100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Makan siang bersama


__ADS_3

Jam makan siang tiba, Esmee dan Richard sudah berdiri dari kursinya, meregangkan otot-otot yang terasa kaku, berjalan ke arah meja Namira yang masih nampak sibuk mengetik dan kembali memeriksa berkas.


"Makan siang?" suara Esmee yang terdengar riang menyita perhatian Namira. Namira melihat jam tangan yang ia pakai, benar, sudah saatnya makan siang.


"He em," Namira mengangguk dan ikut berdiri.


"Anne?" tanya Namira yang baru menyadari jika meja Anne sudah kosong, tinggal Yordhan yang tengah sibuk bertelepon dengan seseorang, duduk bersandar sambil menggoyangkan kursinya.


"Masuk ke ruang Nona Fayette," jawab Esmee.


Namira mengangguk mengerti, ia membereskan berkas yang berserakan, merapikan mejanya sebelum ia akan meninggalkannya untuk makan siang.


"Yordhan, kau tidak ikut bersama kami?" tanya Namira membuat Esmee dan Richard saling pandang. Entah apa maksud mereka.


"Tentu," jawab Yordhan yang berdiri, menutup sambungan teleponnya dan berjalan mensejajari langkah Namira.


Namira dan Yordhan sudah melangkah di depan, sambil ngobrol ringan saling memperkenalkan diri. Sedang Esmee dan Richard berbisik membicarakan mereka dari belakang.


"Hei, sejak kapan Yordhan bersedia gabung makan siang bersama?" Esmee memulai.


"Sejak 2 menit yang lalu, ketika Namira si karyawan baru yang cantik dan seksi menawarinya makan bersama," jawab Richard yang disambut tawa cekikikan oleh Esmee. Mereka semua keluar dari ruang staf keuangan. Dan tanpa mereka sadari, Emil berdiri di dekat meja staf yang berada di sebelah ruang keuangan tersebut. Melihat Namira yang keluar bersama Yordhan, dan mendengar Esmee dan Richard yang berbisik membicarakan mereka.


Tangan kanan Emil mengepal erat, dengan sorot mata tajam yang sudah kemerahan, ada yang terasa begitu nyeri di dalam hatinya, melihat Namira bersama dengan pria lain, dan akan makan siang bersama, hal yang bahkan belum pernah mereka lakukan.


***


Namira dan ketiga teman barunya duduk mengitari meja bundar yang berada di tengah ruang restoran yang berada di depan sebrang jalan dari gedung kantor O'clan Fashion. Memesan menu dan mengobrol.


"Kalau boleh tahu, statusmu apa?" tanya Esmee pada Namira tanpa basa-basi.


"Aku?" Namira sedikit terkejut. Dia harus menjawab apa?


"Iya, kau,,,," tegas Esmee.


"Apa kau sudah punya kekasih? Atau,,,, tapi rasanya tidak mungkin jika wanita secantik dan seseksi dirimu masih Single, pasti kau sudah mempunyai special someone, kan?" tebak Richard yang ditanggapi setuju oleh Esmee.


Dari arah pintu masuk Emil datang, menarik perhatian mereka semua, terutama Esmee yang posisi duduknya menghadap pintu utama keluar masuk.


"Mr. Emil? Sejak kapan dia makan siang di restoran?" celoteh Esmee pelan.


Namira lekas menoleh ke belakang, melihat pria tampan tinggi menjulang yang bertubuh kekar meski berbalutkan jas namun tak dapat menyembunyikan bentuk tubuh atletisnya. Pria yang beraroma bvlgary itu melangkah masuk, melirik pada Namira.

__ADS_1


'Sial, apa yang dia lakukan? Apa dia akan kemari? Duduk di sini? Cari mati.'


"Hai, boleh bergabung?" tanpa menunggu persetujuan Emil menarik kursi dari meja lain dan duduk di sebelah Namira yang masih menyisakan space kosong.


"***,,," suara Esmee terjeda, "Leh!" lanjutnya, karena Emil yang sudah duduk terlebih dulu sebelum ada yang menjawabnya.


"Mr. Emil, tumben sekali makan siang di luar kantor, biasanya makan siang bersama Nona Sexyola di ruangan," celoteh Richard mencoba mengakrabkan diri dengan atasan, namun justru apa yang dikatakan Richard seketika membuat mata Emil melotot begitu pun dengan Namira yang hampir mengumpat, meremas kedua tangannya di atas meja dengan gemas.


"Kau baik-baik saja?" dari sekian pasang mata, Yordhan menjadi orang pertama yang peka akan perubahan ekspresi Namira.


"Ah? Tentu, I'm fine," Namira berusaha meredakan emosinya, tersenyum kaku pada Yordhan yang duduk di sebelah kirinya.


"Mungkin Mr. Emil mencari angin segar," gurau Esmee menimpali ujaran Richard.


"Dan sangat kebetulan, di sini ada karyawan baru bersama kita," sahut Richard.


"Yang masih segar tentunya," lanjut Esmee disertai tawa mereka berdua yang terdengar renyah.


Sedangkan Emil hanya tersenyum dan Namira pun sama, hanya saja senyum Namira nampak jelas kaku.


"Jadi, Mr. Emil, kenapa anda tidak makan siang bersama Nona Sexyola?" tanya Namira sengaja, melihat Emil dengan tatapan tajam menusuk, sedang senyum di bibirnya mengembang namun terlihat mematikan.


Emil merasa gugup, ia menelan saliva susah payah, meraih gelas yang berisi minuman Namira, tenggorokannya terasa kering tiba-tiba.


"Aku?"


"Hah,,, iya. Apa kau sudah memiliki kekasih? Ayo, katakan dengan jujur, biar yang mengagumimu diam-diam bisa mundur pelan-pelan," celoteh Richard di balas tawa Esmee.


Emil menatap Namira penuh arti, menunggu jawaban apa yang akan dikatakan Namira, dan berharap jika Namira tidak hanya menjawab memiliki seorang kekasih, tapi justru seorang suami.


"Aku,,,," Namira nampak berpikir sebelum memberikan jawaban.


"Jika kau merasa tidak nyaman dengan pertanyaan itu, kau tidak harus menjawabnya." kata Yordhan datar, sambil menerima menu makanan dari pelayan yang datang membawakan pesanan mereka.


"Aku single. Aku tidak memiliki kekasih, juga tidak sedang mencintai siapapun."


"DUGH"


"Aahh,,,,"


"Kenapa?"

__ADS_1


Namira kaget, kakinya terasa sakit, Emil menendangnya dari bawah meja sana, kesal dengan jawaban yang Namira berikan.


Yordhan tersenyum sinis, seperti mengerti akan sesuatu, namun ia memendamnya seorang diri.


"Aahh,,,, tidak, bukan apa-apa!" Namira menggeleng beberapa kali, gugup, tapi juga kesal, Emil sialan, menendang seenaknya. Gerutu Namira dalam hati.


"Aku sudah menjawab pertanyaan dari kalian, sekarang, bagaimana dengan Mr. Emil? Kenapa dia makan di sini dan tidak makan bersama Nona Sexyola?" Namira menjeda. "Seperti biasanya?" ucap Namira penuh penekanan, matanya berkaca-kaca saat mengatakannya, menatap Emil penuh rasa sakit.


Emil terdiam, membalas tatapan Namira penuh arti, namun siapa yang bisa mengerti perasaannya jika tanpa dijelaskan? Bahkan terkadang apa yang diucapkan tidak pernah sama dengan apa yang dirasakan.


"Namira, makanlah. Steakmu bisa keburu dingin," suara Yordhan mengalihkan pembicaraan, bahkan Esmee dan Richard turut merasakan ketegangan yang tak mereka mengerti namun tiba-tiba beraura kental.


Semua pun mulai sibuk dengan menu makanannya, dan saat Namira mulai memotong steak miliknya, Emil berdiri, ia pergi tanpa permisi, keluar dari restoran itu dengan langkah lebar seperti menahan kesal.


Namira tak mendongak, namun tingkah Emil cukup menghentikan sesaat aktifitasnya, hingga ia memilih kembali memotong daging steaknya, dan tak menghiraukan Emil. Meski hatinya hancur dan perasaannya sakit.


"Hei? Kenapa Mr. Emil pergi? Bukannya dia mau makan?" tanya Esmee bingung.


"Kalian terlalu banyak bicara, tentu dia tidak nyaman," seloroh Yordhan. Mendapat respon decihan dari Richard, bahkan dia saja tidak pernah ikut gabung makan siang bersama mereka sebelumnya, lantas kenapa hari ini tiba-tiba dia ada? Apa itu karena Namira? Begitu kira-kira yang ada di benak Richard.


"Ehm,,,, ngomong-ngomong, Nona Sexyola itu siapa? Maksudku, apa hubungan dia dengan Mr. Emil?" tanya Namira menyelidik. Tidak salah bukan jika ia ingin mengetahui tentang Emil dan Sexyola selama ini di perusahaan dari para karyawan? Karena apa yang digosipkan para karyawan tentang atasan mereka biasanya 99% benar meski tanpa barang bukti.


"Oh, mereka itu pasangan, hubungan mereka sudah sangat lama, dan bahkan sempat kudengar jika mereka akan bertunangan, tapi entahlah, sampai saat ini belum juga berlangsung pertunangan mereka." jawab Esmee sambil makan.


"Lagi pula, untuk apa adanya sebuah ikatan? Itu hanya akan mempersulit keadaan, Mr. Emil orang yang bebas ingin berhubungan dengan siapa saja, sebuah ikatan tidak akan menghentikannya untuk berpetualang." balas Richard.


"Yah,,, aku tahu, kasihan Nona Sexyola, padahal mereka sudah melakukan hubungan in.tim itu layaknya suami-istri, tapi tidak juga dinikahi," celoteh Esmee menyentil hati Namira, hingga ia segera meraih gelas berisi air putih dan ia minum hingga tandas.


"Jangan membicarakan apa yang kalian belum tahu tentang kebenarannya!" sahut Yordhan kurang suka mendengar mereka membicarakan Emil dan Sexyola.


"Tapi gosipnya sudah beredar luas kan? Ah, aku ingat, seorang OB yang dipecat tapi mendapat pesangon yang luar biasa besar nominalnya, bukankah dia memergoki Mr. Emil dan Nona Sexyola berhubungan in.tim di ruangannya dan memvideokan adegan panas mereka?"


"Brak!" Namira tak bisa mengendalikan diri hingga menggebrak meja. Mengejutkan mereka semua. Apa yang diucapkan Esmee membuat darahnya mendidih oleh rasa cemburu yang membakar seluruh jiwa.


Kaget, Esmee dan Richard sampai terdiam mematung karena terkejut. Dan Namira baru menyadari tindakan bodohnya.


"M-ma maaf, daging steakku alot, aku jadi kesal." ucap Namira sambil mengulas senyum terpaksa di depan mereka semua. Yordhan hanya diam sambil menatap datar piringnya. Kedua tangannya pun berhenti bergerak, seperti sesuatu memenuhi isi pikirannya.


Namira berdiri, ia pamit terlebih dahulu untuk kembali ke kantor.


Esmee dan Richard hanya mengangguk, mereka sebenarnya merasakan ada sesuatu yang tidak normal, namun mereka tidak tahu apa, sedangkan Yordhan? Dia berdiri, pergi meninggalkan Esmee dan Richard tanpa permisi, mengikuti langkah Namira kembali ke kantor.

__ADS_1


"Ada apa dengan mereka? Aneh sekali," Esmee jelas merasa bingung. Begitu pun dengan Richard yang sama bingungnya dengan Esmee.


***


__ADS_2