
Namira mendekat ke arah Leonel yang sudah menunggunya dengan seutas senyum tersungging di bibirnya.
"Kau menikmati pestanya? Atau suasananya?" tanya Leonel menyambut kedatangan Namira, merentangkan kedua tangan dan Namira menjatuhkan diri ke dalam pelukan Leonel.
"Keduanya," jawab Namira seadanya sambil tersenyum, palsu.
Leonel mendaratkan ciuman kilat di bibir Namira, merengkuh pinggang rampingnya. Lalu kembali membawanya bergabung dengan beberapa teman lain. Melanjutkan pesta.
Sementara itu, dari kejauhan, Emil terus melihat interaksi di antara mereka berdua, meredam api yang membakar seluruh hatinya hingga darah cemburu yang mendidih menyebar keseluruh tubuhnya.
Dengan mata merah nanar serta tangan yang mengepal.
***
Mereka pulang dari pesta saat jam menunjukkan pukul 2 dini hari.
"Leonel, kumohon hentikan!" Namira mulai risih, Leonel tak henti-hentinya menjamah tubuh Namira, bahkan kini Lionel menelusupkan tangannya masuk ke dalam dress yang Namira pakai dari arah bawah, meremas paha Namira bagian dalam. Dan itu ia lakukan saat dalam perjalan pulang, di dalam mobil.
"Aku ingin di sini, sayang,,,," Leonel tak mengindahkan permintaan Namira, ia mulai mendorong tubuh Namira hingga setengah merebah bersandar pada pintu mobil.
"Leon, aah,,,," Leonel berhasil memasukkan satu jarinya ke dalam area inti Namira.
"Leonel, kumohon hentikan, aahh,,, sshh,,," desah Namira karena Leonel mulai menggerakkan jari itu di dalam kelembutan Namira.
Jangan lupakan Emil yang meradang melihat itu dari depan jok kemudi.
"Leonel, kumohon. Kita bisa melakukannya nanti di rumah,"
"Plak!"
"Aahh,,,"
'Ciiittt!'
'Dugh!'
"Aahh,,,"
Saat Namira berusaha mendorong dada Leonel, Leonel kehilangan kesabaran dan dia menampar keras pipi Namira, Emil yang tidak tahan melihat itu menginjak rem mendadak hingga tubuh Leonel terhuyung dan kepalanya membentur sandaran jok depannya.
"Bodoh, apa kau tidak bisa menyetir?" maki Leonel pada Emil sambil memegang kepalanya yang sakit.
Namira lekas bangun, merapikan dress-nya yang awut-awutan, nafasnya terengah, ia melupakan tamparan yang Leonel berikan. Lebih fokus pada perasaan Emil saat ini yang pasti hancur karena melihat dirinya dijamah Leonel di depan matanya.
"Sorry, Sir. Ada kucing yang barusan lewat." jawab Emil menatap tajam Leonel dari reer-vision mirror dengan tatapan penuh kebencian, hanya saja dia tidak bisa melakukan apa pun untuk saat ini. Emil kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Tamparan yang Leonel layangkan pada Namira terdengar begitu nyata menyakiti perasaan Emil, ia tidak tega dan merasa sakit melihat Namira yang diperlakukan kasar seperti itu.
Leonel bisa seenak dia bermain dengan perempuan lain, lalu meminta haknya pada Namira tanpa melihat tempat dan memperlakukannya kasar jika Namira tak menurutinya. Benar-benar brengsek.
__ADS_1
Tak terbayang betapa menderita dan tertekannya Namira selama ini. Dan itu karena dirinya yang telah menceraikannya. Andai perceraian itu tak pernah ada. Sesal Emil.
"Sejak kapan ada kucing di jalanan Paris? Akan kutuntut pemerintah." geram Leonel masih mengelus kepalanya.
Namira sudah memposisikan dirinya duduk kembali, ia lekas mengusap air mata yang sempat luruh meski ia sudah menahan sesak dadanya. Tidak ingin jika sampai Emil kembali melihat dirinya dan Leonel melakukan itu di depan matanya, pasti Emil sangat terluka.
Leonel melirik Namira yang nampak berbeda, istrinya lebih diam dan bahkan menunduk.
"Ada apa?" tanya Leonel mengejutkan Namira yang langsung mendongak.
"A-a apa?" sangat terlihat jelas jika Namira gugup.
Mata Leonel menelisik dari ujung kaki hingga kepala Namira, Namira memalingkan muka, menelan kasar salivanya.
"Baiklah, Sayang. Kita akan melakukannya di rumah saja, tapi," Leonel sengaja menggantung kalimatnya, menelisik ekspresi yang Namira berikan.
"Tapi apa?" tanya Namira cepat.
Got it, itu yang Leonel inginkan, ada rasa takut di hati Namira saat mereka akan melakukannya, itu memuaskan sisi fetish Leonel.
"Kita akan bermain three some, sayang!" bisik Leonel di telinga Namira. Emil tak dapat mendengarnya meski ia sudah berusaha untuk menguping.
"Apa?" raut muka Namira tak bisa berbohong, ia terkejut, panik, dan takut.
"Tapi, Leonel, kau sudah pernah berjanji tidak akan melakukannya!"
"Kalau begitu pilih saja, kita bermain three some, bermain di sini, atau seperti di film fivty shades of grey,"
Namira menelan salivanya kasar, ia pernah mencoba 2 kali memuaskan Leonel dengan cara seperti yang ada di film fivty shades of grey, Leonel puas, namun dirinya jatuh sakit hingga berhari-hari.
"Jawab, sayang! Kau tahu aku tidak suka menunggu."
DEG
"Sadisme," lirih Namira menjawab dengan bibir bergetar, yang akhirnya memilih untuk melakukan berhubungan seperti yang ada di film fivty shades of grey.
"Pilihan yang bagus sayang, cupp!" Leonel merengkuh tubuh Namira ke dalam pelukannya, mengecup kilat bibir Namira yang seksi.
Namira melirik Emil yang menatap lurus ke depan, andai Emil bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya.
Tapi itu tidak mungkin, untuk saat ini.
***
Kini Namira dan Leonel sudah berada di suatu ruang dengan dinding bercat hitam, dan seluruh aksen dalam ruang ini pun dominan dengan warna gelap.
Alat-alat bantu se.ks.sual yang biasa disebut se.ks toys, seperti rantai, pecut, borgol, vibrator dll, lengkap tertata rapi pada setiap tempatnya di ruangan yang Leonel sebut se.ks room itu.
Namira hanya diam saat Leonel mulai memborgol satu lengan tangannya pada penyangga besi, kemudian tangan yang satunya. Meski dengan jantung yang berdebar-debar dan tubuh gemetaran, tapi Namira tak bisa melawan, atau justru ia akan kembali mendapat jambakan, tamparan dan amukan dari Leonel, yang biasanya berakibat dengan melayangnya nyawa seseorang yang Leonel salahkan.
__ADS_1
Leonel mulai membuka dress Namira, pelan dan hati-hati. Namira menelan saliva kasar.
"Kau masih sama seperti saat kita pertama kali bertemu, sayang, cantik dan seksi," oceh Leonel yang berjongkok di lantai melepas dress Namira dari bawa kakinya.
Tubuh Namira sudah polos tanpa sehelai benang. Sebuah vibrator sudah siap di tangan Leonel, dia mengaktifkan alat itu dan mengarahkannya pada titik inti tubuh Namira.
"Enghh,,,," lenguh Namira saat benda itu mulai bekerja.
Skip.
***
Dua hari Namira tidak keluar dari kamar, hampir seluruh badannya sakit dan terdapat luka memar, ia dalam kondisi yang sangat lemah.
Leonel tak lagi menemuinya, karena mereka sama-sama tahu, butuh waktu bagi Namira kembali pulih dari keadaannya. Dan Leonel tentu menggunakan kesempatan itu bermain dengan ja.lang.
Emil tentu sangat khawatir, ia mencemaskan Namira, tapi Namira tidak mau bertemu siapapun, termasuk Emil. Hanya Robin yang selalu berdiri menjaga di depan pintu kamarnya, dan Claira yang sesekali datang mengantarkan makanan.
***
Hari berikutnya.
Namira sudah keluar dari kamar dengan berpakaian mewah nan seksi, Robin yang selalu menjaga di depan pintu mengikuti langkah Namira dari belakang menuruni anak tangga.
Emil berdiri di dekat meja makan menunggu kedatangan Namira sang Nyonya. Dan di meja makan itu sudah ada Leonel yang menunggu Namira.
"Kau sudah sehat, sayang?" tanya Leonel sambil berdiri, memeluk mesra Namira.
"Hem,,,," jawab Namira angkuh. Terkesan dingin.
Tiba-tiba ponsel Leonel berdering, ia mengangkatnya, mengangguk lalu kembali menutup telepon itu.
"Sayang, aku tidak bisa menemanimu sarapan, ada masalah di kantor, dan aku akan sarapan di sana saja, kau tidak apa-apa jika kutinggal, bukan?"
Namira menggeleng.
"Tentu," jawab Namira sambil tersenyum.
"Bagus, kau memang istri terbaik, cupp!"
Leonel pergi, meninggalkan Namira yang masih mematung menatap benci padanya.
"Siapkan mobil," perintah Namira. Mata Emil menyipit.
"Anda ingin pergi ke mana, Nyonya?" tanya Robin sambil menunduk. Emil masih mendengarkan, mereka tidak bisa bersikap leluasa saat di rumah karena ada banyak orang dan juga kamera pengintai.
"Hotel." jawab Namira seketika membuat Robin mengangkat kepalanya.
Namira melangkah cepat dengan gaya angkuh keluar dari rumah yang langsung diikuti oleh Robin dan Emil.
__ADS_1
***