100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Melangkah keluar


__ADS_3

Langkah kaki jenjang yang mengenakan heels hitam 7 cm itu berlari menapaki lorong Apartemen sambil menyeret koper navy yang berisi barang bawaannya. Selain heels tinggi yang ia kenakan, rok span di atas lutut berwarna dusty itu juga menjadi salah satu penyebab langkah perempuan itu tak bisa bergerak cepat.


Namun meski begitu, senyum manis terus mengembang menghiasi wajah manisnya, karena ia akan segera bertemu dengan prianya, suami yang sangat dicintainya.


Nafas Namira terengah kala ia sudah berada di depan pintu apartemen, ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan sebelum ia akan membuka pintu itu.


"Assalaamualaikum, rumahku," bisiknya pelan saat membuka pintu, karena ia tidak ingin menimbulkan suara gaduh yang bisa saja menggagalkan rencananya memberikan kejutan untuk Emil.


Pintu terbuka, lampu ruang tamu menyala, itu artinya Emil ada di rumah.


Namira menutup kembali pintu utama secara perlahan, ia membiarkan kopernya tergeletak begitu saja dan langsung melangkah menuju kamar.


Tunggu, Namira bingung, dua kamar yang berdekatan itu sama-sama tertutup pintunya, ia harus masuk ke kamar yang mana? Apakah Emil berada di kamarnya sendiri? Atau kamar yang dulu di tempatinya?


'Pasti dia di kamarnya sendiri.'


Namira memilih membuka pintu kamar Emil, lampu kamar itu juga menyala, namun ranjang tidur maupun sofanya kosong, Namira melangkah masuk, memeriksa kamar mandi yang juga kosong.


'Apa Emil tidur di kamarku, ya?'


Namira kembali keluar, namun langkahnya sontak terhenti saat ia berpapasan dengan Emil yang baru datang dari dapur dan hendak masuk kamar.


"Aaaah,,,,"


"Aah,,,,,"


Keduanya berteriak kaget.


"Sayang,,,," teriak Namira langsung berhambur memeluk Emil yang nampak tegang.


"Namira," lirih Emil dengan suara bergetar.


"Aku sangat merindukanmu, aku merindukanmu, merindukanmu, merindukanmu, sampai aku mau mati rasanya,,,," Namira memeluk Emil sangat erat, tubuh Emil sampai ikut bergoyang seirama dengan gerak Namira.


Emil belum juga membalas pelukan Namira, selain di tangannya ada segelas air putih dan tangan satunya memegang ponsel. Ia juga merasa sangat terkejut dengan kehadiran Namira yang tiba-tiba.


"Hei, bodoh, kenapa diam saja? Berikan aku pelukan yang erat, kau boleh meremukkan tulangku saat ini jika kau mau," celoteh Namira semakin mengeratkan pelukannya, dan Emil masih diam, tegang.


"Namira,,,," suara seorang perempuan yang bersahutan dengan suara pintu kamar yang terbuka.


Sontak Namira menoleh ke belakang dan mendapati Sexyola berdiri di depan pintu kamarnya, memakai bathrobe milik Namira, handuk putih yang menutup kepala, bahkan bau sabun dan sampo yang menyeruak hidung itu juga milik Namira. Sexyola baru saja selesai mandi.


"Sexyola?" suara Namira terdengar bergetar, badannya terasa gemetar, hatinya sakit dan matanya panas, air mata itu berdesakan tanpa aba-aba.


"Apa yang kau lakukan di sini? Di rumahku? Tengah malam? Memakai barangku? Dan di dalam kamarku? Apa yang kau lakukan di rumahku bersama suamiku, ja.lang?" teriak Namira langsung menyerang Sexyola.

__ADS_1


"Aaahh,,,," Sexyola yang tidak siap akan serangan Namira tersungkur dan punggungnya membentur pintu dengan kasar hingga menghasilkan suara yang keras.


"BRAK."


"Namira,,,," teriak Emil yang sangat panik. Ia menaruh sembarangan gelas dan ponselnya, lalu buru-buru mendekati Namira.


"Eenngghh,,,," Sexyola tak dapat berbuat apa-apa, Namira masih mencekik lehernya dan menjambak rambutnya, handuk yang menggulung telah terlepas membiarkan rambut pirang lurus itu tergerai berantakan, bahkan bathrobe yang Sexyola kenakan hampir terbuka bagian depannya karena Sexyola yang meronta mencoba melepaskan diri dari cekikan Namira.


"Dasar ja.lang! Plakk!" Namira mengamuk sambil menangis.


"Namira, lepaskan, Namira, lepaskan. Kau bisa membunuhnya, Namira!" Emil berhasil menarik Namira menjauh dari tubuh Sexyola yang sudah bersimpuh di lantai sambil memegangi lehernya yang sakit, air matanya berlinang diiringi batuk akibat sulit menghirup nafas.


"Lepaskan aku!" Namira menepis kasar tangan Emil dan mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan mata Emil yang sangat ketakutan. Takut, karena sesuatu yang buruk pasti akan terjadi.


"Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu, Mr. Emil Cornelius O'clan, karena aku merasa jijik mendapat sentuhan dari pria breng.sek sepertimu,"


"Namira, kau salah paham, aku,,,,"


"Diam!" teriak Namira menggenggam erat kedua tangannya, sungguh Namira ingin melayangkan pukulan pada wajah Emil, tapi ia tahu itu hanya akan sia-sia, hatinya terlanjur sakit dan itu tidak bisa dibalas hanya dengan sebuah tamparan.


"Kau keterlaluan, Emil, sekali bajingan tetaplah bajingan, aku sangat merindukanmu seperti orang gila di sana, menangisimu di setiap malamku, memikirkanmu, mendoakan kebaikan untukmu, tapi apa yang kau lakukan? Inikah balasanmu padaku atas tulusnya cintaku? Apa kau tidak cukup menyakitiku dulu? Hingga kau kembali menyakitiku? Kenapa kau begitu kejam, Mr. Emil O'clan. Kenapa kau sangat jahat padaku? Apa sebenarnya salahku padamu sampai kau melakukan ini?" Namira menangis sejadi-jadinya, sungguh demi apapun hatinya sangat sakit, apapun alasannya, ia tidak bisa terima, ada wanita bersama suaminya dalam satu rumah di tengah malam hanya berdua saja, apalagi itu Sexyola, wanita yang selalu membuat Namira cemburu selama ini.


"Sayang, biar aku jelaskan, ini tidak seperti yang kau pikirkan!" Emil sendiri sudah menangis, melihat air mata Namira dan melihatnya terluka membuat Emil tidak tahan, apalagi itu karena dirinya.


Ia bersiap Emil meremukkan tulangnya dengan sebuah pelukan atau ber.cinta, namun Emil justru menghancurkan hati dan kepercayaannya begitu parah.


"Sayang, aku dan Sexyola tidak melakukan apa pun, dia hanya,,,,"


"Hanya sedikit bermain denganmu? Hanya sedikit membelai kejantananmu? Atau hanya memberimu ciuman dan memuaskanmu? Apa? Memangnya apa yang akan dilakukan oleh dua orang pria dan wanita dalam satu rumah jika bukan ber.cinta? Apa kalian bermain anak-anakan? Atau bermain membuat anak? Ya Tuhan,,,, aku pasti sudah gila."


"Sayang!" Emil mencoba meraih tangan Namira.


"Lepaskan aku breng.sek. Sudah kukatakan aku tidak sudi kau sentuh. Aku sudah pernah mengatakan padamu, jika aku bisa memaafkan apapun kesalahanmu, tapi tidak dengan penghianatan." Namira menghela nafas kasar, dadanya benar-benar sesak. Sedangkan Emil, dia hanya diam dan menunduk.


Mata Namira melihat ke sekeliling, ingin mengamuk Sexyola juga percuma, Emil akan menolong wanita busuk itu dan membuat hatinya semakin terluka, karena itu Namira menyalurkan emosi dengan merusak barang-barang di sana.


Membanting tivi, membanting foto-foto mereka yang tadinya menghias dinding dengan cantik, memecahkan kaca, meja. Dan Emil hanya membiarkannya, membiarkan Namira yang menggila meluapkan emosinya. Sampai wanitanya itu lelah dan berhenti, duduk di sofa sambil menangis.


'Ibu,,,, tolong Namira!' Namira menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia terisak, hatinya benar-benar hancur, Emil telah melukainya sangat dalam, hingga Namira sendiri tak tahu sampai di batas mana perih itu.


"Sayang," lirih Emil dengan suara parau karena menangis, Emil duduk di lantai, di hadapan Namira yang begitu muak untuk sekedar melihat wajah suaminya.


"Percayalah padaku, sayang, aku tidak melakukan apapun, aku tidak mengkhianati cinta kita, aku tidak menyentuh Sexyola atau wanita manapun seperti yang kau tuduhkan, aku tahu aku salah karena membawa Sexyola ke rumah kita, tapi."


"Kita berpisah,"

__ADS_1


'DEG.'


Emil berhenti bicara saat Namira mendongak menatapnya dalam, sebuah tatapan yang penuh luka dan kesedihan, perih rasanya melihat orang yang kita cintai terluka karena kita.


"Tidak," tegas Emil dengan suara bergetar.


"Ceraikan aku. Dan kau bebas melakukan apapun yang kau mau,"


"Namira," Emil menggenggam erat tangan Namira, meski Namira mencoba menepisnya namun Emil menggenggamnya semakin erat.


"Aku tidak akan pernah menceraikanmu, sampai kapan pun kita akan selalu bersama, aku mencintaimu, hanya kamu, kumohon maafkan aku?" lirih Emil menunduk, mencium tangan Namira, memohon dengan sangat, tangisnya sudah tak terbendung, Emil sangat lemah sekarang.


"Nyatanya, menikah denganmu tak lantas menjadikanmu milikku seutuhnya," lirih Namira pilu, bayangan Emil yang bermain dengan Sexyola berputar di benaknya.


"Kau telah membunuh jiwaku tanpa menggores luka di tubuhku, Emil. Kau telah membunuhku."


Emil hanya terdiam, ia tak sanggup lagi bicara, mendengar apa yang Namira katakan padanya juga sama saja seperti membunuhnya.


"Kita bertemu di pengadilan, Emil. Aku mau kita berpisah."


"Tidak sayang, tolong jangan lakukan itu, aku tidak mau berpisah denganmu, aku tidak bisa hidup tanpamu, kumohon, please....!" Emil terus memohon, ia melepas genggaman tangannya pada tangan Namira, dan memeluk tubuh istrinya yang bergetar karena tangisan.


Sexyola hanya diam berdiri di dekat dinding melihat drama dua orang yang ia yakin sebentar lagi akan berpisah.


"Lepaskan aku, Emil. Kau membuatku semakin lara,"


"Tidak, aku tidak akan pernah melepaskanmu,"


"Aku bilang lepaskan aku, bajingan." teriak Namira mendorong kasar tubuh Emil hingga tersungkur ke belakang, dan Namira lekas berdiri.


Emil merintih, karena tangan dan bagian belakang tubuhnya terkena pecahan kaca yang berserakan.


Namira tahu Emil terluka, tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia sendiri terluka lebih parah, jadi ia hanya memalingkan muka dan kembali melangkah saat melihat darah yang menetes dari telapak tangan suaminya itu.


Namira berjalan, meraih koper dan bersiap untuk keluar. Namun Emil dengan sigap menghadang jalan Namira, mengulurkan tangannya yang berdarah seraya berkata.


"Peganglah tanganku dan percayalah, tetaplah bersamaku selamanya, aku sangat mencintaimu dan aku tidak akan sanggup jika kita harus berpisah." Emil menatap getir tangannya yang terasa perih dengan tetesan darah yang terus menetes di lantai.


Namira melihatnya pilu, namun ia kembali menegakkan kepala, dan berjalan menyeret kopernya untuk keluar dari apartemen Emil.


Hening....


***


Note, kalimat Namira dan Emil yang saya tulis bold itu ada di deskripsi sampul novel. Jadi cerita ini memang sudah dirangka akan bagaimana jalan ceritanya. πŸ₯ΊπŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­

__ADS_1


__ADS_2