
POV Emil.
Aku masih tersenyum senang, memikirkan jika Namira memang saja merasa cemburu padaku, melihat Stevia menciumku di Rumah Sakit, itu artinya, Namira masih mencintaiku, atau paling tidak, masih ada sedikit rasa untukku dibalik sakit hati dan kemarahannya akibat ucapan-ucapan sadis yang sebelumnya terlontar bebas dari mulutku yang kusadari penuh memang kurang ajar.
Baiklah, jika masih ada kesempatan, ada baiknya aku untuk berjuang, itu juga akan membuat hatiku yang gundah lebih tenang, bukankah pria sejati adalah pria yang berbesar hati untuk memperjuangkan cintanya? Memperjuangkan wanitanya? Itu baru bisa disebut sebagai seorang pria dengan bangga.
***
Namira keluar dari kamar mandi dengan rambut panjangnya yang basah yang ia keringkan menggunakan handuk putih, tak ada bathrobe menutup tubuhnya, bukan berarti dia te.lang.jang, Namira justru keluar dari kamar mandi lengkap dengan dress panjang berlengan pendek. Ia bahkan ganti baju di dalam kamar mandi, untunglah kamar mandi di kamarku sangat luas.
Aku pura-pura tak melihat Namira padahal aku selalu mencuri pandang melalui ekor mataku, Oh God,,,, aku sangat beruntung memiliki istri secantik dan seseksi Namira, dia tetap mempesona dalam balutan busana yang sederhana.
Aku duduk di atas ranjang bersandarkan dipan sambil membaca buku yang terdapat di lemari koleksi, dulu saat remaja aku suka membaca, jangan terlalu berpikir positif tentang diriku, karena kau akan kecewa, buku koleksiku adalah kumpulan Novel kisah cinta bergenre dewasa, sudahlah, abaikan tentang itu.
Kembali pada Namira yang kini berdiri di depan kaca meja rias, ia masih sibuk mengeringkan rambut panjangnya.
"Khem!" kode? Bukan, aku hanya melemaskan tenggorokan yang terasa kaku, karena aku ingin mengajaknya bicara, hey, kenapa aku jadi seperti bocah yang baru jatuh cinta?
"Ada hair dryer di dalam laci, kau bisa menggunakannya jika kau mau." ucapku tanpa menoleh, membuka lembar demi lembar buku yang tak lagi fokus kubaca.
"Oh, thankyou," Namira membuka satu laci, dua laci, tiga laci, dan akhirnya ketemu. Suara bising dari benda pengering rambut itu mulai terdengar beberapa saat kemudian, dan aku menikmati pemandangan menyenangkan dari tempatku duduk, oh God,,,, kenapa bisa seperti ini? Melihat orang yang kita cintai mengeringkan rambut saja sudah bisa membuat kita merasa bahagia, sebegini menyenangkannya, Oh God,,,, wanita ini membuatku tergila-gila.
Namira memoles wajah cantiknya dengan make up yang tebal, yah, aku tahu, dia berusaha menyamarkan wajahnya yang masih menyisakan sembab karena terlalu banyak menangis, maafkan aku, benar kata Zio, aku bukanlah suami yang baik untukmu. Tapi aku akan berusaha untuk berubah, jika kau memberiku kesempatan.
"Apa yang kau baca?" Namira duduk di tepian ranjang, meraih ponselnya yang semula ia letakkan di atas nakas, lalu memainkannya.
Ini yang aku suka, kami bisa memulai mengobrol dengan lebih baik. Tanpa ada ketegangan apalagi pertengkaran.
"Buku biasa," jawabku singkat membuka lembaran selanjutnya, percayalah, aku tidak benar-benar sedang membaca, aku lebih banyak melirik Namira yang menggerakkan kedua jempolnya pada screen ponsel seperti membalas pesan, atau update status, atau entahlah. Aku belum yakin karena tidak begitu mengenal kesibukan istri seksiku ini.
"Emil," Namira berhenti memainkan ponsel, ia lantas berdiri, berjalan menuju sebuah lukisan besar yang terpajang di dinding kamarku, aku tahu, Namira beberapa kali sempat melirik pada lukisan istimewa itu. Kurasa, dia penasaran.
__ADS_1
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Namira saat ia berhenti di hadapan lukisan seorang wanita cantik yang menggunakan gaun mewah duduk elegan pada sebuah sofa.
"Hem,,,," jawabku sambil menutup buku, menaruhnya ke atas nakas, lalu turun dari ranjang berjalan menghampiri Namira, dan berhenti di belakangnya.
"Lukisan ini sangat cantik, kau tahu? Ini seperti seseorang yang benar-benar hidup dalam bahagia, dia wanita muda yang sangat cantik dan,,,, apa ya? Seperti,,,,"
"Seperti wanita bangsawan!" sahutku, Namira nampak terkejut dan sontak menoleh membuat kami hampir saja bertabrakan.
Dia malu, atau gugup, entahlah, Namira menunduk dan berbalik kembali membelakangiku.
"Apa dia?"
"Siapa?" serbuku.
"Wanita yang kau cintai? M-ma maksudku, apa dia nyata? Apa dia hidup di dunia ini? Atau, dia hanyalah hasil imajinasi dari sang pelukis?"
Aku tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Namira, mempermainkannya sedikit dengan jawaban tidak langsung mungkin akan menyenangkan, aku juga akan tahu bagaimana reaksi Namira, benarkah dia cemburu jika ada perempuan lain yang aku cintai.
"Yah, aku mencintainya, sangat mencintainya, aku bahkan ingin hidup bersamanya andai saja aku bisa."
"Dia sangat cantik, kan Namira? Kecantikannya sangat alami natural, dan,,,, mewah! Dia lebih cantik dari gambaran para bidadari yang sering dieluh-eluhkan." aku melanjutkan kalimatku sembari memuji kecantikan wanita dalam lukisan, mencoba memancing reaksi yang akan Namira berikan.
"Hem,,,, dia sangat cantik." Namira memutar badan melewatiku tanpa menatapku.
"Dia adalah wanita yang belum pernah kutemui, dan sumpah demi apapun aku sangat ingin bertemu dengannya!" langkah Namira terhenti, aku masih tak mengalihkan pandanganku dari lukisan cantik itu, aku memang merindukannya.
"Semoga kau bisa bertemu dengannya, dan bisa hidup bersamanya dengan bahagia," lirih Namira terdengar pelan, seperti ada kepasrahan yang kurasakan.
Aku berbalik, melihat Namira yang menatapku dengan kedua mata yang berkaca andai ia tak cepat memutus pandangan kami dan menuju pintu kamar.
"Dia Mommyku, Namira." akhirnya aku mengatakan yang sebenarnya, dan itu sangat berhasil menghentikan langkah Namira untuk tidak pergi dari sini.
__ADS_1
"Mommy?" dia kembali menghadap lukisan, kini ia berdiri di dekatku, kami sama-sama melihat lukisan Mommy yang cantik.
"Apa dia dilukis saat masih muda? Dia sangat cantik," ucap Namira sambil mengambil gambar lukisan Mommy menggunakan ponsel miliknya yang ia genggam.
"Kau cemburu?"
"Hah?" Namira sontak melihatku, aku tahu dia gugup.
"Tidak, aku tidak cemburu, untuk apa aku cemburu?" sanggah Namira tak terima aku mengatainya cemburu.
Aku tersenyum sebelum kembali bicara, sungguh aku merasa senang mendapati Namira yang kuyakin cemburu meski ia tak mengakuinya.
"Iya, kau cemburu saat aku mengatakan jika aku mencintainya, kau cemburu jika aku mencintai wanita lain."
"Sepertinya kau belum meminum obatmu hari ini, Emil, jadi kepalamu yang terluka itu membuatmu salah berpikir. Asal kau tahu, aku tidak cemburu, dan aku tidak peduli meski kau memiliki wanita lain di luar sana, aku masih mengingat pasti poin pertama perjanjian nikah kontrak kita" Namira bergegas pergi sebelum akhirnya aku berhasil menangkap tangannya, dan tubuh Namira berbalik seketika karena aku menariknya, ia hampir menabrakku, kami saling berhadapan begitu dekat, bahkan bisa kurasakan hembusan nafasnya dan aroma tubuhnya yang membuatku ingin, aku sangat senang,,,, Oh God....
Namira mendorongku kasar, tapi aku menyukai penolakannya kali ini. Karena justru semakin nampak jelas jika Namira masih menyimpan rasa untukku.
"Kau salah sangka, perlu aku tegaskan padamu jika aku tidak cemburu, berhenti menyimpulkan sesuatu tanpa kau tahu kebenarannya." Namira pergi, keluar dari kamar setelah usai mengatakan kalimat itu.
Hai para pria, biar kuberi tahu sesuatu tentang wanita, kata tidak darinya bisa berkata ya, tapi juga bisa berarti tidak, dan kata ya darinya bisa berarti tidak, atau sebenarnya memang iya. Ah, entahlah,,,, wanita memang rumit dan menyebalkan.
Kau bisa membohongi dirimu sendiri Namira, tapi kau tidak akan mampu membohongi hatimu, dan aku akan bersabar menunggu sampai kau sendiri nantinya yang akan mengatakan perasaanmu padaku. Dan saat itu tiba, aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya. Tidak akan pernah lagi kulepaskan.
'Klak!'
Aku sedikit terkejut, Namira yang baru keluar kembali lagi masuk, aku mengernyit, tidak mengerti.
"Bisakah kita mulai sandiwara kita sekarang?" tanya Namira membuatku merasa geli. Kenapa dia terlihat sangat menggemaskan jika seperti ini? Ah,,,, rasanya aku harus menguatkan iman nanti malam untuk tidak langsung menerkamnya, atau dia akan marah besar dan semakin benci padaku.
"Sure!" jawabku sambil melangkah ke arahnya, lantas menggandeng mesra tangan Namira dan kami turun bersama menuju meja makan. Saatnya makan malam bersama keluarga besar.
__ADS_1
***
Ditulis menurut pandangan Emil dulu ya,,,, mumpung doi lagi kasmaran. 🤣