iya, Sexyola, kau di mana? Apa kau mabuk?" suara Sexyola terdengar serak dan mendayu tidak jelas.


"Emil, Aku ingin kita ber.cinta. Datanglah, kita bermain sekali lagi, hanya sekali ini saja Emil,,,," lirih Sexyola penuh permohonan pada Emil lewat ponsel.


"Tidak, Sexyola, aku tidak bisa, aku akan selalu setia dengan Namira, aku hanya mencintai Namira." tolak Emil.


"Tapi dia tidak menerimamu, Emil, dia tidak mencintaimu, datanglah, atau aku yang akan menemuimu."


"Sexyola, kau sudah sangat mabuk, pulanglah, akan kuminta seseorang untuk menjemputmu,"


"Tidak, aku tidak mau,"


"Baiklah, terserah padamu, aku tutup teleponnya."


'Tut Tut Tut.'


"Emil,,,, Emil...."


"Bagaimana jika aku yang menemanimu malam ini," ucap seorang pria yang berada di dekat Sexyola, Robi Hansen, dia juga adalah salah satu partner ranjang Sexyola, dana yang didapat oleh Robi Hansen adalah kucuran dari Sexyola selama ini jika pria itu dapat memuaskannya.


"Hah, untuk apa? Kau tidak sejantan dan setangguh Emil, aku hanya ingin Emil malam ini." ujar Sexyola kembali menyesap wine di gelasnya. Ia melihat orang-orang sekitar, mencoba mencari mangsa baru yang bisa ia jadikan pemuas naf.su.


Namun netranya justru menangkap sosok wanita yang cukup dibencinya saat ini, Namira, duduk di meja bartender seorang diri. Dan muncullah rencana dalam otak Sexyola untuk menyingkirkan penghalang antara dirinya dan Emil, itu juga terjadi akibat pengaruh alkohol yang sudah tidak lagi dapat dikontrol oleh Sexyola.


"Baiklah, kita akan bermain, jika kau bisa melakukan satu hal untukku." ujar Sexyola pada Robi Hansen.


"Katakan," Robi Hansen adalah pelaku tidak kriminal kelas teri namun bernyali besar, ia mengenal jaringan kecil mafia yang biasa memberi pekerjaan tambahan padanya seperti menjadi kurir obat terlarang maupun senjata ilegal yang biasa digunakan preman jalanan.


"Habisi wanita itu, selain kepuasan, aku juga akan memberikanmu bayaran mahal."


***


Di sinilah semua bermula, Robi mengikuti mobil Namira hendak memblokir jalan lantas menembaknya, namun tanpa disangka mobil Namira justru mengalami kecelakaan bertabrakan dengan sebuah mobil pengangkut barang, sopir mobil pengangkut barang pingsan begitu pun dengan Namira.


Robi merubah rencana, memasukkan kembali senjata api yang semula sudah disiapkan, dan mengeluarkan bom rakit waktu.


"Kecelakaan lalulintas akan menjadi penyebab kematianmu, Nona cantik." ucap Robi saat meletakkan bom itu di atas dashboard, setelah membuka pintu mobil dengan menembaknya.


Dan karena suara tembakan itu, sopir mobil pengangkut barang terbangun dari pingsan, dia melihat Robi yang menaiki motor meninggalkan lokasi.


Sopir itu pun turun melihat ke dalam mobil yang bertabrakan dengannya.


Ia melihat Namira yang sudah tidak sadarkan diri dan bersimbah darah, serta sebuah bom waktu yang membuat jantungnya serasa berhenti berdetak.


Karena takut, sopir itu berlari kembali masuk ke dalam mobilnya, ia hendak meninggalkan tempat, namun merasa kasihan, ia kembali dan mengeluarkan Namira dari mobil, menyeretnya menjauh dari mobil Namira, lalu membaringkannya di tepi jalan, setelah itu ia kembali masuk ke dalam mobil, melajukan kendaraan itu dengan kencang.


"Maafkan aku, Nona. Aku tidak mau terlibat masalah," ucap Sopir itu saat mobilnya melewati Namira yang ia baringkan di tepi jalan.


***

__ADS_1


__ADS_2